Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kenapa harus begini?


__ADS_3

Perawat tadi mengantarkan semua yang sudah datang ke dalam satu ruangan. Wajah tegang sangat kentara terlihat pada Dahlia dan Sevket. Keduanya memiliki kekhawatiran yang sama.


Kini, tiga orang masing-masing sudah memegang amplop yang sama. Sevket dan Dahlia nampak lebih antusias ketimbang Gendis. Keduanya membuka amplop dan membaca isinya dengan tidak sabar, berbeda dengan Gendis yang membukanya perlahan.


Sevket dan Dahlia kompak saling beradu pandang sembari menggelengkan kepala dengan kuat.


"Saya mau tes DNA diulang. Bisa saja terjadi kekeliruan bukan?" Sevket menatap tajam pada sang dokter penguji.


"Katakan kalau ada kemungkinan hasil ini tidak valid, Dok." Dahlia ikut memberikan tekanan pada dokter berusia separuh baya itu.


Gendis yang masih menelaah dan mencoba memahami secara perlahan apa yang dibacanya mencoba mengulang kembali berkali-kali isi secarik kertas yang ada di genggamannya. Perempuan itu menengadahkan wajahnya, langit seolah runtuh tepat mengenai pundaknya, dan bumi yang dipijak tiba-tiba kehilangan gaya gravitasi, hingga dia merasakan tubuhnya kini melayang dan ringan seperti tidak bertulang.


"Tidak, Pak, Bu. Kami tidak mungkin membuat kesalahan dalam pengujian DNA. Kami jamin keakuratan mendekati 99,9%. Jika kalian meragukan, silahkan uji di tempat lain. Maka hasilnya akan tetap sama." Penjelasan dokter semakin membuat Gendis gemetar.


Tubuh perempuan itu limbung dan kehilangan keseimbangan. Untung saja, Eser yang berdiri tepat dibelakang Gendis, segera menangkap tubuh sang istri.


Seketika semua dilanda kepanikan, Eser menyambar kertas yang sudah lepas dari genggaman Gendis, lalu membaca hasilnya dengan tangan gemetar.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Katakan ini salah, Pi!" Eser berteriak sembari mengangkat tubuh Gendis keluar ruangan. Sebelum itu, Eser mengatakan jangan ada satu orang pun yang mengikuti mereka.


Di ruang UGD, dibantu oleh seorang dokter dan perawat, Eser mencoba memulihkan kesadaran Gendis dengan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.


Dahlia tidak menjelaskan apa pun pada Sevket, wanita itu memilih mengajak Vivian juga segera meninggalkan rumah sakit.


"Ma, jadi Eser dan Gendis saudara satu ayah bukan? Itu artinya mereka seharusnya tidak boleh menikah?" Vivian terlihat sangat bersemangat mengetahui kenyataan yang membuat semua orang tercengang.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan Gendis sekarang, Vi?" Dahlia bertanya dengan tatapan mata yang menyimpan kecemasan.


"Dia akan baik-baik saja. Gendis bukan perempuan melankolis yang akan menangisi keadaan ini dengan sangat dramatis." Vivian menjawab dengan malas.


Perempuan itu terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Di balik kesedihan semua orang akan kenyataan yang baru saja terungkap, dia merasa malah ini adalah sebuah jalan terang untuknya.


Sementara itu, Sevket kembali ke rumahnya dengan perasaan yang hancur. Entah harus bagaimana dia harus menghadapi Gendis atau pun Eser. Siapa sangka, perempuan yang selama ini hanya dianggapnya sebagai menantu, ternyata adalah anak kandungnya sendiri. Ternyata, inilah jawaban dari rasa ketertarikannya pada Gendis selama ini.


Sevket yang seharusnya pemilih, tapi saat mengetahui anaknya memperebutkan seorang perempuan yang hanya berprofesi sebagai pemijat, dengan enteng malah merestui tanpa syarat. Dia merasa Gendis memang memiliki sesuatu yang berbeda sejak awal penilaiannya.


"Papi harus bagaimana sekarang? Langkah apa yang harus Papi ambil?" Sevket benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Sampai di rumah, Sevket langsung masuk ke ruang kerja, dan mengunci rapat pintunya dengan segera. Pria itu mengambil sebuah kotak di laci paling bawah tempat berkas-berkas rahasianya.


"Papi tidak bisa, Es. Maafkan, Papi. Kalian semua anak Papi, biarlah seperti itu." Sevket memandangi foto-foto kecil Eser lengkap dengan semua hal tentang anaknya itu.


