
"Iya, Beg ...." jawab Ozge sangat lembut. Dia juga ingin memanfaatkan keadaan.
Melihat gelagat yang tidak enak, Ozge pun segera mengeluarkan sebuah ponsel dari kantong celananya.
"Ndis, Ini ponsel barumu. Aku memberimu ini untuk memudahkan pekerjaanmu. Besok, Aku juga akan memberikanmu laptop. Di situ ada nomer pribadiku. Kamu tinggal memakai saja. Tapi ingat! Itu untuk bekerja," tegas Eser sembari memberikan ponsel bermerk buah keluaran terbaru.
Gendis menggeser duduknya agar bisa menjangkau ponsel itu. Lalu, dia menggenggam tanpa mengecek isinya terlebih dahulu.
"Kodenya bisa memakai tanggal lahirmu." Eser menambahkan informasi.
Ozge berdiri, benar-benar merasa gerah. Bahkan dia sendiri tidak tahu kapan Gendis lahir.
"Aku pulang dulu, Beg. Kamu cepat istirahat. Kamu besok mulai kerja, kan? Jangan lupa makan siang, kita harus ke perancang busana. Pulang kerja kita akan membeli cincin." Ozge sengaja berbicara agak keras, agar Eser juga mendengarnya.
"Iya, Beg ... Gendis antar sampai luar" jawab Gendis, sembari melempar senyuman manis.
Eser turut berdiri. "Aku juga pulang, sampai bertemu besok. Pakai dress warna merah." bisiknya, sangat lirih. Hampir tidak terdengar oleh Gendis.
Untung Ozge yang sedang menoleh ke sisi lain, tidak melihatnya. Kalau sampai tahu Eser menggoda Gendis, pasti akan terjadi pemukulan antar saudara di apartemen Gendis.
Eser berjalan lebih dulu ke arah pintu, diikuti Ozge dan Gendis.
"Pulang dulu, ya. Besok pagi aku jemput," pamit Ozge sekali lagi.
Gendis mengangguk pelan. Ozge mengecup pelan kening gadis itu dengan lembut. Setelah itu, Gendis langsung kembali masuk dan mengunci pintunya.
Kini, Eser dan Ozge berada di dalam lift yang sama. Keduanya saling menatap tajam.
"Masih tetap ingin menikahi, Gendis?" tanya Eser.
"Tentu saja. Jika bukan aku. Kamu pikir, Kamu bisa menikahi dia? Tidak akan!" Ozge menjawab dengan ketus.
"Oz, bisakah kita bicara baik-baik sebentar?" Eser mengucapkan dengan serius.
"Bicara saja, aku bisa mendengarmu," jawab Ozge.
__ADS_1
"Di apartemen saja. Tunggu Aku, di tempatmu."
Keduanya keluar dari lift bersamaan, berjalan menjaga jarak menuju lobby. Menunggu petugas valey mengantar mobil mereka.
********
Eser dan Ozge sebenarnya sampai di apartemen secara bersamaan. Tetapi, Eser sengaja mengganti bajunya terlebih dahulu.
Ozge menuangkan minuman rendah alkhohol ke dalam gelas yang sudah diberinya es batu dan perasan jeruk lemon. Menggoyang-goyangkan gelas di genggamannya sejenak, lalu meneguk isinya hingga menyisakan bongkahan kecil-kecil es batu.
Dia duduk di ruang tengah sembari berbalas pesan dengan Gendis. Sungguh sebenarnya dia ingin sekali dipijat oleh calon istrinya itu. Seluruh badannya terasa sangat pegal.
Ozge mencoba memijat pundaknya sendiri sembari memejamkan matanya. Imajinasinya seketika melayang, tangan Gendis lah yang kini menyentuh pundaknya.
"Beg ...." rintihnya, sembari merasakan pijatannya sendiri.
Saat imajinasinya semakin melmbung tinggi, dia merasakan sepasang tangan halus kini menyentuh pundaknya dengan sen5ual. Ozge semakin enggan membuka matanya, merasa bahwa imajinasinya sedang mendekati titik maksimal. Dia malah memejamkan mata semakin rapat.
Sepasang tangan itu kini merambah maju ke dadanya. Mengelus bulu halus yang menempel di sana dengan sangat mengoda.
Wajah Ozge mulai gelisah, dia merasa ada yang tidak benar. laki-laki itu merasakan beban di atas tubuhnya. Tidak mungkin imajinasi mampu memberatkan fisiknya. Terlebih lagi, dia mencium wangi yang dulu sangat akrab di hidungnya.
