
"Mhiu... kenapa diam?" Eser melambaikan tangannya tepat di depan mata Gendis.
"Bingung."
"Sederhana, Mhiu. Hal wajar dan lumrah. Kita ini suami istri." Eser duduk di tepian ranjang, tidak jauh dari Gendis sedang rebahan.
"Sekali saja kan?" Gendis bertanya untuk meyakinkan diri.
"Kekasihku tiga, Mhiu. Jadi ya tiga kali. Tidak sekaligus. Aku akan mengambilnya satu-satu. Waktunya terserah aku," tambah Eser.
"Tapi setelah urusanmu selesai. Bukan sekarang!" Tegas Gendis.
"Baiklah! Deal!" Eser tersenyum penuh kemenangan.
Eser melihat jam dinding di kamarnya, masih pukul sembilan malam, tapi Gendis sudah bersiap menggapai mimpinya.
Dia berpikir, mencari ide agar Gendis tidak jadi tidur. Belum sampai dia menemukan apa yang harus dilakukan, suara bel pintu terdengar memecah keheningan.
"Mhiu...." Eser mencoba membangunkan Gendis, dengan sisir ditepuk-tepukkan di lengan istrinya.
"Hmmmm...." Gendia menjawab dengan malas.
Bel pintu masih terus berbunyi.
"Ada tamu."
Gendis mengucek-ucek matanya sebentar untuk memulihkan kesadaran. Lalu beringsut berdiri sembari mengikat rambutnya tinggi. Dia berjalan mengabaikan Eser yang malah naik ke atas ranjang.
Gendis tanpa mengintip dulu siapa yang bertamu. Dia langsung membuka pintu apartemennya dengan lebar.
"Beg... eh, Tuan Oz. Silahkan masuk!" Gendis sampai salah menyebut nama sapaan.
"Eser ada?" Tanya Ozge. Tatapannya begitu lekat pada Gendis, seperti sedang menahan rindu.
"Silahkan duduk. Saya panggilkan dulu."
__ADS_1
Gendis langsung masuk ke kamarnya, melihat Eser malah dengan santainya membaca buku di atas ranjang.
"Ada Oz di depan." Gendis kembali membuka pintu setelah mengatakannya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Eser setengah menyelidik dan langsung turun dari tempat tidur.
"Membuatkan minuman," jawab Gendis.
"Tidak perlu! Sudah kamu tidur saja. Jangan pules-pules, kalau sudah selesai, aku mau pijit." Eser mengambil kunci yang menggantung di daun pintu kamarnya.
"Aku mau libur, Phiu. Besok dobel deh. Janji!"
Eser berpikir sejenak, seperti sedang menimbang-nimbang jawaban. "Ya sudah, tapi aku tidur di ranjang juga. Pegal badanku tidur di sofa terus."
Tidak ada pilihan bagi Gendis selain mengangguk setuju. Eser pun segera menemui Ozge dan tidak lupa mengunci pintunya dari luar.
"Ada apa, Oz?" Eser langsung bertanya tanpa basa basi.
Bola mata Ozge bergerak dengan lincah mencari keberadaan Gendis. Dia berharap mantan kekasihnya itu, hadir di antara mereka untuk menjadi penyejuk.
"Istriku harus istirahat. Kami sedang program mencetak keturunan Sevket berikutnya," ucap Eser, seolah tahu apa yang ada dipikiran adik tirinya itu.
"Kamu ada keperluan apa? kenapa malam-malam ke sini?" Eser bertanya dengan rasa curiga yang dominan.
Ozge mengambil bantalan kursi lalu meletakkan di pangkuannya. "Es, Kamu kan Dosen di kampus Gendis. Apakah kamu kenal pria yang bernama Alex?"
"Kenapa?" Eser menggeser duduknya lebih dekat dengan Ozge, kini dia yang merasa penasaran.
"Sepertinya dia mempunyai hubungan dengan Jia. Tadi aku melihat mereka ke sebuah apartemen. Dari informasi yang aku dapat. Jia hampir setiap hari di sana dan Alex adalah Dosen di kampus Gendis," jelas Ozge.
Eser terdiam, karena hanya dia dan Gendis yang tau kalau itu pastilah Gia.
"Kamu jangan melakukan apapun, Oz. Alihkan saja perhatian Jia agar fokus padamu. Kalau perlu 24 jam berusahalah selalu bersama dia. Aku dan Gendis akan mencari informasi lebih banyak," tegas Eser.
