
Gendis tidak berani membuka matanya. Dia sungguh sedang berpikir keras agar sesuatu yang salah tidak sampai mereka lakukan, meski keadaan memaksa. Walaupun tidak dipungkiri kalau dirinya juga sudah sangat merindukan sentuhan hangat.
Sesaat kemudian, Gendis merasakan embusan napas hangat Eser tepat berada dihidungnya. Jarak wajah keduanya mungkin hanya sebatas satu senti. Eser begitu merapatkan diri dengan tubuhnya, sehingga Gendis dengan jelas bisa merasakan Teser sudah berdiri tegak dengan maksimal.
Eser menurunkan resleting gaun merah marun tanpa lengan yang dikenakan Gendis dengan gerakan yang sangat lembut, bibirnya kini sudah beralih ke area leher Gendis. Kata 'jangan' yang ingin dikeluarkan tertahan di tenggorokan. Lidahnya begitu kelu. Sungguh hati, pikiran, dan jasmaninya tidak lagi sepemahaman.
Hati dengan kerelaan masih memendam cinta. Pikiran mengatakan harus tahu batasan karena mereka adalah saudara sedarah. Tapi tubuhnya, menerima pasrah dan menikmati setiap perlakuan Eser begitu saja. Gendis mendadak merasa dirinyalah yang tidak waras sekarang.
Gaun itu luruh melewati tubuh Gendis jatuh ke lantai dengan cepat. Meninggalkan segitiga dan kacamata berenda warna hitam yang masih melekat dengan sempurna pada sang empunya.
Eser melepas pelukannya, dia memundurkan langkahnya setengah langkah. Gendis masih tidak berani membuka matanya, karena jemari tangan Eser masih membelai lembut wajah hingga leher jenjang Gendis.
Pria itu sekarang baru memperhatikan perubahan tubuh Gendis. Dada perempuan yang seharusnya tanpa perdebatan bisa disebutnya istri itu terlihat bulat penuh, badan lebih berisi, dan perut Gendis juga sudah tidak lagi rata.
Eser sangat terharu, matanya berkaca-kaca. Ada rindu dan hasrat yang luar biasa menggebu dan ingin dituntaskan. Berpisah begitu lama, jangankan melupakan sebagai istri, bahkan untuk menyayangi Gendis sebagai adik saja ternyata sangatlah sulit. Jarak hanya memberi ruang rindu, bukan jeda untuk menukar rasa cinta menjadi rasa yang biasa.
__ADS_1
Eser kembali mendekatkan wajahnya pada Gendis. Bahkan bibirnya kini sudah hampir menempel di bibir Gendis. Perlahan mata perempuan itu terbuka. Keduanya kini saling menatap dalam. Tangan Eser naik turun mengelus punggung Gendis.
"Phi ...." Gendis tidak lagi bisa meneruskan kata-katanya, karena Eser tiba-tiba memeluknya dengan erat. Semua di luar dugaan, ternyata hanya sebuah kecupan penuh cinta yang mendarat di kening Gendis. Tidak ada ciuman bibir yang memaksa, atau perlakuan liar seperti yang ada di bayangan Gendis sebelumnya.
"Ijinkan aku untuk menjagamu dan Esju. Tersiksa tidak menyentuhmu bukanlah masalah besar bagiku. Yang paling berat adalah tidak melihatmu setiap hari. Aku ingin kamu selalu berada di dalam jangkauanku. Jangan menyiksaku dengan ketidak tahuanku akan keberadaanmu. Aku merindukanmu, Mhi."
Gendis bergeming, masih tidak mengerti situasi yang terjadi secara keseluruhan. Eser terdengar berbicara dengan jelas dan penuh makna. Padahal, tadinya Gendis berpikir kalau Eser dalam pengaruh obat. Tetapi, dia kini mulai menyadari kalau pria itu hanya sedang memainkan perannya dengan sempurna.
"Aku bisa saja mencium bibirmu dan melakukan hal yang lebih malam ini, Mhi. Tapi aku tahu, itu hanya akan membuatmu semakin jauh dariku. Saat ini, aku hanya ingin membuktikan, aku bisa mengendalikan diriku. Kamu akan aman berada di sampingku. Tidak peduli bagaimana perasaanku, aku bisa menghargai takdir kita."
