Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Tidak paham kode


__ADS_3

Mereka memutuskan bertemu di hotel, tepatnya kembali ke room mereka. Kalau Sevket ke luar dari area hotel, tentu akan memunculkan kecurigaan Mutia.


"Mhi, kamu yakin tidak akan kenapa-napa?" tanya Eser dengan raut wajah khawatir.


"Tidak mengapa, sepertinya akan nyaman kalau sembunyi di ketiakmu begini." Gendis mengendus ketiak Eser dengan mata memejam. Seperti sedang menikmati sesuatu yang sangat menyenangkan.


Eser memicingkan matanya sembari meringis. Merasa aneh sekaligus senang dengan kelakuan sang istri. Apa pun, selama Gendis di dekatnya, terasa sangat menyenangkan.


Sampai di hotel, mereka sempat melihat Jia, yang juga baru saja datang. Tapi Gendis dan Eser pura-pura tidak tahu dan tidak menyapa. Baju rumahan yang dipakai pasangan itu, membuat Jia tidak curiga sedikit pun pada keduanya. Perempuan itu hanya mengira kalau Eser dan Jia baru makan malam di resto yang ada di sebelah hotel.


Eser kembali menghubungi Sevket. Sekedar mengabarkan kalau dia sudah di room. Seperti otomatis, Gendis kembali mengalami mual dan pusing. Dia akhirnya menyuruh Eser duduk di tepian ranjang, lalu dengan santai Gendis mengendus-endus ketiak Eser untuk mencari kenyamanan.


Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika hanya berdua saja di dalam kamar, tentu tidak menjadi masalah. Tapi sebentar lagi, akan ada Sevket yang datang. Tentu saja hal itu bisa menimbulkan tanda tanya di benak papinya.


Ketika bel room berbunyi, dengan sedikit malas, Gendis beranjak untuk membuka pintu. Sevket pun langsung masuk tanpa basa basi.


Lagi-lagi ada yang aneh pada diri Gendis, Eser bisa menangkap dan merasakannya. Sesaat setelah melihat wajah Sevket, istrinya itu begitu sumringah.


"Papi ganteng sekali," bisik Gendis membuat Eser menautkan kedua alis tebalnya sembari berdiri perlahan mendekati sofa di mana papinya berada.


Gendis terus bergelayut manja di lengan Eser. Deheman Sevket tidak menyurutkan nyali perempuan itu untuk bermanja-manja di depan papi mertuanya.


Eser menjadi serba salah, dia menyukai sikap Gendis seperti ini. Tapi, tidak enak juga kalau di depan Sevket harus terlihat menjadi romantis begini. "Mhi, ada papi."


"Terus kenapa? Papi aja tidak masalah. Atau kamu yang tidak senang aku begini?" Tanya Gendis dengan ketus.


Sevket menahan senyum di wajahnya. Eser sudah menemukan lawan yang sepadan. Anaknya itu terlihat tidak bisa membantah ucapan Gendis. Hal yang langka, karena sebelumnya, pantang bagi Eser tunduk pada orang lain, terlebih lagi pada perempuan.

__ADS_1


"Jadi bagaimana?" Sevket kembali pada fokus tujuan semula.


Eser langsung menjelaskan pada Sevket apa yang dia ketahui tentang rencana Jia dan Arya dengan jelas. Meski sesekali matanya terusik melirik Gendis yang terus mengendus ketiaknya.


"Sepertinya Jia bermain-main denganku, padahal yang direncanakan besok hanyalah penangkapan papanya dan Gia," gumam Sevket.


"Serahkan semua urusan mendekati WO yang dimaksud Jia padaku, Phi." Gendis tiba-tiba mengeluarkan suaranya.


"Enggak usah!" Eser langsung menolak keras.


Sevket memperhatikan Gendis, menantunya itu jelas sangat pemberani, cerdas dan banyak akal. Sepertinya mengiyakan usulan Gendis tidak ada salahnya.


"Bukan ide yang buruk," ucap Sevket.


"Pi!" Eser membelalakkan matanya pada sang Papi.


"Kenapa? Istrimu yang menawarkan diri. Tidak boleh?" tanya Sevket dengan santainya.


Sevket tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Pantas sekali kamu terlihat berbeda, Ndis. Badanmu lebih berisi dan semakin cantik," puji sang mertua.


