Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Negosiasi dengan Erick


__ADS_3

Pria bernama Erick itu nampak buru-buru menundukkan kepalanya. Dia sedang menghindari beradu pandang dengan mata Gendis yang menggoda.


"Ko, bisa bantu saya sebentar. Saya tiba-tiba pusing sekali." Gendis memegangi kepalanya, pura-pura sempoyongan meraih kursi di depannya untuk duduk.


Erick melihat jam di pergelangan tangannya, lima menit lagi acara akan dimulai. "Kamu bisa menunggu di sini. Aku harus mengurus acara dulu. Aku temui rekanku dulu."


Gendis mengangguk lemah sembari meletakkan kepala di atas meja. Erick meninggalkan istri Eser itu sendirian di sana.


Sepeninggalan Erick, Gendis segera menghubungi Eser. Karena tidak diterima, dia pun hanya mengirim beberapa pesan. Kalau dia tidak akan terlihat di tempat pemerkatan karena sedang bersama Erick.


Eser mencari keberadaan Gendis dengan menggerakkan kepalanya ke sana ke mari. Bola matanya bergerak dengan lincah untuk mendeteksi keberadaan sang istri.


Dia pun mengambil ponsel di kantong celananya. Saat menyalakan layar ponsel, dia melihat ada telepon dan pesan masuk yang dikirim oleh Gendis. Dia segera membuka notifikasi itu. Jantungnya berdetak kencang, kekhawatiran sekaligus cemburu bergejolak di hatinya. Bagaimana pun, dia tidak rela, Gendis menggunakan rayuan untuk memuluskan rencananya.


Membayangkan suara manja dan sentuhan maut Gendis, sungguh membuatnya merinding. Jangan sampai miliknya itu di usik. Eser menghubungi orang kepercayaannya, lalu memerintahkan sesuatu pada orang tersebut.


Wedding entrance song sayup-sayup sudah mulai terdengar, pertanda, Jia sudah memasuki tempat pemberkataan. Eser melirik Sevket yang tepat berdiri di sampingnya. Papinya itu terlihat santai dan tidak sedikit pun menanyakan keberadaan Gendis yang sudah menghilang cukup lama.


Eser enggan menoleh, meski semua undangan sudah fokus pada sosok Jia. Tentu saja hampir sebagian besar yang berpikiran bahwa Jia adalah menantu pertama dari Sevket. Pernikahannnya dengan Gendis yang belum diumumkan, membuat relasi banyak yang tidak tahu status pernikahan Eser yang sebenarnya.


"Rilex, Es. Wajah cemasmu akan membuat Jia, Gia dan papanya bertanya-tanya tentang ketidak hadiran Gendis di sini. Percayalah! Istrimu tidak akan sendirian. Papi tidak sebodoh pikiran Arya dan Jia. Kamu pun juga harus cerdik menghadapi mereka." Sevket berbisik panjang dan lebar.


Eser pun mencoba untuk tenang. Pandangannya lurus, dia tidak tertarik sama sekali saat Gia dan papa Jia kini juga berdiri di sampingnya. Di depan Ozge dan Jia sudah saling berhadapan. Sebentar lagi janji suci pernikahan pasti akan dilakukan.

__ADS_1


Gia sedikit membungkukkan badannya untuk menyapa Eser. "Kursi roda tidak membuatmu nampak lemah, Es. Aku malah semakin tertantang untuk berada di atas tubuhmu tanpa perlawanan," bisiknya.


Eser malas menjawab. Dia tidak ingin terpancing untuk membuat perdebatan. Dia bergeming dan menatap datar ke depan.


Sementara itu, Gendis sudah di papah Erick ke sebuah kamar yang memang dipakainya selama persiapan acara pernikahan Jia-Ozge di hotel ini.


Gendis duduk di tepian ranjang, menumpu satu kakinya di atas kaki yang lain. Hingga belahan gaun mengeksplore sempurna paha mulusnya. Tangan Gendis masih setia memijat pelipis kepalanya yang kini benar-benar terasa pusing dan perutnya pun mulai bergejolak.


'Sabar, sayang. Kamu harus membantu ibu sebentar.' Gendis mengajak Esju bicara dalam hati.


Erick menyodorkan sebotol air putih untuk Gendis, dengan senyum yang pura-pura dipaksakan, perempuan itu menerima dengan gerakan gemulai.


