Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Berakhirnya nyawa seseorang


__ADS_3

Satuan operasi penggerebekan---termasuk di dalamnya ada Eser, berderet merapatkan barisan ke sisi kiri dan kanan kontainer. Satu deret sisi kanan, masing-masing orang menggenggam pistol dengan tatapan mata fokus ke depan. Sedangkan sederetan orang di sisi kiri, hanya membawa sebuah botol spray kecil di tangan. Masker oksegen pun mereka kenakan. Apa pun yang ada di depan nanti, mereka sudah sangat siap untuk menghadapi.


Begitu terdengar suara pengunci besi kontainer sudah digeser. Seorang kapten dari unit lain mulai memberikan aba-aba. Beberapa orang anggota unit beringsut mendorong pintu tersebut dengan gerakan yang cukup cepat. Hingga anak buah Julles yang berada di posisi akan membuka pintu tadi beberapa langsung tersungkur. Berusaha meminimalisir terjadinya kegaduhan yang bisa mengundang puluhan anak buah Julles yang lain. Beberapa orang yang membawa spray tadi, langsung mendekati dan menyemprotkan isi di dalam botol tersebut. Tepat di daerah sekitaran hidung.


Botol berisi gas dengan kandungan zat penenang dosis tinggi tersebut, seketika membuat lima orang anak buah Julles terkapar. Niat awal mereka yang ingin membawa anak-anak yang seharusnya berada di dalam kontainer, berhasil digagalkan dengan mudah tanpa perlawanan.


Anak buah Julles yang biasanya sigap, dibuat terpedaya. Kelalaian mereka yang mengira semua sudah amam dan terkendali, membuat mereka benar-benar lengah. Penyergapan tidak terduga seperti sekarang, sunggah berhasil membuat anak buah Julles tidak sempat memberikan perlawanan.


"Clear! Bersiap menuju target utama. Mereka ada di dua dek di atas kita berada. Tapi jangan lengah. Masing-masing lantai ada yang mengamankan," tegas kapten unit lain, mengambil alih komando.


Eser mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tiga mobil mewah berderet rapi di depan empat kontainer kecil di sebelah kontainer tempat mereka tadi. Semua ditata menumpuk sedemikian rupa hingga rapi. Entah apa isi didalamnya. Eser mulai memahami, kini mereka sedang berada di dek khusus parkiran kendaraan.


Perlahan, mereka pun bergerak ke arah target utama yang tidak lain tidak bukan adalah Julles dan salah seorang pembeli. Selain ada pengamanan dari anak buah Julles tentu akan ada pengamanan dari si pembeli tersebut.


Benar apa yang dikatakan kapten, belum sampai di ambang dek pertama menuju dek target berada. Penjagaan begitu ketat. Beberapa orang berbadan kekar berdiri tegak di sekitaran tangga menuju lantai ata dek selanjutnya dengantatapan mata tajam menyelidik ke segala arah.


Berbeda beberapa detik dari signal yang dikirim kapten, dua orang melempar bola hitam bersumbu yang sudah tersulut dan mengeluarkan asap putih berbau khas obat. Lagi-lagi masker oksigen, membantu tim penyergapan tetap aman.

__ADS_1


Anak buah Jelulles tampak kelabakan, mereka mengeluarkan teriakan tanda waspada pada semua orang. Bunyi peringatan alarm terjadinya kebakaran pun menyala. Asap yang semakin menggumpal dan bau yang semakin membuat dada sesak menyeruak memenuhi dek tersebut. Kepulan asap membuat semua orang sama-sama tidak bisa melihat pergerakan satu sama lain. Hanya teriakan panik, dan suara batuk yang terdengar. Namun suara-suara tersebut semakin lama semakin tenggelam dan tidak tertangkap telinga.


Sepuluh menit kemudian, asap mulai menipis, dan ruangan pun kembali terlihat perlahan. Beberapa orang tergeletak lemas di lantai. Empat orang perlahan naik, memeriksa keadaan orang-orang tersebut. Setelah memastikan kondisi aman, mereka pun menyuruh yang lain untuk beringsut naik.


