
Setelah berpikir agak terlalu lama di kantin kampus, Gendis memutuskan untuk berganti dosen pembimbing. Tapi masalahnya, hanya ada Eser dan satu lagi Dosen yang susah sekali jika dihubungi.
Gendis masih menimbang-nimbang. Masih banyak yang harus dia lakukan, kalau dia memilih Eser, tentu semua harusnya, akan menjadi lebih mudah.
"Ndis, apa kabar? Skripsimu sampai di mana? Eh, kamu tahu tidak? Dibimbing pak Eser tuh, enak banget. Aku rela pura-pura tidak mengerti. Asal agak lama bersama dia. Wanginya mahal banget." Teman Gendis bernama Mega, muncul tiba-tiba, duduk dan langsung berbicara panjang lebar.
"Masih judul, belum melangkah kemana-mana. Mau pindah Dosen pembimbing saja. Bingung, Pak Eser pasti pemilih banget. Aku nggak berani. Setahuku biar pun parfumnya mahal, kalau buang angin tetep saja baunya tidak enak." Gendis menjawab dengan santai.
"Pasti wangi lah. Secara tajirnya tujuh keturunan, makanannya pasti beda sama kita," bela Mega.
"Bisa jadi. Ih, ngapain ngomongin dia sih. Lihat Ken tidak?" tanya Gendis, mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah, dia belum ke kampus beberapa hari ini. Eh, Ndis. Aku baru sadar. Penampilanmu keren banget sekarang, ini branded asli kan?" Mega meneliti kemeja dan tas Gendis dengan tatapan kagum sekaligus heran.
"Iya, sekarang aku punya bapak gula. Aku bosen hidup susah, sesekali jadi orang kaya," jawab Gendis dengan asal.
Mega malah terkekeh. Gendis tidak seperti beberapa teman mereka yang munafik. Pada kenyataannya, di kampus memang ada beberapa temannya yang seperti itu. Menjadi simpanan atau sekedar pelampiasan dari sugar daddy.
"Adegan berbahaya, jangan ditiru, tanpa ikatan yang jelas." Gendis menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Kamu menikah? Sama siapa? Terus Ken bagaimana? Kamu serius?" Mega merapatkan duduknya dengan Gendis, kini ras ingin tahunya semakin besar.
"Nanti suatu saat kamu pasti tahu. Sekarang biarkan ini jadi rahasia kita berdua. Aku tidak peduli yang lain menganggap aku apa, asal kamu tahu aku sudah menikah. Mau aku traktir apa?" tanya Gendis dengan entengnya.
"Nggak seru, masak suaminya disembunyikan dari sahabat sendiri. Traktiran bisa diatur, kenalin aku sama suamimu dulu."
"Namanya juga bapak gula. Malu dong kalau dikenal-kenalin. Yang jelas aku istri sah dan satu-satunya. Entah kalau pacarnya ada berapa. Aku tidak yakin dia setia. Lagian dia udah tua, nggak cakep, jalan jauh sedikit sesak napas, tangan keriput. Malu lah aku. Tapi ini demi hidup yang lebih baik." Gendis lagi-lagi menjawab dengan asal.
Suara deheman yang sangat familiar di telinga Gendis dan Mega pun terdengar. Kedua perempuan itu pun kompak menoleh ke asal sumber suara.
__ADS_1
Mega terlihat langsung sumringah, sedangkan Gendis seketika merasakan tenggorokannya mengering.
"Meg, aku duluan ya. Nanti aku hubungi. Aku ketemu pak Alex dulu," pamit Gendis buru-buru dan langsung melewati Eser begitu saja.
"Bapak kenapa ke sini? Saya kan bisa ke kantor Bapak." Mega salah tingkah merasa diperlakukan istimewa oleh Eser.
"Gadis tadi itu temanmu bukan?" Eser mulai bertanya-tanya. Dia baru saja tahu kalau Mega adalah teman Gendis yang paling dekat. Dia hanya ingin tahu lebih banyak tentang istrinya.
"Betul, Pak. Gendis namanya. Entah tiba-tiba ingin ganti Dosen pembimbing."
"O, ya sudah. Urusanmu bisa kita sambung melalui pesan. Saya mendadak ada keperluan." Eser langsung berbalik badan, berjalan dengan cepat mencoba mencari di mana Gendis sekarang. Meninggalkan Mega yang memasang raut wajah bingung dan juga tersanjung secara bersamaan.
