
Gendis yang sama sekali tidak mengenali Dahlia malah terlihat heran, begitu pun dengan Eser. Keduanya saling melempar pandang untuk menyiratkan tanya yang sama-sama terlintas di benak mereka.
Dahlia tersenyum sembari melangkah pelan mendekati Eser dan Gendis. Meski raut wajahnya nampak tenang, tapi dalam hati, perempuan itu merasakan haru, bahagia sekaligus ketakutan yang luar biasa.
Ingin rasanya Dahlia langsung memeluk Gendis, tapi dia sangat tahu diri. Jangankan memeluk, berbicara dengan Gendis saja, sebenarnya dia merasa tidak pantas.
Meninggalkan Gendis, tujuh hari setelah anak itu dilahirkan. Kurang kejam apa Dahlia sebagai ibu? Apalagi, dia meninggalkan Gendis bersama laki-laki seperti Darto. Seorang pejudi, pengangguran abadi, dan tukang bermain perempuan.
Sadar akan kebodohan dan kesalahannya sebagai ibu yang durhaka, itulah alasan Dahlia tidak menemui Gendis. Dia tidak ingin kehadirannya malah menimbulkan kebencian dan kemarahan di hati anaknya itu. Tapi setelah tahu, Gendis menikah dengan putra pertama Sevket, mau tidak mau, dia harus segera meluruskan. Dahlia sudah siap dicaci, terusir dan diabaikan oleh Gendis.
"Nama saya Dahlia. Ada yang ingin saya bicarakan denganmu, Ndis."
Gendis dan Eser langsung teringat dengan Ayumi yang memang menjanjikan pada Dahlia untuk bisa bertemu dengan Gendis.
"Kita bicara di atas saja." Eser mengajak Dahlia naik ke room apartemennya.
Gendis mengamit lengan Eser dengan santai. Dahlia mengikuti keduanya dari belakang. Dalam hati dia terus berharap kalau kedua pasangan di depannya itu bukanlah saudara sedarah. Cerita tentang kecocokan Eser dan mudahnya Ozge terpikat dengan Gendis dalam waktu singkat, membuat Dahlia semakin takut. Bisa jadi keterikatan dan ketertarikan itu adalah naluri persaudaraan yang muncul secara alami.
"Silahkan, duduk." Eser menunjuk sofa dengan wajah datar.
"Boleh kami berbicara empat mata saja?" Pinta Dahlia pada Eser.
Pria itu menatap Gendis terlebih dahulu, setelah melihat istrinya itu mengerjapkan matanya, Eser pun masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati.
Meski kini, Dahlia sudah berdua saja bersama Gendis, dan dengan jarak yang hanya terpisah sebuah meja, Dahlia tetap menahan dirinya. Tahu dan sadar diri adalah kunci. Dia datang bukan untuk menuntut dimaafkan, apalagi mengharap kelembutan kasih sayang. Dia datang untuk meluruskan sesuatu yang mengganjal dipikirannya.
__ADS_1
Sudah cukup rasa bersalah dan dosa besar akibat meninggalkan Gendis begitu saja. Dia tidak ingin menambah beban dosanya lagi dengan membiarkan sesuatu yang salah terus berlanjut.
"Maaf, ada apa ya, Bu? Saya baru saja pulang dari rumah sakit dan ingin segera beristirahat. Jadi tolong, Ibu langsung saja bicarakan apa yang ingin Ibu sampaikan." Gendis memulai pembicaraan terlebih dahulu. Karena tidak sabar menunggu Dahlia yang lebih sering diam dan melamun sejak tadi.
"Saya cuma mau mengajak kamu melakukan tes DNA, Ndis." Dahlia tanpa basa basi langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Tes DNA?" Gendis bertanya dengan sorot mata yang tajam.
"Iya, mungkin ini terdengar aneh, tidak pantas, dan sama sekali tidak masuk akal. Tapi Saya ingin melakukan tes itu, untuk meyakinkan dugaan Saya." Dahlia semakin lancar berbicara.
"Siapa Ibu ini sebenarnya? Kenapa saya harus melakukan tes DNA?" Selidik Gendis.
"Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya perempuan yang sempat mengandung dan melahirkanmu. Hanya seperti itu." Dahlia menampilkan wajah datar dengan hati dan perasaan yang tersayat.
Perempuan yang sepertinya belum separuh abad itu mengangguk. "Saya harap kamu tidak menolak. Tenang saja, Saya tidak akan mengusik kehidupan kamu setelah semuanya jelas.
