
Dua orang suruhan Julles mempertanyakan perihal penangkapan Eser pada pihak berwenang. Dari sana, diketahui bahwa Eser ternyata membawa sesuatu yang dicurigai sebagai obat terlarang. Itulah kenapa sensor detector selalu berbunyi saat melewati tubuh Eser.
Jangankan Si Pengawal, Julles sekali pun tidak bisa berbuat banyak jika masih berada di wilayah Indonesia. Bukan karena dia tidak mempunyai kaki tangan di sana, namun kematian Sevket masih hangat, beberapa orang kepercayaan Sevket tentu masih melindungi keluarga tersebut dengan suka rela.
Kini, Eser sudah berada di dalam sebuah ruangan yang seharusnya digunakan sebagai ruang untuk penyelidikan. Namun nyatanya, di sana Eser malah menyegarkan badannya dengan mandi dan berganti pakaian.
"Jim, katakan pada Ayumi, suruh ke tempat Gendis. Berikan dua orang lagi untuk mengawasi istriku dari jauh. Jangan sampai ada yang menyentuh Gendis," perintah Eser pada salah satu anak buah kepercayaannya yang ada di dalam ruangan.
"Ayumi sudah berada di luar gerbang rumah Bapak. Bu Gendis menyuruh Ayumi menjaga jarak, Pak." jawab Pria bernama lengkap Jimmy itu.
Eser tidak heran mendengar jawaban Jimmy. Gendis selalu mengatakan ingin bebas dan tidak butuh pengawalan. Istrinya itu akan mengumpat sepanjang hari jika terus diawasi.
"Aku kangen kamu, Mhi. Maafkan kebodohanku," lirih Eser.
"Bapak mau Ibu dibawa ke sini?" Tanya Jimmy dengan hati-hati.
Eser menggelengkan kepala dengan kuat. "Tidak! Aku tidak mau mereka curiga.Tapi aku mempunyai rencana lain, agar aku bisa minimal seharian saja bersama istriku," Eser memberi kode pada Jimmy agar mendekat padanya melalui gerakan tangannya. Lalu pria itu membisikkan sesuatu.
"Pak, bukannya istri Anda sedang hamil?" Jimmy mengernyitkan keningnya karena tidak bisa menutupi rasa heran.
"Memangnya kenapa? Sudah lakukan saja tugasmu," seringai Eser sembari menidurkan badannya di sofa panjang yang empuk. Sejenak dia ingin merebahkan badannya yang lelah. Sedikit membayangkan tentang rencananya, membuat Eser senyum-senyum sendiri.
"Kita bisa menggunakan cara lain, Pak. Itu terlalu berbahaya," protes Jimmy.
"Atur saja."
Di tempat lain, Gendis masih mondar mandir di depan sofa ruang tengah, dia masih ragu untuk berangkat menemui Ozge. Dia harus menata kata dan juga hati. Rencana pertama setidaknya sudah berjalan mulus. Selangkah lagi, jika mereka bisa menemukan bukti yang selama ini dipegang Sevket, hidup mereka pasti akan tenang.
__ADS_1
Sungguh Gendis ingin merasakan kehidupan yang normal kembali. Sejak menikah dengan Eser, kehidupannya terasa dihantam badai dan tsunami bertubi-tubi. Bisa berdiri tegak sampai sekarang, sudah menjadi sebuah pencapaian tersendiri baginya.
Akhirnya, dengan tekad yang bulat dan keberanian yang sudah terkumpul banyak, Gendis pun berangkat menuju rumah Sevket. Dia yakin, Ozge tidak mungkin sudah mulai bekerja. Pria itu pasti juga masih mengambil waktu untuk merenungi kepergian Sevket.
Benar juga dugaan Gendis, Ozge memang belum bekerja. Pria itu masih menikmati makan paginya yang sudah sangat terlambat. Terlihat Mutia duduk menemani di samping Ozge. Gurat kesedihan begitu cepat menghilang dari wajah wanita itu. Keangkuhan kembali menggantinya dengan cepat. Gendis jadi teringat akan pesan Jia kemarin.
"Kenapa kamu datang lagi? Mau membicarakan warisan? Kuburan papamu saja masih basah, bunga yang ditabur belum kering. Tidak pantas kamu membicarakan warisan," Mutia tiba-tiba menuduh Gendis dengan seenak hati.
Ozge langsung menoleh pada maminya, melemparkan tatapan tajam dan ketidak sukaannya. Tidak seharusnya Mutia mengeluarkan kalimat mengada-ada yang sangat mungkin menyinggung perasaan Gendis.
