
"Oz, apa-apa'an ini?" Jia memasuki room apartemen perlahan.
Ruangan itu dibuat temaram, karena semua jendela yang biasanya memantulkan sinar dari luar, ditutup kain tebal yang tidak bisa tembus cahaya. Padahal di luar sana, matahari sedang tinggi-tingginya. bunga mawar merah bertaburan di mana-mana bahkan sampai ke dalam kamar.
"Suka kejutan dariku?" Tanya Ozge dengan tatapan yang sulit diartikan.
Wajah Jia langsung sumringah. Dia tidak menyangka, Ozge mempersiapkan semua untuk dirinya. Setelah sekian lama, akhirnya hari yang dia impikan akan terwujud juga.
Alunan musik lembut tanpa vokal, menambah suasana romantis semakin dramatis. Jia semakin dibuat melayang saat Ozge membungkukkan badannya dan mengulurkan satu tangan untuk mengajak perempuan itu berdansa.
Jia menyambut uluran tangan itu dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Ozge meletakkan tangannya di sisi kiri kanan pinggul Jia, sedangkan istrinya itu mengalungkan tangan ke leher Ozge. Kaki keduanya bergerak mengikuti alunan musik yang lembut.
"Aku sudah mempersiapkan semua, Ji. Jangan kecewakan aku dengan permainan yang biasa." Ozge berbisik dengan sennsual tepat di daun telinga istrinya.
"Tidak akan, Oz. Kamu tahu. Aku ratu di atas rannjang." Jia membalas bisikan Ozge tidak kalah menggoda.
Jia seperti terhanyut akan suasana, dia menempelkan kepalanya semakin dalam di dada Ozge. Pria itu beberapa kali terlihat mencebikkan bibirnya dan tersenyum sinis.
Beberapa kali Jia juga mendongakkan kepala, menyodorkan bibirnya yang merah merekah agar dikecup oleh Ozge. Tapi pria itu bergeming, dia hanya mendekatkan bibirnya di pipi perempuan itu untuk sekedar berbisik.
__ADS_1
Setelah puas berdansa, Ozge mengambil dua botol minuman beralkhohol rendah di kulkasnya. Dia memberikan satu botol untuk Jia, dan satu lagi sudah diteguknya.
"Tumben cuman yang begini, Oz?" Jia meneguk isi botol itu hingga tandas.
"Aku ingin kamu masih sadar saat melakukannya, Ji. Kalo melakukan dengan perempuan mabuk, apa bedanya dengan saat aku membeli perempuan." Ozge duduk dengan santai di atas sofa dengan menumpu satu kaki di paha kaki satunya.
Ozge melihat Jia mulai mengeliat. Dia segera menarik istrinya itu ke dalam kamar. Setengah sadar, Jia merasa ada yang berbeda dari kamar Ozge?. Dia melihat ada tiang besi seperti gawang di tengah kamar itu. Lebarnya hanya 150 senti, sedangkan tingginya mencapai dua meter.
Ozge menendang tiang, benda itu tidak bergeser sedikitpun. "Cukup bagus," gumam Ozge lagi-lagi sembari tersenyum licik.
"Aku tidak ingin yang biasa Ji, aku ingin yang berbeda dan luar biasa." Ozge kembali menarik tangan Jia hingga berada di tengah-tengah gawang.
"Kamu benar-benar nakal, Oz." Jia membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. Gayanya begitu menggoda.
Dengan menggunakan empat rantai besi, Ozge mengikat kedua tangan dan kaki Jia, masing-masing di sudut tiang gawang. Membuat perempuan itu berekspektasi semakin liar.
Ozge memainkan jemarinya untuk menyusuri setiap inci tubuh Jia. Saat istrinya itu tengah di puncak keinginan, dan mulai tidak sabar ingin merasakan keliaran tangan Ozge lebih jauh. Dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan.
"Selamat bersenang-senang, Ji. Ini hadiah kedua dari aku. Semoga kamu menyukainya, dan semakin bertahan di neraka yang sudah kamu buat sendiri.
__ADS_1
Ozge keluar dari kamar, meninggalkan dua lelaki bayaran di dalam sana. Dia sendiri duduk di ruang tengah sembari memainkan ponselnya. Dia tidak berniat sedikit pun melihat video live streaming yang terjadi di dalam kamarnya. Ozge sudah memasang cctv, yang terhubung langsung ke ponselnya.
Pria itu memejamkan matanya, mendengarkan dan meresapi suara Jia yang awalnya mengumpat dan mencaci, lalu beralih pada lenguuhan kenikmatan yang malu-malu, hingga akhirnya suara desaahan tidak terkendali memenuhi ruangan.
Ozge tersenyum puas, sakit hatinya serasa tidak pernah tuntas. Siksaan demi siksaan tidak akan pernah cukup. Sengaja memberi sedikit kenikmatan, karena dia tahu, Jia terbiasa melakukan hubungan yang tidak biasa seperti itu. Ekspresi wajah Jia yang menikmati siksaan, sangat penting untuk memakai bukti-bukti itu sebagai alat agar perempuan itu menyerah, dan pergi tanpa paksaan dari dirinya.
Hampir 30 menit berlalu, suara-suara lenguuhan kenikmatan semakin bersahutan. Ozge sampai menggaruk telinga karena lama kelamaan dia merasa risih juga.
Hingga bel apartemennya berbunyi. Membuat Ozge mengumpat karena keasyikannya terganggu. Dia berdiri untuk melihat siapa yang datang dari lubang kecil yang ada di daun pintu.
"Shhitt! Kenapa mereka datang di saat yang tidak tepat seperti ini." Ozge berjalan ke arah kamarnya. Membuka pintunya sebentar, dan mengatakan kalau dia akan pergi terlebih dahulu.
Ozge dengan buru-buru membuka pintu apartemen, lalu segera menguncinya kembali dari luar. Membuat Eser heran sekaligus semakin kesal. Sementara Gendis menampilkan wajah datar seperti biasa.
"Kami sedang ingin berbicara denganmu, Oz." Eser menatap sinis pada adik tirinya itu.
"Bicaralah, tapi tidak di apartemenku. Kita bicara di tempatmu saja. Aku sedang menyiapkan surprise romantis untuk istriku. Tidak boleh ada yang melihatnya lebih dulu sebelum dia," kilah Ozge.
Dia sengaja melirik Gendis, melihat reaksi mantan kekasihnya itu. Berharap ada kekesalan atau sedikit cemburu di mata perempuan yang masih di cintainya itu. Sayangnya, Gendis nampak biasa saja.
__ADS_1
"Oke, kita ke apartemenku." Eser mengamit pinggul Gendis, sengaja agak turun hingga menyentuh bokong bagian atas. Ozge yang berjalan di belakangnya, tentu saja mengumpat terus di dalam hati.