
Bukannya menolak, Gendis malah meriintih lirih agar kepala Eser lebih dalam berada di dadanya. Lidah pria itu sungguh liar. Seperti bayi yang yang sedang kehausan, sesekali dia menyesap dengan kuat. Desaahan Gendis yang tidak ditahan membuat Eser semakin bersemangat. Tangannya memainkan sesuatu di antara paha sang istri.
Racauan dari mulut Gendis mulai terdengar. Bukan kata-kata yang diharapkan Eser, melainkan ungkapan kenikmatan dan arahan agar sang suami menggerakkan jemarinya lebih cepat.
Eser tersenyum licik, meski dia pun harus tersiksa menahan Teser yang sudah meronta ingin bergerak lincah di tempatnya.
"Katakan kamu milikku, Mhi. Katakan kamu mencintaiku dan tidak akan pernah mengkhianatiku." Eser membisikkannya tepat di samping daun telinga Gendis. Pria itu bahkan memainkan lidahnya di sana.
Tubuh Gendis semakin meliuk dan mengeliat nikmat. Sungguh Eser sesungguhnya ingin segera memulai permainan yang sebenarnya, tapi melihat Gendis begitu tidak sabar mencapai kenikmatan, membuatnya begitu Tertantang. Sudah lama sekali Eser tidak melihat wajah sang istri penuh peluh seperti sekarang. Jelas sangat menggoda dan semakin terlihat luar biasa.
Senyuman licik kembali disunggingkan Eser, ketika dia merasakan jari manisnya mulai basah. Dia menarik jari itu dari tempat Teser seharusnya.
"Phi, aku mau lagi." Gendis mengatakannya dengan suara yang sangat menggoda.
Perlahan Eser melepaskan tangan Gendis dari borgolnya, membuat perempuan yang sangat dicintainya itu seketika menggenggam Teser dengan kedua tanggannya. Pada akhirnya, Eser lah yang harus menyerah, tidak ada kata cinta bahkan janji setia yang terdengar di gendang telinganya, namun dia sudah terbuai untuk melakukan puncak permainan. Kerinduan, cinta dan hasrat biirahi, memang tiga perpaduan terbaik ketika dua insan memadu kasih.
Ruangan kamar itu kini dipenuhi suara dessahan Eser. Pria itu berdiri dengan lututnya di atas ranjang sempit, sedangkan Gendis sibuk memenuhi mulutnya dengan Teser dan membuat Eser tidak kuasa lagi menahan diri.
Pria itu buru-buru mendorong pundak Gendis, Eser tidak ingin Teser memuntahkan cairan berharganya sebelum menghentak dan mengguncang pasangannyan dengan benar. Dia pun membalik tubuh Gendis agar membelakanginya. Sudah tahu maksud sang suami, Gendis langsung mengambil posisi seperti sedang merangkak.
Sudah lama tidak bertemu Teser, membuat Gendis menggigit bantal ketika milik Eser itu mulai memasuki celahnya. Sesak bersambung dengan nikmat seketika menyeruak. Hentakan pelan yang makin lama makin cepat membuat racauan keduanya bersahutan. Tidak butuh waktu lama, bahkan tidak sampai sepuluh menit, Eser dan Gendis mencapai kepuasannya bersamaan.
__ADS_1
Napas keduanya terengah-engah, dengan posisi miring saling berhadapan, sekarang keduanya saling memeluk. Bola mata Gendis menatap Eser tanpa berkedip, jemarinya terulur membelai wajah sang suami yang mulai tumbuh jambang halus.
"Aku mencintaimu, Phi. Aku bukan pengkhianat. Tapi aku benci ketika kamu tidak percaya padaku. Aku benci ketika kamu selalu mendahulukan emosi dan amarahmu. Aku ini istrimu, Phi. Seharusnya aku adalah orang yang paling bisa kamu percaya."
"Tapi kamu juga satu-satunya orang yang bisa menyakiti hatiku, Mhi," sahut Eser dengan cepat.
"Jika mencintai dan dicintai membuatmu tidak merasa tenang, buat apa, Phi?" Gendis menurunkan jemarinya hingga ke leher sang suami.
Eser menahan pergelangan tangan Gendis. "Jangan menggodaku dulu, aku ingin bicara serius."
Gendis mendengus dengan kesal. Dia melepaskan tangan dengan paksa, lalu turun dari ranjang dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Eser mengambil telepon genggam miliknya, berbicara serius dengan seseorang begitu lama dengan suara lirih. Namun dari raut wajah yang ditampilkan, jelas pembicaraan itu sangatlah penting. Hingga Gendis kembali muncul, pria itu masih bertahan dengan ponselnya tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.
