Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Hantu Ozge


__ADS_3

"Beg ... Tunggu!" Ozge menangkap tangan Gendis, menahan gadis itu agar tidak terus berjalan.


"Aku mengajakmu ke sini, hanya untuk menunjukkan keseriusanku. Sekali lagi, Aku sedang tidak meminta ijin pada mereka," tutur Ozge.


"Gendis tidak paham dengan maksud Tuan Sevket, yang mengatakan Bebegim memiliki urusan yang belum selesai. Yang Gendis sangat paham adalah, Mama Bebegim sangat menentang hubungan kita," Gendis menghempas tangan Ozge.


"Aku tidak peduli, Beg. Pernikahan kita akan tetap aku laksanakan minggu depan, Aku yakin bisa membuat Mamiku setuju." Ozge kembali meraih tangan Gendis.


"Gendis, mau pulang!"


"Iya, Beg ... aku antar." Ozge mengajak Gendis masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di pelataran depan pintu utama.


Ozge mengendarai mobilnya dengan tenang, seperti tadi. Satu tangannya tetap menggenggam tangan Gendis yang masih betah melemparkan pandangan ke jendela pintu mobil.


"Kita ke rumah bapakmu, ya?" tanya Ozge hati-hati.


"Mau apa?" Gendis balik bertanya tanpa menoleh lagi.


"Mau memberitahu kalau kita akan menikah."


"Tidak perlu, Beg. Gendis tidak mau, Bapak akan memanfaatkan pernikahan kita. Tahu kamu orang berada, tentu Bapak akan langsung setuju. Tapi Gendis tidak perlu itu. Biarlah Gendis disebut durhaka. Ketimbang masalah lain yang lebih panjang kita hadapi. Sekali benalu selamanya benalu. Biarlah, bapak menyadari dulu. Lagian bapak sudah menjual Gendis pada pak Eser. Haknya sudah putus disebut bapak," tegas Gendis.


Ozge langsung diam. Dia tidak ingin mendebat pernyataan Gendis. Meskipun dia sangat tidak senang, saat mendengar nama Eser disebut sebagai pembeli gadis yang membuatnya tergila-gila itu.


"Besok aku akan mengajakmu ke tempat perancang busana, dan kita akan membeli cincin."


"Tapi, besok Gendis sudah mulai menjadi sekretaris pak Eser, Beg."


Ozge semakin tidak senang, dia melepaskan genggaman tangannya. Menaikkan kecepatan mobilnya menjadi lebih tinggi, berkali-kali dia menekan klakson dengan tidak sabar, agar mobil di depannya menyingkir.


"Beg! Berhenti, Gendis turun di sini saja!" teriak Gendis sembari memejamkan matanya karena takut.


Tapi Ozge seolah tidak peduli pada ketakutan Gendis. Dia tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan gila. Karena mereka memang sedang berada di jalanan yang tidak terlalu ramai.


Gendis akhirnya dengan terpaksa, menggigit lengan Ozge dengan keras. Membuat sang empunya meringis sekaligus kaget hingga mengerem mobil secara mendadak. Kepala Gendis pun membentur lengan Ozge dengan keras.


"Beg ...." Ozge mendengus kesal, dengan suara yang tertahan karena ngilu akibat gigitan di lengannya.

__ADS_1


"Meskipun hidup Gendis sangat berat. Tapi Gendis tidak mau mati konyol di jalanan. Kalau mau mati, mati saja sendiri," ketus Gendis.


"Terus kalau aku mati, kamu bagaimana?" tanya Ozge, kesal tapi juga konyol.


"Tentu saja Gendis akan bernafas seperti biasa."


"Terus kamu akan menikah dengan siapa? Eser? Aku akan menghantuimu kalau sampai itu terjadi."


Gendis yang tadinya kesal dan ingin marah, kini malah tertawa lepas mendengar ucapan Ozge.


"Ada yang lucu?"


"Ada." jawab Gendis dengan cepat, sembari melepaskan seatbelt yang dipakainya.


"Mau ke mana? Awas kalau turun!" Ozge bertanya sekaligus mengancam dengan bibir manyun dua senti.


"Tidak ke mana-mana, Gendis tidak biasa naik mobil. Pakai seatbelt begini membuat sesak."


"Terus? kenapa tertawa?"


"Yakin mau nakutin kalau mati duluan? Percayalah. Kalau Bebegim jadi hantu, pocong jantan akan insecure. Hantu-hantu gentayangan mendadak akan kehilangan harga diri," cerocos Gendis sembari terkekeh.


