
Eser menyunggingkan bibirnya begitu tipis. Sudah diduga sebelumnya. Syarat tersebut, sungguh tidak sedikit pun membuat Eser terkejut. Terbaca dengan jelas dari awal.
"Kalian tahu bukan? Saya ini sudah beristri. Dan diagama yang saya anut, sama sekali tidak ada istilah menikahi lebih dari satu perempuan." Eser menanggapi tak kalah santai.
Giano tertawa begitu lepas. "Es ... Es ... kamu ini hidup dijaman kapan? Semua bisa diatur asal ada uang. Tidak jarang aturan Tuhan sekali pun dimudahkan demi sejumlah cuan dan tujuan. Sudahlah! Yang penting kamu mau, nanti saya yang atur."
Salsa tersenyum penuh kemenangan. Selama ini, setiap keinginannya, selalu didapat dengan mudah. Tidak satu pun yang dimintanya, diacuhkan oleh sang ayah.
"Bagaimana, Es? Ini adalah deal paling bodoh yang pernah saya lakukan. Saya tidak mendapatkan apa pun dari deal ini. Sedangkan kamu? Banyak, Es. Kamu mendapatkan istri kedua yang sangat cantik dan memiliki segalanya. Bahkan jika kamu cukup pintar dan bersedia meninggalkan istri pertamamu, Saya dengan senang hati akan melepas semua harta saya untuk kamu," ucap Giano, begitu angkuh dan percaya dirinya.
"Kerjasama bisnis, harusnya menguntungkan untuk kedua belah pihak, Pak. Jika seperti ini, kesannya Anda hanya memberi pertolongan dan bonus pada saya secara cuma-cuma. Saya tidak terlalu suka yang seperti itu. Saya pria yang sangat normal, melihat Salsa jelas saya sangat terkagum-kagum dengan kecantikannya. Untuk mendampingi perempuan sesempurna Salsa, saya pun harus memantaskan diri sebagai lelaki." Eser berbicara panjang lebar dengan sangat lancar. Padahal setiap kata yang diucapkan sunggih bertentangan dengan hati nuraninya.
"Memantaskan diri untuk apa? Kami tidak membutuhkan uangmu. Kalau pun kamu menikahi Salsa hanya bermodalkan kelelakianmu, kami sama sekali tidak keberatan."
Ucapan Giano sungguh membuat Eser bergidik dalam hati. Sebegitunya pria tersebut berusaha meyakinkan Eser agar mau menjadikan anaknya sebagai seorang istri. Membuat Eser semakin kehilangan minat. Tidak, Eser tidak merasa seistimewa itu, hingga sampai bisa membuat seorang Giano menurunkan standartnya untuk mendapatkan seorang menantu.
"Ini bukan soal uang, Mister. Tapi ini menyangkut prinsip saya. Bukankah lelaki itu memang harus berprinsip? Salsa tidak bisa dinilai dengan uang dan kekayaan yang Anda punya. Saya ingin melakukan dengan benar. Syarat dari saya begitu mudah dan sederhana. Jika Salsa bisa membuat istri saya mengijinkan saya untuk menikah lagi, maka saya akan langsung menikahi Salsa," ucap Eser. Tegas dan lugas.
__ADS_1
"Sebagai laki-laki, saya tidak ingin menikah sembunyi-sembunyi dan membohongi seorang perempyan demi perempuan lain," tambah Eser.
Kini, pria itu hanya berharap sifat dan sikap Gendis tidak berubah. Jika suatu saat Giano bisa membawa Gendis bertemu dengan Salsa, semoga sang istri tahu kalau hal tersebut adalah sebagian dari rencana.
Pada dasarnya, Giano bukanlah lelaki yang suka mempermainkan wanita. Dalam hidupnya, Giano hanya menikah satu kali. Yaitu dengan mommy dari Salsa. Begitulah yang Rose informasikan pada Eser. Apa yang dilakukan oleh Giano saat ini, hanyalah demi putri semata wayangnya. Salsa adalah segalanya bagi pria tersebut.
