
"Mhi, kalau nanti di reuni ada perempuan yang tiba-tiba meluk, menyapa atau sok akrab sama aku, kamu jangan marah ya?" Pinta Eser dengan hati-hati.
Gendis yang sedang berdandan di depan cermin menghentikan kegiatan memoles bibirnya sejenak, lalu menoleh pada Eser. "Sejauh ini, aku tidak pernah cemburu padamu, Phi. Antara aku memang percaya padamu, atau memang aku sangat cuek."
Eser menarik napas berat. Tadinya dia ingin menjaga perasaan Gendis, tetapi melihat istrinya yang selalu menjaga gengsi, kini, dia berharap nanti bisa memunculkan kecemburuan di hati perempuan yang dicintainya itu.
Gendis kembali meneruskan gerakan tangannya yang sedang memegang lipstik. Sebenarnya malas sekali untuk berdandan. Tetapi mengingat dia akan menemani seorang Eser Sevket, tampil biasa saja tentu bukan pilihan yang tepat.
Eser melirik jam di pergelangan tangannya. Acara masih satu jam lagi, tapi dia tidak berharap datang di saat terakhir, lalu menjadi pusat perhatian. Lebih baik datang awal, duduk manis di tempat nyaman. Berbasa-basi sewajarnya.
Bukan rahasia, kalau di kampusnya dulu, Eser adalah incaran kaum hawa, baik yang sama-sama berasal dari Indonesia atau pun yang beda negara. Pesonanya luar biasa, bisa dikatakan hampir semua mahasiswi cantik di jurusannya pernah menjadi korban bualan Eser. Ada yang sekedar ciuman dan ada dua yang bahkan sampai berlanjut ke atas ranjang.
Gendis memutar badannya ke kiri dan ke kanan, memastikan semua sempurna dan tidak memalukan. Dia sedikit melirik ke arah sang suami yang hanya berdiri sembari melipatkan tangan di dada. Dalam hati berharap ada sedikit komentar cantik atau apalah untuk menambah rasa percaya dirinya. Bertemu-temu dengan teman kuliah sang suami, tentu sebenarnya bukan hal mudah. Tapi rasa gengsi membuat Gendis enggan mengakui.
"Sudah siap? Apa aku harus menunggu 10 menit lagi?" Sindir Eser.
Gendis tidak menjawab, dia langsung menyambar tas selempang, mengenakan flat shoes, lalu berjalan lebih dulu keluar kamar.
"Kita liha saja, sampai di mana gengsimu bertahan Nyonya Eser," gumam Eser dengan senyuman tipis.
Di sisi lain, tepatnya di kediaman Sevket, lagi-lagi ada pertengkaran antara Jia dan Ozge. Kedua orang itu benar-benar sudah bagaikan minyak tanah dan api.
"Kamu mau ke mana lagi, Oz?" Jia menahan langkah Ozge dengan berdiri tepat di depan lelaki yang seharusnya bisa berbagi kasih sayang dengannya.
__ADS_1
"Mulai kapan aku ada kewajiban untuk meminta ijin padamu sebelum pergi ke mana pun, Ji? Kamu sudah mendapatkan fasilitas dari mami bukan? Kamu juga bebas bersenang-senang." Ozge melewati Jia begitu saja.
"Oz, bisakah kita memulai dari nol? Aku minta maaf, Oz. Aku janji akan meluruskan semuanya. Aku pastikan, Arya sudah tidak mempunyai salinan videomu dan Gendis. Jangankan Arya, aku pun tidak punya." Jia memohon dengan wajah yang sangat memelas pada Ozge.
"Tidak penting lagi, Ji. Mau menyebar di mana pun, aku tidak peduli. Hubunganku dan Gendis normal, bukan hal yang memalukan. Pikirkan saja, bagaimana kalau videomu yang menyebar?" Ozge meninggalkan Jia begitu saja.
Sejak Ozge menunjukkan video gila Jia, perempuan itu tidak terlalu berani berulah. Dia lebih memilih diam di rumah bersama mami Ozge yang begitu telaten menemani si kembar belajar lebih aktif berkomunikasi walaupun dengan bahasa isyarat khusus. Tapi banyak kemajuan setelah si kembar tinggal bersama Ozge. Keduanya tidak malu-malu lagi berkomunikasi dan cepat tanggap.
Eser turun dari mobil terlebih dahulu tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu, dia sengaja membiarkan karena akan ada petugas valley parking yang akan mengurusnya.
