
Sebelum film selesai diputar, Eser sengaja mengajak Gendis ke luar meninggalkan bioskop. Istrinya itu masih saja menggenggam tangannya.
"Mhiu, kita makan dulu, aku lapar," ajak Eser sembari mencari tempat makan yang sesuai dengan seleranya.
"Aku juga lapar." Gendis masih belum sadar kalau dia kini bergandengan tangan dengan Eser.
Keduanya masih berjalan melewati resto-resto yang berjajar di dalam mall. Setelah beberapa saat memilih, Eser dan Gendis memutuskan untuk makan di sebuah resto khusus makanan Jepang.
Pasangan suami istri beda perasaan itu memilih tempat duduk di ujung ruangan. Dengan alasan yang sederhana, yaitu agar makan dengan tenang tanpa dilewati orang yang menuju meja lain.
"Mhiu, kita duduk harus dengan pegangan tangan juga ya?" Eser menyadarkan Gendis bahwa tangannya sedari tadi menggenggam tangan suaminya.
Gendis buru-buru melepas genggamannya, karena gengsi sekaligus malu. Dengan cepat dia duduk dan mengambil buku menu yang sudah ada di meja.
"Jadi, sekarang boleh pakai tangan?" Eser bertanya dengan suara berbisik.
"Belum! Kalau di luar boleh menggunakan tangan, tapi tidak boleh macam-macam." Gendis terlihat salah tingkah saat mengatakannya.
Eser menahan senyumnya dengan pura-pura serius melihat menu makanan.
"Namanya kenapa aneh-aneh," gumam Gendis.
Dia mencocokkan menu dengan gambar yang ditampilkan. Ini juga kali pertama, bagi Gendis makan di tempat seperti ini. Masuk rumah makan padang saja, dia hanya sekali, itupun Ken yang membayar.
Gendis akhirnya memilih menu yang aman. Yang tidak aneh-aneh, karena lidahnya sangat jawa sekali. Takut mual di depan Eser, tentu akan sangat memalukan.
"Phiu, setelah ini, aku ingin bicara serius denganmu." Gendis memulai pembicaraan sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Nanti di apartemen saja."
"Iya, maksudnya di apartemen," kesal Gendis.
"Terus kenapa ngomongnya setelah ini?"
"Karena takut keburu kamu keluar menemui selir-selirmu," kilah Gendis.
__ADS_1
Eser menatap Gendis dengan tatapan tajam dan tidak suka. "Mhiu... aku sudah katakan, aku sedang mencoba memperbaiki hubungan kita. Kasih kesempatan padaku untuk membuktikan ucapanku. Aku tidak janji akan berubah dengan cepat, tapi aku akan mengurangi perlahan."
"Hah? Jadi aku harus mengerti jika kamu bersama perempuan lain, karena itu termasuk kebiasaan yang harus dikurangi perlahan? Tidak! Aku bisa saja tidak peduli, tapi kita harus ada surat perjanjian," sahut Gendis dengan cepat.
Eser menepuk keningnya sendiri. "Mhiu, apakah tidak bisa kita hidup berjalan dengan normal, mengalir saja dan tidak terus terikat dengan peraturan-peraturan yang merumitkan kita sendiri?"
"Tidak! Kamu boleh merubah kebiasaan yang lain perlahan. Tapi tidak masalah perempuan. Bukan karena aku cemburu atau ingin dianggap. Tapi aku takut tertular penyakit s3ksual. Aku masih ingin menikmati hidup," tolak Gendis, buru-buru. Takut Eser salah mengartikan.
"Mhiu, aku ini seorang hyper, jika kamu menyuruhku setia. Kamu harus menanggung konsekuensinya." Eser tidak sepenuhnya berbohong masalah ini.
"Hyper apa?" Gendis memang tidak mengerti...
Eser berbisik pada istrinya. "Aku masih mempunyai masalah-masalah lain. Nanti, aku juga ada jadwal rutin dengan psikiaterku. Kamu boleh ikut. Siapa tahu, kamu ada gangguan sifat juga," ucap Eser dengan asal.
Mereka berhenti sejenak saat pesanan mereka datang. Eser sudah lumayan senang. Meskipun bicaranya tidak manis dan serba perhitungan. Setidaknya, Gendis seharian termasuk bersamanya.
"Iya, aku ikut. Aku ingin bertanya bagaimana menghilangkan benci, kesal dan rasa tidak suka sama suami sendiri. Sepertinya itu juga termasuk masalah." Gendis mengaduk semangkuk mie yang ada di depannya.
