
Setelah Eser memberikan kenikmatan untuk kedua kalinya, dia pun tersenyum lega dan puas. Tidak demikian dengan Gendis, perempuan itu merasa malu dan salah tingkah. Baru saja bertemu, Gendis malah menunjukkan reaksi yang menggelikan seperti itu.
Gendis jadi enggan beranjak dari atas ranjangnya, dia bahkan menarik selimut untuk menutupi rasa malunya. Eser semakin gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Mhiu...," panggil Eser.
"Hmmmm...," jawab Gendis, masih dengan muka yang tertutup.
"Masih kurang, ya? Kok ditutup sih? Kalau tidak dibuka, aku kasih lagi nih!" goda Eser sembari mengulurkan tangan ke arah sensitif sang istri.
"Tidak-tidak! Jangan! Cukup, Phiu," tolak Gendis, buru-buru.
Eser terkekeh melihat reaksi Gendis. Terlihat menggemaskan. "Mhiu, aku penasaran sama si Teser, dia dari tadi berkedut dan mengeliat tanpa disentuh. Apakah kalau dicoba rangsangan langsung reaksinya akan lebih bagus?"
"Teser?" Gendis mengernyitkan keningnya.
"Tengahnya Eser," sahut Eser dengan cepat sembari menunjuk bagian intinya dengan mata.
Gendis beranjak berdiri dari ranjang, memasang kembali kacamata berenda dengan benar, lalu menutup kancing baju atasannya. "Mau dicoba?" tanyanya.
Eser menggeleng tidak enak. "Tapi kamu baru saja sembuh, Mhiu."
Gendis tidak menjawab, tapi tangannya mendorong tubuh suaminya perlahan untuk berbaring, lalu dia menaikkan kaki sang suami hingga posisi Eser kini rebahan sempurna.
Perlahan Gendis menurunkan celana Eser hingga selulut. Jakun Eser semakin bergerak cepat naik turun, seiring rasa tidak sabar yang bergelayut di pikirannya.
Lidah Gendis mulai bergerak liar di sekitaran si Teser. Sepenuh hati dan segenap kemampuan teriring doa dalam hati, Gendis mencoba dan melakukan sebaik mungkin.
Eser memejamkan matanya, merasakan inci demi inci sapuan lidah sang istri, hingga lenguhan meluncur begitu saja dari mulutnya.
Ya, Eser merasakan ketegangan, apa yang ada diotaknya sudah maksimal, tapi si Teser belum sepenuhnya berdiri tegak penuh percaya diri seperti biasanya.
"Sudah, Mhiu. Kita coba lagi besok. Terimakasih. Ini sudah luar biasa." Eser menarik pundak Gendis, hingga si Teser keluar dari mulut perempuan itu. Kini, keduanya rebahan berdampingan di atas ranjang.
"Semangat, Phiu. Teruslah berpikir positif . Jangan berhenti berdoa. Kita akan melaluinya sama-sama." Gendis mengatakannya tanpa menoleh.
__ADS_1
Eser memiringkan kepalanya hingga menghadap pada sang istri. "Mhiu, besok kita ke gereja bersama, ya. Aku ingin kita berdoa bersama di rumah Tuhan. Mau kan?"
Gendis mengangguk setuju, lalu beringsut berdiri mengambil ponselnya. "Aku ingin pesan baklava, apa kamu mau?"
Eser mengernyitkan keningnya, tapi senyuman mengembang di bibir pria itu. "Sepertinya dia mewarisi darah Turki dengan kuat, masih di dalam perut saja, dia tahu makanannya apa."
Gendis mencebikkan bibirnya. "Aku akan membisikinya agar lebih menyukai tempe, tahu dan terong."
Tanpa menunggu jawaban Eser, Gendis langsung saja memesan. Lalu dia mengambil pakaian ganti lengkap dengan **********. "Aku ingin berendam dulu, setelah ini, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
Eser perlahan beringsut membuat posisinya duduk. "Mau mandi bareng?" godanya, langsung mendapatkan cebikan sinis dari Gendis.
Pria itu menggeser badannya perlahan, menaikkan celananya yang baru sempat dibetulkan, lalu duduk kembali di atas kursi rodanya. Dia menggerakkan kursi itu ke luar kamar menuju ruangan di mana Damar berada.
"Mar...," panggil Eser sembari mengetuk pintu.
Damar membuka pintu. "Iya, Mas."
"Boleh aku masuk?" tanya Eser setengah berbisik.
"Mar, aku mau tanya? Cara ngomong cinta itu bagaimana?" Sekali lagi, Eser bertanya dengan suara berbisik.
