
Kaki Gendis langsung menginjak pedal rem lebih dalam begitu mendengar suara dari video yang diputar Eser.
"Sakit jiwa." Sepasang suami istri itu kompak mengatakannya.
Eser meletakkan ponsel Gendis kembali sembari tersenyum. "Dia tidak mengetahui, kalau istriku ini pembangkang. Suaminya saja kadang tidak dituruti, apalagi dia."
"Boleh aku membalasnya, Phi?"
"Kamu akan membalas bagaimana?"
"Kita lihat saja nanti." Gendis kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Badannya sebenarnya, sudah ingin direbahkan. Bukan mengantuk, hanya pegal seluruh badaan.
"Jangan aneh-aneh, Mhi. Abaikan saja."
"Kita ikuti permainannya dulu, Phi. Dia harus kita buat terlena. Aku akan menuruti semua keinginannya. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Sepintar apapun, pasti ada jejak kesalahan yang dilakukan." Gendis menoleh sekilas pada Eser dan mengedipkan satu matanya dengan menggoda.
"Hari ini kamu benar-benar menggodaku, Mhi."
"Menggoda suami sendiri itu tidak berdosa," sahut Gendis. Matanya masih fokus pada jalanan di depannya.
"Tetap berdosa! Karena menggoda tanpa cinta," Eser sengaja memancing Gendis agar mengucapkan cinta lebih dulu padanya.
"Ish... selalu saja, cinta yang dipermasalahkan." Gendis menginjak remnya dengan mendadak. Membuat kening Eser terbentur dashboard.
Keduanya memang sudah sampai di pelataran lobby apartemen. Gendis turun terlebih dahulu. Di bantu security, Eser beralih ke kursi rodanya.
Sampai di room apartemen. Gendis membantu Eser mengganti pakaiannya. Godaan kembali datang dengan alasan suaminya itu yang ingin mencoba kesanggupan si Teser berdiri.
__ADS_1
Tapi Gendis menolak halus. Dia tidak mau, karena pasti ujung-ujungnya dia lagi yang akan disenangkan. Hari ini sudah cukup berlebihan kenikmatannya, dia hanya ingin rebahan, lalu tidur dan besok bangun semua bisa membaik satu per satu.
Eser memberanikan diri, menyibak rambut Gendis yang menutupi wajah. Saat sedang tertidur, wajah cantik itu terlihat lebih lembut.
"Aku akan melindungimu dari siapa pun yang ingin menyakitimu. Saat sembuh nanti, kalau perlu, aku akan berlutut agar Arya hanya membalas dendamnya padaku saja. Aku pastikan kamu akan mendapatkan balasan dari setiap kebaikanmu, Mhiu."
Perlahan Eser pun ikut tertidur. Semakin lama, Gendis semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Eser, lalu memeluk suaminya itu dengan erat tanpa sadar. Dianggap bagaikan guling, kaki Gendis pun menindih paha Eser dengan sempurna.
Hingga pagi setelah subuh, Gendis baru terbangun dan tersadar kalau posisi tidurnya sungguh liar dan memalukan.
Gendis pun beringsut turun dari ranjang, melakukan ritual pagi dengan tenang. Sebelum ke rumah sakit, seperti janjinya pada Eser, dia akan menemani suaminya ke gereja terlebih dahulu.
Gendis sengaja tidak mandi terlebih dahulu, dia akan memasak untuk sarapan pagi. Tapi baru saja menyalakan kompor, perutnya seperti diaduk-aduk. Gendis malah memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel. Mencium bau kompor menyala, tiba-tiba membuat perut dan tenggorokannya bergejolak.
Mendengar suara sang istri muntah-muntah, Eser pun terbangun. Dia buru-buru memakai kursi rodanya untuk menyusul Gendis.
"Istirahat saja, Mhi," ucapnya seraya mengusap-usap punggung istrinya.
"Tidak perlu memasak. Kita pindah ke rumah saja, kita ambil beberapa asisten rumah tangga. Jadi sudah ada yang mengurus semuanya dan juga memasak. Lagi pula, setelah bapak sembuh, tidak mungkin bukan kita membiarkan bapak tinggal sendiri?"
Gendis menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya sekaligus terharu. Ingin langsung bilang setuju, terimakasih sekaligus memeluk suaminya itu, tapi Gendis takut akan dinilai berlebihan.