Gendis terkesiap, sungguh dia tidak menyangka bahwa semua yang dilakukan Eser adalah pura-pura. Membawa Vivian ke dalam permainan, jelas adalah hal yang pintar. Karena jelas Gendis tidak pernah mau kalah dengan perempuan licik itu.
Gendis yang masih tertegun dan setengah tidak percaya dengan kejadian yang membuatnya terpaksa harus menyudahi pelariannya, malah belum memakai gaunnya kembali. Perempuan itu hanya menjatuhkan bokongnya di atas lantai hotel yang beralaskan karpet.
Menyadari Gendis sedang mengalami shock, Eser yang sudah kembali rapi, mendekati dan berjongkok tepat di depan perempuan yang dipikirannya kini harus dianggap sebagai adik.
__ADS_1
"Maafkan aku kalau harus dengan cara seperti ini. Kamu berlari terlalu jauh dan lama. Tidakkah kamu memikirkan Esju? Apa yang kamu dapat dari pelarianmu ini? Apakah kamu berhasil menghapus nama Eser sebagai suamimu? Atau justru hanya rasa rindu yang semakin besar padaku?" Eser bertanya bertubi-tubi, namun dengan suara yang lembut.
Gendis menarik napas dalam, memberanikan diri membalas tatapan Eser. "Aku tidak mendapatkan apapun, Phi. Aku lupa, kalau ternyata masih membawa hatiku. Seharusnya aku meninggalkan hati ini untuk kamu. Mungkin akan lebih baik kalau aku tidak mempunyai hati."
"Kamu benar, berikan hatimu untukku. Aku akan menerima dengan senang hati. Mau bagaimana lagi, Tuhan sedang menguji. Kita tidak ada kuasa menolak. Mungkin ini waktunya kita untuk merasakan luka. Entah apa rancangan baik Tuhan pada kita ke depan." Eser memalingkan pandangannya. Seperti biasa, dia selalu kalah jika harus menatap mata Gendis berlama-lama. Dalam kondisi apa pun, di penglihatan dan pikirannya, tatapan dan segala hal tentang Gendis, selalu berhasil menggoda.
Gendis dengan kondisi yang belum memakai gaunnya kembali, tiba-tiba memeluk Eser dengan erat. Matanya kini berkaca-kaca. "Aku kangen kamu, Phi. Aku pengen kamu berada di sampingku, tapi aku tidak sanggup menganggapmu kakak. Itulah kenapa aku lari. Aku mungkin pengecut, tetapi aku merasa itu adalah keputusan yang terbaik. Nyatanya, aku sebenarnya semakin tersiksa, Phi."
Eser mengecup kening Gendis, lalu membelai rambut wangi milik perempuan yang sangat dia sayangi itu. "Kalau kamu tersiksa, kenapa tidak pulang, Mhi? Kenapa menyuruh Damar menutupi keberadaanmu?"
Gendis melepas pelukannya, baru sadar kalau dia tidak mengenakan gaun, Gendis buru-buru mengambil gaun yang berada tepat di bawah kakinya. Tanpa berdiri, Gendis memakai gaun itu kembali.
"Aku ingin melupakan semua hal tentang kita. Aku sudah biasa hidup dengan keras hanya bersama Damar. Melupakanmu sebagai suami atau kakak adalah pilihan yang sedang aku coba."
"Dan berhentilah mencoba untuk menjauh. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Sekarang, semua bukan lagi tentang kita, tolong lakukan ini demi Esju. Apakah kamu mau Esju tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya? Lari dari kenyataan tidak akan membuatmu tenang, Mhi. Masalah tidak akan pernah selesai jika kamu terus seperti ini, kamu hanya sedang menunda menyelesaikan masalah." Eser kembali menatap Gendis.Perempuan itu kini yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membahas yang berlalu, mengapa dan bagaimana, aku tidak ingin tahu. Yang penting sekarang, kamu kembali ke apartemen ya, Mhi. Kembali ke rumah kita yang sudah jadi. Kita bersama-sama lagi. Kasihan Damar kalau jauh dari kamu. Please, pulang,Mhi," tambah Eser.
Gendis perlahan berdiri. Dia melangkahkan kaki untuk duduk di atas ranjang. Sekedar ingin berpikir sejenak.