Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Melihat Jia atau Gia


__ADS_3

Eser membisikkan sesuatu pada Gendis. Lumayan lama, bukan sekedar menjelaskan apa yang menjadi rencananya, tapi Eser sedikit mengambil kesempatan dengan memangkas jarak bibirnya yang hanya sejari dengan pipi sang istri. Berharap Gendis sedikit salah gerakan. Maka dia bisa mencium pipi istrinya itu, hal yang belum pernah Eser lakukan.


"Jadi aku tetap dibimbing pak Alex?" Gendis bertanya dengan ragu-ragu.


"Terus kalau aku terjebak bagaimana? Masak istri sendiri dijadikan umpan? Kenapa jadi sekejam ini?" Gendis memundurkan wajahnya sembari bertanya dengan polos.


Eser mencubit pipi Gendis dengan gemas. "Tentu saja tidak akan, Mhiu. Aku akan selalu mengawasimu. Aku juga tidak rela milikku ada yang menyentuh."


Gendis masih menimbang-nimbang, yang dia lakukan memang terlihat sederhana. Tapi berhubungan dengan perempuan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, tentu sangat mengerikan.


"Yakin kamu akan melindungiku?" Gendis menatap Eser dengan tatapan menyelidik.


Eser membalas tatapan Gendis dengan tatapan yang menyejukkan. Membuat Gendis langsung menunduk sekilas, karena tatapan itu sukses membuat jantungnya berdetak cepat.


"Percayalah, Mhiu. Aku akan selalu menjadi pelindungmu." Eser menggeser bokongnya semakin dekat dengan Gendis.


"Eh... eh... mau apa?" Gendis bertanya dengan ketus.


"Pembukaan sudah, isi dan inti pembicaraan juga selesai, sekarang penutupnya," Eser mengedipkan mata dengan nakal.


"Astaga, Phiu, tidak bisakah aku libur sehari saja?" gerutu Gendis, tapi sembari membuka kancing dres yang dipakainya.


"Mhiu, kapan tangan dan mulutku boleh bekerja disaat penting seperti ini?" tanya Eser, terlihat memelas.


"Nanti, kalau cinta sudah bersemi di hati kita," tegas Gendis.


Eser mencebikkan bibirnya, lagi-lagi dia harus pasrah sebagai penikmat. Padahal sesekali dia juga ingin memberikan kenikmatan.


Gendis mulai melakukan aksinya, tidak butuh banyak tenaga dan gaya untuk membuat Eser melenguh, meracau dan mend3sah. Sentuhan Gendis bagi suaminya itu memang sebuah magic. Langsung mengena, tidak terduga dan membuat terpana.

__ADS_1


Tidak sampai 30 menit, sesi penutup pembicaraan pun selesai. Erangan panjang keenakan yang keluar dari mulut Eser, menjadi sebuah pertanda permainan cukup sampai disitu.


"Mhiu, kamu harus belajar lagi. Tadi ini biasa saja." Eser sedang mengingkari kenyataan, nyatanya sungguh dia kewalahan. Karena gerakan Gendis sungguh luar biasa. Dengan hanya dirinya yang menjadi objek, waktu barusan termasuk waktu bertahan yang lama.


Gendis masuk ke dalam kamar mandi, dia harus kembali mengulang mandinya. Karena wangi badannya kini sudah bercampur dengan keringat.


Setelah kembali segar, keduanya langsung berangkat menuju tempat psikiater yang menangani Eser. Gendis tidak ikut masuk ke dalam ruang konseling, dia memilih menunggu di luar karena tidak ingin mengganggu sesi terapi Eser.


Karena lama, Gendis memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman yang ada di samping bangunan konseling.


Tempat yang dikunjungi Eser ini, dalam satu gerbang, memiliki bagian bangunan-bangunan yang terpisah dan memiliki fungsi masing-masing.


Rupanya selain gangguan emosional, Eser juga menuju kesembuhan dari ketergantungannya dengan minuman keras. Alkohol bagi Eser adalah air putih, sehari dia harus meminumnya meski sedikit.


Mata Gendis tiba-tiba melihat seseorang yang baru saja dibicarakannya dengan Eser. Gadis itu segera berlari kecil mengejar sosok itu.


Perempuan itu menoleh kaget, lalu buru-buru berjalan bahkan setengah berlari menjauhi Gendis. "Gia!" teriak Gendis sekali lagi.


Yang dipanggil semakin mempercepat langkahnya dan bersembunyi di balik pilar besar yang menyangga bangunan tempatnya berada.


