Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Usaha Eser


__ADS_3

Setelah kejadian di mana Gendis dipindahkan secara diam-diam oleh Ozge, keadaan pun berubah secara keseluruhan. Gendis benar-benar mematuhi apa yang dikatakan oleh Ozge. Eser sendiri sudah tidak lagi berada di rumah tahanan. Sementara Ozge, masih berkutat dengan dokumen dan membongkar semua ruangan yang ada di kediaman Sevket untuk mencari bukti agar Julles tidak menyentuh Gendis lagi.


Dua hari berlalu, Ozge belum juga menemukan apa pun. Kamar Sevket, ruang kerja, ruang baca, dan ruang berdoa, sudah dibongkar sampai di setiap sudut, Namun tidak ada hal-hal yang menarik dan bisa digunakan untuk menyerang Julles.


"Rob, Jika bukti itu memang ada. Bukankah papi akan meninggalkan pada kami sebelum kematiannya? Bukankah meninggalkan bukti itu seharusnya lebih penting dibanding hanya membuat video penjelasan sekaligus pengakuan?" Tanya Ozge, pada orang kepercayaannya yang sangat pintar dalam bidang tekhnologi.


"Anda benar, Bos. Apakah mungkin yang membuat Julles ketakutan hanya gertakan dan kekuasaan Tuan Sevket? Tidak mungkin bukti sepenting itu tidak ditinggalkan. Sementara bagaimana bahayanya seorang Julles saja dijelaskan secara detail," timpal Robby.


Ozge memanggut-manggutkan kepalanya. Tidak ada lagi tempat yang bisa dia jelajahi. Bukannya bukti yang berhubungan denganJulles, melainkan foto-foto Rose bersama Sevket yang lebih banyak ditemukan. Dari mulai jaman mereka masih remaja, hingga setua sekarang. Rupanya, kedua orang itu sering bertemu diam-diam.


"Sepertinya, kita juga harus mengawasi Rose. Apakah sudah ada kabar dari Eser?"


"Belum, Bos. Sepertinya Pak Eser tidak langsung menemui Julles."


"Baiklah, kamu fokus pada CCTV sebulan ke belakang. Jika ada yang tidak beres, katakan padaku." Ozge meninggalkan Robby dan empat orang asisten bawahannya itu di ruang kerjanya. Pemeriksaan CCTV jika hanya dilakukan seorang diri, dikhawatirkan akan ada yang terlewat dan memakan waktu lebih lama.


***


Di belahan dunia lain, waktu septempat. Eser tengah berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang sangat sederhana. Secarik kertas ada di genggaman tangannya. Apartemen itu, jika di Indonesia, mungkin lebih pantas di sebut sebagai rumah susun. Karena untuk mencapai lantai- lantai yang ada di atas, harus menggunakan anak tangga biasa. Di sana tidak disediakan lift sama sekali.

__ADS_1


Menunggu hampir selama lima menit, akhirnya pintu room yang dituju oleh Eser terbuka juga. Melihat keberadaan Eser di depannya, sungguh membuat perempuan itu terperanjat. Dengan buru-buru dia menarik tangan Eser agar masuk ke dalam rumahnya, lalu menutup pintu itu rapat-rapat.


Meskipun Eser memakai kacamata dan topi hitam, wanita itu tetap dapat mengenali Eser dengan mudah. Antara senang dan juga panik, membuat wanita yang tidak lain tidak bukan adalah Rose itu bersikap salah tingkah.


"Kapan kamu di sini? Dan buat apa kamu datang ke mari? Bukankah aku sudah memperingatkanmu, jangan mengikat dirimu dengan Julles. Setelah kamu terlibat dengan dirinya, akan sulit untuk hidup merdeka. Sungguh sulit." Rose bertanya sekaligus kembali mengingatkan Eser pada hal yang pernah dia ucapkan.


"Aku datang bukan untuk mengabdikan diri pada Julles. Tapi aku ingin bertemu dengan Anda, dan juga dengan orang-orang yang pernah disakiti atau mengalami kekecewaan pada Julles. Pasti Anda tahu banyak, bukan?"


Rose mengajak Eser duduk di sofa usang yang sudah banyak terdapat tembelan kain perca. Keduanya duduk bersebrangan berjarak meja.


