Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Ingin lepas dari bayang-bayang Eser


__ADS_3

Gendis dan Eser dengan sedikit terpaksa ikut Vivian masuk ke dalam ruang rawat mama perempuan itu. Begitu mengetahui sosok yang berbaring di atas brankar, Eser langsung menahan langkah Gendis.


"Sorry, Vi. Kita sampai di sini saja. Semoga mamamu lekas sembuh," pamit Eser dengan buru-buru.


"Ndis," panggil mama Vivian, yang tidak lain tidak bukan adalah Dahlia.


"Iya." Gendis menjawab dengan tegar sembari tetap mengamit lengan Eser.


"Terimakasih sudah mengantar Vivian. Kalian sama-sama anak Ibu." Dahlia berkata dengan entengnya.


Vivian menatap mamanya bergantian. Raut tidak percaya dan tanda tanya terlihat jelas di wajahnya. "Kenapa harus Gendis, Ma?"


"Karena memang Gendis, Vi," sahut Dahlia.


"Sudah malam. Dan sepertinya, kalian butuh waktu untuk membicarakan sesuatu." Gendis kembali mengajak Eser berbalik langkah dan meneruskan langkah.


"Ndis." Kali ini Vivian yang memanggilnya.


"Vi, tidak sekarang," tegas Dahlia.


"Tidak, Ma. Percaya sama Vivian." Perempuan itu mengajak Eser dan Gendis berbicara di luar.


Ketiganya berhenti di bangku besi panjang. Eser menjatuhkan bokongnya di sana. Sementara dua perempuan itu berdiri saling berhadapan beradu pandang.

__ADS_1


"Kenapa dunia sesempit ini? Kenapa kamu begitu beruntung? Kamu anak kandung dari perempuan yang selama ini sangat aku sayangi melebihi ibu kandungku sendiri, dan kamu menikah dengan pria yang sudah lama aku impikan." Vivian melirik Eser yang meskipun duduk tangannya tidak sedetik pun lepas menggenggam tangan Gendis.


"Benarkah memiliki ibu seperti dia adalah keberuntungan? mungkin bagimu, tapi bukan bagiku. Memiliki ibu seperti dia, sama seperti memiliki ibu-ibu lain yang melahirkan lalu meninggalkan bayinya begitu saja. Maaf, tidak ada sedikit pun alasan untuk membuatku bangga, apa lagi hanya karena aku terlahir dari seorang wanita seperti mamamu. Cukup kamu saja yang bangga," tegas Gendis.


"Jangan durhaka kamu, Ndis. Melahirkan itu mempertaruhkan nyawa!" Bentak Vivian.


"Ya, tentu saja. Kamu benar. Tapi tugas perempuan sebenarnya jauh lebih berat setelah melahirkan. Masih jauh kata ibu terbaik dari angan, sebelum dia mampu melakukan segalanya tanpa meninggalkan sang anak. Menyusui, membesarkan, membelai, menimang, mengajarkan berceloteh, merangkak, memberikan suapan pertama, memberi kenyamanan dan mengajarkan kebaikan. Jika sekedar melahirkan, kucing di pinggir jalan juga sekali lahiran bisa enam ekor. Lalu dia meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Aku lebih merasa mamamu seperti itu."


Sebuah tamparan dari Vivian mengenai pipi mulus Gendis. Perempuan itu tidak terima wanita yang selama ini membesarkan dirinya disamakan dengan induk kucing. Eser langsung berdiri, berniat membalas perlakuan Vivian pada istrinya. Tapi Gendis mengisyaratkan agar suaminya itu tidak ikut campur dulu.


"Kamu pikir dengan menamparku, penilaianku tentang mamamu akan berubah? Tidak akan! Jangan memaksakan penilaianmu, Vivian." Gendis mengajak Eser meninggalkan tempat itu.


"Setidaknya kembalikan nyawa mamaku dengan memberikan satu ginjalmu untuknya," ceplos Vivian.


Ucapan itu seketika menghentikan langkah Eser dan Gendis.


"Tidak akan, Phi. Tenang saja. Mereka siapa? Bisa meminta padaku seenaknya seperti itu?"


Ucapan Gendis terdengar sangat menyakitkan di telinga Vivian yang memang cintanya terlalu buta pada Dahlia. Perempuan itu kembali menjambak Gendis dari belakang, dia benar-benar berniat memaksa.


