
Gendis memperhatikan perubahan raut wajah Eser dengan seksama. "Apa yang terjadi, Phi?"
Eser menggeleng. "Aku harus pergi sekarang, Mhi."
"Makananmu belum habis, Phi!" Seru Gendis.
"Ada urusan penting, Mhi. Ini jauh lebih penting dari apa pun untuk saat ini. Aku pergi dulu." Eser menghampiri Gendis dan mengecup kening perempuan itu sekilas.
Belum sempat Gendis menimpali, Eser sudah berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan. Pria itu bergegas menuju garasi mobil, kali ini Eser ingin mengendarai mobilnya sendiri.
Pria itu ingin sampai di sana sebelum Ozge datang. Dia mau mereka sama-sama membuka hasil DNA itu di depan Dokter Anthoni.
Tiba di rumah sakit, Eser mempercepat langkahnya. Dia sungguh berharap Ozge belum tiba di sana. Apa pun kenyataan yang akan dihadapi nantinya, akan lebih baik jika semua dilakukan dengan benar, adil dan tanpa kecurangan.
Setelah bertanya dengan salah seorang perawat yang baru keluar dari ruang sang dokter yang dituju, Eser sedikit menarik napas lega. Setidaknya, Ozge memang belum tiba di sana. Lebih baik menunggu, dari pada dia menyesal kemudian karena kelalaian sendiri.
Sementara itu, Ozge yang sudah bersiap-siap ingin berangkat, malah dihalangi oleh Mutia. Perempuan itu ingin mengajak anaknya berbicara sedikit serius.
__ADS_1
"Oz, beri Mami waktu lima menit, hanya lima menit saja," tekan Mutia.
Ozge melirik jam di pergelangan tangannya. "Cepetan, Mi."
"Bebaskan Jia, Oz. Cukup kamu menyiksanya. Jika memang tidak bisa menganggapnya sebagai istri, setidaknya jangan perlakukan dia seperti binatang," ucap Mutia.
Ozge menaikkan satu sudut bibirnya ke atas sembari menghampiri Mutia. "Mami sedang tidak demam 'kan? Jangan bertindak seolah Mami adalah malaikat tanpa sayap. Ingat bagaimana Mami menatap, berbicara dan membenci Gendis. Apa pentingnya Jia bagi Mami, hingga membuat Mami begitu ingin melindungi dia?"
"Ti--tidak begitu, Oz. Mami tidak mau kamu jadi manusia pendendam seperti itu. Cukup Mami yang dianggap orang sebagai pendosa. Kamu menikahi Jia secara sah di atas Al-Kitab, tidak ada perpisahan dan perceraian selain kematian, Oz. Ingat itu! Jangan sampai kamu merasa sakit karena apa yang kamu inginkan tidak menjadi kenyataan. Meski Mami malas mengakui, Gendis itu saudaramu. Dosa besar jika kamu sudah mengetahui kenyataan, tapi masih berani mengingkarinya." Mutia menutupi kegugupannya di awal dengan nada yang agak meninggi di akhir kalimatnya.
"Cukup, Mi. Masalah dosa, itu urusan Oz. Jika Mami peduli sama Jia. Silahkan! Ozge tidak akan melarang." Ozge meninggalkan Mutia dengan langkah seribu. Wajahnya kesal, karena perempuan yang sudah melahirkannya itu membuang waktunya lebih dari waktu yang disepakati untuk sesuatu yang tidak penting.
Tidak sampai tiga puluh menit, akhirnya, Ozge pun menampakkan diri. Eser langsung bangkit dari duduknya. "Aku sudah menunggumu, Oz."
Ozge seketika terkejut, dia sama sekali tidak menduga kalau ada Eser di sana. "Kenapa kamu di sini?"
Eser tersenyum licik, meski hatinya diselimuti rasa takut dan cemas, namun dia tidak mau terlihat lemah di depan Ozge. "Kita datang kemari dengan tujuan yang sama, Oz."
__ADS_1
"Jangan mengada-ada, Es."
"Aku serius!" Tegas Eser.
Eser melangkah lebih dahulu, lalu mengetuk daun pintu ruangan Dokter Anthoni. Ozge berada di belakang pria itu dengan penuh tanda tanya.
Setelah pintu terbuka, keduanya pun masuk secara bergantian. Nampak Dokter Anthoni menyambut Ozge dan Eser dalam posisi berdiri dengan tangan memegang amplop putih berlogo rumah sakit tempatnya bernaung.
"Kalian sudah bersiap menerima hasilnya?" Tanya Dokter Anthoni, menatap dua pria di depannya itu bergantian.
"Kalian?" Ozge mulai merasakan ketidak beresan pada rencananya. Tidak begini seharusnya, selain Vivian, harusnya hanya dirinya sendiri yang tahu perihal tes DNA ini.
Dokter Anthoni mempersilahkan Ozge dan Eser untuk duduk terlebih dahulu, baru kemudian dia melakukan hal yang sama. Duduk dengan tenang di kursi putar belakang mejanya. "Hasil DNA ini, bisa dipertanggungjawabkan secara hukum, sumpah profesi, maupun sumpah atas nama Tuhan. Apa pun yang tertulis di situ, pastilah itu kebenaran. Kami tidak merekayasa sedikit pun. Ketidak puasan pada hasil DNA, bukan tanggung jawab kami."
Eser dan Ozge saling menatap tajam, dalam hati, keduanya sama-sama berharap kalau mereka bukanlah anak Sevket. Namun hati kecil Eser kini mulai bertanya-tanya. Tentang Sevket dan sikapnya selama ini. Entahlah, kini Eser mulai dilema. Ada rasa berdosa dibenaknya, jika memang dia anak kandung Sevket, berdosalah dia yang menyangsikan kebenaran dan ucapan papinya hanya karena mempertahankan cinta terlarang.
"Kalian buka dulu, amplop masih bersegel. Di sana semua sudah jelas, tapi jika ada yang tidak dipahami, saya akan menjelaskan dengan senang hati." Dokter Anthoni memberikan amplop berisi hasil DNA itu masing-masing pada Eser dan Ozge sesuai dengan nama yang tertera di sana.
__ADS_1
Tangam Eser bergetar karena grogi, dia tidak langsung membukanya. Mata pria itu terpejam, menempelkan amplop putih itu di dadanya. "Maafkan aku, Tuhan. Aku sudah meragukan orangtuaku. Aku hanya ingin kebenaran. Aku janji akan menerima kenyataan dan kebenaran hari ini dengan kasih. Aku akan memperbaiki semua yang terjadi sebaik engkau menuntunku sampai di kebenaran ini... Amin." Eser berdoa dalam hati.
Ozge dengan tidak sabar, langsung merobek bagian atas amplop, lalu mengambil kertas di dalamnya dan membentangkan hingga seluruh lipatan kertas itu terbuka.