
"Sesekali, jenguk bapakmu yang sakit. Kalau badanmu tidak sempat, paling tidak uangmu yang datang." Jubaedah masih saja terus berbicara dengan suara keras dan ketus.
Gendis hanya menatap Jubaedah dengan sinis. Lalu mengambil dua lembar uang ratusan lagi dari dalam dompetnya. "Kalau mau, silahkan. Aku cuma punya segini. Kalau tidak mau ya sudah." Gendis memberikannya pada Jubaedah.
Dasar Ibu sambung tidak punya malu, setelah menghina dan puas membuat Gendis jadi pusat perhatian, dia menyambar uang dan memilih langsung kabur dari rasa malu.
Wahyu, si penjual penyetan hanya menggelengkan kepalanya. Sudah tidak heran dengan drama keluarga Gendis. Karena rumah Wahyu, juga masih satu gang dengan rumah neraka milik Darto.
"Ini, Ndis," Wahyu memberikan kantong kresek putih berisi pesanan Gendis.
Gendis menerimanya lalu memberikan uang dan menunggu kembaliannya. Meski hanya menjual penyetan, Wahyu hidupnya cukup berada dan berkecukupan. jadi dia tidak pantas menerima uang kembalian Gendis. Lebih tepat, uang itu akan dia berikan pada bapak tua penjual pisang di bawah pohon besar tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Eser tidak melepaskan pandangannya dari Gendis, sejauh matanya memandang. Hampir semua mata laki-laki yang ada di sana selalu melirik Gendis. Membuat Eser sangat risih. Itulah kenapa, dia lebih menyukai makan di tempat private, atau paling tidak resto tertentu, asal tidak dipinggir jalan seperti ini.
"Pisangnya berapaan, Mbah?" tanya Gendis sembari berjongkok di depan jualan bapak tua tersebut.
"Dua puluh lima, Mbak," jawab bapak tua itu.
"Saya beli semua, Mbah. Tinggal berapa ini?" Gendis menghitung jumlah sisir pisang yang tersisa di sana.
"Ini ada 18 sisir pisang, Mbah. Saya beli semua." Gendis memberikan lima lembar uang ratusan pada bapak itu.
Gendis memanggil beberapa orang yang lewat, dan menawarkan pisangnya secara gratis. Dia hanya membawa satu sisir saja untuk di bawa pulang.
"Ini kembaliannya, Mbak. Terimakasih... semoga kehamilan mbak nantinya menjadi berkah bagi Mbak dan suami. Anak yang akan menjadi kebahagiaan, tapi juga memberi sedikit cobaan. Hanya sabar kuncinya," ucap Bapak tua itu dengan wajahnya yang tenang sembari mengulurkan selembar uang 50an ribu.
"Saya belum hamil, Mbah," protes Gendis buru-buru.
Dia belum ingin mempunyai anak. Jangan sampai bocah hamil bocah, dia belum siap. Apalagi hamil dari laki-laki yang belum pasti bisa dia cintai.
Bapak tua itu tersenyum. "Sabar," ucapnya, lagi.
Baru saja hendak berbalik badan, dia mendapat tepukan keras di lengan dari sosok yang tadi dikatakan sakit oleh Jubaedah.
"Cepet banget sembuhnya?" sindir Gendis.
__ADS_1
Darto memandangi anaknya dari atas ke bawah. "Wah... sudah kaya rupanya anak Bapak ini. Sini bagi uang." Darto menarik paksa tas Gendis.
Eser yang dari jauh selalu mengawasi, ingin sekali menolong Gendis. Tapi dia sudah mendapat ultimatum untuk tidak menampakkan diri di depan Darto ataupun Jubaedah.
"Bapak mau minta atau ngerampok? Tidak ada malunya sama sekali," ketus Gendis.
"Urusan uang, kita tidak boleh malu. Kalau malu, kita tidak makan. Seperti kamu, jadi simpenan juga tidak malu, kan? Yang penting uang." Darto mengucapkan dengan gayanya yang sok jagoan.
Gendis menarik tasnya dengan paksa. Setelah berhalis terlepas, Gendis langsung berjalan dan mengabaikan Darto.
Tapi dengan cepat, Darto menjambak rambut Gendis. Eser yang menilai Darto sudah kelewatan akhirnya tidak sabar dan segera turun tangan.
Tangan nya yang kuat dan kekar segera mencekal dan nenurunkan tangan laki-laki yang seharusnya disebut bapak mertua itu.
