
Eser membuka pintu room apartemennya dengan santai. Tapi setelah Ozge duduk di atas sofa, wajah suami Gendis itu seketika menunjukkan kekesalan yang nyata.
"Aku tidak ingin bertanya kenapa atau di mana saja kamu menyimpan file hubungan badanmu dengan Gendis. Satu hal yang pasti, urus istrimu dan Arya. Mereka juga mempunyai file videomu itu. Kalau tidak karena Gendis, bukan hanya keluarga Jia yang malu saat pernikahanmu, tapi kita pun akan malu. Karena video itulah yang sudah dipersiapkan untuk diputar." Eser menghempaskan bokongnya dengan kasar di atas sofa.
Gendis segera duduk di tanganan sofa yang diduduki Eser. Lalu dia merangkul dan mengusap pundak suaminya itu agar bisa mengendalikan emosi. Sebelumnya Gendis sudah memberikan peringatan, berhadapan dengan Ozge tidak bisa menggunakan emosi.
Pikiran Ozge kini semakin kacau kecemburuan yang sedari tadi merasuki hati dan pikirannya kini beraduk dengan kenyataan yang benar-benar baru dia ketahui. Tadinya, dia mengira, kalau Eser sengaja menyabotase sesi pemutaran video di acara pernikahannya.
Rahang pria itu terlihat semakin mengeras, wajahnya memerah, dan tangannya mengepal sempurna. Andai tidak ada Gendis di depannya, Ozge ingin sekali menyalurkan emosinya dengan menghantamkan kepalan pada meja kaca di depannya.
"Jika ini hanya tentang aku, jelas aku tidak peduli, Oz. Tapi nama baik SVK Corp yang akan kamu pimpin adalah taruhannya," tegas Eser.
Ozge seketika berdiri, Jia rupanya memang salah perhitungan. Perempuan itu jelas sedang menggali lubang nerakanya sendiri lebih dalam.
"Kamu masuk dulu, Mhi. Aku ingin berbicara berdua sebentar," pinta Eser.
Gendis awalnya menggelengkan kepala, karena takut suaminya itu akan emosi. Tapi sorot mata Eser yang mengintimidasi membuatnya mengalah juga.
Setelah melihat Gendis menutup kembali pintu kamarnya, Eser berdiri menghampiri Ozge yang terlihat jelas sedang bersusah payah menahan emosinya.
__ADS_1
Tidak disangka, Eser yang normalnya akan marah dan mencaci Ozge dengan teriakan dan kata-kata kasar. Kini malah terlihat begitu bisa mengendalikan emosi. Suami Gendis itu mendekati Ozge dengan santai.
"Mulailah berdamai dengan keadaan, Oz. Kembalilah membuka hatimu untuk menerima kasih Tuhan. Buang sakit hatimu pada Jia. Jika kamu tidak bisa memperlakukannya sebagai istri, setidaknya jangan perlakukan dia sebagai budak." Eser menepuk pundak Ozge dengan keras.
Ozge tersenyum sinis. "Enak kalau cuman ngomong, Es. Kamu mengatakan seperti ini karena kamu berhasil menikahi Gendis. Jika posisi kita dibalik, apakah kamu masih bisa berkata seperti itu?"
"Kamu sendiri yang membuka peluang untuk aku, Oz. Jadi jangan sesali apa pun sekarang. Dari sekian banyak jalan yang bisa kamu pilih saat itu, kamu malah meminta tolong aku untuk pura-pura tidur dengan Gendis, setelah diam-diam kamu merenggut kesuciannya. Siapa laki-laki yang akan menolak diberi perempuan seperti Gendis?"
"Aku salah karena melibatkanmu, Es. Aku bodoh karena tidak menyadari siapa lawanku dari awal. Tapi apa pun yang kamu dapat kan dengan licik, akan lepas darimu bagaimana pun caranya. Cepat atau lambat, Gendis pasti akan meninggalkannmu, Es. Dia akan sadar, di hatinya tidak pernah ada dirimu." Ozge berbicara dengan tatapan penuh dendam dan kebencian.