"Sebentar, kalau Gendis tidak ketemu dalam waktu dekat ini, berarti makin lama dong masa kejayaan Sevket bertahan." Rose mulai melakukan tugasnya.
"Tidak akan! Kami akan menemukan istri Eser secepat mungkin. Beri tahu kami, foto gadis itu, dan lokasi terakhir dia diketahui keberadaannya," jawab Giano dengan sangat optimis.
"Hmmm ... semoga saja. Tapi bolehkah kami mengajukan deal lagi, bukankah transaksi yang akan dilakukan Julles sudah seminggu lagi? Bagaimana kalau kamu tidak bisa menemukan istri Eser dalam jangka waktu tersebut? Apa kamu akan melepas kesempatan besar ini begitu saja? Hanya demi sebuah pernikahan yang bahkan bisa dilakukan kapan pun."
Kini Eser dan Rose sama-sama berdoa dalam hati, semoga Gendis nantinya tahu pasti apa yang harus dilakukan dan diucapkan. Jangan sampai, Gendis malah melepas Eser tanpa perjuangan.
"Sudah puas?" Giano bertanya pada Salsa.
"Belum sepenuhnya, Dadd. Masih sedikit. Buatlah istri Eser mengijinkanku menikah dengan suaminya. Kalau perlu, bagi separuh hartaku untuk dia. Tidak akan ada perempuan yang menolak kekayaan. Dengan uang yang kita berikan, dia pun bisa menikahi sepuluh lelaki."
__ADS_1
Eser mengepalkan tangannya. Wajahnya pun seketika memerah menahan amarah.Apa yang diucapkan Salsa sungguh membuatnya ingin mencekik dan menjejali mulut perempuan itu dengan kotoran kuda.
Rose mengusap lengan Eser, tanpa kata, mengingatkan putra yang tidak menganggapnya itu untuk menjaga emosi dan tetap berusaha tenang.
Setelah kesepakatan sudah didapat, mereka berempat segera melakukan makan malam. Obrolan yang lebih ringan pun terus dilakukan di sela-sela jeda waktu mengunyah mereka. Eser sengaja terus menggali topik pembicaraan. Mencoba mencari celah atau titik lemah dari Giano yang dapat digunakan u untuk menyerang balik pria tersebut.
Meski sudah ada komitmen, tetap saja Eser harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Berharap tidak dikhianati, namun tetap waspada pada kelicikan lawan. Itulah yang sekarang ada dibenak Eser.
***
Semalaman, Ozge benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Begitu banyak pikiran yang melintasi di benaknya. Malam yang begitu hening berbanding terbalik dengan pikirannya yang gaduh. Satu per satu kilasan masalah, mengingatkan dirinya untuk segera disudahi dengan cepat.
Pria itu bergegaske dalam kamar mandi, mengguyur badannya dengan air hangat di bawah pancuran shower untuk mendapatkan kesegaran diri. Sebentar lagi mungkin salah satu hal yang dinantinya akan tiba.
Tiga puluh menit berada di dalam sana, akhirnya Ozge keluar juga dalam keadaan yang sangat segar. Pria itu segera mengenakan pakaiannya, lalu dengan langkah lebar dia meninggalkan kamar dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
Suara bel pintu utama, semakin membuat Ozge yakin, inilah saatnya satu permasalahan diungkap dan diakhiri.
__ADS_1
"Siapa datang bertamu sepagi ini? Apa Gendis sudah berani menampakkan diri? Sudah lelah bersembunyi rupanya. Atau dia hanya kehabisan uang, dan datang untuk meminta bagian warisan," cerocos Mutia. Dengan enteng memberikan tuduhan pada orang yang tidak tahu apa-apa.
Asisten rumah tangga yang membukakan pintu masuk diikuti tiga orang wanita berpakaian seragam kepolisian.