Kesabaran Gendis berakhir sudah, sesungguhnya, dia sama sekali tidak ingin membalas kekerasan dengan hal yang sama. Tapi jika diam dianggap lemah, maka inilah yang akan dia lakukan.


Gendis mengayunkan tangannya dengan kuat tepat di pipi kanan Vivian. "Jangan memancingku, Vi. Aku berlipat-lipat bisa lebih kejam darimu. Jika mamamu menginginkan ginjalku, katakan saja kalau itu hanya akan jadi mimpinya. Dia meninggalkanku karena uang, seharusnya uang kalian sudah bisa membeli ginjal yang lain. Aku tidak berhutang apa pun, termasuk nyawa pada mamamu. Jika aku bisa memilih dari rahim siapa aku dilahirkan, maka aku tidak akan mau dilahirkan oleh wanita pengecut seperti dia."

__ADS_1


"Kamu akan menyesal karena mengatakan ini padaku, Ndis. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Jangankan ginjalmu, hidupmu akan aku beli." Vivian masih dengan sombong menantang Gendis.


Eser kali ini tidak ingin tinggal diam. "Langkahi aku dulu sebelum menyentuh Gendis. Sekali lagi tanganmu menyakitinya, aku pastikan, tanganmu tidak akan berfungsi dengan baik lagi besok. Berapa uang yang kamu punya? Hingga kamu berani ingin membeli nyawa istriku? Pikirkan apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Jangan sampai kamu mengulanginya di saat kita bertemu nanti."


Eser benar-benar mengamit tangan Gendis dengan posesif kali ini. Keduanya berjalan menuju parkiran mobil tanpa menoleh lagi.


Sejak duduk di dalam mobil, Gendis hanya terdiam. Dia sama sekali tidak membuka mulutnya untuk mengucap sepatah kata pun.


"Aku selalu bersamamu, Mhi." Eser meraih tangan Gendis sebelum menjalankan mobilnya.


Perempuan itu menoleh pada suaminya, matanya berkaca-kaca. Hal yang tidak pernah Eser lihat sepanjang pernikahannya dengan Gendis. Sudah banyak luka, kesulitan dan sakit yang dialami oleh istrinya itu, tapi baru kali ini, dia melihat mata itu ingin mengeluarkan bulir bening dari matanya.


"Jangan, Mhi. Jangan menangis. Aku tahu, kamu lebih kuat dari ini. Apa yang ingin kamu tangisi? Perempuan yang mengaku ibumu hanya untuk menuntut balas dengan mengambil ginjalmu? Apa tamparan Vivian terlalu menyakitimu?" Eser mengusap bekas tamparan Vivian yang memang masih merah di pipi sang istri.


Gendis menggeleng kuat. "Apakah aku tanpa kamu, memang tidak ada nilainya? Kenapa semua orang memandangku begitu beruntung karena aku menikahimu? Apakah tidak ada hal dalam diriku yang bisa aku banggakan? Atau aku tanpamu memang sampah?" Gendis menurunkan pandangan sembari mereemas jemarinya sendiri.


"Siapa bilang? Kamu luar biasa tanpa atau bersama aku. Bahkan tanpa aku, kamu bisa jauh lebih hebat. Tidak ada yang menghalangi karier dan langkahmu."


"Kalau begitu biarkan aku bekerja, Phi. Aku tidak ingin sama dengan wanita itu. Aku tidak mau dianggap kaya hanya karena menikah dengan orang kaya sepertimu."


Eser tidak langsung menjawab. Dia tidak mau terburu-buru memutuskan untuk mengiyakan atau menolak kemauan sang istri. Sungguh, Eser berharap, Gendis tidak menjalani karier apa pun di luar urusan rumah tangganya.


"Mhi, boleh aku tidak menjawab sekarang. Aku butuh tenang," pinta Eser, sembari menggerakkan mobilnya perlahan. Istrinya itu hanya mengangguk lemah. Lalu kembali memalingkan wajahnya ke kaca pintu mobil.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Gendis sendiri bingung harus mulai dari mana jika memang dia diijinkan untuk mulai berkarier oleh Eser. Dia harus memastikan semua dilakukan dengan benar.


Kata-kata Vivian yang ingin membeli nyawanya, sebenarnya adalah hal yang sangat menyakitkan bagi Gendis. Dalam hati, dia bertekad akan membalik ucapan Vivian dengan kekuatannya sendiri.


__ADS_2