Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kepergian Eser


__ADS_3

Keesokan paginya, ketika Gendis dan Damar sudah bersiap untuk melakukan sarapan pagi di meja makan, Eser belum juga menampakkan batang hidungnya. Pria itu masih berada di lantai lima. Sejak pembicaraannya dengan Gendis kemarin, Eser tidak keluar dari kamar sama sekali. Bahkan untuk makan malam, Gendis meminta bantuan asisten rumah tangga untuk mengantarnya.


Damar yang nampak rapi karena sudah mulai masuk kuliah, menyantap makanannya terlebih dahulu. Dia tidak ingin terlambat di hari pertama masuk menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu universitas ternama. Damar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan serta fasilitas yang diberikan oleh Eser. Sebisa mungkin dia akan lulus tepat waktu dan menjadi mahasiswa dengan pencapaian terbaik di fakultasnya.


"Mar, Mbak mau lihat Mas Eser dulu. Kamu langsung berangkat saja kalau Mbak belum turun." Gendis memutuskan untuk melihat kondisi suaminya.


"Iya, mbak." Damar menjawab di sela-sela prosesnya mengunyah makanan.


Meski sedikit ada keraguan, Gendis mencoba memantapkan diri untuk menemui Eser. Sebenarnya, dia sendiri ingin menghindar sementara karena lelah berdebat. Namun kondisi psikis Eser lagi-lagi membuat Gendis rela menekan ego dan merendahkan hati untuk mengalah.


Sesampainya di depan kamar, Gendis mengetuk pintu ruangan yang biasanya menjadi daerah kekuasaannya dengan sedikit keras. Tidak ada sahutan, Gendis pun perlahan mencoba menekan gagang pintu ke bawah. Ternyata pintu itu tidak terkunci.


"Astaga." Gendis menggelengkan kepala lirih sembari membungkukkan badan memunguti barang-barang miliknya yang berserakan di lantai. Rupanya Eser benar-benar kembali pada penyakit lamanya. Kesulitan menahan emosi dan langsung melampiaskan kemarahan dengan menghancurkan apa pun di sekitarnya.


Gendis mengambil keranjang sampah, untuk kesekian kali, namun di waktu jeda yang sudah lumayan lama, dia kembali membuang peralatan make up yang sebenarnya masih baru. Karena sudah sangat hancur, dia tidak mungkin memakai atau menyimpannya lagi.


Hampir satu jam Gendis berbenah, Eser yang sedang tidur dengan posisi tengkurap di atas sofa tidak juga mengeliat sedikit pun. Gendis menyeka peluh yang membasahi keningnya. Lalu mengambil segelas air mineral dan meneguknya hingga tandas.


Karena lelah, Gendis mendudukkan badannya di atas ranjang. Lelah kali ini tidak sekedar fisik, tapi juga lelah hati dan pikirannya. Perempuan itu mengusap perutnya penuh cinta dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bunda mengambil deritamu, Es. Di kehidupanmu nanti, kamu pasti akan bahagia. Kamu tidak akan mengalami kesengsaraan seperti yang Bunda rasakan. Bunda akan memastikan itu," lirih Gendis.


Bulir bening mulai membasahi pipinya tanpa aba-aba. Kekuatannya mungkin mulai runtuh, atau memang beban hidupnya yang semakin berat. "Kamu tahu, Es. Dulu, Bunda sering mengalami kesulitan masalah uang. Saat itu, untuk bisa makan sehari dua kali saja Bunda harus memijat pundak dan kaki orang. Bunda sempat berpikir, alangkah senangnya jika kita hidup dengan uang yang melimpah. Nyatanya? Sekarang Bunda malah ingin kembali di masa-masa itu. Saat Bunda hanya berpikir bagaimana cara mencari uang. Saat masalah hanya benar-benar datang karena Bunda tidak mempunyai uang sama sekali. Bunda benar-benar lelah, Es.Tapi Bunda tidak ingin menyerah."


Tanpa Gendis sadari, Eser mendengar semua jeritan hati yang diselingi dengan isak tangis sang istri. Hatinya semakin hancur. Rasa bersalah dan rasa tidak pantas menjadi pendamping Gendis, semakin menyeruak dari hati hingga merasuki pikiran Eser yang terdalam. Pria itu bergeming, tubuhnya terasa tidak bertulang. Sungguh dia seperti kehilangan muka untuk menatap istrinya sendiri. Batin Eser benar-benar meronta dan menangis histeris kali ini. Rasa sakit dan sedih saat kemarin dirinya dan Gendis dinyatakan sebagai saudara sedarah, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dia rasakan sekarang.


Pupus sudah semua harapan saat dia membuka ponsel dari Sevket yang seharusnya untuk Gendis. Kekesalan yang dia lampiaskan dengan membuang semua benda di atas meja, mengantarkannya menemukan ponsel itu. Awalnya, Eser membuka benda pipih bertekhnologi tinggi itu karena mengira benda itu digunakan sang istri untuk berhubungan dengan pria lain. Namun ternyata ...