Bersamaan dengan itu terdengar suara beberapa speed boat mendekati kapal tersebut. Rupanya, pihak berwenang wilayah perairan pun sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi jika ada kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Termasuk dengan potensi akan kaburnya Julles. Meski mereka sedang ada diperairan, hal itu masih sangat mungkin terjadi. Mengingat pria itu mempunyai jaringan yang cukup luas untuk membantunya setiap saat, di mana pun dan kapan pun.


Keributan di bawah dan suara sirine peringatan kebakaran, jelas membuat Julles dan partnernya seketika paham apa yang sedang terjadi. Masing-masing sudah memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Meski belum tahu pasti apa yang terjadi, Julles dan partnernya sepakat bahwa mereka sedang diincar oleh masalah.


Di dek di mana Julles berada, hanya tersisa tidak lebih dari lima belas orang pengawal yang mengamankan. Jumlah yang seharusnya tidak banyak dan tidak merepotkan para penegak hukum. Sekali pun mereka harus berhadapan satu lawan satu, Eser dan yang lain, tidak akan kewalahan sedikit pun.


Namun Julles dan sekongkolnya sudah terlanjur kalah langkah, mereka kini sudah terkepung. Saat satu orang meneriakkan agar Julles dan anak buah meletakkan senjata sembari menunjukkan lencana pihak berwenang.


Di luar dugaan, Julles memerintahkan anak buahnya untuk melawan. Entah apa yang ada di pikiran pria tersebut. Keadaan pun mendadak begitu mencekam. Di bawah gelapnya langit dini hari, suara tembakan di tengah lautan lepas terdengar saling bersahutan. Jarak yang tidak seberapa jauh antara lawan dengan lawan, membuat dua orang anak buah Julles terkepar dengan kondisi kepala yang mengeluarkan darah akibat timah panas berhasil menembus bagian tubuh yang tergolong vital tersebut.


Semua mengamankan diri masing-masing dengan bersembunyi dibalik tumpukan barang-barang yang tertata di kotak-kotak yang sebagian besar terbuat dari kayu. Eser mengajak matanya terus bekerja ekstra. Secara khusus, dia terus mengawasi pergerakan Julles yang sepertinya hendak kabur ke dek teratas, di mana di sana adalah ruang terbuka.


Eser mengendap-endap mendekati Julles. Sementara yang lain masih berkutat dengan anak buah dan pembeli Julles yang ternyata tak kalah nekatnya dengan pria tersebut. Anak buah Julles kembali ada yang tumbang, sementara satu orang anggota unit penangkapan juga mengalami luka tembak di kaki kanannya.

__ADS_1


Jumlah anak buah Julles dan pembelinya semakin menipis. Hanya menyisakan beberapa orang saja dalam hitungan jari. Dan akhirnya mereka memutuskan menyerah. Begitu pun dengan si pembeli. Dia mengangkat tangan dan melemparkan pistolnya ke lantai. Namun tidak demikian dengan Julles, di tengah gencatan senjata, pria itu malah berlari ke dek teratas. Sesuai prediksi Eser.


Suami Gendis pun mengejar Julles dengan gesit. Diikuti tiga orang anggota unit yang lain.


"Jangan mempersulit diri sendiri, Sir. Lebih baik Anda menyerahkan diri. Dengan tidak mempersulit kerja kami, mungkin bisa meringankan hukuman Anda," tegas salah seorang anggota unit.


Julles tidak peduli, tangannya yang masih menggenggam senjata api perlahan mulai mengarahkan benda itu ke arah Eser. Suami Gendis itu pun melakukan hal yang sama.


"Jika kamu tidak bisa mendukungku, aku tidak akan rela darahku mengalir pada tubuhmu. Aku tidak sudi mempunyai anak yang sama sekali tidak berguna sepertimu. Anakmu, lebih berharga daripada kamu." Pria tersebut perlahan menarik pelatuk pistolnya.


Bunyi tembakan sebanyak tiga kali dengan membabi buta terdengar memekakkan telinga. Dan seseorang seketika tumbang dengan kucuran darah segar mengalir membasahi lantai kapal yang tertutup papan barecore.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2