"Gendis? Kenapa harus melibatkan Gendis, Es? Aku tidak meneruskan hubunganku dengan Gendis karena aku tidak mau dia kenapa-kenapa? Kamu tidak waras, Es. Jia itu berbahaya." Ozge seketika berdiri dengan berkacak pinggang, volume suaranya yang naik, membuat Gendis bisa mendengar teriakannya dengan jelas.
__ADS_1
"Percaya padaku, Oz. Gendis itu istriku. Aku tidak mungkin membahayakan dirinya." Eser menatap Ozge dengan tajam.
"Aku tahu betapa nekatnya Jia jika menginginkan sesuatu, Oz. Pikirkan baik-baik rencanamu, jika kamu tidak ingin menyesal." Eser kembali menghempaskan bokongnya di sofa.
"Terimakasih sudah mengingatkanku. Pasti aku akan menjaganya dengan baik. Kenapa aku melibatkan Gendis, karena memang Jia sudah mengincar Gendis, Oz. Kamu bersabarlah. Meski aku sebenarnya malas denganmu, meski aku enggan disebut kakakmu. Percayalah! Kali ini aku sungguh-sungguh ingin membantumu," ucap Eser, tegas dan penuh penekanan.
Ozge tersenyum sinis, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Eser. Karena tidak ada sejarahnya, Ozge dan Eser sepakat dalam hal apapun. Kecuali satu hal tentunya, yaitu Gendis.
"Baiklah! Kalau begitu, jangan setengah-setengah kalau membantu. Aku lapar dan aku juga haus. Boleh aku minta sesuatu untuk mengenyangkan perutku?" Ozge sedikit melunjak.
Eser dengan terpaksa mengajak Ozge ke dapur. Tapi tidak ada makanan apapun di sana, Gendis memang selalu memasak pas untuk dua porsi saja. Istri Eser itu tidak suka membuang atau menghangatkan makanan.
"Sebentar!" Eser mau tidak mau memanggil Gendis. Karena dia sama sekali tidak tahu harus memberikan apa pada Ozge.
Untung saja Gendis memang tidak jadi tidur karena teriakan Ozge tadi.
"Ozge lapar, dia meminta makanan. Aku harus memberinya apa?" tanya Eser dengan wajah yang memperlihatkan keterpaksaannya.
"Mie instant, Phiu. Atau ceplok telor. Tapi nasi kita sudah habis. Lebih baik mie aja." Gendis menjawab sembari berjalan ke dapur.
Alangkah terkejutnya Gendis, ketika melihat Ozge dengan santainya meminum air perasan kelapa yang sengaja dia taruh botol untuk memasak sayur lodeh besok pagi.
"Astaga! Tuan Oz, itu bukan minuman. Itu untuk kuah masakanku besok." Gendis buru-buru menyahut botol dari tangan Ozge.
"Pantas saja, rasanya aneh, sedikit asin," ucap Ozge dengan mata yang terus menatap Gendis dengan cinta dan kekaguman.
Eser masih belum menyadari tatapan Ozge pada istrinya, karena dia sibuk membaca laporan dari pengintai yang dia sewa untuk mengawasi tempat rehabilitasi di mana dia melakukan terapi kemarin.
Pengintai rahasianya itu mengatakan bahwa papanya Gia-Jia yang Bernama Markus, berada di sana selama beberapa jam. Hal ini membuat Eser semakin penasaran. Dia pun kembali masuk ke kamar, untuk bertanya lebih jelas pada pengintai suruhannya melalui sambungan telepon.
Gendis masih membuatkan mie kuah ditambah dengan sayur, potongan cabai dan telur rebus setengah matang untuk Ozge. Gendis yakin, orang-orang semacam Ozge dan Eser, tidak pernah menikmati makanan seperti itu.
Ozge terus memperhatikan Gendis, tangannya memangku dagu di atas meja mini bar yang ada di dekat dapur. Dari tempatnya duduk sekarang, setiap gerak mantan kekasihnya itu terlihat dengan jelas.
'Apakah ada cara untuk kita bisa kembali lagi, Beg? Aku rindu sentuhanmu, aku rindu bibir manismu,' batin Ozge.
__ADS_1
Tatapannya kini menjadi sendu. Secara hukum agama yang dianutnya, hal itu sungguh tidak mungkin. Tapi nalurinya sebagai pendosa, meronta ingin merebut Gendis yang juga didapatkan Eser dengan cara yang tidak benar.
'Suatu saat, aku akan memilikimu kembali, Beg. Aku akan melakukan apapun untuk itu. Tunggu semua urusanku dengan Jia selesai.' Lagi-lagi Ozge berbicara dalam hati.