Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Ingin mengulang hukuman


__ADS_3

"Phiu... apa yang akan kamu lakukan? Jangan gila! Kamu bisa meminta baik-baik padaku, tidak begini caranya." Gendis ingin bangun dari ranjang, tapi Eser lebih cepat menimpa dirinya dengan tubuh laki-laki itu.


"Baik-baik? Bukankah kamu selalu melakukannya dengan terpaksa?" Eser menatap Gendis dengan sinis.


"Kamu tahu alasannya apa? Jadi sekarang jangan mengeluh. Bukan salahku, tapi salahmu sendiri. Harusnya kamu menikah dengan orang yang mencintaimu dan juga kamu cintai. Jika kamu ingin mengalahkan Oz, kamu tidak perlu menikahiku," Gendis membalas tatapan pria yang ada di atas tubuhnya tidak kalah sinis.


Napas Eser semakin memburu, kekesalan yang menumpuk kini semakin menumpuk. Dia menarik napas dengan berat, mencoba melampiaskan emosinya dengan cara yang lain.


"Siapa Arya? Kenapa sulit sekali untuk jujur? Dia kekasih gelapmu?" Eser membelai lembut wajah Gendis dengan jemarinya hingga turun ke leher. Dia sudah tidak peduli lagi dengan aturan yang dibuat sang istri. Tatapannya tetaplah tatapan menahan amarah.


"Dia hanya temanku, Phiu. Teman lama," suara Gendis agak bergetar, antara takut dan juga merinding merasakan sentuhan jemari Eser.


Perempuan itu akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Arya yang tidak disengaja di perpustakaan, lalu menjelaskan dengan sebenar-benarnya siapa Arya.


"Kamu tidak bohong? Yakin hanya seperti itu?" Eser menempelkan bibirnya tepat di daun telinga Gendis, membuat istrinya itu mengeliat geli, hingga tanpa sadar tangan Gendis justu meremas pinggul Eser.


"Jauhi Arya! Jika dia hanya teman lamamu, maka kita tidak tahu siapa dia sebenarnya sekarang. Kamu berpikiran aku jahat dan kejam, Silahkan! Tapi jangan pernah menganggap oranglain lebih baik dariku. " Eser kembali berbisik, kemarahan yang tadi ingin diluapkan, perlahan mulai mereda.


Eser kini memejamkan matanya, tangannya menumpu di kanan kiri kepala sang istri untuk menumpu berat badannya. Dia mengajak otaknya untuk berpikir keras tentang sosok Arya. Jika pria itu tidak ada urusan dengannya, tidak mungkin pria dia mau mengambil resiko membantu Jia yang anak seorang anggota mafia internasional.


Gendis berusaha menggerakkan pinggulnya, sungguh dia merasakan sesak. Di tambah lagi, sedari tadi, dia sudah merasakan bagian inti Eser sangat mengeras.


"Kenapa kamu minum lagi, Phiu?" Gendis memberanikan diri untuk bertanya.


"Karena kamu tidak menerima panggilan teleponku, sedangkan kamu bersama laki-laki lain. Aku tidak cemburu. Tapi aku tidak suka, milikku bersama dengan orang yang tidak kukenal." Eser kembali membelai pipi Gendis, dia hanya sedang menutupi gengsinya.


"Tidak cemburu saja seperti itu, bagaimana kalau cemburu?" dengus Gendis.


"Aku tidak akan cemburu."

__ADS_1


Gendis mencebikkan bibirnya. Kesal karena dia menikahi pria yang aneh. Tidak cemburu tetapi selalu marah dan berbuat hal yang diluar nalar


jika dia bersama laki-laki lain.


"Aku mau mandi, Phiu," Gendis berusaha mendorong dada Eser agar menjauh darinya. Tapi tenaganya tidak seberapa kuat.


"Kita belum selesai. Hukuman belum aku berikan. Jangan membuatku minum alkohol lagi. Itu kesalahan berat, Mhi. Sekarang terima saja hukumannya. Diam dan jangan bergerak."


Eser perlahan membuka kancing kemeja Gendis dengan posisi badannya tetap menimpa sang istri.


Gendis ingin mengingatkan akan aturan yang dibuatnya, tapi bibirnya terasa tercekat. Lidahnya kelu, dia hanya mampu menggigit bibir bawahnya sendiri dengan lembut. Tangannya meremas seprei lebih kuat. Merasakan Eser memainkan pucuk merah muda di bagian dada kenyalnya menggunakan lidah.


