Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Rencana Sevket


__ADS_3

"Gendis tanya sama Phiu dulu, Pi," jawab Gendis.


Sevket berdehem, dia kembali berpikir dengan cara apa lagi harus merayu Gendis. Jika bergantung pada Eser, jelas jawabannya tidak akan diperbolehkan. Secara ada Jia dan Ozge juga yang berada di sana.


"Kenapa kamu harus meminta ijin pada Eser? Kalian kakak adik, itu kenyataannya sekarang. Papi akan membantu mengurus pengajuan perceraian kalian ke Vatikan secara resmi. Suatu saat nanti, kalian pasti akan menemukan kembali pasangan masing-masing." Dalam hati Sevket mengucap kata maaf pada Tuhan.


Gendis mengajak Sevket untuk duduk terlebih dahulu. "Sebagai suami atau kakak, phiu-lah yang selama ini menjaga Gendis. Kalau Gendis pergi tanpa ijin phiu lagi, Gendis takut akan membuat phiu khawatir. Soal pasangan baru, tolong Papi jangan bicarakan dulu sekarang. Apa Papi lupa kalau Gendis sedang hamil?"


Sevket baru teringat kalau Gendis saat ini memang sedang hamil anak Eser. Pria itu seketika menatap perut anaknya yang memang sudah terlihat lumayan membuncit. "Papi lupa, Ndis, maaf."


"Tidak mengapa, Pi. Gendis dan Phiu sudah sepakat, kami akan tetap memberikan yang terbaik untuk Esju. Serumit apa pun yang akan terjadi ke depannya."


Sevket tersenyum tipis mendengar penjelasan Gendis. "Mau manggilnya Phiu-Mhiu terus ya? Gak pengen bro-sist, Kak-dek, atau abang-adek gitu?" Candanya, mencoba mencairkan suasana.


"Lebih nyaman seperti ini, Pi. Apalah arti sebuah panggilan, yang terpenting bagaimana posisi Eser yang sebenarnya di hati dan pikiran Gendis."


Keduanya terus berbincang akrab dengan duduk saling berhadapan. Perlahan, rasa canggung mulai memudar dari diri Gendis. Selain karena sebelumnya ikatan mertua menantu memang sudah terjalin baik, Gendis juga merasakan mata pria tua itu begitu hangat dan tulus saat menatapnya.


Eser kini sudah berada di dalam ruangan dokter yang melakukan tes DNA Gendis dan Sevket. Sudah tiga puluh menit dia berada di ruangan itu, mendesak sang dokter untuk memastikan keaslian hasil tes DNA yang dilakukan.


Dokter itu tetap tenang menghadapi Eser, sumpah di atas Al-Kitab yang diminta Eser pun dia lakukan untuk menegaskan bahwa dia tidak sedikit pun mengubah hasil tes DNA.


Eser mungkin masih belum puas, tetapi dia tidak ingin merendahkan sumpah seseorang atas nama Tuhan di atas kitab suci. Dia percaya sepenuhnya, jika seseorang berani bermain-main ucapan dengan berlindung di balik nama Tuhan, cepat atau lambat, Tuhan akan menegurnya dengan sebuah kejadian.


"Taruhlah hasil tes itu benar adanya. Lalu, buat apa perempuan yang bernama Vivian datang kemari dan berbicara dengan Anda? Tidak hanya sekali, tapi tiga kali." Selidik Eser sembari mondar mandir dengan langkah teratur di depan sang dokter.

__ADS_1


Raut wajah dokter yang usianya lima tahun di atas Eser itu seketika berubah. Ketenangan dan senyuman tipis yang sedari tadi ditampilkan berubah menjadi sedikit gugup. Sekuat apa pun usaha pria itu untuk bersikap biasa, Eser tetap bisa membaca gelagat pria itu dengan mudah.


"Kali ini, pikirkan baik-baik jawaban Anda, Dok. Sebelum menjawab, sebaiknya Anda ingat perjuangan Anda dari awal sampai bisa di titik ini. Jangan sampai karena jawaban yang asal, membuat Anda kehilangan semua yang sudah Anda perjuangkan," tegas Eser.


Sang Dokter mulai tidak nyaman dengan duduknya. Beberapa kali berganti posisi, hanya semakin menegaskan keresahan jiwanya. Ditambah lagi Eser terus mengetuk-ngetukkan jemari di atas meja kaca di depan si dokter. Seolah ingin mengacaukan pikiran pria bernama Anthoni itu lebih dalam.


"Bagaimana? Masih tidak ingin menjawab? Atau Anda memang lebih memilih apa pun yang dijanjikan oleh Vivian dibanding kehormatan dan masa depan Anda?" Cecar Eser, mencoba sedikir bersabar dan mengikuti ritme lamban Dokter Anthoni.


