Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Teringat Gendis dan Esju


__ADS_3

Waktu berlalu begitu lambat bagi hati yang sedang merindu, tapi siapa sangka, saat ini usia kandungan Gendis sudah tiga bulan. Perut perempuan itu sudah terlihat membesar. Beberapa baju yang dikenakan terlihat mengetat. Ukuran dadanya pun seketika bertambah dua angka. Tubuh Gendis semakin padat dan berisi.


Sayangnya, Gendis benar-benar menghilang. Perempuan itu masih tetap merahasiakan keberadaannya. Padahal Gendis berada di kota yang bisa ditempuh hanya dengan tiga sampai empat jam perjalanan dari tempat Eser berada.


Saat ini, Gendis bekerja di tempat yang sama dengan tempat Gilbas bekerja. Pria yang sebenarnya seorang CEO sebuah perusahaan yang sedang berkembang itu, juga sedang mengalami sebuah keadaan yang membuatnya terpaksa harus pura-pura hidup lebih sederhana.


Gilbas sengaja berganti posisi dengan sang asisten untuk menyempurnakan penyamarannya. Kini, dialah yang menempati posisi asisten CEO. Sedangkan Gendis sendiri bekerja sebagai sekretaris CEO di sana. Mereka berada di satu lantai yang sama dengan ruangan yang berbeda.


"Ndis, besok siang kita mewakili Pak Alan ya. Ada jalan untuk kerjasama dengan perusahaan ternama. Tapi kita harus ke kota sebelah. Kamu bisa kan?" Tanya Gilbas. Pandangannya tertuju pada perut Gendis yang membuncit.


"Tidak mengapa, Pak. Saya siap." Gendis menjawab sembari memberikan senyuman yang membuat Gilbas menundukkan kepala karena takut tidak sanggup menahan diri dari pesona mata Gendis.


"Baiklah. Besok kita berangkat dari kos langsung saja. Biar lebih santai."


Gendis mengangguk setuju. Lalu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Hari ini, waktunya bertemu Esju dengan melakukan pemeriksaan kandungan.


Melihat bahasa tubuh Gendis, Gilbas langsung mengerti kalau perempuan yang masih banyak meninggalkan tanda tanya di kepalanya itu sedang ingin cepat-cepat meninggalkan kantor.


"Kamu mau pulang cepat?" Tanya Gilbas dengan sopan.


"Iya, Pak. Saya mau memeriksakan kandungan saya." Gendis menjawab dengan jujur. Dia menceritakan kondisinya yang sedang hamil saat Gilbas menawarkan pekerjaan. Hanya sebatas itu. Bahkan Gendis tidak peduli jika mulai saat itu, Gilbas menilai dirinya hamil di luar nikah, selingkuhan, atau istri simpanan.


"Ya sudah. Kamu pulang duluan saja. Hati-hati." Gilbas menatap Gendis sekilas.


"Terimakasih, Pak." Tangan Gendis dengan lincah membereskan berkas di atas mejanya, dan mematikan laptop. Wajahnya seketika sumringah.


Setelah mejanya kembali rapi, dia segera menyambar tas tangannya, lalu berpamitan pada Gilbas yang masih anteng duduk di depan mejanya.

__ADS_1


Pria itu menatap punggung Gendis hingga menghilang dari penglihatannya. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri. "Siapa pria bodoh yang membiarkan perempuan seperti kamu hidup sendirian, Ndis? Apakah ada kesempatan untukku menggantikannya?" Gumam Gilbas dengan lirih.


Di kantor yang berbeda, seorang pria bekerja seolah tidak ada hari esok. Dia menyelesaikan semua pekerjaan hari ini dengan cepat, bahkan dia selalu mencari pekerjaan untuk keesokan harinya. Semakin banyak pekerjaan, semakin dia tidak uring-uringan dan tidak bersedih.


Ya, pria itu adalah Eser Sevket. Semenjak Gendis benar-benar tidak ada kabar. Dia terus menyibukkan diri di kantor. Pagi, siang, dan malam, dia hanya bergumul dengan laptop dan juga berkas. Saat dia berhenti bekerja dan berpikir, bayangan Gendis tetaplah yang mengusik. Itulah kenapa dia hanya ingin bekerja, bekerja dan bekerja.


Untunglah ada Damar yang selalu setia mengingatkan dan datang sekedar membawakan makan dan minum untuk Eser. Berat badan pria itu lumayan menyusut, tidak seberisi biasanya. Selain karena makanan yang jarang masuk ke dalam perutnya, juga karena Eser sudah tidak pernah lagi berolahraga secara rutin.


Damar, sekali pun tahu kabar dan di mana Gendis berada. Dia benar-benar mendengarkan perintah sang kakak untuk tidak memberi tahu siapa pun, termasuk Eser. Dan anehnya, Gendis tidak pernah mau mendengar atau memanyakan kabar tentang Eser.


"Mas, sudah makan siang belum? Maaf tadi Damar tidak sempat datang. Karena ada berkas yang harus diantar ke kampus." Damar mendekati meja Eser dan meletakkan dua kotak makanan di sana. Kuliah Damar belum dimulai, tapi kadang ada urusan yang mengharuskan dia ke kampus untuk melengkapi berkas.