Baru saja Gendis mau menyendokkan makanan ke mulutnya, tiba-tiba dia melihat Ozge masuk ke tempat yang sama dengannya saat itu, tangan Jia terus bergelayut manja di lengan kekar Ozge.
Eser pun mengikuti arah pandangan Gendis. Saat mengetahui yang dilihat istrinya adalah Ozge dan Jia. Dia pun menendang pelan kaki sang istri.
Gendis bingung harus menjawab apa. Dikatakan cinta, tapi hubungannya juga masih sangat cepat. Bahkan tergolong kilat. Dikatakan tidak cinta, dia melakukan hubungan badan dan berkali-kali berciuman dengan Ozge penuh dengan kerelaan.
"Entahlah," jawab Gendis dengan jujur. Karena dia memang tidak tahu perasaannya bagaimana.
"Apa yang kamu rasakan saat melihat Ozge bersama perempuan lain? Apa kamu cemburu?" desak Eser.
Gendis tidak langsung menjawab, dia mengunyah mie yang terlanjur dia suapkan ke dalam mulut, lalu menelannya terlebih dahulu.
"Mhiu..." Eser memanggil Gendis, seolah ingin mengatakan bahwa dia sedang menunggu sebuah jawaban.
"Aku tidak tahu. Memang kelihatannya wajahku bagaimana? Marah? Cemburu? Kesal?" Gendis membalilkan pertanyaan pada Eser.
Suami gendis itu memasukkan makanan dan mengunyahnya dengan cepat. Sembari menghabiskan semua pesanan, Eser terus menatap wajah Gendis. Mencari jawaban dari pertanyaan yang ditujukan istrinya tadi.
__ADS_1
Raut wajah Gendis tampak jutek namun terlihat menggoda seperti biasa. Ada kekesalan, tapi pasti ditujukan untuknya.
Mie di mangkok Gendis sudah habis, makanan Eser pun sudah habis.
"Masih mau di sini menatap mantan? Atau pulang?" tanya Eser.
"Pulang saja. Sungguh, ada hal penting yang harus kita bicarakan." Gendias kembali menarik tangan Eser buru-buru.
"Mhiu, aku harus membayar dulu." Eser merogoh kantong celana belakangnya. Mengambil beberapa lembar uang seratusan ribu, lalu memberikan pada tempat kasir yang mereka lewati tanpa menunggu uang kembalian.
Saat melewati Ozge, Gendis sengaja menghentikan langkahnya dan menepuk pundak pria yang pernah dianggapnya kekasih itu. "Hai, adik ipar tiri."
Ozge yang sedang menyendokkan makanan seketika langsung tersedak. Dia buru-buru mengambil minuman di atas meja.
"Pelan-pelan, Oz. Kami tidak akan memintanya. Lanjutkan, Kami duluan, ya. Aku hanya ingin menyapamu" Gendis tidak melempar pandang pada Jia sama sekali, dia benar-benar fokus memberikan senyuman menggoda namun sinis pada Ozge.
'Dasar j4l4ng!' umpat Jia dalam hati.
Hati Ozge terasa nyeri melihat kebersamaan Gendis dengan Eser. Meskipun tidak terlihat mesra, setidaknya pernikahan keduanya tidaklah palsu seperti hubungannya dan Jia saat ini.
"Bagaimana bisa gadis rendahan seperti dia dipilih Eser menjadi seorang istri," umpat Jia, terdengar di telinga Ozge.
Ingin rasanya Ozge mengatakan bahwa Gendis berlipat-lipat lebih baik dan tidak murahan seperti Gia. Tapi, dia harus menahan diri agar semua cepat terungkap dan selesai.
.
.
Tidak sampai satu jam, Gendis dan Eser sudah sampai di apartemen. Masing-masing berganti baju dan membersihkan diri terlebih dahulu.
Gendis memakai dress rumahan. Meski pas dan sesuai dengan keinginannya, semua baju yang ada di lemari Gendis adalah pilihan dan pemerian Eser. Dan walaupun semua orang bisa memuji kecantikan Gendis, tidak dengan Eser.
Seperti saat ini, Eser mencebik dangan sempurna begitu melihat Gendis menyisir rambutnya sambil berkaca.
"ckk... kasihan sekali itu kaca. Harus melihat wajah jelekmu setiap hari."
__ADS_1
"Terimakasih atas pujiannya, Phiu. Aku sangat terharu." Gendis malah menyengir dan menjawab santai sembari duduk di tepian ranjang.
"Katanya tadi ada hal penting yang mau dibicarakan. Apa itu, Mhiu....?" Eser langsung bertanya tanpa basa-nasin