
Gendis duduk begitu tenang, tapi bola matanya bergerak lincah, melirik ke sana ke mari. Mengamati keadaan di dalam rumah Alex. Sepi, sepertinya tidak ada penghuni lain di sana.
Rumah itu terlihat bagus dan mewah di luar, tapi di dalamnya sungguh berbanding terbalik. Tidak banyak perabotan, kalau pun ada, keadaannya sudah tidak terawat.
Alex keluar membawa segelas minuman berwarna merah. Sepertinya sirup atau mungkin soft drink.
"Silahkan, Ndis." ucap Alex sembari meletakkan gelas itu langsung di meja.
"Terimakasih, Pak. Tapi saya sedang menjalani diet ketat. Karena saya sedang proses pengobatan penyakit saya." Gendis mendadak menundukkan kepalanya sendu.
Alex menatap Gendis dengan seksama. Penampilan mahasiswinya itu sekarang sempurna, bagaimana mungkin mengidap sebuah penyakit.
"Apa Bapak tidak menyadari perubahan saya sekarang? Kalau tidak sangat terpaksa, apa mungkin seseorang yang lugu dan polos seperti saya menjadi istri simpanan?" Gendis menggetarkan suaranya seolah sedang menahan tangis.
Alex buru-buru mengambil tisu dan memberikannya pada Gendis.
"Terimakasih, Pak...." Gendis malah mengeluarkan suara dari hidung, seolah dia sedang membersihkan ingus.
Alex bergidik jijik. Di tambah lagi, Gendis meletakkan tisu bekasnya di atas meja begitu saja.
"Saya harus membiayai kuliah saya sendiri, belum lagi pengobatan dari penyakit yang saya derita. Tidak ada cara mudah dan cepat mendapatkan uang selain menjadi istri simpanan. Maaf saya jadi cerita sama Bapak. Entah mengapa, saya menjadi sensitif begini begitu melihat Bapak." Gendis kembali mengambil tisu dan menyeka ingus-ingusan di hidungnya.
Gendis mengambil ponselnya. Dia membuka fitur galeri untuk mencari foto yang sempat dia edit kemarin.
"Lihat ini, Pak? Bagaimana mungkin kalau saya ini sehat mau hidup bersama kakek setua ini. Saya ini tidak jelek kan, Pak? Saya cantik bukan?" Gendis menunjukkan foto dirinya dengan seorang kakek legendaris se-Jepang dan sejagad raya.
Alex mengernyitkan keningnya. Mendekatkan matanya, pada layar ponsel Gendis. "Kayak Kenal," gumamnya sangat lirih.
__ADS_1
"Dia memang terkenal, Pak. Pengusaha sukses. Kata orang dia memang mirip si kakek jepang itu. Tapi ini bukan dia kok, Pak. Yang ini, sudah kisut, tidak berotot dan bergelambir." Gendis melirik Alex yang sedang menunjukkan ekspresi bingung.
Kini, Alex menjadi semakin tudak mengerti dengan apa yang harus dia lakukan. Gia menceritakan hal berbeda tentang Gendis padanya. Itulah kenapa dia ingin membantu perempuan yang sudah menemani tidurnya selama tiga bulan itu, untuk balas dendam kepada Gendis.
Tidak hanya karena Gia, Alex juga ingin menghancurkan reputasi Eser melalui Gendis. Tapi kalau ternyata, suami Gendis bukan Eser. Buat apa dia harus sampai menjebak mahasiswinya ini. Bisa-bisa, reputasinya sendiri yang hancur.
Alex mempunyai dendam pribadi pada Eser. Karena pria itu, performanya dinilai buruk oleh mahasiswa maupun pihak rektorat. Cara mengajarnya dinilai tidak mencerdaskan dan membosankan. Eser adalah rival bagi Alex. Penghalang karier cemerlangnya menjadi seorang Guru Besar.
Alex ingin meyakinkan diri, tapi sangat tidak mungkin bertanya langsung pada Gendis. Kebenaran cerita Gia, kini mulai dia ragukan.
"Kalau bapak mengira saya istri Eser Sevket, Bapak salah. Saya juga sedang merayu dia. Bapak tahu sendiri kan, dia paling pelit dan paling susah mata kuliahnya. Jadi saya menawarkan tubuh Saya, agar mendapatkan nilai yang bagus."
Ucapan Gendis tidak hanya membuat Alex tercengang. Tapi seseorang yang sedari tadi mendengar dari earphone yang terhubung dengan penyadap suara di jam tangan Gendis, seketika tersedak meski sedang tidak makan dan minum apa pun.
