Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Pergi dengan ikhlas


__ADS_3

Setelah semua duduk di sofa ruang tamu, salah satu dari petugas yang datang tadi memberikan secarik kertas pada Eser.


Pria itu lalu membacanya dengan teliti. Bahkan mengulangnya hingga dua kali. Dia kembali melipat kertas itu. Menelan ludahnya kasar.


"Istri saya akan mengajukan penangguhan penahanan. Kami akan menghubungi pengacara kami dulu." Eser mrngambil ponsel di pangkuannya. Mencari kontak seseorang. Lalu menghubungi orang tersebut.


Eser memberi isyarat dengan mata dan tangannya agar Damar masuk ke dalam kamar Gendis.


Mendengar suara berisik di luar membuat Gendis terusik. Dia beringsut turun perlahan dari ranjang. Belum sampai dia berjalan, Damar sudah masuk ke sana.


"Mbak, mau ke mana?" tanya Damar, wajahnya tidak sanggup menutupi kecemasan.


"Siapa yang datang? Mbak mau lihat. Sekalian mau lihat ada apa di kulkas. Berasa lapar tapi tidak tahu harus makan apa." Suara Gendis masih sangat pelan.


Damar bingung harus berkata dan berbuat apa. Jika dia melarang, jatuhnya pasti kakaknya itu akan semakin bertanya-tanya. Akhirnya, dia membiarkan Gendis mrmbuka pintu dan keluar dari kamanya.


Eser terlihat masih berbicara serius melalui ponsel pintarnya. Sedangkan empat orang polisi wanita menunggu dengan sabar. Keempatnya langsung kompak menoleh ke arah Gendis. Satu orang mendekati istri Eser dengan senyuman hangat.


"Bu Gendis?" tanyanya.


"Iya, Saya." Gendis nampak kebingungan.


Eser langsung menyudahi bicaranya begitu melihat Gendis malah muncul dan terlihat bicara dengan seorang petugas.


Eser menggerakkan kursi rodanya dengan cepat mendekati sang istri. Tapi belum sampai empat roda bergerak, petugas yang mengajak Gendis bicara tadi, nampak sudah menuntun Gendis untuk duduk ke sofa.


Sepertinya, polisi wanita itu tahu kalau Gendis sedang tidak enak badan. Karena wajahnya memang sangat pucat.

__ADS_1


Gendis menatap Eser yang juga sedang menatapnya sembari menekan tombol otomatis agar kursi rodanya bergerak maju mendekatinya. Tatapan itu seolah menyiratkan tanya, kenapa sampai ada polisi wanita di apartemennya?


"It's oke, ada aku." Eser mengucapkannya tanpa suara. Gendis hanya memahaminya dari gerakan bibir.


Polisi wanita tadi segera menjelaskan maksud kedatangannya pada Gendis. Bahwa beberapa hari yang lalu, ada seorang perempuan bernama Jia, melaporkan Gendis ke kantor polisi atas tuduhan penculikan anak, dengan membawa bukti dan saksi yang cukup kuat. Bukti berupa cctv yang menunjukkan Gendis menuntun Agam dan Aglair, juga saksi ibu-ibu tua yang saat itu bertemu Gendis.


Istri Eser itu mencoba tetap tersenyum. Dia pernah mengatakan pada suaminya kalau dia akan bertanggung jawab jika memang sesuatu terjadi karena tindakannya yang gegabah. Mungkin kini memang saatnya.


"Silahkan bawa saya, Bu. Tapi saya benar-benar tidak enak badan."


Ucapan Gendis, seketika membuat wajah Eser memerah dan mengeras. Dia menggelengkan kepala kuat.


"Tidak perlu khawatir, kami tidak akan langsung memasukkan bu Gendis ke dalam sel, Kami akan memberikan pelayanan kesehatan sampai kondisi ibu pulih terlebih dahulu." jawab seorang Polwan.


"Terimakasih, Bu, bisakah saya berbicara sebentar dengan suami Saya, setelah itu silahkan bawa saya," pinta Gendis.


Polisi wanita itu pun mengiyakan. Karena dia melihat Gendis sangat mudah diajak bekerja sama dan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk melarikan diri.


"Aku tidak bersalah, Phi. Biar aku jalani prosedurnya. Buat apa kita menunda, lebih cepat, lebih baik. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, meski kadang terasa lambat bagi kita. Waktu Tuhan itu yang terbaik. Tuhan pasti menolong kita." Gendis malah menguatkan Eser.