"Turunkan tanganmu dari rambut istriku, kamu sudah menjualnya padaku. Jadi dia bukan anakmu lagi." Eser menghempaskan tangan Darto dengan paksa, lalu mengajak Gendis berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
Setelah masuk ke dalam mobil, Eser segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, Gia yang memang sengaja mengajak Jubaedah dan Darto bekerjasama, keluar dari persembunyiannya bersama Jubaedah dan menghampiri Darto.
"Gangguan-gangguan kecil seperti itu, pasti akan mengusik mereka juga lama-lama. Bersiaplah, jika sudah waktunya nanti. Aku akan mengajak kalian pada pertunjukan yang lebih besar," ucap Gia dengan wajah liciknya.
.
.
Sampai di apartemen. Mulut Gendis masih saja maju dua senti. Dia kesal, karena Eser turut campur dengan masalahnya dengan Darto.
Gendis hafal betul, bagaimana sifat bapaknya itu. Dia pasti akan terus mencari celah agar bisa memanfaatkan Eser.
"Sudah, lagian, dia juga bapakmu, mhi. Kita ini berada dan berlebihan, biarlah dia ikut menikmati." Eser mencoba meredakan emosi Gendis.
"Bukan masalah banyak atau sedikit, Phiu. Kalau bapak itu senormal bapak-bapak lain, aku juga tidak akan seperhitungan ini," ketus Gendis.
Eser mencuci tangannya. "Aku lapar, aku harus makan apa malam ini?" tanyanya.
__ADS_1
Gendis pun melakukan hal yang sama dengan Eser. Setelah meletakkan tas nya, dia menyiapkan dua buah piring dan satu mangkok kecil untuk wadah sambal.
"Phiu, kita makan lesehan di balkon, Yuk! Biar kayak makan lesehan dipinggir jalan, tapi ini versi sultannya," Gendis memberikan ide konyol pada Eser.
Suaminya itu pun menurut begitu saja. Dia menggelar karpet empuk berukuran dua kali dua meter di sana. dan meletakkan meja pendek kecil untuk meletakkan minuman dan makanan.
Eser menunggu di sana sembari memutar musik dengan alunan lembut yang menurutnya romantis, tapi tidak bagi Gendis. Telinga Gendis sangat familiar dengan dangdut pantura dan campur sari.
"Matikan, Phiu. Kalau makannya seperti ini. Aku punya musik yang cocok. Bahkan aku bisa ikut bernyanyi kalau kamu mau mendengarkan." Gendis meletakkan makanan penyetan di atas meja.
Eser belum makan saja sudah menelan ludahnya sendiri, bukan karena ingin buru-buru makan, tapi jenis makanan di depannya sungguh tidak pernah dia rasakan. Ayam, tentu saja dia pernah makan. Tapi tidak diolah hanya seperti itu.
"Jangan melihat makanan ini dari wajahnya, rasakan saja, pasti akan nikmat. Makannya pun jangan pakai sendok. Seperti ini." Gendis mencelupkan tangannya di air kobokan yang dia bawa, mulai mencolekkan ayam dan terong ke sambal, lalu memasukkan ke mulut dan mengunyahnya dengan lahap.
Eser masih merasa ragu, dia benar-benar tidak pernah melakukan hal itu. Gendis tidak sabar dan geli melihat ekspresi suaminya yang sepertinya heran dan jijik bercampur jadi satu.
"Akkk...." Gendis menyuruh Eser membuka mulut dan menyuapi dengan tangannya, mau tidak mau Eser menuruti dan mengunyah makanan itu hingga habis.
"Akkkk...." Sekarang Eser malah meminta disuapi lagi dengan manja.
"Sebentar aku sampai lupa muter lagunya." Gendis membuka aplikasi musik di ponselnya dan langsung memutar lagu yang membuatnya sedikit bergoyang sembari menyuapi Eser dan dirinya sendiri, bergantian, hingga habis.
...Wong salah ora gelem ngaku salah...
...Suwe-suwe sopo wonge sing betah...
...Mripatku uwis ngerti sak nyatane...
...Kowe selak golek menangmu dewe...
...Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki...
...Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki...
Gendis berdiri, membawa piring kotor dan mencuci tangannya dengan sabun di wastafel. Meninggalkan Eser yang senyum-senyum memegang mulutnya karena baru pertama kali ini, Gendis menyentuh bibirnya dengan tangan.
__ADS_1
Sayup-sayup Eser mendengar suara Gendis menirukan lagu yang di putar. "Tak tandur pari jebul tukule malah sevket teki."
Gendis sengaja memlesetkan lirik lagunya, membuat Eser senyum-senyum kegirangan, karena dia sebenarnya tidak tahu artinya. Dia mengira, Gendis sedang kasmaran dengan dirinya.