Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Memutuskan pergi sebentar


__ADS_3

"Aku harus menyembuhkan lukamu seperti apa? Sedangkan aku sendiri juga terluka karena hal yang sama." Eser membalut tangan Gendis dengan perban.


Saat perempuan itu menawarkan untuk membantu mengurus luka ditangannya, Eser menolak dengan halus. Dia seperti sedang menghindari bertatapan lama dengan Gendis.


"Jadi akhirnya kita akan bercerai?" Gendis memutar badannya hingga saling beradu punggung dengan Eser.


Eser menggigit bibir bawahnya sembari menarik napas dalam. Dia menyandarkan punggungnya pada punggung Gendis. "Apa yang disatukan oleh Tuhan, tidak bisa diceraikan oleh manusia. Tapi jika kita bersaudara, kita bisa apa? Kenapa sakit sekali rasanya, Mhi. Haruskah aku mengganti panggilanmu? Bagaimana nanti Esju memanggil kita?"


"Kenapa menjadi anak seorang Darto lebih menyenangkan ketimbang menjadi anak Sevket? Kita harus bagaimana sekarang? Apakah Esju akan baik-baik saja?"


Eser ingin menggenggam tangan Gendis, tapi tidak jadi. Dia benar-benar takut tidak bisa mengendalikan perasaannya. Dia tidak pernah merasakan sepatah hati ini. Mengubah rasa cinta lawan jenis menjadi cinta pada saudara bukanlah hal yang mudah. Apalagi, rasa cinta Eser pada Gendis sebagai suami sudah tumbuh luar biasa.


"Kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha menemuiku? Bu Dahlia? Tuan Sevket? Kenapa semua malah meninggalkan aku denganmu saja?" Gendis kembali bertanya-tanya. Karena dia ingin tahu lebih jauh dari kedua orangtua itu secara langsung. Tentu saja, dia masih menaruh harapan kalau semuanya salah.


"Aku yang meminta mereka pergi. Aku tidak mau mendengar pembenaran dari mereka. Papi dan Bu Dahlia tidak menyangkal, Ndis. Itu artinya kita memang saudara. Kita kakak beradik. Kamu adikku, yang aku nikahi, yang aku cintai sebagai perempuan seutuhnya, yang sedang hamil darah dagingku. Kurang kejam apa kenyataan pada kita?" Eser terlihat sangat sinis saat mengatakannya.


Gendis berdiri perlahan. Dia meninggalkan Eser yang memeluk lututnya sendiri dengan sangat dalam. Perempuan itu mengeluarkan kopernya. Memasukkan beberapa helai bajunya ke dalam sana.

__ADS_1


Bulir bening tidak surut membasahi pipi mulusnya. Meski tanpa suara tangis yang meronta, tapi isaknya membuat hati siapa pun yang mendengar merasa ikut tersayat.


Gendis bukan sedih menerima kenyataan bahwa Darto bukanlah bapak kandungnya. Tumbuh di keluarga yang sama sekali tidak utuh, membuat Gendis tidak ada bayangan akan keluarga sempurna. Andai bukan Sevket, tidak akan ada bedanya dia anak Darto atau yang lain.


Tapi mendapati kebenaran kalau dirinya sedarah dengan pria yang selama ini disebutnya suami adalah luka yang luar biasa. Membangun kasih dalam pernikahan membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan harus melepas beberapa ego. Kini, saat rasa itu sudah tumbuh, kenyataan malah mempermainkannya seperti ini.


Gendis bersimpuh di depan meja doanya. Tangannya menyentuh dahi, perlahan turun ke dada tengah lalu menggeser kebagian bahu kanan kiri seperti membentuk salip.


"Tuhan, aku sungguh tidak ingin meragukan kasihMu sedikit pun. Setiap ujian yang engkau kirimkan, tentu Engkau sudah mengukur jika kami mampu melaluinya. Tapi haruskah sesakit ini? Bagaimana dengan nasib Esju? Kenapa Tuhan hadirkan dia. Seorang anak terlahir suci, tidak seharusnya menanggung dosa atau karma orang tuanya. Jika aku tidak layak bahagia, aku terima kesengsaraanku. Biar aku yang menjalani pedihnya hidup, jangan sampai Esju merasakannya."