Eser melirik wajah Gendis yang nampak sangat menikmati, membuatnya semakin bersemangat. Dia pun mulai lebih rakus menyesap dengan satu tangan sudah menyusup ke dalam celana yang dipakai sang istri.


Gendis tidak bisa pura-pura lagi menahan kenikmatan sentuhan Eser, tubuhnya mengeliat dan des4han pun lolos dari bibirnya.


Meski sudah sangat tidak tahan, tapi Eser masih ingin bermain-main. Dia pun menekuk kaki Gendis, lalu menenggelamkan kepalanya di antara dua paha milik sang istri. Hal yang seumur hidup, juga baru dia lakukan.


Eser tidak bodoh, kesenangan seperti ini, hanya layak diberikan pada perempuan yang bisa menjaga tubuh dan kesetiaan untuknya seorang. Bukan untuk perempuan yang dibayar.


Gendis, semakin mengeliat. Tangannya kini beralih meremas rambut sang suami, bukan menariknya, tapi membuat kepala itu semakin ke dalam.


Perempuan itu semakin lupa aturan yang dibuatnya sendiri. Dia malah kembali menuntun tangan Eser untuk bermain di pucuk dadanya.


"Sudah sangat basah, Mhiu... sekarang ya?" suara Eser mendadak lembut, tapi sudah sangat parau.


Hampir 40 menit, menghentakkan dan meliukkan pinggul, akhirnya Eser mendapatkan puncak kebikmatannya, sedangkan Gendis mungkin sudah hampir tiga kali merasakan desir yang melegakan.


"Phiu, Bagaimana kamu tahu, aku tadi bertemu Arya?" tanya Gendis, sembari menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya.

__ADS_1


"Jangan lupa, aku ini adalah Eser Sevket. Jauhi dia! Jika kamu menemuinya lagi, maka hukumanmu akan lebih berat dari ini," tegas Eser sembari menoleh pada Gendis yang memejamkan matanya.


"Hukuman? Yang barusan kamu sebut hukuman?" Gendis bertanya dengan heran.


"Iya? Kenapa?"


"Aku mau dihukum lagi kalau begitu. Aku tidak mencintaimu. Tapi kalau aku tahu seenak ini. Aku akan membiarkan tangan dan mulutmu bekerja lebih awal."


Eser langsung memiringkan tubuhnya menghadap sang istri, satu tangan menyiku dan menumpu kepalanya. "Mau lagi? Sekarang?"


Pria itu sangat bersemangat. Tidak menunggu jawaban dari Gendis, tangannya kembali menjarah bagian inti sang istri.


"Kapan kamu bisa mencintaiku, Mhi?" Eser bertanya sembari terus bekerja.


"Cinta? Apa itu penting? Kita bisa melakukan apa pun tanpa cinta. Aku juga tidak menuntutmu untuk mencintaiku. Tidak peduli yang kamu rasakan obsesi atau apa, yang aku tahu kamu suamiku."


Jawaban Gendis seketika membuat tangan Eser berhenti bergerak liar. Eser beranjak dari ranjang, dengan kesal dia masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya dengan keras.


Gendis sendiri langsung berdiri, mengambil bathrobe dan memakainya, merapikan kasur, lalu mengambil pakaian ganti dan dibawa ke kamar mandi sebelah. Kamar pink yang sudah selesai, dan menjadi tempat tidur keduanya.


Eser keluar dengan tatapan yang masih kesal dan rahang kerasnya. Dia sungguh sangat tersinggung dan tidak suka dengan kata-kata Gendis yang menganggap cinta tidak lagi penting. Harusnya, Gendis menjawab dengan kata-kata yang bisa menyenangkan hatinya. Berusaha dan belajar mencintai, lebih enak didengar daripada tadi.


Kekesalan itu bertambah ketika ponsel yang dia berikan khusus hanya untuk komunikasi dengannya bergetar. Ada nama Arya yang tertera di layar ponselnya.


Eser langsung mereject panggilan itu, lalu mengirim pesan untuk Arya, bertindak seolah dirinya adalah Gendis.


"Siapa kamu? Kenapa kamu mengingatkan istriku agar menjauh Dariku?" gumamnya lirih.


Eser membalas pesan Arya yang mengajak Gendis bertemu besok di sebuah kafe. Dia mengiyakan dengan senang hati dan tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2