"Hantu Ozge terlalu keren, bahkan manusia pun antri untuk ditakuti. Mereka memanggil dukun untuk memanggil arwahmu. Membuat hantu lain tidak ada pekerjaan saja," dengus Gendis.


Ozge menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa emosinya mendadak reda, hanya karena candaan Gendis yan sangat receh dan absurd.


"Mau ke apartemenku? apa ke apartemenmu?" tanya Ozge, kembali pada mode wajahnya yang lembut.


"Tentu saja pulang ke apartemen masing-masing. " Gendis memasang kembali seat belt nya.


Ozge kembali menjalankan mobilnya. Kali ini dengan kecepatan yang kembali normal.


*******


Sementara itu, Eser juga sedang menuju apartemen Gendis. Dia ingin mengantarkan buku untuk Damar yang akan bersiap untuk mengikuti seleksi ujian masuk ke fakultas kedokteran gigi.


Meskipun berangkat belakangan, Eser ternyata tiba terlebih dahulu. Damar begitu mengagumi dan menyukai Eser. Entah mengapa, dia merasa biasa saja dengan Ozge.

__ADS_1


"Mar? Aku cocok tidak kalau jadi kakak ipar kamu?" tanya Eser setengah berbisik.


"Pak Eser suka sama Mbak Gendis?" Damar malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.


"Tentu saja, memang kamu punya Mbak lagi, selain Gendis?" ketus Eser.


"Ada, Pak. Mbak jadi-jadian. Mbak Surti alias Mbak Titi." jawab Damar dengan santainya.


"Kalau mbakmu itu, Aku mundur Mar. Takut kejedot." Eser mengangkat kedua tangan, layaknya orang yang sedang menyerah.


Pembicaraan Damar semakin seru dan mengalir bersama Eser. Hal yang baru pertama dirasakan oleh Eser. Bersama Ozge, dia tidak pernah sehangat ini.


Pintu terbuka membuat tawa Damar dan Eser terhenti. Ozge dan Gendis menatap heran keduanya. Bagaimana seorang Eser yang biasanya irit dan ketus dalam hal bicara, malah tertawa lepas saat bersama dengan Damar.


"Oh, ada tamu rupanya. Aku pulang dulu ya, Mar." Eser pura-pura tahu diri.


"Eh, jangan. Pak. Kan kami yang menumpang di sini." Damar seolah tahu maksud Eser, buru-buru mencegah laki-laki itu untuk pulang.


Ozge terlihat sangat cuek, begitu pun Gendis. Karena keduanya paham betul bagaimana Eser.


"Duduk dulu, Beg," ucap Gendis sembari masuk ke dalam kamar. Dia ingin mengganti bajunya terlebih dahulu.


Eser memberikan kode pada Damar untuk masuk ke kamarnya, kini tinggallah dia dan Ozge berdua.


Gendis ke luar kamar dengan menggunakan setelan rumahan yang juga dibelikan oleh Eser. Lagi-lagi Eser mengagumi pilihannya itu dalam hati.


Gadis itu melewati keduanya begitu saja, berniat membuatkan minuman untuk Eser dan Ozge. Tapi dia tidak tau apa yang disukai dan bagaimana takaran cara membuatnya. Sedangkan Siti, sore ini ijin sampai seminggu ke depan untuk pulang kampung.


Gendis pun membawakan dua gelas air putih saja. Paling aman, jika keduanya tidak mau meminum, sungguh akan keterlaluan. Tanpa nampan, dia membawa gelas di masing-masing tangannya.


"Silahkan, Pak. Silahkan, Beg ...." Gendis meletakkan gelas itu di atas meja tepat di depan Ozge dan Eser. Lalu dia duduk berjarak di samping Ozge.


Ozge meneguk habis minuman yang diberikan Gendis. Dadanya dari tadi serasa panas karena kehadiran Eser.


"Beg, kita besok perginya jam makan siang saja bisa kan? besok hari pertama Gendis bekerja. Tidak tahu bosnya baik atau tidak. Jadi tidak bisa macem-macem dulu." Gendis sengaja memanas-manasi Eser dengan berbicara lembut dan manja pada Ozge.


Wajah Eser masih terlihat santai, dia bergeming tetap di tempatnya. Kepalang tanggung dan gengsi untuk beranjak pergi.

__ADS_1


"Beg ...." Gendis kembali memanggil Ozge sembari melirik Eser.


__ADS_2