Melihat Gendis berdiri, lalu menggeret kopernya, hati Eser rasanya semakin hancur.


"Jangan pergi jauh dariku, Mhi. Tempatmu di sini. Tidak peduli sebagai apa kita hidup bersama, aku harus memastikan kamu dan Esju baik-baik saja." Eser menahan pergelangan tangan Gendis.


"Aku butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku mengatakan aku harus bisa menerima keadaan. Tapi perasaan ini tidak bisa berbohong. Aku mencintaimu bukan sebagai kakakku. Aku tidak siap kalau harus mengubah perasaan secepat ini. Aku mencintaimu sebagai suamiku, sungguh aku mencintaimu, Phi. Susah payah aku menumbuhkan rasa itu. Tapi sekarang aku harus membunuhnya lagi. Aku tidak sanggup jika harus menatapmu setiap hari." Gendis melepas tangan Eser dari tangannya.


"Mhi, please! Aku mohon, jangan tinggalkan aku, Mhi. Aku mencintaimu. Aku tidak mau jauh dari kamu dan Esju. Bukan hanya kamu yang berat, aku juga. Kita tidak perlu sekejam ini pada diri kita. Kamu pergi, ingin menjauh dariku? Apa itu menjamin kamu akan mampu menerimaku sebagai kakakmu? Masalahnya ada di hati kita, ke mana pun kita berlari, hati itu akan terbawa. Diamlah di sini. Kita hadapi sama-sama. Jika darah kurang kental menyatukan kita, ada Esju dibadanmu. Esju yang ada, dan menjadi bagian dari kita, karena aku dan kamu. Apa pun sebutan kita, Esju berhak mendapatkan yang terbaik." Eser kembali menahan langkah Gendis. Kali ini dengan berlutut di kaki perempuan itu.

__ADS_1


Gendis ikut menjatuhkan dirinya ke lantai dengan perlahan. Dia memberanikan diri menggenggam tangan Eser. "Maafkan aku selama ini belum menjadi istri yang baik. Mungkin, nanti pun aku tidak akan bisa menjadi adik yang baik. Tapi aku janji, aku akan menjadi ibu yang baik untuk Esju."


Eser membalas tatapan sendu Gendis, tidak tahan, dia merengkuh pundak perempuan itu dan memeluknya erat. "Kamu harus bahagia, Mhi. Aku akan lakukan apa pun untuk memastikan kebahagiaanmu."


"Biarkan aku pergi, Phi. Sebentar saja. Aku akan menjaga Esju dengan baik. Aku janji tidak akan lama." Gendis merenggangkan pelukannya.


Eser menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, Mhi. Jangan lari dariku, jangan menjauh."


Gendis kembali berdiri. "Please, jaga dirimu baik-baik, Phi. Jangan lukai dirimu lagi. Aku akan kembali."


Eser seperti tidak punya tenaga lagi, dia hanya bisa menatap punggung Gendis yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan matanya.


Apa yang tersisa di hati Eser kini hanya luka. Sesakit ini rasanya berpisah dengan orang yang dicintai. Sebuah rasa yang tidak pernah Eser rasakan sebelumnya. Dulu, perempuan baginya hanya selingan hidup. Tidak harus menetap, yang penting ada saat dia butuh. Bersama Gendis semua berbeda. Dia tidak ingin ditinggalkan, ingin selalu bersama, dan takut jika sampai didua kan.


Tidak lama dari kepergian Gendis, bel apartemen Eser berbunyi. Awalnya, pria itu mengabaikan begitu saja. Tapi karena suara bel berbunyi tanpa jeda, Eser terganggu juga. Dengan malas, pria itu berdiri dari duduknya dan membuka daun pintu dengan sedikit terpaksa.


"Untuk apa kalian datang?" Eser bertanya dengan ketus.

__ADS_1


__ADS_2