Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Rumit


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi, tetapi Eser sudah terlihat segar. Pakaian yang menempel di badannya tidak lagi sama dengan yang dia kenakan semalam. Kali ini, pakaiannya lebih santai.


Gendis belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera terbangun. Selimut dengan rapat masih menutup tubuhnya hingga ke dada. Dengkuran halus masih terdengar, menandakan Gendis memang masih lelap dalam tidurnya.


Eser menanti Gendis terjaga dengan sabar, dia duduk di samping sisi ranjang menggunakan bangku tanpa sandaran. Eser menatap perempuan itu penuh cinta. Tangannya terulur untuk menyibak sebagian anak rambut yang menutup wajah cantik Gendis.


Merasa ada yang menyentuh wajahnya, membuat Gendia terusik. Kepalanya mulai bergerak ke kanan dan ke kiri, posisi tidurnya yang tadinya miring pun kini menjadi telentang. Selimut tidak lagi rapi menutup tubuhnya, kain itu tersibak hingga menampilkan bagian pinggulnya ke atas.


"Cobaan apa lagi ini. Teser baru saja mengeluarkan lava secara manual. Jangan sampai dia tergugah kembali." Eser buru-buru membenahi selimut Gendis. Dia khawatir Teser kembali memberontak kalau disuguhi tubuh Gendis yang sangat dia rindukan.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Gendis membuka bola matanya juga. Melihat Eser yang berada tidak jauh dari posisinya berada, membuat Gendis menggenggam rapat selimut itu di dadanya.


Eser tersenyum tipis seraya berkata, "Percuma kamu tutupi, Mhi. Semalam, selimut itu sudah lari kemana-mana. Menampakkan sesuatu yang meskipun kamu tutup sekali pun, aku sudah terlanjur hapal setiap detailnya."


"Phi!" Bentak Gendis dengan kesal namun sedikit manja.


"Kamu siap-siaplah. Setelah sarapan kita pulang. Barang-barangmu di kos, biar Ayumi yang urus. Ada urusan yang penting yang harus aku selesaikan segera." Eser memberikan satu set baju ganti pada Gendis. Semua keperluan perempuan itu pun sudah siap di kamar mandi. Tadi malam, Ayumi mengantar semua barang itu ke hotel. Setiap urusan yang menyangkut Gendis, Eser memang lebih percaya pada Ayumi di banding orang kepercayaannya yang lain.


***


Sepanjang perjalanan pulang, telinga Eser dan Damar begitu penuh dengan omelan Gendis. Perempuan itu seperti baru mengisi ulang daya baterai. Kemampuannya berbicara tanpa jeda sungguh meresahkan telinga.


Bukannya menimpali atau membantah, kedua laki-laki itu kompak hanya senyum-senyum. Omelan Gendis adalah salah satu hal yang paling mereka rindukan. Betapa sepinya apartemen tanpa Gendis.


"Phi, bagaimana keadaan Vivian?" Tanya Gendis tiba-tiba.


"Ngapain kamu nanyain dia, Mhi? Dia itu jahat dan licik. Sama sekali tidak ada baik-baiknya. Sama seperti ibunya, kamu harus hati-hati. Kalau bisa hindari. Akan lebih baik kalau tidak berhubungan dengan mereka," tegas Eser sedikit terbawa emosi.

__ADS_1


"Jelas aku ingin tahu, kamu melibatkan dia dalam urusan kita. Aku yakin dia tidak akan terima dengan perlakuanmu. Vivian akan datang untuk membalas pada kita,"


Eser menatap Gendis dengan santai. "Aku menunggu saat itu tiba. Aku menunggu saat Vivian datang di depanku, kalau perlu dengan Dahlia sekalian. Aku ingin tahu, mereka ingin permainan apalagi," ucap Eser penuh arti.


Damar yang sedang duduk di jok depan teringat akan pesan masuk yang dia baca secara tidak sengaja saat mengembalikan ponsel dan tas milik Vivian ke dalam kamarnya. Sebuah pesan yang ingin dia bicarakan terlebih dahulu dengan Eser. Namun sampai detik ini, Damar belum mempunyai kesempatan untuk berdua saja dengan Eser.


***


Kabar kembalinya Gendis ternyata sudah sampai ke telinga Sevket. Pria itu tampak lega dan sangat bahagia. Dia pun menyuruh asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan kamar untuk Gendis. Besok, dia ingin mengajak anak kandung yang baru diketahuinya itu tinggal di rumahnya untuk beberapa hari.


Mutia yang merasa posisinya terancam, semakin membenci dan menaruh dendam pada Gendis. Menjadi menantu saja sudah diistimewakan, apalagi sekarang diketahui sebagai anak kandung, pasti Gendis diperlakukan seperti putri raja.


Dengan semangat, Sevket meminta driver-nya untuk mengantar ke apartemen Eser. Banyak hal yang ingin dia bicarakan dari hati ke hati dengan Gendis. Dari dulu, dia ingin sekali mempunyai anak perempuan. Dia tidak pernah membayangkan atau bermimpi, kalau ternyata Tuhan mengabulkan harapannya itu.


