
Gendis menghempaskan bokongnya di tepian ranjang. Ribuan kelopak bunga Mawar merah yang membentuk gambar hati, seketika berserakan di sisi kiri karena gerakan itu.
Eser mendekati Gendis, keduanya berhadapan. Tapi pria itu masih tidak sanggup mengucapkan apa yang sudah tersusun rapi dipikiran. Menghadapi relasi atau client sulit, nyatanya jauh lebih mudah ketimbang sekedar mengungkapkan cinta.
Padahal, cinta itu harusnya sudah tanpa beban. Ungkapan perasaan kali ini, sudah tidak mungkin lagi bisa ditolak. Status suami istri keduanya kekal. Apa lagi yang menjadi beban? Selain gengsi yang masih dijunjung tinggi.
"Mhiu, tahu tidak bagaimana perasaanku yang sebenarnya sama kamu?" Eser pelan-pelan kembali memulai pembicaraan.
"Tentu saja tidak. Aku bukan cenayang," ketus Gendis.
Eser mengembuskan napas dengan berat sembari mengelus dada. Kesabarannya harus dilipat gandakan malam ini.
"Perasaanku padamu, seperti gambar yang ada di atas ranjang itu." Eser mengatakannya tanpa melihat dulu keadaan ranjangnya.
Gendis menoleh sekilas pada tempat yang dimaksud suaminya. "Ambyar? Berantakan? Hancur?"
Eser segera mendongak, melihat sisi ranjang. "Salah lagi." gumamnya lirih.
"Apa kamu bisa tidur di atas bunga-bunga seperti ini, Phi. Aku ngeri. Berasa tidur di atas makam."
Ucapan Gendis membuat pikiran Eser semakin buntu, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu tidak suka ya, Mhi?" tanya Eser, raut wajahnya sedikit menunjukkan kesedihan.
Melihat suaminya seperti itu, Gendis menjadi tidak enak. Dia memperbaiki duduknya, meraih tangan Eser. "Bukan tidak suka, Phi. Tapi sepanjang hidup, hal-hal manis seperti ini tidak pernah terjadi. Melihat bunga-bunga bertaburan malah seperti tidur di atas pemakaman."
"Terus kamu sukanya yang bagaimana?" Eser masih menatap Gendis dengan hangat.
"Aku? Aku mensyukuri apapun. Tidak perlu sampai diperlakukan seperti ini. Aku jadi tidak enak. Aku tidak tahu harus membalasmu bagaimana."
__ADS_1
"Kamu harus enak, Mhi. Aku memaksamu ke dalam pernikahan ini. Kalau sampai kamu sengsara, aku yang berdosa. Apapun yang terjadi. Aku akan menjadikan kamu prioritas pertamaku."
Gendis tersenyum, wajahnya merona merah. Kata-kata seperti itu, sudah terdengar sangat luar biasa di telinganya. Apalagi yang mengucapkan adalah seorang Eser.
"Kamu manis sekali, bisa kita berpelukan?" Gendis dengan santainya, tanpa menunggu jawaban Eser langsung membawa kepala suaminya itu ke dalam dadanya.
Membuat Eser seketika gagal paham. Di tambah lagi pelukan Gendis yang erat membuat hidung dan bibirnya tenggelam sempurna di antara tonjolan dada milik sang istri.
Makin buyar saja, rangkaian manis tentang cinta yang ingin diungkapkan. Sekarang kata-kata itu berceceran, tergantikan dengan keinginan lain.
Gendis merenggangkan pelukannya. Hidung Eser terlihat memerah, karena gencetan luar biasa akibat pelukan erat Gendis.
"Mhiu, bolehkah aku memiliki perasaan lebih padamu?" tanya Eser, seoalah mendapatkan keberanian lagi. Dia mencoba mengumpulkan ceceran kata sebelum memulai sesuatu yang lain. Ada keyakinan besar di dalam hatinya, kalau malam ini, dia sudah kembali sempurna.
"Pernikahan tidak membatasi kita untuk memiliki perasaan kasih. Ikatan itu mengurung kita agar tidak saling meninggalkan, membenci dan mengkhianati," tukas Gendis.
"Kalau begitu, aku cuma mau mengatakan. Aku mencintaimu." Eser mengatakan dengan buru-buru.
"Tidak demam," gumamnya.
Eser berdecak kesal, sudah susah payah mengatakan, malah dianggap sakit. "Aku serius soal yang barusan."
"Cinta?" Gendis bertanya sembari menahan tawanya.
