
Setelah bergeser ke kamar. Keduanya mencoba melakukan kegiatan suami istri pada umumnya. Tapi sepertinya keadaan si Teser masih 85% pulihnya.
"Sudahlah, Phi. Jangan buru-buru. Ini sudah banyak dan cepat sekali perkembangannya. pasti akan sembuh. Kamu yang penasaran, aku yang keenakan malahan. Stop untuk hari ini! Aku bisa lemas karena jarimu," Dengus Gendis membuat Eser tertawa lepas.
"Tidak lucu," ketus Gendis.
"Wajahmu lucu sekali." Dalam hati, Eser ingin mengatakan bahwa Gendis sangat cantik.
"Phiu, aku boleh keluar sebentar bersama Damar?" tanya Gendis hati-hati.
"Ini sudah malam, Mhi. Mau ke mana?" selidik Eser.
"Perasaanku tidak enak. Aku khawatir dengan keadaan bapak. Pengen ke rumah sebentar saja."
"Aku ikut! Atau kamu jangan pergi!" Tegas Eser.
"Terserah, aku mau ke kamar mandi sebentar." Gendis mengambil baju ganti. Setelah dia sendiri rapi, Gendis membantu Eser kembali memakai bajunya.
"Mhi...," panggil Eser seperti ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak jadi.
"Iya, Phiu." Gendis mendorong kursi roda Eser dengan santai keluar kamar mereka.
"Terimakasih membiarkan tanganku bergerak," Eser menepuk punggung tangan suaminya.
"Tidak masalah. Aku yang senang." Gendis menjawab dengan jujur.
"Kalau mau lagi, ngomong ya. Jangan malu-malu." Eser malah terus menggoda Gendis.
Mengabaikan ucapan suaminya. Perempuan itu mengetuk pintu pink, setelah Damar muncul, Gendis langsung mengajak adiknya itu langsung berangkat melihat keadaan Darto.
🍀🍀
Di rumah lama Gendis atau yang biasanya disebut rumah neraka, Darto sedang tergolek lemah tak berdaya. Sudah dua hari ini dia sakit. Jubaedah juga tidak pulang lagi ke rumah. Tidak ada yang mengurusnya sama sekali. Perutnya hanya terisi dengan air putih yang di buatnya sendiri.
Bukan Gendis kejam. Dia memang sengaja tidak memberikan uang pada bapaknya itu, karena memegang uang sedikit saja, Darto sudah bingung untuk berangkat ke tempat judi.
Biasanya melalui Damar, Gendis juga masih mencari tahu dan bertanya kabar bapaknya itu. Tapi tiga hari ini, Damar memang tidak pergi ke mana-mana karena fokus pada Eser.
Sampai di depan gang, Gendis dan Damar turun terlebih dahulu. Baru kemudian, keduanya membantu mengeluarkan kursi roda dan membantu Eser bergeser di sana.
__ADS_1
Gendis mendorong kursi roda Eser dengan sabar. Meski jalanan sempit, berkelok dan mengingatkannya pada kenangan buruk yang bertahun-tahun di rasakan.
Inilah kali pertama Eser datang ke rumah asal Gendis. Tidak ada ekspresi kaget atau pun heran di wajah laki-laki itu. Dia terlihat biasa saja.
Gendis mendorong pintu rumah yang tidak terkunci. Hawa pengap langsung menyambut.
"Phi, kamu menunggu di sini saja." Gendis merasa risih kalau Eser ikut masuk.
"Tidak mengapa, aku ikut masuk saja."
Tidak ada Gendis di rumah itu, membuat keadaan di rumah semakin mengenaskan. Damar langsung membuka lebar pintu kamar Darto.
Laki-laki yang disebutnya bapak itu meringkuk pasrah, berat badannya jelas turun drastis, matanya terlihat sangat cekung, tulang pipinya begitu menonjol karena sedikitnya lemak yang ada di sana.
Gendis melepas pegangan tangannya dari kursi roda Eser, dia segera mendekati Darto, Tanpa banyak tanya dan kata terucap Gendis menyentuhkan punggung tangannya di kening dan leher Darto.
"Tidak panas, Mar. Tapi wajah bapak pucat. Kamu telepon ambulan saja, Mar," perintah Gendis pada adiknya.
"Biar aku saja, sini ponselmu, Mhi."
Eser kemudian menghubungi rumah sakit milik temannya, dia menjelaskan kondisi penjemputan dengan detail. Termasuk mobil yang tidak bisa masuk dan harus menggunakan brankar dorong ukuran kecil.
Setelah hampir 50 menit menunggu. Akirnya beberapa perawat tiba dengan membawa brankar sesuai pesanan Eser untuk mengangkat tubuh Darto.