Lagi-lagi kenyataan pahit yang harus didengar dan dilihat. Video Sevket saat menceritakan tentang asal usul dirinya, sungguh membuatnya sesak. Pria yang sudah dituduh Eser brenggsek itu, nyatanya adalah perpanjangan tangan yang dikirimkan Tuhan untuk melepaskan dirinya dari lingkungan yang kejam.


Gendis dengan gerakan pelan beranjak dari duduknya, mengusap air mata di pipi, lalu mengayunkan kaki mendekati Eser. Perlahan, perempuan itu mendudukkan bokongnya di sisi sofa tepat di dekat kepala Eser. Tangan Gendis terulur membelai rambut sang suami.


Eser sekuat tenaga menahan diri agar tidak bereaksi. Dunia sungguh sedang menghukum dirinya dengan kejam. Eser kini hanya bisa menyesali tentang kebodohannya yang terlalu tergesa-gesa mencari orangtua kandungnya. Semua sudah terlanjur, maka dia harus mempertanggung jawabkan apa yang dia lakukan. Akan sangat sakit, dan kesakitan itu mungkin tidak akan berujung.


"Laki-laki macam apa aku ini, Tuhan? Kenapa aku harus membuat kebodohan sebesar ini? Pantaskah aku masih mengharapkan pertolonganmu?" Eser meratap berdoa dalam hati. Sementara Gendis terus mengusap kepalanya dengan pandangan mata menerawang ke arah langit-langit kamar.


Hampir sepuluh menit berlalu, keduanya bertahan dengan posisi yang sama. Gendis memberanikan diri menyentuh pipi suaminya, sembari lirih berkata, "Phi, sudah siang, ayo bangun! Apa kamu tidak bekerja hari ini?"


Eser memilih bertahan untuk tidak memberikan reaksi apapun. Padahal, jika boleh dia sedikit tidak tahu diri dan mengabaikan kenyataan, ingin sekali Eser memeluk Gendis. Dia tidak akan melepaskan pelukan itu sampai kapan pun.

__ADS_1


"Aku ke bawah dulu ya, Phi. Perutku beberapa hari ini sering tiba-tiba kencang dan kaku. Entah karena aku lelah atau stres. Aku mau lihat jadwal pemeriksaan Esju selanjutnya." Gendis berpamitan meski dia tidak tahu pasti pria itu mendengarnya atau tidak.


Mendengar suara pintu kembali ditutup, Eser langsung mengubah posisi tidurnya dan membuka kedua bola matanya. Pria itu lalu bergegas ke kamar mandi. Karena terlambat bangun, satu rencananya menjadi buyar. Kini dia harus melihat kondisi dan menunggu waktu lagi untuk menjalankan rencana itu.


Setelah makan pagi, Gendis memutuskan untuk bersantai di ruang baca. Perempuan itu duduk di kursi pijat sembari mendengarkan musik santai. Kedua tangannya memegang sebuah buku berisi kumpulan artikel tumbuh kembang anak.


Satu jam berlalu, buku Gendis sudah menimpa wajahnya hingga tertutup. Dengkuran halus keluar dari mulutnya. Hingga nada dering dari ponsel Gendis, berhasil membuatnya terperanjat. Tertera nama Ozge di sana. Gendis segera menerima panggilan itu. Suara Ozge yang terdengar panik langsung menyapa begitu benda pipih itu menempel di daun telinga Gendis.


Tidak berapa lama, dengan kekhawatiran yang tersirat jelas di mata dan raut wajahnya, Gendis buru-buru kembali ke lantai lima untuk menemui Eser. Namun saat tiba di sana, dia tidak mendapati sang suami.


"Phi ...." Gendis terus memanggil Eser sembari membuka pintu kamar mandi.Tapi hasilnya nihil. Lalu dia berjalan cepat kembali menuju lift agar membawanya ke setiap lantai untuk mencari keberadaan Eser.


"Ibu nyari Pak Eser?" Tanya salah satu asisten rumah tangga bernama Minah yang kebetulan sedang melintas di depan kamarnya di lantai dua.


"Iya, apa Bibi tahu?" Gendis menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu kamar.


"Bapak baru saja pergi, Bu. Sepertinya mau keluar kota, karena bapak membawa koper besar."


Tubuh Gendis seketika lemas. Perlahan tubuh itu merosot di daun pintu hingga bokongnya menyentuh dinginnya lantai marmer yang dingin.

__ADS_1


"Cobaan macam apa ini, Tuhan. Kenapa semua terjadi bersamaan dan bertubi-tubi?" Keluhnya dengan pandangan kosong.


__ADS_2