Eser seperti bukan dirinya sekarang, tadi setelah mengantar Gendis niatnya adalah ke bar miliknya yang buka 24 jam. Tapi belum sampai di tempat itu, bayangan Gendis malah membuatnya tidak fokus.
Tapi nanti sore, dia tetap harus bertemu dengan psikiaternya. Eser bertekad ingin mengendalikan emosinya menjadi lebih baik. Sesesat apa pun dirinya, setelah menikah, dia ingin benar-benar menjalankan hidup dengan benar. Meski jalannya tidak akan mudah dan butuh kesabaran.
Awal pernikahan yang salah, mungkin akan membuatnya sulit mendapatkan pernikahan yang ideal.
Pria keturunan Jepang, dengan ketampanan yang tidak perlu diragukan lagi. Keduanya duduk berdekatan, tertawa lepas tanpa beban. Hingga kedekatan itu sampai pada ponsel Eser, berupa sebuah foto.
Eser memukul setir mobilnya dengan kencang. Sesaat kemudian, dia memutar balik kendaraannya untuk kembali ke kampus Gendis.
.
.
Gendis dan Ken masih berbincang santai sembari membahas salah satu mata kuliah. Keduanya memang sangat cocok dari awal masa ospek dulu. Gendis yang tidak berusaha menarik perhatian senior di kampus, malah membuat Ken dan beberapa senior menyukainya.
"Ndis, kita nonton yuk! Ada film baru," ajak Ken.
__ADS_1
Gendis langsung menggelengkan kepalanya. "Maaf, Ken. Aku tidak bisa."
"Kenapa? Sekarang tidak mungkin tidak punya uang kan? Look! Kamu keren banget sekarang. Kemarin-kemarin kamu cantik. Sekarang lebih ke wow ...," puji Ken tanpa ragu-ragu.
"Justru itu, Ken. Uang membuat gerakku lebih terbatas. Karena aku--." Gendis tidak meneruskan ucapannya, karena seorang pria menabrak mejanya dengan tiba-tiba, membuat tubuh pria itu oleng dan menumpahkan segelas air es yang ada ditangannya tepat mengenai kemeja bagian depan Gendis. Satu tangannya memegang pundak Gendis agar tidak jatuh menimpa tubuh gadis itu.
"Sorry ... aku tidak sengaja. Maaf ya, kakiku tersandung," ucap laki-laki itu.
"Tidak mengapa." Gendis segera mengambil tisu dan menata rapi hingga menjadi tumpukan lipatan, lalu menaruhnya pada bagian yang basah di kemejanya agar cepat meresap.
Pria itu membalikkan badan, mengerlingkan mata entah pada siapa, lalu meninggalkan kantin dengan senyum penuh kemenangan. Dia terus berjalan menuju parkiran sepeda motor. Saat melewati koridor kampus yang agak sepi, seseorang menarik krah baju belakangnya.
"Siapa yang menyuruhmu menumpahkan air di baju perempuan tadi? siapa?" Bentak pria yang tidak lain tidak bukan adalah Eser.
Tubuh pria itu seketika gemetaran, ketika dia melihat siapa yang sedang dihadapinya.
"Sa--saya, ti--dak tahu, Pak. Sa--ya, tidak kenal." Pria itu menjawab dengan gagap.
"Jawab dengan jujur, atau aku akan membuatmu dikeluarkan dari kampus ini!" ancam Eser sembari melepaskan krah baju pria itu dari cengkramannya.
"Sungguh sa--ya tidak tahu, Pak."
Eser mengambil ponselnya, membuka galeri foto. Lalu menunjukkan foto Gia, seketika pria itu pun menganggukkan kepala.
Eser, memberi isyarat dengan tangannya agar pria itu pergi dari hadapannya.
'Kamu berani main-main denganku, Gi. Kamu salah lawan kali ini!' Eser mengepalkan tangannya dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih pucat.
Gendis berjalan bersama Ken menuju parkiran mobil. Ken menawarkan diri untuk mengantarkan Gendis ke tempat kursus mengemudikan mobil. Ternyata mobil Ken terparkir persis di samping mobil Eser.
__ADS_1
Saat hendak membuka pintu mobil milik Ken, ponsel Gendis berbunyi. Dengan malas, Gendis menerima sambungan telepon yang pastinya dari Phiu. Karena tidak ada lagi yang tahu nomernya selain Eser.
"Berani, masuk ke dalam mobil Ken. Akan aku buat dia tidak pernah lulus dalam mata kuliahku," ancam suara Eser, sesaat setelah Gendis menempelkan ponsel ke daun telinganya.