Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Tidak seperti pengantin


__ADS_3

Tidak seperti pengantin baru pada umumnya, yang memilih tinggal di hotel terlebih dahulu setelah acara. Eser sengaja mengajak Gendis kembali ke apartemennya. Tanpa perdebatan, Gendis mengikuti saja kemauan Eser.


Damar memilih kembali ke apartemen Gendis. Eser sudah mengajaknya tinggal bersama, tapi dia menolak dengan alasan ingin belajar mandiri.


Tidak ada persiapan apapun dari Gendis, baju pun hanya beberapa helai. Karena dia berpikir setelah menikah dengan Ozge, pasti sebentar akan tinggal di hotel.


"Selamat datang, Nyonya Eser," ucap Eser sesampainya di apartemen.


"Di mana kamarku, aku ingin membersihkan diri dan berganti baju?" tanya Gendis, datar dan dengan tatapan tajam.


"Apa kamu sudah tidak sabar ingin melayaniku, Nyonya Eser? pelan-pelan saja. Kita bisa melakukan nanti." Eser menarik tangan Gendis masuk ke dalam kamarnya sembari membawakan koper istrinya.


Gendis hanya menyapu pandang sekilas pada isi kamar. Kemegahan dan kemewahan yang ada di sana, tidak sedikit pun membuatnya tercengang.


"Aku, mau mandi dulu." Gendis melepas pegangan tangan Eser. Mambuka koper dan mengambil baju ganti, lalu langsung ke kamar mandi.


Eser melepas kemejanya, menyisakan celana saja melekat di tubuhnya. Tidak peduli Gendis tidak mencintainya, yang pasti gadis itu sekarang sudah resmi menjadi Nyonya Eser. Dia berhak memperoleh kesenangan dari istrinya.


Setelah menunggu lumayan lama, Gendis pun keluar kamar mandi dengan kondisi rambut yang basah dan wajah yang sangat segar.


"Mandilah dulu, Aku akan melayanimu setelah kamu mandi."


Ucapan Gendis, jelas membuat Eser terheran-heran. Istrinya itu menikah karena terpaksa dan sekarang sudah pasti hatinya juga sedang terluka. Tapi, dengan jelas dan tanpa rasa takut perempuan itu menantang dirinya. Padahal, Eser sudah membayangkan perempuan yang malu-malu atau paling tidak perempuan yang jual mahal untuk melakukan sesuatu yang intim.


Eser langsung masuk ke kamar mandi dengan semangat. Sudah lama sekali dia menginginkan Gendis, sejak gadis itu menjadi mahasiswi pintarnya. Setiap melihat Gendis, imajinasinya selalu liar. S3x appeal istrinya itu, sungguh membuatnya penasaran.


'Aku akan menjadi j4l4ng di ranjang ini, Es. Aku akan menjadi lebih hebat dari perempuan mana pun yang sudah kau tiduri. Tapi kamu akan membayar dengan sangat mahal, bahkan uangmu tidak akan cukup. Aku akan menyiksa batinmu perlahan. Semua harus sepadan, Es,' batin Gendis, sembari tersenyum sinis.


Gendis membuka ponsel yang diberikan oleh Eser, karena di sana dia memiliki paket data unlimited. Tidak seperti ponselnya sendiri, yang lima belas hari saja sudah mengandalkan mode gratis. Dia membuka salah satu situs yang tadi sempat dia tanyakan pada Surti. Dia mengecilkan volume medianya hingga tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Tatapannya fokus pada layar ponselnya, sesekali dia membekap mulutnya sediri karena merasa sedikit mual dan aneh.

__ADS_1


Untung saja, Eser lumayan lama berada di kamar mandi. Jadi Gendis bisa melihat pelajaran dadakan lumayan lama.


'Beg, kamu yang memutuskan untuk tidak percaya padaku. Dan kamu pun mengingkari kalau sudah melakukannya denganku. Aku tidak akan mengemis lagi. Secepat cinta yang datang antara kita, secepat itu aku akan menganggapmu tidak pernah ada dalam hidupku,' lirih Gendis dalam hati.


Sementara itu, di gedung apartemen yang sama, di unit dan lantai yang berbeda. Ozge terkulai lemas, setelah Jia menggempurnya. Hatinya yang sudah terlanjur berpaling dan membenci perempuan gila itu, membuat kepemilikannya enggan bereaksi maksimal. Alam bawah sadarnya terhubung sempurna dengan otaknya yang masih meratapi pernikahan Gendis dengan Eser.


Jia tidak terima tubuh Ozge menolaknya. Perempuan itu pun melakukan berbagai cara untuk dapat menyalurkan hasratnya yang sudah tidak terbendung. Tisu 5ulap yang diberikan Jia, sungguh membuat Ozge remuk dan tersiksa.