"Terimakasih, Ko. Kita baru saja bertemu, tapi Koko baik sekali." Gendis membuka tutup botol yang masih tersegel, lalu meneguknya sedikit. Sesaat kemudian, Gendis menampilkan wajah sendu yang dalam.


"Iya, Ko. Aku tamu yang sakit hati." Tatapan mata Gendis sengaja dibuat menerawang dan kosong.


"Kamu mantan mempelai pria?" Erick terlihat penasaran.


"Iya. Masalahnya rumit. Aku ingin kegilaan ini berhenti. Bukan pernikahannya yang ingin aku gagalkan. Tapi hal lain. Aku tidak kebetulan jatuh, Ko. Aku sengaja mencarimu dan mencari kesempatan ini. Tapi sekarang, aku memang pusing, perutku juga mual." Gendis memulai rencananya.


"Maksudmu?"


"Aku ini berhubungan dan terlibat urusan dengam Arya dan Jia sudah lama, Ko. Mereka menjerat kita dengan memanipulasi semua sesuai kehendak mereka. Aku pernah ditangkap polisi, lalu sekarang mereka menginginkan lebih lagi. Membuat deal dengan mereka, seperti mengikat diri kita seumur hidup. Kalau, Koko, belum melakukan kesepakatan apapun. Lebih baik jangan. Bahaya." Gendis berusaha mempengaruhi pikiran Erick.

__ADS_1


Pria itu terdiam, dia tidak ingin gegabah. Masih menanti apa yang akan dikatakan Gendis selanjutnya. Karena dia pun sesungguhnya, menerima tawaran Jia dan Arya karena tertekan akan ancaman dan juga penawaran menarik dari kedua orang itu.


"Apa yang mereka tawarkan, Ko? Aku bisa memberikan lebih. Jika kamu diancam, aku bisa membantumu terlepas dari ancaman itu," Gendis menatap Erick dengan tatapan serius.


"Jadi inti semua ini adalah?" Erick memberanikan diri membalas tatapan Gendis.


"Aku tidak tahu, Flashdisk yang diminta untuk diputar di puncak acara nanti malam, sudah diberikan pada koko atau belum. Apapun isinya, video itu sama-sama akan berpengaruh pada kita. Ketika kita menuruti, maka mereka akan terus meminta hal lain pada suatu saat nanti. Pilihan di tangan Koko. Yang perlu Koko ketahui, uangku lebih banyak dari uang Arya, apalagi Jia. Dia tidak memiliki apa-apa." Gendis sengaja berdiri, dia tidak mau terlihat sangat butuh bantuan Erick.


"Flashdisk sudah ada di aku, tapi mereka mengancamku akan membuat reputasi WO-ku hancur jika aku tidak melakukannya."


"Dan Koko, percaya pada mereka? Reputasi dan nama baik kita, jelas ada di tangan kita. Sekuat apapun orang lain berusaha untuk menjatuhkan, kalau kita benar, maka kebenaran itu akan tetap menjadi milik kita. Satu-satunya orang yang bisa menghancurkan apapu yang kita bangun adalah diri kita sendiri."


Erick seketika terdiam. Logika Gendis jelas benar. Tapi selain tekanan itu. Dia juga diberi iming-iming uang yang bisa membuat impiannya terwujud. Dia jadi gamang, harus berpihak pada siapa.


"Aku ingin menyelamatkanmu dari jerat kelicikan Arya dan Jia, Ko. Tunjukkan isi Flashdisk. Aku langsung akan memberikan uang senilai yang mereka berikan, saat ini juga. Jika kamu memberikan padaku flashdisk itu, aku akan memberikan uang dua kali lipat dari yang diberikan oleh mereka, saat itu juga." Gendis berjalan mendekati pintu.


"Tunggu," cegah Erick.


"Aku akan memperlihatkan isi flashdisknya padamu, tapi bukan hanya uang yang aku inginkan." Erick mulai menatap Gendis dengan nakal.


Ucapan Erick, membuat langkah kaki Gendis terhenti. "Kamu ingin menikmati tubuhku?" tanyanya, langsung tepat sasaran.


Sementara itu, di bawah Eser sangat tidak tenang, meski wajahnya datar dan kadang tersenyum tipis, tapi pikirannya sudah benar-benar kacau.

__ADS_1


__ADS_2