Ozge masih enggan membuka matanya, karena selain gelisah dan bingung, dia juga nerasakan kenikmatan di saat yang sama. Di saat tangannya sudah berhenti bergerak. Tapi bagian inti tubuhnya malah merasakan jepitan kenikmatan yang membuatnya ingin melakukan pelepasan.
Namun, saat tangannya seperti ada yang menuntun pada benda kenyal, saat itulah Ozge membuka kedua matanya. Dia sangat terkejut dan marah. Dia mendorong perempuan yang ada di atas tubuhnya itu dengan kuat, hingga perempuan itu terjerembab ke lantai.
"Tidak! Tidak mungkin! pasti ini mimpi! pergi kamu dari sini! pergi!" Ozge terus berteriak seperti orang gila, berlari ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Ozge membasuh tubuhnya berkali-kali dengan air, seperti merasa dirinya sedang sangat kotor.
"Tidak! ini pasti mimpi ... ini hanya mimpi!" teriak Ozge, benar-benar seperti orang gila.
Dia menanggalkan semua baju yang melekat di tubuhnya dan mengambil sabun cair dalam jumlah yang cukup banyak, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh.
"Tidak! tadi hanya mimpi, aku tidak boleh mengingatnya. Itu bukan salahku! Aku tidak bersalah. Aku harus bersih." Ozge kembali meracau sendiri.
__ADS_1
Sementara itu di gedung apartemen yang sama, namun berbeda room. Perempuan yang ada di atas tubuh Ozge tadi, kini sudah berada di bawah tubuh laki-laki lain.
"Bagaimana?" tanya si lelaki.
"Beres! tidak sesulit yang dibayangkan. Rupanya dia sedang kasmaran. Dia pasti tergila-gila dengan gadis itu. Sampai memejamkan mata saja membuat towernya berdiri."perempuan itu mengatakan sembari terkekeh.
"Baguslah! mari kita mainkan emosinya sampai dia benar-benar menjadi gila," seringai laki-laki itu terdengar menggelegar, memecah sunyi.
"Jika kamu menyuruhku untuk melakukan lagi, aku tidak keberatan. Aku masih penasaran, tadi itu masih sebentar. Pasti rasanya luar biasa." Perempuan itu seperti sedang berangan-angan kotor.
"Tidak ada yang tidak luar biasa bagimu. Dasar penggila s3x." Laki-laki itu mengumpat, sembari mengarahkan kepimilikannya pada perempuan di bawahnya.
Keduanya lalu bergumul panas, bertukar keringat dengan sangat semangat. Berkali-kali si perempuan mendapatkan puncak kenikmatannya.
"Jangan libatkan perasaanmu dalam misi ini. Aku tidak mau kamu menyentuh gadis itu. Ingat fokuslah pada Ozge." ucap laki-laki itu di sela-sela permainannya.
Perempuan tadi hanya mengangguk pasrah, dia sudah tidak ingat apa-apa lagi, selain kenikmatam yang ingin dirasakannya lagi dan lagi.
****
Ozge sudah kembali keluar dari kamar mandi dengan kondisi badan yang sudah segar. Matanya menyelidik mencari sesosok orang yang ada di dalam room apartemennya. Tapi tidak ada siapa pun di sana.
Untuk meyakinkan diri, Ozge kembali mengecek satu per satu ruangan. Hasilnya nihil. Dia pun bernapas lega, meski masih ada sedikit tanya.
Hal yang baru saja dialaminya tadi nyata ataukah hanya mimpi buruk semata.
Saat bel pintu apartemennya berbunyi, jantung Ozge berdetak kencang. Dia sungguh takut kalau apa yang dialami memang benar. Dia tidak mau melepas Gendis, hanya untuk hal yang selalu dituduhkan orang dengan konyol padanya.
Setelah memastikan terlebih dahulu, siapa yang datang dengan melihat monitor kecil yang ada di sebelah pintumya. Ozge pun membuka pintunya sembari berusaha bersikap biasa saja.
Begitu pintu terbuka lebar, Eser langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dahulu oleh pemilik room.
"Duduk," Ozge menunjuk sofa hitam yang ada di ruang tamunya.
Sebelum duduk, mata Eser tiba-tiba menangkap benda kecil yang di tempelkan di vas bunga yang ada di meja tamu.
__ADS_1
"Oz ...."