"Apakah kamu sudah ada rumahnya, Phi?" tanya Gendis.
"Sudah! Aku membelinya sudah lama. Itu adalah rumah impianku, dulu aku berandai-andai akan tinggal di sana dengan seorang perempuan yang aku cintai...." Eser tidak melanjutkan perkataannya, dia melihat Gendis sudah membuka mulutnya untuk bereaksi.
"Nyatanya, kamu harus tinggal denganku. Karena aku akan jadi istrimu selamanya. Jadi berhenti berandai-andai. Anggap saja kamu mencintaiku." Gendis mendorong Eser ke kamar mandi. Dia ingin berangkat ke gereja lebih pagi agar bisa sarapan bubur dulu di jalan.
__ADS_1
Sebenarnya, Eser ingin mendebat ucapan Gendis. Tapi dia urungkan. Biar saja istrinya perpikiran seperti itu terlebih dahulu.
Keduanya akhirnya mandi bersama, karena Gendis terlanjur basah. Benar-benar hanya mandi bersama tanpa melakukan apapun tentunya. Si Teser masih berjuang menuju sembuh.
Setelah di tengah perjalanan berhenti sejenak untuk sarapan pagi. Gendis dan Eser sampai di sebuah gereja tempat Romo yang membimbing Eser di terapi pengendalian emosi melakukan pelayanan.
Sebelumnya, Eser memang sudah membuat janji, kalau pagi ini dia akan datang. Dia ingin Romo mendoakan kesembuhan untuknya.
"Wajahmu sekarang tampak berseri-seri, Es. Rupanya kasih Tuhan menyentuhmu luar biasa." Romo yang akrab dipanggil Romo Frans itu menyapa Eser dengan sangat ramah.
"Terimakasih, Romo. Tuhan menjamah Eser luar biasa akhir-akhir ini," jawabnya.
Eser lalu memperkenalkan Gendis sebagai istrinya. Romo pun memberkati keduanya untuk kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga.
Selanjutnya Romo memimpin doa sederhana dan spontan untuk kesembuhan Eser sembari menyentuh kedua lutut Eser dengan tangannya.
Gendis berdiri dengan lututnya sembari memejamkan mata, perlahan dia mengulurkan tangan kanan menyentuh dahi, perlahan turun ke dada tengah lalu menggeser perlahan ke kanan kiri dada sembari mengucap "Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus." Di akhiri menyatukan kedua tangan mengambil dikap berdoa. Hal yang sama, juga dilakukan oleh Eser di atas kursi rodanya.
"Allah yang maha baik, Engkau adalah Tuhan sumber penyembuh bagi siapa saja yang percaya kepada-Mu. Segala penyakit mampu engkau angkat, segala penderitaan mampu engkau hilangkan dan ubah dengan kegembiraan. Kami mohon sentuhan lembut-Mu, bagi saudara kami Eser Sevket, yang sedang sakit, pulihkan mereka dengan jamahan-Mu." Suara Romo Frans terdengar jelas dan tegas.
"Bapa kami yang maha kasih, Terimakasih atas penyertaanmu yang selama ini telah menguatkan Eser untuk melalui sakit dan penderitaannya. Kami mohon, Ulurkanlah tangan kasih-Mu, berikan Eser kekuatan, kesembuhan, dan juga kesabaran dalam menjalani cobaan dalam hidupnya. Selalu bimbing dan dampingi Eser, apapun kondisinya. Hingga waktunya nanti dia pulih. Dia akan tetap memuji dan memuliakan nama-Mu. Melalui perantara roh kudus yang agung, Kami memanjatkan doa agar dapat seturut kehendak-Mu. Haleluya, Amin." Romo menyudahi doa untuk Eser.
"Terimakasih, Romo Frans." Gendis dan Eser, mengucapkannya secara bersamaan.
Romo Frans mengantar Gendis dan Eser sampai di pintu keluar gereja. Keduanya berpamitan dan mengucapkan terimakasih sekali lagi.
Gendis lalu mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Eser terlihat semakin berseri-seri setelah dari gereja.
__ADS_1
"Mhi, nanti kalau bapak kondisinya tidak terlalu mencemaskan, malam kita ke suatu tempat ya. Aku sudah terlanjur mempersiapkan semuanya," pinta Eser sesaat sebelum sampai di rumah sakit.
Gendis hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman hangat sekilas.