"Warisan? Apa saya terlihat sangat membutuhkan uang? Jangankan sekarang, saat papi masih hidup pun saya tidak pernah menginginkan apa pun dari papi. Saya sudah terlalu akrab dengan kekurangan dan kemiskinan, hidup bergelimang harta tidak membuat saya tamak. Tanpa warisan papi, hidup kami baik-baik saja," tegas Gendis.
Ozge menyudahi makannya. Dia langsung berdiri dan mengajak Gendis menjauh meninggalkan Mutia.
"Oz, bisa nggak kita bicara di luar? Yuk!" Ajak Gendis dengan nada merayu.
Dalam hati Ozge terus mengingatkan dirinya kalau Gendis dan dirinya adalah saudara sedarah. Mendengar suara dan melihat wajah Gendis saat ini, sungguh membuat imajinasinya malah menjadi liar.
"Ngedate. Anggap saja ini sibling date." Gendis menarik tangan Ozge. Pria itu pun pasrah dan tidak menolak.
Melihat Gendis masuk ke dalam mobilnya, membuat Ozge berteriak, "Tidak-tidak! Aku yang setir."
Gendis tidak mendebat dan keberatan sama sekali. Dengan senang hati dia membiarkan Ozge mengemudi.
"Jadi, mau kemana kita? Ke apartemen? Kangen sama aku?" Tanya Ozge dengan seenaknya.
"Dih, enggak ya. Mana ada. Ingat ya, Oz. Kita saudara. Lupakan kita pernah ngapain aja." Gendis menatap Ozge dengan serius.
__ADS_1
"Aku masih ingat rasanya, Beg. Aku mengingat semua tentang kamu. Berat menjadikanmu adikku. Kita harus membuat ini lebih fair sekarang. Papi sudah tidak ada. mau tidak mau, aku memang harus menjagamu."
Gendis tersenyum, "Berhenti di taman depan saja. Kita duduk di sana!" Gendis menunjuk taman di sebuah pintu masuk perumahan.
Ozge mengernyitkan keningnya. "Ndis, ini panas banget. Kamu nggak becanda kan?"
"Memang kenapa? Takut hitam? Dih, cemen."
Sesaat setelah mobil berhenti, Gendis langsung keluar dari mobil terlebih dahulu. Ozge segera mengambil kaca mata hitam untuk menahan silau sinar matahari. Setengah berlari, Ozge menyusul Gendis yang sudah berada di tepian danau buatan. Panas matahari yang beranjak meninggi, tidak sedikit pun mengusik Gendis.
"Air danau selalu terlihat tenang. Tapi setenang-tenangnya air danau, dia lebih mudah menenggelamkan apapun yang tidak bisa mengapung di atasnya." Gendis mengucapkan sesuatu perumpamaan sembari melemparkan sebuah kerikil ke air tersebut.
"Dan kamu adalah air danaunya, terlihat tenang. Tapi sanggup menjatuhkan lawan. Berbeda dengan laut, ombaknya terlihat besar dan menakutkan, nyatanya, banyak yang masih bisa mengapung dan selamat di atasnya," timpal Ozge.
"Mungkin begitu... Oz, bantu aku." Gendis tanpa basa basi langsung mengucapkannya pada Ozge.
"Apa? Mencari Eser? Tidak akan pernah! Dia sudah memilih jalannya. Jangan libatkan diri kita. Cukup, Ndis! Kita mulai saja hidup kita yang baru. Tanpa Eser, dan juga tanpa papi."
Gendis sudah menduga kalau Eser akan menjawab seperti itu. Dia tidak akan menyerah semudah ini. Lagi pula, Gendis tidak meminta bantuan Ozge untuk mencari Eser.
"Bukan itu, Oz. Aku hanya memintamu untuk ini ...." Gendis menjinjitkan badannya agar bisa membisikkan sesuatu di telinga Ozge. Padahal tidak ada orang lain selain mereka di sana, namun Gendis tetap memilih untuk berbisik-bisik.
Ozge menarik napas dalam. Dia menatap Gendis dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ini tidak mudah, Beg."
"Kamu bisa manfaatkan Jia juga, Oz. Dia masih istrimu. Ayolah! Ini permintaan pertamaku sebagai adikmu."
"Ckck... Jangan sebut Jia istriku. Aku benar-benar jijik padanya. Akan aku usahakan sendiri. Tapi panggil aku lebih pantas. Aku ini kakakmu, kenapa kamu enteng sekali terus mengucapkan Oz ... Oz." Pria tersebut pura-pura kesal.
__ADS_1
"Jia memang istrimu. Dan aku adalah istri Eser." Gendis sengaja menggoda Ozge.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata terus mengawasi mereka dari kejauhan.