
Eser dan Sevket kini sudah berada di dalam ruangan di mana Gendis berada. Kabar melegakan sudah disampaikan dokter beberapa menit yang lalu. Meski sempat mengalami syok dan kram, kondisi janin Gendis dinyatakan baik-baik saja.
Gendis sendiri setelah sempat sebentar menyapa suami dan mertuanya, kini tertidur pulas karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter. Untuk malam ini saja, Gendis harus menginap di rumah sakit.
"Papi, pulang saja, Pi. Biar Eser yang menjaga Gendis sendirian. Kalau ada Papi, Es malah tidak enak," ucap Eser, sangat jujur.
"Kamu mengusir papi,Es?" Sevket malah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya.
"Iya, Pi. Eser sedang mengusir Papi. Kenapa Papi pura-pura tidak paham?" Eser terlihat sangat kesal.
"Astaga, Es! Papi repot-repot menemanimu, tapi kamu malah tidak tau terima kasih seperti ini. Dasar anak laknaat." Sevket beranjak berdiri. Tanpa berucap kata apa pun lagi. Pria berusia separuh abad lebih itu, meninggalkan ruangan dengan menyimpan bahagia dan kelegaan di hatinya.
Apa yang terjadi malam ini, akan sedikit membuat keluarga Sevket menjadi bahan gunjingan di kalangan relasi mereka. Tapi dia tidak peduli, asal satu per satu masalah yang membelenggu bisa selesai.
Setelah kepulangan Sevket, tinggallah Eser yang meringis merasakan kakinya masih nyeri. Obat pemberian dokter yang tadi memeriksa kondisi Esee, tidak membuat rasa tidak nyaman itu hilang sepenuhnya.
Eser menarik bangku berbahan plastik tebal untuk di dekatkan dengan brankar Gendis. Dia duduk di sana dan tangannya terulur membelai wajah Gendis yang nampak tenang.
"Terimakasih, Mhi. Terimakasih sudah berjuang hingga kamu dan Esju baik-baik saja." Eser menurunkan tangannya untuk menggenggam satu tangan Gendis yang tidak terpasang jarum infus.
Semakin lama, mata Eser semakin berat untuk diajak berjaga. Perlahan, kepala Eser tersungkur di atas brankar. Dengkuran halus keduanya bersahutan memenuhi ruangan yang sangat sunyi.
Beberapa jam kemudian, tepatnya menjelang subuh waktu ibukota, Gendis terbangun karena merasakan tangannya tertimpa sesuatu yang berat.
Gendis berusaha membuka matanya lebih lebar untuk melihat apa yang menimpa tangannya. Hati perempuan itu seketika nenghangat. Melihat sikap Eser yang manis, membuat Gendis sukses senyum -senyum sendiri. Sayangnya, dia masih enggan untuk mengucapkan cinta pada Eser.
Sebenarnya, tangan Gendis sendiri sudah merasakan kebas, tapi dia mengurungkan niatnya untuk menarik tangannya. Melihat Eser yang tidur pulas dengan tenang, membuat hati Gendis dipenuhi rasa syukur.
__ADS_1
'Terimakasih, Tuhan. Atas kuasamu, hidupku berjalan luar biasa seturut kehendakmu. Terimakasih telah memberikan pria ini untuk menemani hidupku selamanya. Aku berharap Engkau memudahkan langkah kami ke depan. Biarlah kasihmu menuntun hati kami untuk membangun pernikahan sesuai dengan ajaranmu.' gendis berdoa dalam hati.
Tidak lama dari itu, Eser pun juga terbangun. Dia sangat kaget, begitu melihat dirinya bisa tidur dalam posisi duduk tersungkur seperti ini. Eser buru-buru berdiri.
"Selamat pagi, Phi." Gendis sengaja menyapa Eser dengan tatapan menggoda.
"Matanya biasa saja, Mhi. Ingat kata dokter, sementara Esju tidak boleh dijenguk selama satu bulan ke depan. Jadi jangan menggodaku." Eser berjalan menuju kamar mandi, Gendis hanya bisa menahan tawanya. Dokter ternyata memenuhi permintaannya untuk mengerjai Eser.
Gendis perlahan turun dari brankar. Dia menyeret tiang infus menuju sisi ruangannya yang terbuat dari kaca. Dia ingin melihat langit pagi dari sana.