Di sisi lain, Ozge yang juga sudah mendengar kembalinya Gendis ke apartemen seketika menampilkan wajah yang sumringah. Dia benar-benar tidak sabar menunggu hasil DNA itu keluar. Besar harapan kalau dia bukanlah anak Sevket. Bagi Ozge, tidak masalah kehilangan posisi sebagai pemegang jabatan tertinggi di SVK Corp. Yang terpenting, Gendis bisa kembali menjadi miliknya secara utuh.


"Aku perlu bicara denganmu, Oz." Vivian menarik tangan Ozge untuk kembali ke ruangannya.


"Sabar, Vi. Kamu buru-buru sekali." Ozge menghempaskan tangan Vivian yang menggenggam lengannya.


"Kamu harus bertindak cepat, Oz. Apa pun yang terjadi, Eser harus jauh-jauh dari Gendis. Aku tidak mau kejadian semalam terulang lagi. Aku benar-benar merasa harga diriku diinjak-injak. Pengaruhi papimu jika perlu." Vivian duduk di tepian meja kerja Ozge dengan santainya.


"Siapa kamu bisa memerintahku, Vi. Tanpa kamu sekali pun, aku bisa berjalan sendiri melakukan rencanaku," Ozge melirik sinis pada Vivian.


"Jangan main-main denganku, Oz. Aku sudah memberikanmu informasi yang sangat penting. Bahkan kamu pun tidak terpikirkan untuk melakukannya. Lalu sekarang kamu mau berjalan sendiri begitu saja?" Vivian kembali berdiri, tetapi dia menggebrak meja Ozge penuh emosi.


"Kamu pikir kamu bisa mendapatkan Eser dengan dirimu yang seperti ini? Jangan hanya terlihat pintar kalau nyatanya kamu bodoh. Kamu pikir aku tidak tahu kalau Eser sedang mengawasimu sejak lama? Bahkan sekarang Eser tahu kalau kamu sedang berusaha membuat kacau semua proyeknya. Satu hal lagi yang penting, Katakan padaku yang sebenarnya tentang hasil DNA Gendis, apa kamu yang mengaturnya?"

__ADS_1


Vivian tidak menjawab, perempuan itu tidak terlihat kaget dan tidak pula terlihat gugup. "Menurutmu?"


"Pastikan kalau kamu tidak bermain-main dengan Eser, Vi. Kekejamannya sudah lama tidak disalurkan. Sayangi nyawamu." Ozge membuka pintu ruangannya dengan lebar, merentangkan tangan sebagai isyarat agar Vivian keluar dari ruangannya.


***


Gendis langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang sangat dia rindukan. Penataan, suasana, dan seprei kamarnya, semuanya masih sama. Padahal hampir sebulan tidak ada dirinya di sana, tetapi wangi parfumnyalah yang sangat dominan tercium.


"Mbak ...." Damar mengetuk pintu sembari memanggil kakaknya.


Gendis beringsut dan langsung membuka pintunya. "Ada apa, Mar?"


"Ada Pak Sevket." Damar menjawab lirih.


"Oh, iya mbak ke sana. Mas Eser sudah di sana?" Tanya Gendis.


Damar menggeleng, "Mas Eser buru-buru pergi. Katanya ada urusan mendadak."


Gendis mengernyitkan kening, tidak biasanya Eser pergi tanpa berpamitan, padahal mereka baru saja bertemu. Sembari berpikir, dia melangkahkan kaki menuju ruang tamu.


Sevket langsung memeluk Gendis, meski tidak ada balasan hangat dari anaknya itu, Sevket tidak peduli. "Kemana saja kamu, Ndis? Tidak inginkah kami memberi waktu pada Papi untuk menebus kesalahan Papi?"


Gendis menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Papi tidak salah. Tidak ada yang salah. Yang sudah terjadi, tidak perlu disesali. Tumbuh dengan siapa dan dengan cara seperti apa, beginilah Gendis sekarang."


Sevket merenggangkan pelukannya seraya menepuk-nepuk lengan Gendis. "Kamu tumbuh menjadi perempuan yang hebat, Ndis. Takdir juga mempertemukan kita dengan cara yang luar biasa. Mungkin ini tidak pantas. Siapa Papi berhak meminta sesuatu padamu, tapi biarlah Papi sedikit tidak tahu malu. Maukah kamu beberapa hari saja tinggal di rumah Papi? Banyak hal yang ingin Papi tunjukkan dan ceritakan padamu."


Gendis tidak langsung menjawab. Bayangan Mutia, Ozge dan Jia yang ada di sana membuatnya sedikit enggan. Tapi melihat tatapan mengiba, dan genggaman tangan Sevket yang terasa bergetar, membuat hatinya tersentuh. Sama-sama tidak pernah merasakan kasih sayang Dahlia dan Sevket, tetapi entah kenapa hati Gendis mengatakan kalau perasaan Sevket begitu tulus padanya.

__ADS_1


"Bagaimana, Ndis? Mau 'kan tinggal sama Papi? Sehari saja Papi sudah senang, apalagi jika mau selamanya." Sevket semakin mengiba.


__ADS_2