
"Beg, bukan apa-apa. Ini pasti pesan dari pak Eser." kilah Gendis sembari menyambar ponselnya dari tangan Ozge.
"Siapa yang ada di wallpaper ponsel itu?" tanya Ozge. Sekilas dia melihat foto Eser dan perempuan di sana. Tapi karena hanya sekilas, dia tidak bisa memastikan kebenarannya.
Untung saja, mobil sudah berhenti tepat di depan lobby. Gendis pun lega, dia buru-buru memasukkan kembali ponselnya tanpa sempat pesan masuk yang dikirim oleh Eser.
"Lihat ponselmu," paksa Ozge, masih mempersebatkan masalah ponsel.
"Sudahlah, Beg. Nanti saja, Gendis tidak mau sampai datang lebih belakangan dari Pak Eser. Sepertinya, dia sangat cerewet. Gendis tidak mau menambah masalah dengannya. Kamu adik pak Eser. Tapi Gendis ini bawahannya," kilah Gendis, sembari merogoh tasnya. Mencari kartu akses yang diberikan Ozge agar bisa menggunakan lift sampai ke lantai 25.
Ozge hanya diam. Tidak ingin memaksa lagi. Tapi dia masih penasaran siapa perempuan yang bersama Eser di wallpaper Gendis.
Keduanya berpisah di lantai 24. Sepagi ini, Ozge tidak ingin berdebat dengan Eser. Dia memilih untuk percaya sepenuhnya pada Gendis.
"Jangan lupa, istirahat makan siang nanti, kita ke perancang busana." Ozge mengingatkan Gendis, sebelum dia ke luar lebih dulu dari lift.
Gendis mengangguk sembari tersenyum manis. Sebenarnya, Ozge sungguh tidak rela kalau Gendis menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Eser.
Keluar dari pintu lift, Gendis langsung disambut oleh seorang perempuan berkulit putih bersih, tinggi, langsing, dan berwajah Indo-Jerman. Hidungnya sangat mancung, rambutnya pirang alami dengan model curly. Pakaiannya formal elegant layaknya pegawai kantor pada normalnya. Hanya saja, dua kancing kemeja yang sengaja dibiarkan tidak dikancing, membuat sebagian dada kenyalnya yang penuh sedikit menyembul keluar.
"Hai, kamu pasti, Gendis. Kenalkan, Aku Rebecca. Aku adalah staf khusus pak Eser. Di sebelah sana ada satu staf lagi namanya Brian. Mari, Aku tunjukkan ruanganmu." Rebecca menyapa Gendis dengan sangat ramah.
"Hai, Kak Rebecca. Salam kenal. Semoga Gendis bisa bekerja sama dengan Kak Rebecca dengan baik," ucap Gendis, tidak kalah ramah.
"Jangan panggil kakak. Aku berasa menjadi sangat tua. Panggil saja Becca. Kalau butuh apa-apa ruanganku tepat disebelah ruanganmu. Tekan kode 2503 kalau kamu menghubungi menggunakan telepon internal," jelas Rebecca sembari membuka pintu ruangan Eser.
Gendis hanya diam. Dia tidak mengikuti Rebecca, karena mengira perempuan itu hanya sedang mengambil atau melakukan sesuatu di sana.
"Ndis, ayo!" ajak Rebecca.
__ADS_1
"Katanya mau nunjukin ruangan aku, kok malah ke sini sih. Bukan kah ini ruangan pak Eser?" tanya Gendis.
"Ruanganmu di sini juga. Sini!" Rebecca menarik pelan tangan Gendis.
"Nah, ini dia mejamu. Laptop dan semua yang ada di meja ini sepenuhnya hak kamu. Di situ ada buku notes, berisi jadwal pak Eser yang sudah ada yang dibuat oleh sekretaris sebelumnya. Kamu bisa baca dulu dan pastikan tidak ada yang terlewat. Ada beberapa pekerjaan sekretaris sebelumnya yang belum selesai, semua ada ditumpukan map warna kuning. Pelajari dan kerjakan pelan-pelan. Jika kamu tidak mengerti. Kamu boleh bertanya padaku," jelas Rebecca panjang dan lebar.
Gendis langsung berjalan menuju belakang mejanya. membuka laptop dan segera menyalakannya. Lalu membuka buku notes bersampul hitam yang dimaksud Rebecca. Sejauh yang dia baca, semua masih sangat jelas dan mudah dipahami.
"Aku tinggal dulu ya, Ndis. Sepuluh menit lagi, pak Eser datang. Buatkan dia kopi yang tidak manis juga tidak pahit," pesan Rebecca sebelum meninggalkan ruangan.