"Ya tinggal ngomong cinta gitu saja, Mas." Damar menjawab dengan ekspresi heran.
"Astaga, Mar. Kalau itu aku tahu. Maksudnya ngomong cinta ke perempuan."
"Mas mau nikah lagi? Jangan, Mas. Mbak Gendis, biar pun suka ketus, sebenarnya baik." Damar sepertinya sedang salah sangka.
"Bukan! Ngawur saja. Aku mau itu...." Eser tidak melanjutkan bicaranya.
"Mau apa, Mas?"
"Mau ngomong cinta ke Mbakmu," sahut Eser dengan cepat.
Damar menepok keningnya sendiri lumayan keras. "Ya Lord, Mas sudah lumayan lama menikah. Belum menyatakan cinta? Ngapain aja, Mas? Main bahasa tubuh?"
__ADS_1
"Husttttt." Eser meletakkan jari telunjuk dibibirnya, mengisyaratkan agar Damar memelankan suaranya.
"Ayolah, Mar. Kamu kan pasti paham apa yang disukai mbakmu."
Damar nampak berpikir keras. Bukan berpikir jawaban dari pertanyaan Eser, tapi sedang menduga-duga bagaimana Eser dan Gendis menjalani pernikahan tanpa pernah ada ungkapan cinta.
"Mar... Ayo, kasih masukan!"
"Mbak Gendis tidak romantis, tidak mungkin juga menyatakan cinta di pinggiran pantai apalagi bawa buket bunga. Mbak Gendis bisa mual." Damar melihat Eser dengan teliti. Ingin tertawa tapi takut durhaka.
Dua orang cuek, tidak romantis, dan dingin menjalin sebuah hubungan yang bernama pernikahan. Sungguh bukan perkara mudah. Mau mengatakan cinta saja beradu dengan gengsi.
"Kenapa tidak menjadi diri mas sendiri saja. Mas sudah berpengalaman. Seorang dosen dan pengusaha juga. Masak tidak pernah menyatakan cinta?"
Ucapan Damar seketika membuat Eser meringis. 35tahun umurnya, tapi nyatanya, dia memang belum pernah jatuh cinta sedalam dan seserius ini. Hubungannya dengan beberapa perempuan selama ini hanya sebatas kesenangan si Teser.
"Mas, Damar ini jomblo. Masih Sma pula. Ilmu Damar, hanya sebatas youtube. Bagaimana kalau sekarang kita lihat di youtube atau di browser pencarian saja." Damar menyambar ponsel pintar di mejanya.
Lalu mengetikkan sesuatu sembari mengejanya pelan-pelan. "Ca--ra me--nya--ta--kan cin--ta pa--da pe--rem--puan ju--tek."
Damar melihat layar ponsel dengan teliti lalu menyodorkannya pada Eser. Membaca apa yang ada di sana, membua pria itu garuk-garuk kepala.
"Aku makin bingung, Mar. Aku mau ngalir saja lah. Apa kata nanti. Semoga mulutku bisa keceplosan disaat-saat tertentu," harap Eser, akhirnya. Sedikit merasa putus asa.
Gendis keluar kamar saat mendengar suara bel pintu berbunyi. Dia keluar dengan rambut yang masih terlilit dengan handuk karena basah. Benar saja, makanan yang dia pesan sudah datang.
Meskipun heran tidak menemukan keberadaan Damar dan suaminya di luar, Gendis yang sudah lapar langsung memakan satu potong baklava dengan rakus. Tidak sampai lima menit dia mengambil potongan kedua.
Damar dan Eser yang keluar bersamaan dari kamar impian Gendis, kompak menelan ludah kasar menyaksikan cara makan Gendis yang urakan.
"Mbak, apa kabar martabak dan terang bulan kalau Mbak sukanya jadi makanan seperti ini terus?" Damar duduk di samping Gendis, hendak mencomot satu potong makanan itu, tapi tidak jadi karena melihat wajah kakaknya yang sepertinya sangat tidak ikhlas untuk berbagi.
Eser menahan air liurnya agar tidak menetes keluar. Baklava adalah pastry kesukaannya. Tapi melihat Gendis yang terlihat sangat menyukainya, dia jadi enggan untuk meminta.
Menyadari wajah suaminya penuh dengan keinginan, Gendis pun mendekati Eser. "Akkk...," ucapnya sembari menyuapkan setengah potongan yang baru dimakannya pada mulut Eser.
__ADS_1
Di tengah keasikan merasakan suapan tangan sang istri, bel pintu kembali berbunyi. Damar pun beringsut untuk membukakannya. Dan dua orang yang tidak terpikirkan akan datang, muncul di depan Gendis dan Eser.