Gendis tersenyum sinis. "Apa yang membuat saya harus melakukan test DNA? Jika Ibu Dahlia yakin saya adalah anak Ibu, buat apa dilakukan lagi? Toh tidak akan merubah apa pun."
"Harus, Ndis. Saya tidak meminta yang lain. Hanya luangkan waktumu untuk menjalani tes DNA itu. Tidak lama, bahkan cukup dengan kamu memberikan sehelai rambutmu. Saya bisa saja melakukan tanpa sepengetahuanmu. Tapi saya tidak mau sembunyi-sembunyi. Ada hal yang lebih penting dari maksud DNA ini."
Dahlia sengaja berkata seperti itu, dia ingin memancing Gendis agar bertanya lebih jauh padanya.
Gendis menatap mata Dahlia dengan seksama, dia ingin mencari sebuah gambaran perasaan yang tersirat dari sana. Entah karena dipikirannya tidak pernah berangan-angan tentang sosok Ibu, atau memang hatinya yang sudah tidak lagi sensitif pada kesedihan. Gendis tidak bisa melihat adanya ketulusan dan kasih sayang pada tatapan perempuan itu.
"Maaf, saya tidak tahu akan datang secara langsung atau tidak. Tapi apa pun yang Anda butuhkan untuk kepentingan DNA, akan saya berikan. Setelah sekian lama, lalu Anda tiba-tiba datang seperti ini, membuat saya sungguh tidak nyaman." Gendis langsung berdiri dengan wajah datar yang dingin.
__ADS_1
"Baiklah! Terimakasih sebelumnya." Dahlia merasa tidak nyaman dan salah tingkah. Gendis memang tidak mengusir, tapi kata-kata dan sikap istri Eser Sevket itu cukup membuatnya tahu diri.
Dahlia juga berdiri, dia sama sekali tidak menduga, kalau Gendis tidak bereaksi seperti yang ada dipikirannya. Tidak ada kemarahan, cacian, dan sorot mata yang mengobarkan rasa benci. Gendis begitu datar saat menghadapinya. Bahkan saat dia mengatakan bahwa dia adalah ibu yang mengandung dan melahirkan, Gendis nampak menganggapnya angin lalu.
Andai Gendis menanyakan padanya, kenapa sampai Dahlia meninggalkan anak itu bersama Darto. Nyatanya, Gendis tidak mengucap apa pun.
"Rumah Sakit Narita, hari Minggu Pukul sembilan pagi. Saya akan menunggumu di sana. Jika tidak bisa datang, hubungi saja bomer telepon ini. Biar nanti tim dokter yang kemari." Dahlia meletakkan sebuah kartu nama di meja tamu Gendis. Lalu dia berjalan ke arah pintu.
Gendis tidak berniat mengantar Dahlia, bahkan sekarang perempuan itu berdiri memunggungi sosok yang mengaku sebagai ibu kandungnya itu.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Gendis buru-buru mengunci rapat pintu itu. Lalu dia masuk ke kamar menghampiri Eser yang sedang menunggunya penuh tanya.
"Siapa dia, Mhi?" tanya suaminya itu.
"Dia mengaku ibu kandungku. Entah benar atau tidak, aku tidak merasakan apa pun saat bersama dirinya. Getaran dan kontak batin yang katanya ada di antara ibu dan anak, sama sekali tidak aku rasakan." Gendis duduk di samping Eser persis. Langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Dia datang untuk apa?" Eser membelai rambut Gendis.
"Tes DNA. Aku mengiyakan saja. Anggap saja aku sedang mengembalikan napas yang diberikan saat aku masih di dalam kandungannya."
"Jangan berucap seperti itu, Mhi. Kita tidak tahu apa yang dulu menimpa dia, sehingga meninggalkanmu begitu saja."
Gendis tersenyum miris. "Setiap perempuan mempunyai kesempatan untuk menjadi ibu, tapi tidak semua perempuan paham, bagaimana seharusnya menjadi seorang ibu. Bahkan jika dia seorang pellacur sekali pun, dia tidak boleh meninggalkan aku, dan melepas tanggung jawabnya begitu saja. Bagaimana aku harus memanggilnya ibu, jika dari kecil aku tidak merasakan sentuhannya."
Eser mengecup kening istrinya sekilas. "Aku akan selalu menemanimu, Mhi. Aku tidak yakin, tujuannya sesederhana itu. Aku sudah menyuruh Ayumi menyelidiki perempuan itu lebih jauh."
__ADS_1