Eser memajukan kursi rodanya, lalu menggeser bokongnya ikut duduk di samping Gendis. Dia menatap istrinya dengan dalam penuh cinta. Seketika Gendis menjadi salah tingkah.
"Aku mencintaimu, Mhiu. Aku sudah memiliki ragamu, sekarang aku menginginkan jiwamu juga untuk aku. Cintai aku, Mhi. Cintai aku, seperti aku mencintaimu. Yang tidak aku sadari kapan dia datang, tapi tiba-tiba sanggup menjadikan aku tidak lagi sanggup melihat sosok lain selain kamu." Akhirnya Eser bisa mengungkapkan isi hatinya secara pantas.
Gendis terdiam, tercekat, tidak menyangka akhirnya ada cinta hadir dalam hidupnya. Dia merasakan kesungguhan dan ketulusan disetiap kata yang diucapkan Eser. Tapi untuk membalas, bahkan sekedar menjawab ungkapan itu, Gendis belum mampu. Lidahnya kelu.
__ADS_1
"Tidak perlu membalas sekarang, buka saja hatimu. Biarkan aku yang menunjukkan dan menuntun perasaanmu pelan-pelan. Seperti ini." Eser menekan tengkuk leher Gendis agar mendekat ke arahnya. Perlahan dia merebahkan diri dengan posisi kaki tetap menginjak lantai.
Kini Gendis sudah berada di atas tubuh Eser. Tangannya menumpu berat badan tubuhnya di dada bidang sang suami.
"Aku mencintaimu, Mhi. Aku milikmu seutuhnya. Lakukan apa yang kamu mau sekarang." Eser menelan ludahnya kasar.
Gendis semakin salah tingkah. Kehamilan benar-benar membuatnya menggila. Dia yakin, Eser membaca bahasa tubuhnya yang menginginkan sesuatu dari sang suami.
"Jangan malu. Aku suamimu, kita bisa melakukan kapan pun dan berapa kali pun yang kamu mau." Suara Eser yang semakin berat, semakin membuat Gendis harus menahan napasnya yang diburu hasrat ingin sesuatu.
Eser menurunkan resleting gaun Gendis perlahan, lalu menurunkan baju itu hingga sebatas siku. Gendis menyatukan bibirnya dengan bibir Eser. Agar proses pelepasan kain yang melekat ke tubuh teralihkan dengan kegiatan yang lain.
Tangan Gendis meraba si Teser. Dalam hati dua pasangan itu sama-sama berdoa, berharap si Teser sudah bisa sempurna. Kerinduan untuk dihentak dan menghentakkan, membuat keduanya sama-sama menggila. Tangan Eser benar-benar liar menjamah setiap inci tubuh Gendis. Terutama di daerah-daerah sensitifnya.
Kondisi fisik yang terbatas dan hanya bisa pasrah di bawah, tidak membuat Eser kehilangan kemampuan untuk membuat Gendis basah.
Sampai pada tahap ini, keduanya berhenti berpikir, hanya tindakan dan juga perasaan yang bekerja. Tanpa di duga dan disadari, si Teser kini sudah masuk ke lubang kenikmatan yang dirindukannya.
Ya, si Teser sudah bisa tegak dengan sempurna. Bahkan dia menunjukkan performa maksimalnya. Hingga Gendis sedikit meringis saat benda itu merasukinya.
Eser kini menampilkan wajah penuh kelegaan dan kegembiraan. Meski dia belum bisa menghentak, tapi goyangan pinggul Gendis sudah cukup membuatnya mengeliat.
Memulai lagi kenikmatan setelah sekian lama diam. Membuat Eser sulit mengendalikan dan menahan si Teser. Belum sampai lima menit, Teser dengan semangat memuntahkan cairan putih susu miliknya. Bahkan sebelum Gendis merasakan apapun.
Tidak ingin merasa bersalah, Eser pun memberikan bantuan kepada sang istri. Dia berhasil membuat Gendis mengeliat dan meracau dengan suara yang mengalahkan alunan musik romantis.
Gendis usai, si Teser kembali mengeliat. Hingga keduanya kembali melakukan penyatuan. Dalam kurun waktu belum mencapai tengah malam, mereka sudah melakukan tiga kali.
Mereka berhenti juga karena teringat akan kehamilan Gendis. Kalau tidak tentu akan lagi dan lagi sampai pagi.
__ADS_1
Eser terlalu bahagia, si Teser sudah kembali berfungsi dengan baik. Begitupun dengan Gendis, dia bahkan lebih bahagia ketimbang Eser sendiri.