"Pi, tidak pantas Papi memuji-muji Gendis," tegur Eser.


"Ini papi, Es. Kenapa kamu harus cemburu begitu."


"Pi, karena sudah terlanjur, tidak mengapa Papi tahu kehamilan Gendis. Tapi tolong, cukup sampai di Papi saja. Hanya di antara kita saja," pinta Gendis.


Sevket langsung mengangguk setuju tanpa banyak tanya. Meskipun dia tidak tahu apa alasan yang menyebabkan mereka sampai menyembunyikan kehamilan.

__ADS_1


"Ayolah, Phi. Ini demi kita bersama. Kalau yang bertindak dari kita sendiri, akan semakin bagus. Melibatkan orang lain, malah akan membuat banyak orang yang tahu. Kita belum tahu isi flashdisk itu, kalau berisi yang tidak-tidak bagaimana?" Gendis merayu Eser dengan kata-kata, juga dengan bahasa tubuh. Sevket sampai harus memalingkan pandangan matanya karena tidak enak melihat Gendis yang erus mengusap paha Eser.


"Papi, setuju dengan Gendis." Sevket mengucapkannya dengan tegas tapi tanpa menoleh.


"Boleh, ya. Aku bisa menjaga diri. Lagi pula pengamanan besok cukup ketat. Arya tidak akan datang. Yang kita hadapi hanya seorang pegawai WO yang haus akan uang dan mungkin juga belaian. Serahkan saja sama aku." Suara Gendis sungguh membuat Eser ingin mengusir Sevket dari kamarnya.


"Hemmmn... Tapi ada syaratnya," ucapan Eser membuat Sevket berdiri. Sebagai mantan Casanova, dia tahu pasti arah pembicaraan sang anak, ditambah lagi dengan cara duduk Eser yang mulai resah.


"Ya, sudahlah. Papi kembali ke kamar. Kalian harus berhati-hati besok. Kita juga harus bersiap-siap malu karena Jia dan Papanya akan Papi eksekusi besok. Untuk masalah flashdisk. Papi percayakan sepenuhnya pada Gendis."


"Kenapa buru-buru, Pi? Melihat wajah Papi membuat perut Gendis tidak bergejolak. Sepertinya, Esju sangat menyayangi kakkeknya," kata Gendis dengan santainya.


Sevket terkekeh. Bersama Eser dan Gendis, akhir-akhir ini membuat jiwanya menghangat. Menantunya itu sungguh luar biasa dalam mengaduk perasaan.


Sosok Gendis, mengingatkannya pada seseorang. Tentu saja sosok perempuan yang menjadi simpanannya beberapa tahun yang sangat silam. Perempuan yang menghilang begitu saja padahal Sevket sedang sayang-sayangnya.


"Kenapa, Papi melamun?" Gendis menyentuh lengan Sevket dengan lembut dan sopan. "Kalau Papi memang mau kembali ke kamar, tidak mengapa. Jangan merasa tidak enak," tambahnya.


"Iya, Pi. Jangan tidak enak begitu. Papi harus bersiap buat besok. Jaga kesehatan, Papi. Karena kalau semuanya beres. Es, juga akan mengadakan pesta meriah untuk pernikahan kami, sekaligus kehamilan Gendis. Papi istirahat saja." Eser memberikan kode berupa tatapan mata pada Sevket.


"Sebentar, Papi masih ingin di sini." Sevket sengaja ingin menggoda Eser.


Gendis terlihat sangat senang. "Apa Papi masih sering merasakan pusing? Kalau masih, Gendis bisa membantu Papi meredakan sedikit dengan pijatan Gendis."


Tawaran Gendis seketika membuat Eser mendengus kesal. Sevket mengangguk dan menepuk bahunya. Pertanda dia mengijinkan Gendis melakukan pijatannya.


Saat Gendis menyentuh pundaknya. Ingatan Sevket akan seseorang tadi menjadi semakin nyata. Sentuhan Gendis dan perempuan yang pernah membuatnya tergila-gila sungguh terasa sama.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu, Sevket begitu menikmati dan meresapi pijatan sang menantu. Eser yang beberapa kali pura-pura batuk pun diabaikan.


"Pi... ," panggil Eser, Sevket malah terlihat semakin rapat memejamkan mata dalam posisi duduknya.


__ADS_2