"Itu harapanmu, Oz. Pemikiran Gendis tidak sependek itu. Dia paham betul bagaimana menjalani hidup dalam ikatan suci pernikahan. Apapun yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan lagi oleh manusia."
"Oz," panggil Eser ketika Ozge berada tepat di ambang pintu.
Ozge menghentikan langkahnya tanpa menoleh, tapi tangannya sudah menggapai gagang pintu.
"Gendis sudah melupakanmu. Berhentilah berharap bisa kembali bersama dengan istriku. Terima kenyataan, kalau dia adalah kakak ipar tirimu. Lagi pula kamu sudah menikah. Dari pada sibuk menyiksa Jia, kenapa kalian tidak melakukan pertobatan bersama." Eser mengucapkannya dengan tegas.
Ozge hanya menjawab dengan senyuman sinis, lalu benar-benar keluar tanpa menoleh lagi. Dia tidak kembali ke room apartemennya, melainkan langsung meninggalkan gedung apartemen dengan mengendarai mobilnya tidak tentu arah.
__ADS_1
Karena mengemudi dengan tidak fokus dan emosi. Ozge baru menyadari kalau mobil di depannya sedang berhenti karena lampu merah yang sedang menyala. Tapi semua sudah terlambat, benturan lumayan keras tepat membuat bumper belakang mobil di depannya itu sedikit pesok.
Seorang perempuan berpakaian elegant dan terlihat sangat berkelas turun dari mobil yang yang ditabrak Ozge itu. Perempuan itu menghampiri mobil Ozge dan mengetuk kaca pintu mobil Ozge beberapa kali.
Dengan malas, Ozge menurunkan kaca mobilnya. "Bawa saja ke bengkel, aku akan menggantinya."
"Seharusnya kamu turun dan meminta maaf. Kamu pikir semua masalah bisa selesai dengan uang. Aku rasa kamu bukan pria bodoh, jelas kamu tahu mobilku jenis apa. Dengan kerusakan seperti itu repair jelas bukan jalan keluar. Tapi replace. Lagi pula, aku bukan orang tidak mampu." Perempuan mendongakkan kepala, 10 detik lagi lampu hijau akan menyala.
"Aku tunggu kamu di jalan depan, aku akan menepi. Dan lakukan apa yang seharusnya dilakukan orang saat merugikan orang lain dan melakukan kesalahan. Jangan berpikir untuk kabur. Mobil yang kamu gunakan ini, hanya ada lima di Indonesia. Aku bisa mencari tahu dengan mudah siapa nama pemiliknya. Jadi aku pastikan, akan sia-sia kalau kamu mencoba kabur."
Perempuan itu langsung melenggang santai masuk ke dalam mobilnya, dia tidak memedulikan Ozge yang sudah bersiap dengan umpatannya.
Kedua mobil sedan berbeda merk namun sama-sama langka di temui di Indonesia itu akhirnya bergerak maju beriringin. Tepat di jalanan rindang yang memang agak sepi, perempuan itu menepikan mobilnya.
"Sebentar ya, Ma." ucap perempuan itu, pada wanita paruh baya yang duduk di jok depan samping kemudi.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk, dia enggan menoleh ke belakang, anak tiri yang sudah seperti anak kandungnya sendiri itu memang tegas dan tidak kenal kompromi. Wanita paruh baya itu sudah terlalu lelah hari ini, terapi cuci darah yang baru saja dia lakukan membuatnya sedikit lemas dan mual. Padahal, besok dia harus kembali tampil fit untuk mengurus sesuatu.
Ozge turun dari mobilnya dengan santai. Pria itu memang sedang sengaja mengulur waktu agar perempuan itu menghampirinya terlebih dahulu.
__ADS_1