"Ukuran gula kopinya? terus pakai creamer tidak?" tanya Gendis.
"Tanyakan langsung pada pak Eser. Karena ukuran pasti minuman bos kita itu masih misteri. Tergantung siapa yang membuatkan. Tapi dia tidak menyukai creamer" Rebecca mengerlingkan satu matanya lalu keluar ruangan dengan menutup kembali pintunya.
Gendis mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Ada tiga pintu lagi yang tertutup di sana. Satu pintu, Gendis yakini sebagai toilet, karena ada keset di depan pintunya. Dua pintu lainnya, Gendis tidak tahu apa.
"Selamat pagi, Pak." sapa Gendis, sembari berdiri dan membungkukkan badannya.
"Hmmmm, mana kopiku?" tanyanya.
"Belum saya buatkan, Pak. Karena saya takut ukurannya salah. Nanti malah terbuang. Biasanya kopi dan gulanya berapa sendok?" tanya Gendis, benar-benar bertanya dengan gamblang.
"Buat saja, Pastikan saja semua seimbang," tutur Eser.
Gendis berjalan, hendak keluar pintu.
"Mau ke mana kamu?" suara Eser menghentikan langkah Gendis.
"Bukankah, Bapak meminta saya membuat kopi?" Gendis menjawab dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Eser menunjuk ke arah pintu yang tadi sempat diterka-terka isi di dalamnya oleh Gendis. Dengan langkah pasti tanoa bertanya pintu yang sisi mana, Gendis membuka salah satu pintu.
Jiwa miskin dan merana Gendis seketika meronta melihat isi ruangan itu. Sebuah ranjang lengkap dengan springbed berukuran besar berada tepat di ujung, walk in closet terbuat dari kaca berisi kemeja, tuxedo, dasi, dan keperluan Eser lain.
"Di kantor saja begini, apalagi di rumahnya. Bahkan apa yang ada di ruangan ini, bisa membeli rumah bapak 15 biji. Astaga, orang kaya memang damage-nya beda. Tidur tinggalbmerem saja meski seperti ini. Padahal pakai karpet bulu pun, kalau sudah ngantuk pasti merem," gumam Gendis, sangat lirih.
"Apanya dan siapa yang berbulu?" tanya Eser yang ternyata sedari tadi berdiri tepat di belakang Gendis. Tapi karena gadis itu fokus pada kemewahan di depannya, sehingga dia tidak menyadari keberadaan Eser.
Gendis yang terkejut pun spontan malah menepuk lengan Eser dengan keras. "Bapak ngagetin, Saya."
Eser menatap Gendis heran. "Mana kopinya?"
"Di mana tempat bikinnya, lah ini tempat tidur begini." Gendis menjawab apa adanya.
Eser langsung membuka pintu di sebelahnya dengan gemas. "Ini, Ndis. Lain kali kalau sudah tahu salah buka, ya langsung di tutup. Apa kamu memang sengaja mau mengodaku. Biar aku mengajak kamu ke kamar ini?" Eser memajukan langkah mendekati Gendis.
"Tidak perlu digoda. Saya yakin, Bapak memang mudah tergoda. Silahkan kembali ke tempat Bapak. Terimakasih sudah ditunjukkan. Saya akan membuat kopi terenak ala Gendis." Gadis itu melewati Eser begitu saja.
Sampai di dalam ruangan yang dia pikir pantry seperti di kantor-kantor pada umumnya. Ternyata di dalamnya lebih tepat di sebut mini bar.
'Astaga, aku bahkan bisa tidur di sini dengan pulas. Pantry pun jauh lebih bagus dari rumah Pak Rw,' batin Gendis.
Sebelum mendapat teguran lagi, Gendis segera membuatkan kopi. Nanti saja, kapan-kapan kalau ada waktu dia akan mengagumi dan melakukan room tour ke seluruh ruangan bahkan kalau memungkinkan, Gendis akan keliling ke seluruh gedung.
Gadis itu, membawa secangkir kopi dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas meja Eser. "Silahkan, pak. Semoga suka."
Eser mengambil cangkir berisi kopi hitam itu, membiarkan sejenak, lalu mencicipnya sedikit. Lalu Dia menatap Gendis yang masih berdiri di depan mejanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu, memang sedang menunggu reaksi Eser setelah meminum kopi racikannya.
"Enak,Ndis. Pasti karena ngaduknya pas," pujian tidak sengaja lolos dari bibir Eser.
__ADS_1