
Beberapa saat setelah mendengar suara penelepon, Eser segera mematikan sepihak dan meletakkan telepon selular itu kembali ke atas meja. Dia menoleh pada Gilbas, dan menatap laki-laki itu penuh selidik.
"Sekretarismu bernama Gendis bukan? Bagaimana kamu mengenalnya? Dan kenapa dia bisa bekerja di tempatmu?" Eser bertanya dengan tegas.
Gilbas benar-benar bingung. Dia menatap Bastian dan Eser bergantian. Mendadak suasana menjadi tegang seperi di persidangan.
"Bas, aku sedang bertanya sama kamu?" Eser meninggikan suaranya karena mulai tidak sabar.
Bastian yang sedari tadi memperhatikan sikap Eser. Kini, meyakini kalau Gendis memang istri dari temannya itu. Hanya saja, mungkin sekarang keduanya sedang menghadapi masalah.
Sementara Gilbas mencoba mengulur waktu dengan cara membereskan berkasnya di atas meja. Dia juga melihat jam di pergelangan tangannya, lalu melirik pintu meeting room. Sudah hampir 10 menit berlalu, tapi Gendis belum juga kembali.
"Bas, kita butuh bicara berdua. Aku harus keluar sekarang. Aku tidak mau, istriku berlari semakin jauh kalau tahu aku ada di sini. Bagaimana pun caranya, kita harus bicara berdua. Aku menunggumu."
Setelah melihat Gilbas mengangguk dan menyanggupi permintaannya, Eser pun segera meninggalkan ruangan itu.
"Aku harus bagaimana, Bas? Gila, jadi Gendis istri Eser? Ngapain dia kerja?" Gilbas bertanya dengan wajah heran.
"Lakukan saja apa perintah Eser. Tetap pura-pura tidak tahu, dan jangan ngomong kalau kamu sudah naksir Gendis." ucapan Bastian tepat membuat Gilbas berdehem karena salah tingkah.
Di sisi lain, Gendis dengan langkah ragu kembali menuju ruangan meeting. Kini dia berharap, Eser tidak benar-benar berada di dalam sana. Kalau sampai ada, dia akan berlari sejauh mungkin.
Mendekati daun pintu tempat di mana Gilbas dan Bastian berada, Gendis mengatur napasnya agar sedikit tenang. Perlahan dia membuka pintu itu, tidak terlalu lebar, hanya selebar kepala. Begitu matanya tidak menangkap keberadaan Eser, Gendis pun menarik napas lega dan segera masuk ke dalam.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Karena saya meninggalkan meeting terlalu lama," ucap Gendis, dibuat setenang mungkin.
"Nggak masalah, Ndis. Kan kita sudah selesai. Kamu tunggu di lounge dulu ya, kami mau membicarakan sesuatu dulu. Tapi ini di luar pekerjaan. Sebentar saja. Kamu tidak keberatan kan?" Tanya Gilbas sembari menatap mata Gendis sekilas. Dia kembali tidak ingin menatap perempuan itu terlalu lama. Menunda agar tidak jatuh cinta terlalu dalam adalah sebuah keharusan di saat semua belum pasti seperti sekarang.
"Tidak masalah, Pak. Saya tunggu di lounge. Permisi Pak Bastian." Gendis mengambil ponsel dan juga tasnya.
Kedua pria itu memperhatikan punggung Gendis hingga menghilang dari jangkauan penglihatan mereka. Setelah itu, keduanya saling bertukar pandang dan kompak menggeleng-gelengkan kepala.
"Gila Eser. Untung saja, aku tahu sekarang. Aku mikirnya dia selingkuhan atau istri kedua lho. Karena dia hamil, tapi kos di tempat yang sama denganku. Itu bayaran perbulannya nggak murah. Gila aja, ternyata istrinya Eser. Ada masalah apa coba, sampai berani ninggalin Eser selama itu. Nyaris saja aku deketin."
Bastian terkekeh mendengar penuturan Gilbas. "Kamu setiap hari ketemu, wajar banget ngiler lihatnya. Aku ketemu pas reuni kemarin saja, sekarang masih deg-deg'an plus penasaran. Sudahlah, hubungi Eser saja. Kita cari tahu, siapa tahu memang ada masalah berat di antara mereka. Aku yakin, masalah mereka cukup rumit. Gendis saja pura-pura tidak mengenalku. Apa pun itu, aku siap menikung tajam kalau mereka berpisah."
Gilbas melempar bolpoin tepat mengenai bahu Bastian. "Kesempatan lebih besar di aku, kan setiap hari sama aku. Mana kita tetangga kamar kos. Siapa tahu Gendis nyidam aneh-aneh, kan dia bisa minta tolong aku carikan. Ala-ala suami siaga, pasti akan meluluhkan hatinya."