"Apa Anda sedang mengajak saya membuat sebuah kesepakatan?" Dokter Anthoni akhirnya mengeluarkan suaranya.


Eser menggeleng kuat sembari tersenyum tipis. "Tidak akan! Kepentingan saya adalah mencari kebenaran yang berhubungan dengan informasi yang saya dapat, sedangkan Anda? Sumpah profesi yang anda ucapkan, seharusnya cukup membuat Anda paham bagaimana menjalani tugas Anda dengan benar. Saya tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun atau menawarkan sesuatu yang membuat Anda tergiur. Kebaikan dan kebenaran, ada bukan karena sebuah kesepakatan."


Ucapan Eser jelas terasa seperti tamparan keras bagi Anthoni. Dia seperti sedang diingatkan sekaligus diancam secara halus. Dokter itu masih saja berpikir. Entah apa yang sedang dipertimbangkan. Namun, melihat wajah Eser yang dingin membuatnya mulai berpikir logis.


Setelah menghela napas dalam, Anthoni akhinya menjawab pertanyaan Eser. "Vivian datang untuk membuat saya memastikan kalau Ozge Sevket tidak memiliki kecocokan DNA dengan Eser Sevket. Apa pun hasilnya, yang Vivian inginkan adalah ketidak cocokan.


Eser menutupi rasa herannya dengan menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti. Kini dia juga tahu, kalau Ozge sedang melakukan tes DNA.


"Ada yang bisa saya bantu lagi?" Anthoni mulai kembali tenang.


Eser mengangguk, karena dia juga ingin membuktikan sesuatu. Pria itu, juga ingin Dokter melakukan tes DNA untuk dicocokkan dengan Sevket.


"Anggap saja aku percaya padamu, tapi sekali kamu berani main-main denganku, aku pastikan yang akan aku lakukan tidak sekedar ancaman."


Antoni mengangguk mantap. Lalu dia mengambil sampel untuk perbandingan DNA di tubuh Eser. Sepanjang proses itu, Eser terus mengingatkan Anthoni agar hasil tes DNA-nya dan Ozge diberikan secara bersamaan, dihari dan di tempat yang sama.

__ADS_1


Setelah selesai, Eser pun bergegas kembali ke apartemennya. Terlalu lama meninggalkan Gendis, memunculkan kekhawatiran kalau perempuan yang sedang mengandung anaknya itu tiba-tiba kembali kabur.


Di apartemen, Sevket, Gendis, kini ditambah Damar, sedang menikmati secangkir teh hijau dan baklava yang menjadi makanan kesukaan Gendis sejak kehamilannya. Ketiganya berbincang dengan hangat. Bahkan Sevket menberikan penawarannya agar Damar turut serta tinggal di rumahnya.


Eser tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu masuk ke dalam ruang tamu apartemen. Dia langsung melihat keberadaan Sevket. Di tambah lagi, papinya itu terlihat akrab dengan Gendis dan Damar. Sebuah pemandangan langka, karena bersama dirinya dan Ozge, Sevket begitu keras dan hampir tidak pernah mengajak anak-anaknya bercanda.


Mengetahui Eser datang, Damar memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar. Sebelum itu, dia berpamitan dulu pada Sevkrt.


"Dari mana papi tahu Gendis pulang?" Eser langsung bertanya tanpa basa basi sembari mendudukkan bokongmya tepat di seberang Sevket.


"Pertanyaan macam apa itu, tentu saja Papi tahu. Gendis terlalu pintar bersembunyi, jadi Papi kirim orang untuk mengawasimu, Es."


Setelah mendengus kesal pada Sevket, Eser beralih menatap lembut pada Gendis. "Kamu istirahat saja, Mhi. Biar aku temani Papi."


"Sebentar, jadi bagaimana, Ndis? Besok bisa kan menginap di rumah Papi?"


Pertanyaan Sevket membuat Eser menggeleng kuat. Dia tidak mau Gendis berada di bawah atap yang sama dengan Ozge, Jia, dan Mutia.


"Semalam saja, Phi, please!" Gendis ikut memohon.


Eser terdiam sejenak. Dia tidak boleh egois. Meski persaudaraannya dengan Gendis masih diragukan, namun satu hal yang sudah pasti, Sevket adalah ayah kandung dari Gendis.


"Baiklah, tapi aku juga akan ikut." Putus Eser akhirnya.


Sevket menarik napas lega, satu langkah awal menuju rencananya sudah berjalan dengan mulus. Besok atau lusa, dia hanya perlu melancarkan rencana selanjutnya dengan rapi.

__ADS_1


__ADS_2