"Maksud kamu apa? Jangan membahayakan dirimu, Es. Di sini, hampir tidak ada yang berani menentangnya kecuali dua orang. Kamu jangan membahayakan dirimu dengan hal-hal konyol. Percayalah, aku bisa hidup di tempat seperti ini dengan tenang saja, itu sudah bagus. Jika dia tahu kamu di sini tanpa sepengetahuannya, entah apa yang akan terjadi nanti." Rose menatap Eser dengan hangat. Ada rasa cinta dan kerinduan yang tertahan di sana.


"Tidak! Tujuan Julles bukan Eser lagi. Dia ingin mengambil anak yang bahkan masih berada di dalam perut istriku. Dia tidak peduli padaku, fokusnya sedang benar-benar mencari keberadaan istriku," Eser menceritakan secara singkat.


"Kenapa kamu meninggalkan istri dan calon bayimu, Es? Dia bersama siapa? Apa dia aman? Apa pun yang terjadi jangan sampai kamu memisahkan istrimu dengan anaknya, Es. Cukup aku dan kamu yang terpisah. Percayalah, seorang ibu bisa melakukan apa pun demi keselamatan anaknya. Termasuk melepaskan sang anak dari dekapannya. Semua bisa dilakukan. Seorang ibu bisa menahan lukanya bertahun-tahun, tapi sedetik pun tidak akan mampu jika melihat anaknya hidup dalam derita," ucap Rose, tatapannya menerawang entah terfokus pada apa.


Eser terdiam, dia tahu betul ke mana arah pembicaraan Rose sebenarnya. Namun Eser enggan menanggapi.


"Es ... kenapa kamu diam? Seharusnya kamu bersama istrimu, lindungi dia." Suara Rose mulai bergetar. Membayangkan perempuan yang dicintai Eser ada di bawah kekuasaan Julles, sungguh mampu membuatnya bergidik.

__ADS_1


"Gendis aman. Jangan bahas itu. Gendis akan baik-baik saja. Menghadapi seorang Julles, tidak cukup dengan bertahan bukan? Kita pun harus berani menyerang. Terimakasih sudah khawatir dan peduli pada istri saya. Jika Anda tulus, tolong tunjukkan kepedulian itu dengan bukti nyata. Bukan sekedar kata dan ekspresi cemas."


Sindirin halus Eser tepat mengenai sasaran. Secara tidak langsung, Rose tahu kalau anaknya itu ingin membuktikan semua empati dan simpatinya dalam bentuk perbuatan nyata.


"Apa yang bisa aku bantu, Es?"


"Anda sangat mengenal dan dekat dengan Papi Sevket bukan? Tolong katakan di mana papi menyimpan bukti sesuatu yang selama ini digunakan untuk menekan Julles?"


"Bukti? Apa maksudmu?" Rose mengernyitkan keningnya.Terlihat bingung. Entah hanya pura-pura, atau memang benar-benar tidak paham.


"Jangan berakting. Tentu ada sesuatu yang membuat Julles sangat tidak berani mengusik papi dan mengambil aku dengan paksa dari sisi papi."


Rose menghela napas dalam. "Sayangnya, bukti itu ikut terkubur bersama jasad Sevket. Jika dia tidak memberikan pada kalian, itu artinya papi kalian ingin anak-anaknya berjuang sendiri. Maka berjuanglah."


Sesungguhnya Eser tidak puas dengan jawaban Rose. Namun apa daya, logika dan firasatnya mengatakan kalau apa yang diucapkan wanita itu sepertinya memang benar.


"Kalau begitu pertemukan aku dengan orang yang disakiti dan menjadi musuh Julles," pinta Eser to the point.


Rose tidak langsung menjawab. Perempuan itu berdiri sembari menyibak sedikit gorden yang menutupi jendela kaca. Dia melihat jalanan di bawah yang sangat lengang. Setelah puas memandangi arah luar, Rose kembali duduk di seberang Eser.

__ADS_1


"Aku akan membantumu, Es. Jiwa raga akan aku pertaruhkan untuk melindungi anak, cucu, dan menantuku. Aku tahu harus memulai dari mana."


Eser menarik napas lega. Kini dia hanya berharap sembari berdoa. Semoga jalan yang akan ditempuh tidak akan memakan waktu yang lama.


__ADS_2