Mereka tidak menegur Gendis seperi biasanya, rumor Gendis menjadi istri simpanan, membuat mereka enggan berbaik-baik. Tatapan sinis mereka lah yang menyapa. Tapi bukan Gendis namanya kalau mengambil pusing pandangan orang lain.
Setelah keluar dari gang, rasa lega menyelimuti. Menjadi tontonan, dengan berbagai tatapan dan omongan, bukanlah perkara yang menyenangkan. Sangat tidak nyaman bagi Gendis, karena ada Eser bersamanya.
Baru keluar dari rumah sakit, tidak menghalangi Gendis untuk cekatan. Dia menyuruh Damar untuk menemani bapaknya di ambulan. Sedangkan Gendis sendiri, mengendarai mobil mengikuti dari belakang.
"Harusnya kamu yang ada di sana, Mhi. Kamu jangan terlalu banyak bergerak. Nanti kalau sakit lagi bagaimana? Esju nanti kasihan."
"Esju?" Gendis menoleh sekilas untuk menunjukkan wajah heran.
"Eser junior," sahut Eser sembari meringis.
"Astaga! Seharusnya saat menjadi dosen, kamu selucu ini, Phiu. Pasti mahasiswa akan lebih cerdas menangkap pembelajaranmu."
"Dan akan semakin banyak mahasiswi yang mendekatiku."
__ADS_1
"Tentu saja. Kamu pasti sangat senang. Dasar playboy."
"Playboy sudah insaf. Karena yang di rumah sudah cukup menggoda."
"Buktikan saja!"
"Mhi. Kenapa kamu terlihat biasa saja? Kenapa kamu tidak sedih melihat kondisi bapakmu?" tanya Eser mengalihkan pembicaraan dengan hati-hati.
"Sedih? Aku lupa rasanya bagaimana harus bersedih untuk bapak. Terserah apa penilaianmu. Aku peduli, aku akan merawat bapak, dengan ekspresi seperti ini. Aku rasa sudah cukup.
Jawaban Gendis semakin menyadarkan Eser, jika dia memang menikahi perempuan tangguh. Kasih sayang dan cinta ada dalam diri istrinya itu. Hanya ekspresi dan penyampaian yang berbeda.
Gendis menghentikan mobil tepat di belakang ambulan, setelah membantu suaminya turun, dia memarkir kendaraannya tidak jauh dari gedung IGD di mana dia menurunkan Eser tadi.
Darto sudah ditangani oleh Dokter. Damar dan Eser menunggu di luar sembari menunggu Gendis.
"Esju sangat beruntung, dia akan terlahir dari perempuan tangguh dan mandiri sepertimu," bisik Eser, masih sempat-sempatnya bercanda begitu melihat kemunculan Gendis.
"Benar! Tanpa laki-laki aku bisa melakukan apa pun. Jadi jangan meremehkanku," sombong Gendis.
Damar dan Eser saling bertukar pandang, seolah sama-sama tidak terima dengan ucapan Gendis.
"Sini!" Eser menyuruh Gendis untuk mendekat dan sedikit menunduk padanya.
"Ucapanmu tidak benar. Kamu membutuhkan laki-laki untuk hamil dan membuatmu lega," bisik Eser, sangat lirih.
Gendis mencubit lengan suaminya dengan keras.
"Keluarga pasien Darto." suara panggilan dari perawar, membuat Gendis, Damar dan Eser kompak menoleh pada sumber suara.
"Pasien akan langsung dipindahkan ke ruangan rawat inap. Silahkan mengikuti saya untuk menemui dokter terlebih dahulu."
Damar gantian mendorong Eser. Ketiganya berjalan mengikuti perawat ke sebuah ruangan dokter spesial ginjal dan hipertensi .
Pada intinya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena ada indikasi, Darto mengalami gagal ginjal. Gendis pun menyerahkan pada dokter sepenuhnya. Apa pun tindakan yang akan dilakukan, yang penting terbaik untuk bapaknya.
Damar malam ini menunggu di rumah sakit. Sedangkan Gendis dan Eser pulang. Di tengah perjalanan, ponsel Gendis berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomer tidak di kenal terlihat dari layar ponsel.
"Siapa malam-malam begini?" Jiwa posesif Eser muncul seketika.
__ADS_1
"Lihat saja sendiri." Karena merasa tidak berbuat aneh-aneh, Gendis menyuruh Eser membuka sendiri pesannya.
Dengan cepat, Eser segera membuka pesan berupa video itu. Dia pun memutarnya, karena penasaran dengan isi video tersebut.