Di saat bersamaan, Ozge dan Vivian juga turun dari mobil yang berhenti tepat di belakang mobil Eser.
Mata Vivian seketika tidak berkedip saat melihat Eser dengan begitu kerennya membukakan pintu mobil untuk Gendis. Ozge yang sama sekali tidak mengira kalau Vivian adalah teman kuliah Eser, menjadi seperti salah langkah. Penilaian Gendis terhadap dirinya, pasti akan sangat buruk.
Vivian mencoba melebarkan langkah agar segera mensejajarkan diri dengan Eser. "Hai, Es. Apa kabar?" Sapanya begitu sudah berhasil menyamai posisi Eser dan Gendis. Semuanya pun menghentikan langkahnya.
Eser melempakan senyuman hangatnya sembari mengulurkan tangannya. "Hi, Vi."
Perempuan itu langsung menyambut uluran tangan itu dengan hangat, ditambah sebuah pelukan hangat dan ciuman pipi kanan dan kiri. Sebagai seorang perempuan, Gendis merasakan apa yang dirasakan Vivian pada suaminya tidak sekedar teman lama, bahkan perempuan itu melupakan keberadaan Ozge yang datang bersamanya.
Vivian hanya menyalami Gendis sekilas. Seolah tidak mendengar saat Eser mengatakan istriku saat memperkenalkan Gendis. Perempuan itu sengaja mengajak Eser berjalan lebih dulu. meninggalkan Ozge dan Gendis selangkah di belakang keduanya.
"Apa kamu bahagia, Beg?" Tanya Ozge tiba-tiba dengan setengah berbisik.
__ADS_1
Gendis menengadahkan wajahnya pada Ozge sekilas, lalu menghentikan langkahnya. "Aku bahagia, Oz. Aku harap, suatu saat, kamu juga akan memerima keadaanmu."
"Kenapa begitu mudah dan cepat cintamu berpaling, Beg? Tahukah kamu? Aku masih di sini menanti dan berharap suatu saat kita bisa bersatu kembali." Ozge berusaha meraih satu tangan Gendis, tapi perempuan itu menepisnya dengan lembut.
"Secepat kamu mempermainkanku, secepat itu pula aku melupakanmu, Oz. Dan Eser berhasil mengisi sisi yang aku butuhkan. Dia menjalani semua dengan kasih Tuhan. Siapa perempuan yang tidak luluh jika diperlakukan dengan luar biasa," sahut Gendis.
Menyadari di belakangnya seperti tidak ada orang yang berjalan, Eser menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Benar saja, dia melihat Gendis dan Ozge jauh di belakangnya tampak saling menatap dengan serius.
"Es, biarkan mereka. Nanti pasti akan menyusul kita!" Teriak Vivian.
"Pria yang bersamamu itu adalah pengagum berat istriku. Dia bisa melakukan apa saja, ketika ada kesempatan." Eser buru-buru melangkahkan kaki ke arah Gendis.
Ucapan Eser membuat Vivian memiliki ide gile. Sepertinya dekat dengan Ozge akan membuka jalan menuju impiannya memiliki Eser.
"Kamu tidak mencintainya, Beg. Mungkin kamu bisa tidur dengannya, bisa menerima semua kebaikan Eser, tapi nyatanya, kamu tidak pernah mencintai dia." Ozge mencoba menebak pikiran Gendis.
"Kamu salah Oz, aku mencintai Eser," tegas Gendis dan terdengar di telinga sang suami yang sudah selangkah di dekatnya.
"Katakan sekali lagi, Mhi," pinta Eser, suaranya bergetar. dia tidak peduli dengan beberapa teman yang sudah berseliweran datang. Kesempatan tidak datang dua kali.
Gendis melirik vivian yang menatapnya sinis. Dengan sengaja, Gendis melingkarkan tangannya dengan mesra ke pinggul Eser. "Aku mencintaimu, Phi. Ada orang lain yang meragukannya di sini. Bukan kah cinta kita ini, hanya cukup kita yang merasakan?"
"Aku tidak meragukannya sedikit pun, Mhi." Eser hendak mencium bibir Gendis tapi tarikan keras d lengannya membuat tubuhnya kembali menjauh dari sang istri.
__ADS_1
Eser terus mengomel begitu tahu siapa yang berani menarik lengan bajunya. Tapi tidak dengan Gendis, yang malah menatap laki-laki itu penuh kekaguman.