"Apakah urusan pekerjaan? Kenapa mendadak?" Gendis memberikan bathrobe pada Eser. Berbicara serius tapi dengan kondisi tidak berbusana, tentu sangat meresahkan.
Eser menggelengkan kepalanya. "Bukan! Aku ingin mencari tahu tentang orangtua kandungku. Aku lahir di salah satu rumah sakit di sana. Aku ingin tahu. Papi tidak mau bercerita, jadi aku mau mencari tahu sendiri dengan caraku."
Gendis menghela napas dalam. Lalu dia duduk di samping Eser di tepian ranjang. "Waktu sudah lama berlalu. Apakah itu sangat penting? Belum bertemu saja kamu seperti sudah kehilangan rasa hormat pada papi, bagaimana nanti? Kenapa kamu mempersulit hidupmu, Phi. Jika Tuhan menghendaki kamu bertemu dengan orangtuamu, pasti Tuhan akan mempermudah jalan untuk ke sana. Kamu tega meninggalkan aku sendirian?"
Eser membalas tatapan Gendis dengan hangat. Tangannya meraih tangan sang istri dengan lembut. "Aku harus tahu, Mhi. Sepanjang hidup papi, begitu banyak misteri. Aku berharap, aku bukanlah salah satu bagian dari serentetan dosa papi."
__ADS_1
"Kamu memilih meninggalkan aku di saat aku hamil demi mencari tahu sesuatu yang belum pasti? Bukankah kamu bisa menyuruh orang lain? " Mata Gendis berkaca-kaca. Sudah lama dia ingin dimanjakan dengan kehamilannya. Saat dia berpikir semua sudah membaik, ternyata Eser malah mengambil keputusan sepihak.
"Tidak. Aku akan mencari tahu sendiri. Ini keputusanku. Aku akan menempatkan Ayumi di sini, dia akan menjagamu dengan baik," tegas Eser sembari memakai bathrobe tadi.
"Seribu Ayumi, tidak bisa menggantikan posisimu. Aku butuh kamu. Kalau kamu bersikeras untuk pergi, silahkan, Phi. Tapi jangan salahkan aku jika aku semakin terbiasa hidup tanpa kamu." Gendis beranjak berdiri. Kekecewaan jelas tersirat dari matanya.
Eser bergeming. Ponselnya kembali berdering, dia mengambilnya dengan buru-buru. Kali ini, dia memang ingin bergerak dengan cepat. Pria itu terlihat gamang, melihat reaksi Gendis membuatnya takut salah langkah. Namun tekadnya sudah bulat. Dia benar-benar ingin mengetahui siapa orangtua kandungnya.
"Mhi...."
"Cukup, Phi. Selama ini, sebagai istri aku tidak pernah meminta apa pun dari kamu. Yang berlaku pada kita, lebih banyak adalah kehendakmu. Sekarang biarkan aku egois, aku tidak mengijinkanmu pergi." Gendis memotong ucapan Eser dengan cepat lalu dia melangkahkan kaki hendak meninggalkan kamarnya. Namun niat itu batal karena kini ponsel Gendis yang mengeluarkan bunyi nyaring.
Dengan gerakan cepat, Gendis menghampiri benda pipih bertekhnologi tinggi di atas meja riasnya. Tertera nomer yang dikenalnya di layar ponsel itu. Gendis tidak berniat menjawab, dia bahkan langsung menolak panggilan itu dengan cepat.
"Siapa?" Eser yang selalu posesif kembali menaruh curiga.
Gendis tidak merespon pertanyaan sang suami. Bersamaan, ponselnya kembali berdering. Perempuan itu lagi-lagi tidak menjawab dan mengecilkan volumenya hingga mencapai mode diam.
"Siapa, Mhi? Kenapa tidak diterima? Kenapa wajahmu gugup?" Desak Eser sembari menghampiri Gendis.
Karena tidak ingin Eser curiga, Gendis terpaksa menerima panggilan telepon itu. Begitu benda tersebut menempel di daun telinganya, suara cemas dengan serentetan kata-kata yang diucapkan langsung terdengar dan mampu membuat Gendis ternganga.
__ADS_1
"Aku akan ke sana sekarang," ucap Gendis seraya menyambar kunci mobilnya yang ada di dalam laci.