Tiba-tiba Eser memeluknya dari belang. Bertubi-tubi pria itu mengecup bahu Grndis dengan lembut.
"Aku mau ke kamar mandi, Phi." Gendis mencoba melepaskan diri dari pelukan Eser.
"Sebentar Mhi, aku ingin memeluk kamu seperti ini agak lama. Merasakan baumu yang masam saat bangun tidur. Sungguh hatiku tenang sekali saat ini." Eser kembali mengecup Gendis.
"Dasar aneh. Ayolah, Phi! Aku ingin buang air kecil, kalau sampai aku melakukan di sini, bagaimana?"
"Keluarlah, Phi! Haruskah berdiri di sana dan terus melihat seperti itu?" Gendis bertanya sedikit ketus, karena bukannya keluar, Eser malah bersandar di tembok yang letaknya tidak jauh dari closet yang didudukinya.
"Aku di sini saja. Aku takut kamu membutuhkanku," kilah Eser.
"Kalau butuh, aku akan teriak," dengus Gendis.
Dengan terpaksa, Eser pun keluar dari sana. Mulutnya bersungut-sungut karena merasa terusir.
Di tempat lain, Ozge sudah bersiap meninggalkan hotel. Padahal waktu belum menunjukkan pukul enam pagi. Jia yang semalaman kelelahan karena melalui malam pertama dengan alat getar bergerigi, tampak masih tertidur dengan tubuh terkulai tak berdaya.
__ADS_1
Tenaga perempuan itu sepertinya terkuras habis oleh lenguhaan dan deesahan akibat sensasi benda yang sangat langka itu. Ozge hanya mengirimkan pesan melalui pesan whatsapp pada Jia. Sebuah pesan yang akan membuat Jia terkejut luar biasa.
Ozge segera menuju kamar Agam dan Aglair, dia sudah menyuruh pengasuh si kembar untuk mempersiapkan segala keperluan penting kedua anaknya. Selama tujuh hari ke depan, selama cuti pernikahan. Ozge ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.
Bersama dua orang pengasuh dan si kembar, Ozge meninggalkan hotel diam-diam. Tidak ada seorang pun yang dipamitinya. Dia benar-benar hanya ingin bersama Agam dan Aglair tanpa ada gangguan.
Di hotel yang sama, Dahlia yang tahu tentang kejadian semalam masih harap-harap cemas tentang keselamatan Gendis. Orang kepercayaannya, belum memberikan informasi apapun pagi ini.
Dahlia berniat keluar untuk melakukan makan pagi di resto hotel, tapi saat di dalam lift, sebuah kebetulan yang sesungguhnya sangat dia hindari terjadi. Dia bertemu dengan Sevket. Sudah terlambat untuk menghindar.
Sevket yang masih menyimpan sedikit tanya tentang masa lalunya bersama perempuan itu, seperti mendapat kesempatan berharga. Seketika dia menarik tangan Dahlia dengan setengah memaksa keluar dari lift.
Dahlia mencoba menarik tangannya dari genggaman Sevket. Tapi tenaganya tidak cukup kuat. "Lepaskan! Kita bisa bicara baik-baik, tapi jangan seperti ini. Kalau ada yang melihat, mereka bisa salah paham" ucapnya.
Sevket bergeming, dia membawa Dahlia ke taman bermain yang berada belakang hotel.
"Kenapa kamu waktu itu pergi? Bukankah aku sudah mengatakan akan menikahimu dan menceraikan Mutia?" Sevket sudah tidak sabar lagi. Dia sudah memendam pertanyaan itu sejak lama.
Dahlia membalas tatapan Sevket yang tajam padanya. "Sudah sangat lama berlalu, kamu masih mempertanyakan itu. Sepertinya itu tidak penting lagi. Apa pun jawabanku, tidak akan mengubah keadaan. Masih ada yang lebih penting dari ini."
"Apa?" Selidik Sevket.
Dahlia membalikkan badannya, Memunggungi Sevket sembari menarik napas dalam.
"Apa Eser anak kandungmu?" Tanya Dahlia.
Sevket mengernyitkan keningnya. Sama sekali belum bisa memahami arah pembicaan Dalia.
__ADS_1
"Tentu saja, Eser adalah anak kandungku."
Dahlia memejamkan matanya. ''Semoga saja bukan. Semoga dugaanku salah. Tapi aku harus membuktikan sebelum semua berjalan semakin jauh.'' Perempuan itu bergumam dalam hati.