Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Paraplegia


__ADS_3

"Ya Tuhan, aku ketiduran. Semoga Phiu baik-baik saja." Gendis tiba-tiba seperti melihat bayangan Eser di depannya.


Gendis berdiri, mencuri muka diwastafel dan kembali melihat layar ponsel yang nampak tidak ada notifikasi masuk apapun di sana.


Sementara itu di lokasi balapan yang dilakukan Eser dan Arya.


"Kejar mobil tadi dan cari sampai dapat. Jangan sampai lolos!" Perintah Arya pada bodyguardnya.


Arya segera menghubungi ambulance yang memang sudah stand by tidak jauh dari sirkuit sejak sebelum balapan dimulai tadi. Sebelumnya, dia sudah memperhitungkan segala kemungkinan terburuk. Tapi sungguh kecelakaan yang dialami Eser bukan bagian dari rencananya.


Arya akan mencari tahu, siapa pengemudi mobil yang menabrak mobil Eser dengan sangat keras. Rupanya, ada orang yang memanfaatkan kondisi untuk melenyapkan nyawa Eser.


Arya mengikuti ambulan yang membawa Eser dari belakang. Dia membawa musuh bebuyutannya itu ke rumah sakit terdekat.


Sampai di UGD, Eser langsung ditangani dan dibawa ke sebuah ruangan intensif untuk dilakukan pemeriksaan. Untung saja, Eser menggunakan perlengkapan Safety, sehingga sepertinya tidak ada luka yang serius di daerah kepala.


Tapi kondisi mobil yang ringsek parah bagian depan sampai sisi kemudi, membuat kaki dan punggung Eser mengalami trauma dan patah tulang.


Seberapa parah kondisinya itu, masih diperlukan evaluasi lebih lanjut. Arya memang bukan pengecut, dia tidak meninggalkan Eser begitu saja meski dia sangat membenci pria yang sedang lemah tidak berdaya itu.


Arya mengakui kekalahan. Meski dendamnya belum usai, tapi dia tidak akan menyerang lawan dalam kondisi musuh tidak berdaya. Menang dari yang lemah, tidak akan menjadikan dirinya hebat.


Arya terus menghubungi Gendis, untuk memberitahu keadaan suaminya. Tapi tidak sekali pun terhubung. Di tengah sedikit kebingungannya harus menghubungi siapa, Arya melihat Ozge dan Sevket datang meghampiri dengan raut marah.


Tanpa bertanya terlebih dahulu, Ozge menghujani Arya dengan beberapa kali pukulan. Arya yang tidak siap, tentu saja langsung terhuyung jatuh ke lantai.


"Pergi kamu dari sini! Kalau sampai sesuatu terjadi pada kakakku, aku pastikan kamu akan menyesal kenapa Tuhan tidak segera mencabut nyawamu saja!" Teriak Ozge, membuat beberapa perawat menghampiri dan menegurnya untuk tidak membuat kegaduhan.


"Kalian berhutang nyawa padaku, kalau bukan aku yang membawa Eser kemari, pasti dia sudah mati," ucap Arya, sesaat sebelum dia meninggalkan UGD sembari memegangi rahangnya yang nyeri dan mengeluarkan sedikit darah.


"Kamu sudah hubungi Gendis?" tanya Sevket.


"Belum, Pi. Nanti saja, kalau Eser sudah siuman. Kalau sekarang, Gendis bisa panik." Ozge duduk di kursi besi yang ada di samping kanan pintu UGD.

__ADS_1


Sevket berdiri memangku dagunya dengan satu tangan, raut kekhawatiran jelas nampak di wajahnya.


"Selidiki apa yang terjadi sebenarnya, Oz. Papi rasa, bukan Arya pelakunya." Sevket memberi perintah dengan suara pelan.


Ozge menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi. Tadinya setelah dari apartemen kakaknya, dia memang sengaja ingin melihat ke sirkuit untuk memastikan keadaan, tapi saat dia sampai di sana. Beberapa orang sudah membersihkan tempat yang menjadi posisi terakhir mobil yang dikemudikan oleh Eser.


Sevket duduk di samping Ozge persis. Dia sedang berpikir keras. Kejadian bertubi-tubi yang menimpa anak-anaknya, mungkin memanglah buah dari masa lalu yang sudah harus segera dipetik.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam lebih. Pertanda hari sudah berganti. Ozge dan Sevket masih setia menunggu di depan UGD. Angin malam yang dingin dan suasana yang sepi tidak membuat mereka mau beranjak pergi ke tempat lain.


Seorang perawat mendekati Ozge dan Sevket. Membawa kabar yang sedikit melegakan bagi keduanya. Eser siuman dan mencari seseorang bernama Gendis.


Sevket dan Ozge pun segera ke dalam mengikuti perawat yang memanggil mereka tadi.


