
"Menikahlah denganku, Oz. Kita harus membesarkan Adam dan Aglair bersama. Hanya dengan cara itu masalah kita selesai. Papa dan Gia tidak ada alasan lagi untuk mengusikmu dan keluargamu. Kamu tidak hanya mendapatkan ketenangan, tapi papimu juga. Aku akan menghapus semua bukti tentang pelecehan yang dilakukan papimu dulu."
Ozge terdiam mendengar permintaan Jia. Dia sudah menduga, pasti pernikahan yang diinginkan. Ozge melirik Gendis yang nampak tenang menatap Jia dan dirinya bergantian.
"Sesederhana itu, Oz. Bukankah kamu pernah mencintai Gendis? Dari awal kamu sudah mempermainkan Gendis, bukan? Saatnya sekarang kamu menebus kesalahanmu" cecar Jia.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," putus Ozge.
"Berpikirlah. Ambil waktumu selama mungkin. Selama itu pula, Gendis akan ditahan," tegas Jia.
Arya mendekati Gendis, sembari mematikan monitor USG yang tadi menyala. "Aku juga punya satu syarat untukmu, tapi ini bukan tentang penahananmu. Syarat pembebasanmu hanyalah pernikahan Ozge dan Jia." Arya kembali ingin menyentuh pipi Gendis, tapi berhasil dihindari dengan cepat.
Gendis memalingkan wajahnya. Entah kenapa sekarang dia begitu jijik melihat Arya. Pria itu seperti monster baginya. Sangat licik dan kejam. Baru kali ini, dia menemui orang setega Arya dalam mempermainkan hidup orang lain.
"Hanya inikah yang akan kalian sampaikan?" Ozge mencoba mengalihkan perhatian Arya dari Gendis.
"Hanya itu, Oz. Sederhana bukan? Lakukan pernikahan dengan meriah dan mewah. Jelas kedudukan Papimu, kamu yang akan menduduki. Eser akan menjadi bawahanmu. Seperti yang kamu mau. Satu lagi, Oz...." Arya mendekati Ozge, membisikkan beberapa kalimat pada adik tiri Eser itu. Seketika wajah Ozge mengeras. Dia sudah tidak bisa berkata-kata begitu mendengar apa yang Arya katakan.
"Kamu tidak bisa mengelak, Oz. Aku punya buktinya. Sekarang tidak ada pilihan lain bagimu. Aku akan membantumu sampai diposisi tertinggi. Penguasa puncak perusahaan SVK, pikirkan itu! Jangan takut, aku hanya mengumpulkan sedikit demi sedikit kekalahan dan sakit hati yang akan Eser rasakan. Aku hanya butuh itu. Aku tidak mengharap imbalan apapun darimu" Arya menepuk bahu Ozge dengan seringai licik.
"Aku akan menghubungi kalian segera." Ozge melangkahkan kakinya menuju luar ruangan. Dia langsung kembali menuju apartemen Eser.
Jia berjalan mendekati Gendis. "Maafkan aku, Ndis. Aku terpaksa," lirihnya.
Gendis memalingkan wajahnya. Dia merasa semua orang yang ada di sekelilingnya tidak ada yang benar-benar tulus. Semua melakukan apapun demi tujuan masing-masing. Entah apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.
"Sembunyikan kehamilanmu dari suaminya, jika sampai dia tahu. Aku pastikan dia akan lumpuh seumur hidup." Arya berbisik hampir mendekati telinga Gendis.
Dengan tatapan tajam, istri Eser itu menatap Arya. "Kamu gila, Ya. Pikiranmu dikuasai oleh dendam. Sampai kamu lupa hidupmu bisa lebih bahagia dan damai."
Arya tersenyum sinis. "Bahagia dan damaiku adalah ketika melihat Eser menderita."
__ADS_1
"Kamu sakit jiwa, Ya! Dengan uangmu yang banyak, seharusnya kamu bisa berobat ke psikiater untuk meluruskan pikiranmu. Kamu bisa menyembuhkan kejantananmu dengan tekhnologi kedokteran, tapi kamu malah memilih jalan yang negatif. Sungguh dangkal sekali pikiranmu," ucap Gendis dengan tegas, lugas dan tajam.
"Aku memang sakit, Ndis. Sakit. Apa aku salah? Karena Eser aku tidak bisa menjaliani hubungan yang normal. Kamu pikir aku tidak mencoba berobat? Tentu saja sudah." Arya mengatakannya dengan nada suara yang tinggi.
Gendis masih menatap Arya dengan tajam. Tidak sedikit pun dia gentar. Ketakutan, tidak layak ditunjukkan pada musuh yang berniat menindas kita.
"Kamu pulanglah, Ji. Tunggu jawaban Ozge. Aku akan berada di sini sepanjang hari. Aku akan memastikan dia tidak menghubungi suaminya." Arya melirik Gendis dengan tatapan liciknya.