'Beg, maafkan, aku ... sungguh aku akan berusaha menyelesaikan urusanku dengan Jia secepat mungkin. Tolong jangan berpaling dulu,' sesal Ozge dalam batinnya.


"Aku mau sekali lagi, Oz." Jia langsung kembali menindih tubuh Ozge.


"Lakukan apa maumu, Ji. Lakukan selagi kamu bisa. Kesalahanku dan apa yang kalian lakukan untuk menjeratku, itu sangat tidak setimpal. Sekarang aku mungkin tidak berdaya, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." Ozge melempar pandang ke arah lain. Dia tidak ingin melihat wajah Jia sedikit pun.


"Gerakkan pinggulmu, Oz. Berikan perlawanan sedikit," bisik Jia, dibuat se5ensual mungkin.


Ozge tidak peduli. Dia tetap diam, Naganya tegak juga bukan secara alami, jadi biarlah Jia yang bekerja sendiri.


.


.


"Apa aku harus menyiapkan bajumu juga?" tanya Gendis, masih saja datar dan dingin.


"Seharusnya kamu langsung lakukan tanpa bertanya." Eser memijat tengkuk lehernya sendiri.


Gendis pun berdiri, tanpa bertanya, membuka pintu lemari satu per satu hingga menemukan deretan pakaian yang jojok untuk tidur.


"Ini." Gendis memberikan piyama berwarna biru tua.


"Taruh meja saja. Mana c3lana dalamnya?"

__ADS_1


Gendis kembali mencari sendiri tanpa bertanya. Semua tertata dengan sangat rapi, memudahkan pencarian meski baru membuka lemarinya.


"Apa lagi sekarang?" Gendis menggenggamkan benda segi empat itu langsung ke tangan Eser.


"Badanku pegal. Pijat aku. Percuma rasanya mempunyai istri pemijat, kalau sampai aku tidak dipijat setiap malam," ucap Eser sembari duduk di tepian ranjang.


Gendis naik ke atas ranjang, berdiri dengan lututnya berdiri di belakang punggung Eser.


"Kamu tidak memakai celanamu dulu?" tanya Gendis dengan ketus tapi tangan mulai memijat bagian punggung suaminya.


"Sepertinya tidak perlu," Eser melempar segi empatnya ke sembarang arah.


"Sebelum kamu menyuruhku lebih, berikan dulu hakku. Sekarang, aku istrimu bukan? aku mau uang belanjaku. Aku tidak menerima kartu kredit. Kamu juga harus memberikanku mobil, mulai besok aku akan belajar menyetir. Aku dinikahi seorang Eser Sevket, tapi pernikahanku terlalu sederhana, bahkan tidak ada seserahan apapun. Mari kita buat semuanya menjadi adil." Gendis menghentikan pijatannya sejenak.


Eser menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang, membuat posisinya menjadi bersila dan berhadapan langsung dengan Gendis.


"Adil yang bagaimana?" tanya Eser, di akhiri dengan menelan ludahnya sendiri. Tatapan mata Gendis sungguh menantang.


"Anggap uang pinjaman bapakku sebagai pengganti seserahan. Jadi mulai detik ini hutang kita lunas. Kedua, karena tidak ada resepsi, aku ingin kamu mengganti dengan memberiku uang sebesar biaya resepsi yang sangat mewah, dan yang terakhir, aku ingin berhenti menjadi sekretarismu. Sebagai Nyonya Eser, aku cukup menikmati hasil kerja keras suamiku saja," ucap Gendis, kugas dan tegas.


Eser tersenyum sinis, dia tidak menduga Gendis seberani ini. Rupanya dia salah menduga. "Hanya itu saja?" Eser turun dari ranjang, mengambil clutch dari laci nakasnya. Mengambil tiga kartu debit khusus nasabah prioritas dari bank yang sama.


"Jika kamu memberikanku kartu Atm, harus lengkap dengan data mobile banking-nya. Aku suka berbelanja online."


Ucapan Gendis membuat Eser mengambil ponselnya yang ada di dalam laci nakas juga.


"Silahkan, Nyonya Eser. Jika kamu ingin merubah kode akses dan lain-lain, lakukan besok, biarkan Rebecca yang mengurus." Eser memberikan ketiga kartu dan ponsel tadi pada Gendis.


Gendis menerima dengan tatapan tajamnya. Setelah di terima, Gendis meletakkan semua di atas nakas.


"Adil menurutmu sudah. Sekarang mari kita bicarakan adil menurutku. Yang barusan, sifatnya hanya materi bukan?" Eser duduk di tepian ranjang tepat di samping Gendis.

__ADS_1


"Silahkan! aku akan mendengarkan," ucap Gendis sembari menaikkan sedikit dagunya dengan angkuh.


__ADS_2