"Maafkan Papi, Ndis. Karena Papi hidupmu jauh dari kebahagiaan. Dan sekarang? Papi pun belum bisa memberikan kebahagiaan padamu. Maafkan Papi belum bisa jujur untuk saat ini." Sevket sampai terisak saat mengatakannya.


Sementara itu, di salah satu ruangan UGD, Gendis mencoba duduk tegak setelah kembali tersadar. Kepalanya masih sedikit berat, tapi ingatannya langsung kembali pada peristiwa sebelum dia tidak sadarkan diri.


Dia melihat sekeliling, hanya ada seorang perawat dan Eser yang ada di sana. "Di mana yang lain? Aku pengen bicara sama Bu Dahlia dan Tuan Sevket."


"Please, jangan cari yang lain dulu. Fokus dengan kesehatanmu. Ada Esju di dalam sana." Eser melempar pandangannya ke sisi lain, ingin marah tapi entah harus dilampiaskan pada siapa.


"Aku mau pulang." Gendis turun dari brankar dengan gerakan cepat. Perawat menyarankan Gendis untuk berhati-hati, banyak istirahat dan berusaha untuk menghindari stres.

__ADS_1


Setelah mengiyakan nasihat perawat, Gendis buru-buru berjalan meninggalkan Eser agak jauh. Dalam hati, banyak rasa yang berkecamuk. Dia hanya berharap ada seseorang yang mengatakan kalau semua kenyataan yang terungkap hari ini adalah salah.


sepanjang perjalanan pulang, Eser dan Gendis sama-sama mencerna apa yang sudah terjadi. Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka sedang berperang melawan pikiran masing-masing. Gendis dan Eser sama-sama ingin lari dari kenyataan.


"Tadi mimpi apa bukan?" Gendis mengeluarkan suaranya terlebih dahulu dengan nada datar.


"Aku juga ingin tahu, tadi hanya sebuah permainan 'kan?" Eser malah balik bertanya.


Tidak lama kemudian, driver menghentikan mobil tepat di lobby apartemen. Keduanya langsung turun dan berjalan cepat menuju lift yang akan mengantar sampai ke lantai room mereka berada.


Sampai di dalam room apartemen, Eser mengeluarkan kertas dari kantong celananya. Selembar kertas yang membuat Gendis pingsan saat membacanya. Setelah membacanya kembali, Eser menatap nanar pada Gendis yamg langsung mendudukkan dirinya di atas sofa sembari memangkukan kedua tangan di dagu.


"Ini tidak adil, sungguh tidak adil. Kenapa harus kita yang bersaudara? Permainan apa ini? Ketidak adilan macam apa ini?" Eser berteriak dengan sangat keras. Dia meremas dan melempar kertas itu ke sembarang arah. Tangan pria itu mengepal dan memukul keras lemari pajangan yang terbuat dari kaca, seketika darah segar mengucur di sela-sela jemarinya. Matanya memerah.


"Ini tidak adil. Hidup macam apa ini? Kenapa Tuhan mempermainkan perasaan kita?" Eser terus meracau, bahkan ditambahi dengan kata-kata kasar. Tangannya yang berdarah-darah dibiarkan begitu saja.


Gendis bergeming, dia tidak kuasa mengatakan atau pun berbuat apa pun. Hanya bulir bening yang keluar tanpa henti dari matanya. Perempuan itu melirik Eser. Pria itu kini menjatuhkan dirinya dilantai sembari memegang pecahan kaca.


"Aku tidak mau menjadi saudaramu. Aku tidak mau." Eser menggeleng kuat, dia mendekatkan pecahan kaca yang dipegangnya pada urat nadinya.


Gendis segera beranjak berdiri, lalu menyahut dan melempar serpihan kaca itu dengan kasar. Tangan perempuan itu, kini juga terluka dan mengeluarkan darah segar. Eser menjadi panik, dia segera berlari mencari kotak P3K.


"Bukan hanya kamu yang terluka. Aku jauh lebih sakit dengan kenyataaan ini. Di saat aku mulai mencintaimu sebagai seorang suami. Kenapa aku harus tahu kalau kamu ternyata kakakku? Bagaimana mungkin aku bisa menganggapmu kakak? Tolong, katakan kalau aku ini anak Darto. Aku mohon!" Gendis mengguncang-guncang lengan Eser yang sudah kembali berada di depannya.


Pria itu menangis hingga terisak. Lalu meraih tangan Gendis yang terluka dan membersihkannya dengan cairan infus.

__ADS_1


"Yang sakit dan terluka parah di sini. Kenapa harus tanganku yang kamu pedulikan?" Gendis menempelkan tangannya yang tidak terluka di dadanya.


__ADS_2