"Siapa dia? Kenapa dia memanggilku Gia?" Jia bertanya pada dirinya sendiri.


Gendis kehilangan jejak, dia terus berlari kecil, memutar tubuh dan mata dengan gerakan cepat untuk menemukan sosok Gia.


Saat dia ingin bertanya dengan petugas, Eser menghubunginya melalui sambungan telepon dan mengatakan kalau dia sudah selesai.


"Phiu, aku melihat Gia di sini." Gendis langsung memberi tahu Eser dengan semangat ketika mereka bertemu disekitar taman.


"Kamu yakin?" Eser bertanya sembari melihat sekeliling

__ADS_1


"Yakin sekali. Mataku ini masih jeli. Kamu berjalan dari jarak 100 meter pun aku sudah bisa mengenalimu,"


Eser tidak menimpali pernyataan Gendis, dia sedang berpikir keras. Mungkinkah Gia sedang mengecoh semua orang. Bukan tempat ini yang dia curigai sebagai tempat persembunyian Jia. Karena Gia dan juga papanya sering berkunjung ke tempat rehabilitasi yang lainnya.


"Tapi dari tatapannya. Aku merasa aneh. Tatapan Gia biasanya tajam dan angkuh. Tapi kali ini dia menatap lembut dengan sedikit ketakutan," jelas Gendis.


Otak Eser semakin berpikir keras. Dia tidak bisa memastikan. Apakah itu Gia atau Jia. Sangat mungkin memang Jia di tempat ini, lalu siapa yang di tempat rehabilitasi satu lagi.


Uang dan kekuasaannya tidak bisa menembus tempat ini untuk gampang mengakses dan mencari tahu data seorang pasien dengan mudah. Pemiliknya adalah mafia kelas internasional, yang bisa saja masih rekan dari papanya Jia-Gia.


"Kita pikirkan nanti, kita pulang." Eser menarik pelan tangan Gendis yang sepertinya masih sangat penasaran.


Keduanya pun berjalan ke arah parkiran mobil dengan bergandengan tangan. Saat berada di luar, memang kesempatan bagi Eser untuk memanfaatkan tangannya sebaik mungkin.


Melihat Gendis dan Eser menjauh, Jia menampakkan diri. "Diakah perempuan yang dicintai Ozge sekarang? Dia cantik dan terlihat baik. Aku berharap saat bertemu kedua kalinya dengannya, aku bisa mengajaknya bicara," lirih Jia, mengajak dirinya sendiri berbicara.


Hari sudah mulai mendekati petang, Gendis dan Eser memutuskan untuk membeli makanan di luar. Gendis ingin membeli penyetan ayam di tempat langganannya. Tentu saja membuat Eser kesal dan menggerutu.


Eser tidak ingin turun, dia menunggu Gendis di seberang jalan. Tersenyum tipis, melihat istrinya yang limited edition. Di satu sisi seperti sedang menaikkan gengsi dan kelas sosial ekonominya dengan kemewahan, tapi disaat bersamaan masih menjaga selera makanan dan keramahannya pada semua orang.


"Eh, Mbak Gendis. Lama sekali tidak muncul. Padahal Damar sering ke sini. Belinya ayam terus sekarang, tempe dan terong malah jadi tambahan saja," sapa pedagang penyetan itu dengan ramah.


"Iya Mas, lagi sibuk. Ini saya juga mau beli. Dua ya mas, sambelnya tambahin. Terongnya banyakin," ucap Gendis sembari mengambil selembar uang 100 ribuan dari dalam dompetnya.


"Duh, mentang-mentang isi dompetnya sekarang merah-merah. Gayanya jadi sombong sekali. Padahal hasil jual diri. Lupa siapa yang membesarkan. Bapaknya sakit sampai tidak punya uang buat berobat, anaknya juga santai saja," Jubaedah tiba-tiba muncul langsung mencela Gendis di depan umum.


"Nih, kalian lihat! Kamu kenal dia lama kan, Yu? Lihat penampilan sekarang. Jual diri memang gampang ya, uangnya ngalir deres, apalagi sudah jadi simpenan. Tapi mbok ya ingat sama bapaknya. Kalaupun dosa, tapi tidak durhaka." Jubaedah semakin tidak mengenakkan bicaranya.


Gendis masih diam. Dia menunggu sampai Jubaedah puas menghina dirinya. Sekali pun semua orang yang ada di sana sesang menatapnya dengan pandangan penuh selidik, dia tidak peduli. Kalau perlu, kali ini jambak-jambakan pun akan dia lakoni.

__ADS_1


__ADS_2