.
.
Melihat kedatangan Ozge kembali, Eser dan Sevket seperti tidak sabar dengan apa yang menjadi syarat dari Jia.
"Bagaimana, Oz?" tanya Eser begitu penasaran.
Ozge menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Jia meminta aku menikahinya."
"Terlepas dari masalah Gendis, sudah seharusnya memang kamu menikahi Jia. Mungkin jodohmu memang gadis itu." Sevket dengan santai mengatakannya pada Ozge.
"Dia menginginkan pesta pernikahan yang mewah dan meriah. Dia akan menukar itu dengan bukti-bukti pelecehan yang Papi lakukan," lirih Ozge.
Sevket meraup wajahnya kasar. "Pertemukan Papi dengan Jia. Menikahlah dengan dia. Bukan demi Gendis, tapi demi kalian sendiri. Masalah Gendis, kalau kita mau. Tanpa pernikahanmu pun bisa kita bebaskan? Siapa memangnya si Arya. Bisa membeli hukum seenaknya sendiri."
Eser menggerakkan kursi rodanya menuju kamar. Dia merasakan pikiran dan fisiknya sama-sama lelah. Dia berteriak memanggil nama Damar dan perawatnya, meminta bantuan untuk dipundahkan ke atas ranjang.
Ozge dan Sevket hanya saling pandang. Keduanya tidak pernah melihat Eser semerana ini. Seorang Eser tidak pernah sedih apalagi sejatuh ini. Ozge tersenyum kecut. Tadinya dia mengira membuat Eser sengsara akan menyenangkan baginya, nyatanya tidak. Rasa bersalahnya, kini semakin besar.
Adik tiri Eser itu menghubungi seseorang dari ponselnya, sepertinya, dia sedang menghubungi Jia. Tidak lama, tidak sampai lima menit, panggilan itu berakhir.
"Kita ke apartemen, Jia, Pi," ajak Ozge.
__ADS_1
"Baguslah! Papi sudah lelah dihantui masalahamu ini. Lebih cepat selesai lebih baik." Sevket langsung berdiri.
Tanpa berpamitan dengan Eser, keduanya langsung pergi begitu saja.
Eser menepuk sisi kosong ranjang di sampingnya. Dia merasakan ada yang kurang. Biasanya, ada Gendis yang berbaring di sana.
"Tuhan, jaga istriku di mana pun dia berada. Berikanlah kekuatan padanya. Persatukan kami kembali, dengan kasih yang lebih berlimpah," Doa Eser dengan khidmat.
.
.
Gendis tidak bisa tidur atau sekedar istirahat dengan tenang, karena mata Arya seolah terus mengawasinya.
"Apa kamu terganggu dengan keberadaanku di sini?" tanya Arya, menyadari ketidaknyamanan Gendis.
"Haruskah aku menjawabnya. Kamu sudah tau jawabannya. Cukup tahu diri saja," ketus Gendis.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, jangan sampai suamimu tahu akan kehamilanmu, sampai waktu yang aku tentukan. Atau kamu akan melihat suamimu lumpuh selamanya dan akan aku buat kamu kehilangan calon anakmu!" Ancam Arya.
Gendis menatap Arya penuh kebencian dan dengan senyuman sinis. "Ternyata kamu memang menyedihkan, Ya. Ketidakberdayaan membuatmu kehilangan akal sehat. Aku kasihan padamu. Seharusnya, dengan kehidupan ekonomi yang lebih baik. Bisa membuatmu menjadi lebih baik dan bersahaja. Nyatanya, uang membutakanmu. Uang sudah menjadikanmu budak kekuasaan dan kejahatan abadi."
"Kamu tidak pernah ada diposisiku, Ndis. Maka dengan mudah kamu akan menilai aku jahat." Arya balik menatap Gendis dengan tajam.
"Aku bersyukur tidak pernah berada diposisimu. Tapi aku yakin, kalau pun aku merasakan berada di posisimu. Aku tidak akan sekejam dirimu, Ya. Tapi setidaknya, aku tidak akan melibatkan orang lain yang tidak berdosa untuk kepentinganku," tukas Gendis.
"Dan aku tidak sebaik kamu, Ndis," sahut Arya.
"Kamu yang dulu sangat baik, Ya. Kamu sangat peduli pada orang lain. Kembalilah pada kasih Tuhan. Biarkan damai menyentuh hatimu, jangan menolak kehadiran Tuhan. DIA akan menuntunmu dalam kebenaran. Tuhan akan menyembuhkanmu dengan mukjizatnya jika kamu percaya."
Arya menutup telinganya, mendengar kata-kata Gendis membuat telinganya panas. Hati dan pikirannya semakin berkecamuk antara menolak dan juga membenarkan perkataan Gendis.
__ADS_1