Tidak menunggu lama, Eser pun kembali datang. Jelas dia sangat tidak sabar mendengarkan semuanya. Setelah pulang, sasaran berikutnya pastilah Damar.
"Karena Eser hanya berurusan denganmu, aku pergi dulu. Sampai ketemu di meeting selanjutnya." Bastian menepuk bahu Gilbas, hendak meninggalkan ruangan dengan semangat. Tetapi Eser menahan langkahnya.
"Kamu di sini saja. Kalau kamu keluar, aku yakin kamu akan menghampiri Gendis."
Bastian mengumpat dalam hati. Ternyata pikirannya terbaca dengan mudah oleh Eser. Gilbas memberikan senyuman meledek pada Bastian.
"Es, maaf, soal Gendis, aku benar-benar tidak tahu kalau dia istrimu. Kami tetangga kamar kos, dan aku menawarkan pekerjaan padanya karena dia sedang butuh pekerjaan katanya. Naluriku sebagai laki-laki penolong yang baik hati, jelas tidak tega kalau sampai melihat perempuan hamil mencari pekerjaan ke sana ke mari."
__ADS_1
Eser mencoba tenang dan tidak menunjukkan kesedihannya. "Aku tidak ingin membahas itu, untuk mempersingkat waktu. Aku berharap kalian berdua bisa membantu memperbaiki hubungan kami. Aku akan membalas kebaikan kalian. Suatu saat, jika kalian membutuhkan aku, jangan sungkan-sungkan datang untuk menagih balas budiku."
Bastian dan Gilbas membalas tatapan Eser, ada kesungguhan dan luka di sana. Wajah temannya yang biasanya angkuh itu untuk pertama kalinya terlihat sangat memelas.
"Kami harus apa, Es?" Tanya Gilbas akhirnya.
Eser berbicara dengan suara yang lebih pelan. Dia menjelaskan dengan detail rencana apa yang ingin dilakukan agar Gendis kembali berada di dekatnya. Di depan kedua temannya itu, Eser tidak menjelaskan apa yang membuat mereka berpisah sementara. Dia tidak mau menciptakan peluang pada Gilbas dan juga Bastian untuk mendekati Gendis. Apapun status Gendis, dia tidak rela melepas Gendis bersama lelaki lain.
Setelah mendapatkan kesepakatan, Eser pun pulang. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Damar. Kecewa dan kesal memenuhi benaknya saat ini.
Sementara Gendis dengan kelegaannya, juga kembali ke kota tempatnya tinggal sekarang bersama Gilbas. Tidak seperti saat berangkat tadi, di mana Gilbas sangat semangat bercerita dan mengajak Gendis berbicara. Kali ini, pria itu memilih menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Harapannya bersama Gendis, hanya tergantung berhasil tidaknya rencana Eser besok malam. Jika berhasil, tentu pupus sudah semuanya.
Sampai di apartemennya, Eser langsung mengetuk pintu kamar Damar dengan tidak sabar. Begitu Damar membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya, Eser langsung menarik tangan adik kesayangan Gendis itu menuju ruang tengah.
"Kenapa kamu tega sama aku, Mar? Kenapa?" Eser menghempaskan tangan Damar dengan sedikit kasar.
"Apa maksudnya, Mas? Damar tidak melakukan apa-apa." Damar belum mengerti masalah yang ada di depannya.
"Kenapa kamu menyembunyikan Mbak Gendis? Pantas kamu tenang, karena selama ini kalian saling berhubungan. Kenapa, Mar? Kamu tahu betapa aku mengkhawatirkan mbakmu. Tetapi kamu malah tega membiarkanku hancur." Eser memalingkan wajahnya. Dia berusaha mengendalikan emosi agar tidak sampai berbicara kasar apalagi menampar Damar.
Damar tertunduk sedih dan merasa bersalah. Namun, memang keadaan yang membuatnya tidak bisa memilih. "Mas, kalau Damar mengatakan pada Mas Eser, Mbak Gendis mengancam akan pergi lebih jauh. Damar tidak mau itu terjadi. Mbak Gendis meminta Damar menjaga Mas Eser dan memastikan dirinya akan baik-baik saja. Damar tidak pernah membantah kata-kata Mbak Gendis. Meski Damar sebenarnya sedih melihat Mas begitu hancur. Tapi apakah Mas mau Mbak Gendis benar-benar menghilang? Mas tahu sendiri, Mbak Gendis tidak pernah hanya mengancam. Apa yang diucapkan, pasti dilakukan."
Eser menarik napas dalam, dia memang tidak bisa menyalahkan Damar sepenuhnya. "Sebagai permintaan maafmu padaku, besok malam, kamu harus ikut ke dalam rencanaku. Kita akan membuat Mbakmu kembali ke sini."
__ADS_1