"Belum, Mar. Hari ini sibuk sekali. Kamu urus kuliah dengan benar. Buat Mbak Gendis bangga padamu. Di mana pun dia berada sekarang, semoga dia mengingatmu. Walaupun mungkin dia sudah lupa denganku." Eser menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengetik di atas keyboard laptop. Matanya terpejam sembari menarik napas dalam.


"Sekarang makan dulu, Mas. Damar yakin, Mbak Gendis suatu saat pasti akan kembali pada kita." Damar membukakan satu kotak makanan dan menyodorkannya pada Eser.


Damar tidak bisa menjawab kalau Eser sudah mengatakan tentang hal itu. Dia paham betul kerumitan hubungan yamg terjadi antara Eser dan Gendis. Tidak ada hal yang bisa Damar lakukan, selain menuruti permintaan sang kakak perempuan untuk menemani Eser.


Saat Eser hendak memasukkan makanan ke dalam mulut, kepala bagian keuangan Eser yang kebetulan sedang mengandung, masuk ke dalam ruangan.


Layaknya ibu hamil lainnya, yang memiliki keinginan tiba-tiba, begitu juga dengan pegawai bernama Aurora itu. Dia menelan ludahnya kasar saat Eser dengan malas meneruskan suapan pertamanya ke dalam mulut.


Tanpa sengaja, Eser menangkap raut wajah Aurora yang sepertinya sangat menginginkan makanan yang dimakannya. Damar pun ikut menyaksikan bagaimana wajah perempuan itu begitu memelas. Seperti seorang anak yang berharap diberikan permen.


Eser menghentikan makannya, matanya berkaca-kaca saat melihat perut buncit Aurora. "Berapa usia kehamilanmu?" Tanyanya.


"Jalan empat bulan, Pak," jawab Aurora, lagi-lagi diakhiri dengan menelan ludahnya sendiri. Makanan di atas meja Eser itu terlihat menggiurkan dan lezat di matanya.

__ADS_1


"Ambillah jika kamu mau. Letakkan laporanmu di meja. Setelah makan, pulanglah! Aku tidak mengijinkan semua karyawanku yang hamil bekerja lembur," ucap Eser, terkesan dingin dan datar.


Aurora seketika tersenyum lebar, lalu dia mengucapkan terimakasih berulang kali. Tanpa ragu, dia menyambar kotak makan itu setelah meletakkan berkas laporannya terlebih dahulu. Perempuan itu mengabaikan Damar yang sedang melihatnya dengan heran.


Setelah Aurora benar-benar keluar dari ruangannya, air mata Eser jatuh. Entah, sudah berapa banyak bulir bening yang dia keluarkan tanpa Gendis. Eser menjadi sangat sensitif dan rapuh.


Pria itu buru-buru menyeka bulir bening yang terlanjur jatuh membasahi pipinya. Sungguh saat melihat perempuan hamil, dia semakin teringat akan Gendis. "Mhi, kamu di mana? Bagaimana kabar Esju? Kalau kamu ingin sesuatu, siapa yang memberikannya untukmu? Pulanglah, Mhi."


Damar merasa teriris. Di satu sisi dia tidak tega terus melihat Eser tersiksa. Tetapi, di sisi lain, dia takut Gendis malah akan semakin menjauh kalau dia memberi tahu tentang keberadaan kakaknya itu.


"Es, cari Ayah, Es. Buat bundamu mual, sakit, atau apapun, asal bunda bisa kembali pulang. Ayah kangen kalian, Es." Tangis Eser semakin pecah, sungguh pria itu sudah kehilangan sisi kejamnya saat ini. Yang ada hanya jiwa yang rapuh.


"Serahkan pada tangan Tuhan, Mas. Biar Tuhan yang menuntun langkah kaki Mbak Gendis untuk kembali." Damar memberanikan diri untuk menguatkan Eser.


Eser memencet hidungnya sendiri agar tangisnya berhenti. "Tuhan sedang melemahkanku, Mar. Tuhan mengambil semua kebahagiaanku dalam sekejap. Jika ini sebuah penebusan dosa, harusnya tidak ada Esju di antara kami."


Damar kembali diam. Dia benar-benar sudah kehilangan kata-kata. Tidak ada pilihan lain selain membiarkan Eser larut dalam perasaan sedihnya sesaat.


Di sisi lain, Ozge yang sampai saat ini kesulitan mencari sampel DNA Gendis yang akan dicocokkan dengannya hanya bisa uring-uringan.


Tidak hanya Eser yang gagal mencari tahu keberadaan Gendis. Sevket dan Ozge pun gagal mencari perempuan itu.


Hilangnya Gendis, membuat hubungannya dengan Jia semakin buruk. Ozge mengabaikan Jia begitu saja. Padahal istrinya itu semakin hari semakin kurus, bahkan beberapa kali terlihat Jia berobat ke dokter sendirian. Jangankan mengantar ke rumah sakit, bertanya tentang kondisi Jia pun tidak sama sekali.


Di tengah pikirannya yang sangat kalut dan putus asa, datanglah Vivian ke gedung kantor Ozge. Tetapi karena dia tidak membuat janji, perempuan itu masih harus menunggu konfirmasi dari Ozge untuk bisa naik ke ruangan CEO SVK Corp.


"Antar di ke ruangan," perintah Ozge pada resepsionis yang ada di lobby melalui saluran telepon internal.

__ADS_1


__ADS_2