"Apa sih maunya anak ini, sudah diingatkan jangan berimprovisasi malah ngelantur begini. Awas saja nanti di kamar." gumam Eser, sangat kesal.
"Apa kamu berhasil menggoda pak Eser?" selidik Alex.
"Belum, Pak. Mungkin sebentar lagi. Pak Eser mulai ketagihan pijatan Saya. Kalau Bapak mau, Saya bisa memijat Bapak juga. Asal, Bapak mudah saya kontak kalau saya tidak paham materi skripsi Saya." Gendis memasukkan ujung jari telunjuknya ke lubang hidung, seperti sedang mencari sesuatu di dalam sana. Setelah itu, Gendis sengaja mengusapkan ke lengan kemejanya.
"Bapak mau saya pijat?"
"Tidak, Ndis. Terimakasih. Kita langsung ke skripsimu saja." Alex kembali bergidik karena jijik.
Selanjutnya, mereka berdua benar-benar membicarakan tentang skripsi Gendis. alex seolah lupa pada perintah Gia untuk membuat Gendis meminum racikan yang bisa membuat istri Eser itu melayang.
"Kamu sakit apa, Ndis?" tanya Alex kembali pada rasa penasarannya.
__ADS_1
Gendis kembali memasang wajah sedih. "Kapan-kapan, Saya beritahu, Pak. Jangan sekarang. Satu hal yang pasti, kalau Bapak ingin menghancurkan pak Eser, Saya bisa diandalkan. Bapak menginginkan foto skandal? Akan saya carikan. Dari mata Bapak, kelihatan sekali kalau Bapak menyimpan benci sedalam laut mati pada pak Eser. Saya dipihak Bapak."
Sebenarnya memang sudah menjadi rahasia umum, kalau Eser dan Alex tidak pernah akur. Karena itu, mudah saja bagi Gendis menggoyahkan Alex. Waktu satu minggu cukup untuk membuatnya tahu beberapa hal yang sering diremehkan lawan, tapi tidak olehnya.
"Hati-hati, Ndis. Kalau kamu sudah menyelesaikan kerangka penelitian. Kamu bisa hubungi Saya."
"Siap, Pak! Terimakasih untuk hari ini, sampai bertemu lagi lain waktu. Di hotel, di apartemen atau di mobil juga boleh. Bapak tidak perlu memberikan obat apa pun di minuman Saya. Percayalah! Saya sudah Expert berkat si kakek." Gendis seperti seperti sedang menyindir Alex.
'Andai kamu tidak suka mengupil dan tidak jorok, dengan senang hati aku akan menerima penawaranmu, Ndis. Kamu sempurna, sayangnya kamu jorok sekali,' batin Alex sembari berjalan mengantar Gendis hingga masuk ke dalam mobilnya.
Gendis langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia cukup puas dengan pencapaiannya hari ini. Tidak perlu buru-buru. Terlalu instant, akan membuat lawan curiga.
Istri Eser itu melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan kota. Dia butuh meminjam beberapa buku untuk menambah referensi untuk bahan diskusi dengan Alex. Agar dia menemukan alasan yang masuk akal untuk berkomunikasi dengan Dosen yang sepertinya sedang dimanfaatkan oleh Gia atau Jia. Belum bisa dipastikan.
Gendis sedang asik mencari buku-buku yang sudah dia notes nama pengarang dan juga judulnya. Tentu saja hal ini dilakukan untuk mempermudah pencarian.
Saat sedang fokus mencari buku, getaran ponsel yang pastinya dari Eser terasa di tangannya yang menempel di tas. Gendis tidak berniat menjawab. Dia hanya mengambil ponsel untuk mereject dengan pesan yang dia tulis secara custom.
...Jangan lupa putuskan ketiga kekasihmu. Sertakan video. No video \= Hoax....
Setelah pesan terkirim. Sudah tidak ada lagi getaran dari ponselnya. Gendis pun kembali melanjutkan proses pencarian.
Mata Gendis berbinar terang, saat melihat buku yang dicarinya akhirnya ketemu. Sayang sekali, tangannya tidak menjangkau buku tersebut. Dia pun berjinjit maksimal agar bisa meraih buku yang diinginkan.
"Mau buku yang mana?" suara tanya yang lembut dari samping Gendis, membuat istri Eser itu menoleh ke sumber suara.
Begitu melihat sosok pemilik sapa tadi. Gendis pun langsung memundurkan kakinya agak menjauh.
__ADS_1
"Ti--tidak mungkin...," gumam Gendis, sangat lirih.