"Di mana Gendis?" Tanya Eser, matanya masih terpejam karena dia merasakan bumi berputar cepat ketika dia membuka kedua matanya.


"Masih di apartemenmu, Es. Kami tidak memberitahunya karena takut dia khawatir. Aku akan menjemputnya pagi nanti." Ozge mendadak perhatian pada sang kakak. Entah apa yang sedang dia perankan saat ini. Sevket sendiri sebenarnya merasa ada sesuatu yang janggal.


"Aku mau sekarang, Oz. Hubungi saja, dia bisa datang kemari sendiri." Eser begitu memaksa.


"Ya sudah, besok saja!" Putus Eser, akhirnya.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Sevket, sisi kebapakannya muncul malam ini.


"Sedikit pusing, kakiku terasa kebas. Untung saja airbag berfungsi dengan baik, sepertinya bagian kepalaku tidak mengalami cedera berat." Eser meraba bagian kepalanya sendiri.


Selain karena helm yang dikenakannya, air bag memang benar-benar membantu. Tapi entah dengan bagian kaki dan pinggulnya, dia masih belum merasakan apapun.


Ozge dan Sevket menghampiri perawat yang berjaga di luar ruangan. Meminta agar Eser dipindahkan ke ruangan dengan fasilitas terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit.


Tidak lama kemudian, Eser pun sudah berada di ruangan yang sesuaai dengan harapan Ozge dan Sevket.


Sampai detik ini, Eser masih mengeluhkan bagian pinggul ke bawahnya yang kebas dan tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


Perasaan Gendis benar-benar tidak enak, dia harus bertanya pada siapa dan mencari suaminya di mana. Dia tidak pernah tahu, siapa yang dekat dan tempat apa yang selalu didatangi Esee ketika sedang suntuk.


Dia sudah berusaha keras untuk memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Setiap matanya mengatup, bayangan wajah Eser yang sedih dan murung langsung terlihat nyata.


Gendis turun dari ranjangnya. Mendekati meja khusus di sudut ruangan yang digunakannya untuk meletakkan patung Bunda Maria, Rosario, lilin dan buku-buku doa di sana.


Lalu dia berlutut di depan meja itu dan menyatukan kedua tangan seperti sikap berdoa. Gendis memejamkan mata dan menggerakkan tangannya membentuk gambaran salib.


"Tuhan, Aku tidak tahu kemana arah hubungan kami. Jika Engkau menghendaki kami menjadi pasangan yang sebenar-benarnya. Tolong ajari kami untuk saling mengasihi. Jaga suamiku di mana pun dia berada sekarang. Tuntun langkah kakinya untuk segera pulang dan bantulah kami, membangun hubungan yang penuh cinta kasih seperti ajaran-Mu." Gendis menyudahi doanya.


Sampai pukul tujuh pagi, Gendis belum juga bisa tidur. Doa membuatnya tenang, tapi tidak sepenuhnya membunuh perasaan tidak enak yang semalaman mengisi hati dan pikirannya.


Hingga Ozge datang, dan mengajak Gendis pergi menemui Eser. Gendis belum juga mengerti apa yang sedang terjadi. Gendis hanya menurut begitu saja.


Saat memasuki sebuah kamar dan melihat suaminya di atas ranjang, barulah Gendis menyadari kecemasan dan perasaan yang tiba-tiba menghinggapinya kemarin adalah firasat karena Eser mengalami kecelakaan.


"Phiu...." Gendis berjalan mendekati Eser.


"Mhiu..." Eser berusaha tersenyum, melihat wajah Gendis membuatnya tiba-tiba sedih.


"Kenapa baru mengabariku?" Gendis memukul lengan Eser sedikit keras. Menumpahkan kekesalan karena merasa tidak dianggap. Seharusnya, sebagai istri, dia dikabari sesegera mungkin.


"Kamu boleh memukul Papi, Ndis. Karena Papi yang melarang untuk langsung menghubungimu tadi malam," sahut Sevket. Menyelamatkan sang putra dari menantunya.


Belum sampai Eser menanggapi omelan Gendis ataupun ucapan Sevket, seorang Dokter. bersama seorang perawat datang membawa hasil pemeriksaan dan diagnosis awal yang diminta oleh Eser.


"Bagaimana, Dok?" tanya Sevket, sudah tidak sabar.


Ozge dengan santai duduk di sofa sembari memasukkan sujuring jeruk ke dalam mulutnya.


"Begini, Pak... Kemungkinan besar, Pak Eser mengalami Paraplegia."


Jawaban dokter yang masih singkat, seketika membuat Eser menatap dan menggenggam tangan Gendis. Sevket menarik napas berat, dan Ozge menahan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Apa itu, Dok?" tanya Gendis. Yang memang tidak mengerti sama sekali istilah kedokteran yang baru saja didengarnya.


__ADS_2