"Aku akan usahakan yang terbaik. Aku akan mengeluarkanmu secepat mungkin dari sana. Aku akan memberikan jaminan berapa pun. Ini masalah keluarga, harusnya tidak perlu melibatkan hukum. Inilah yang aku takutkan, Mhi." Eser mengusap pipi Gendis drngan lembut.


"Kamu fokus saja dengan kesembuhanmu, Phiu. Tuhan pasti akan tolong kita. Jika ini permainan manusia, jangan buang energi kita untuk bersusah payah membalas perlakuan mereka. Cepat atau lambat, kebaikan dan kejelekan apapun yang kita tanam, akan kita tuai. Anggap saja ini adalah pensucian dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Jika kita berhasil melaluinya. Tuhan pasti siapkan kebahagiaan bagi kita." Gendis membalas mengusap pipi Eser.


"Tapi kamu sedang sakit, Mhi." Eser masih berat melepaskan Gendis.


"Aku akan baik-baik saja, Phiu. Aku janji. Jangan buang uangmu untuk membebaskanku. Kebenaran tidak perlu dibeli jika memang kita benar. Mereka yang merasa bisa membeli kebenaran adalah pecundang yang tidak berani mengakui kesalahan." Gendis berdiri, melepas genggaman tangan suaminya, lalu mengambil sweater di lemari dan membawanya.

__ADS_1


"Titip Damar ya, Phi. Saat aku kembali, aku harap kamu sudah sembuh,"


Eser menarik tangan Gendis, keduanya berhadapan saling menatap dan menggenggam.


"Tuhan mencintaimu, Phiu. Lebih baik DIA menghukummu sekarang ketimbang anak-anak yang merasakan. Jaga diri baik-baik. Tuhan mengasihimu tanpa batas. Dia mengasihimu, meskipun kadang kamu berpaling darinya."


Entah dorongan dari mana, Gendis memberanikan diri mengecup kening suaminya dengan lembut.


"Aku tidak mau mengantarmu, Mhi. Aku tidak sanggup. Maaf, aku menyeretmu masuk ke dalam masalahku. Semua yang ingin menjatuhkanku, kini menyeranggmu. Sungguh aku minta maaf." Eser tidak berani menatap Gendis, dia memalingkan wajahnya ke sisi lain.


Gendis menengadahkan wajahnya. Jujur hati dan tubuhnya sebenarnya tidak bisa menjalani semuanya. Tapi tidak ada pilihan lagi.


'Tuhan, aku tahu, Engkau tidak pernah menjanjikan kalau hidupku akan mudah. Aku hanya meminta, jangan pernah lelah memberikanku kekuatan dan ketegaran.' Gendis berjalan tanpa menoleh sembari terus berdoa dalam hati.


Damar berdiri mematung melihat kakaknya keluar dengan wajah yang semakin sayu. Kakinya seperti kaku dan tidak bisa digerakkan.


"Mbak, nitip Pak Eser. Jangan sampai emosinya tidak terkendali. Sekarang kamu masuk ke kamar." Gendis mencoba tersenyum. Tidak mau sampai adiknya melihat tangannya di borgol.


Setelah damar masuk ke dalam kamar. Gendis menoleh pada empat orang polwan yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.


"Mari, Bu. Saya sudah siap." Gendis mengulurkan dua tangannya yang dirapatkan, pasrah jika memang harus dibawa dengan tangan kondisi diborgol.


"Tidak perlu, Bu. Kami akan menuntun ibu di sisi kanan kiri."


Tidak membutuhkan waktu yang lama lagi, Gendis meninggalkan apartemennya menuju tahanan sementara. Karena dia pun masih harus menjelaskan beberapa hal.


Eser mengusap wajahnya kasar. Pria itu segera menghubungi papinya. Meminta Sevket dan Ozge datang ke apartemennya, dalam waktu secepat yang mereka bisa. Jangan sampai Gendis yang notabene baru datang di tengah keluarganya, malah harus menanggung dosa yang tidak pernah dilakukan.

__ADS_1


Dan laporan Jia, sungguh tidak beralasan. Anak itu bahkan ada di tempat Sevket, tapi kenapa hanya Gendis yang dijebloskan ke penjara.


Mungkin benar apa yang dikatakan istrinya. Ketika logika dan pikiran manusia tidak menjangkau kenyataan yang sedang terjadi, biarkan Tuhan yang selesaikan melalui pertolongannya.


__ADS_2