
Setelah Ozge menyanggupi permintaan Gendis, keduanya pun kembali ke kediaman Sevket. Gendis tidak lagi mampir ke dalam rumah tersebut. Perempuan itu memutuskan untuk pulang langsung.
Gendis mengendarai mobilnya perlahan. Meskipun sedang hamil, dia masih sering menyetir sendiri. Meski hal tersebut kerap menjadi perdebatan antara dirinya, Eser, dan juga Damar. Namun, tetap saja Gendis tidak peduli.
Di jalanan sepi tidak jauh dari rumahnya, mobil Gendis terpaksa berhenti mendadak karena melihat seorang nenek-nenek terduduk di tengah jalan. Dengan langkah bergegas, perempuan itu mendekati sang nenek.
"Nenek kenapa?" Gendis mencoba membantu nenek tersebut berdiri.
Perempuan tua menggunakan kebaya bunga-bunga dengan dasaran warna hitam dipadu kain jarik liris kuno tersebut menengadahkan wajahnya. Memicingkan mata sipit dengan kerutan yangbsangat kentara agar bisa melihat sosok yang mendekatinya dengan lebih jelas.
"Nenek mau pulang," jawab nenek tersebut. Suaranya khas wanita tua pada umumnya.
Gendis tersenyum ramah pada nenek yang masih menyimpan sisa-sisa garis kecantikan di wajahnya. "Rumah nenek di mana?"
Wanita tua itu menggelengkan kepala dengan lemah. Mungkin dia lupa. Gendis menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada seorang pun melewati mereka.
"Memangnya nenek dari mana? Kenapa bisa sampai di sini?" Gendis kembali bertanya.
Si Nenek kembali menggelengkan kepala. Namun kali ini dia menunjuk sebuah arah. Gendis mengikuti jari telunjuk wanita tua tersebut. Tidak mengarah pasti pada satu titik. Dan pastinya membuat Gendis semakin bingung.
"Kita bicara di dalam mobil ya, Nek. Di sini panas sekali." Gendis menuntun sang nenek dengan sabar dan telaten.
Setelah berhasil mendudukkan Si Nenek di jok depan mobilnya. Gendis pun segera memutari kap depan dan masuk ke dalam sana. Menduduki belakang kemudi dengan tenang. Tangannya segera meraih air mineral di dalam tas. Masih bersegel. Dia membuka botol tersebut dan memberikannya pada wanita tua tersebut. "Nenek minum dulu, ya," ucapnya.
Si Nenek menurut, dia meneguk perlahan air bening tersebut. Tidak banyak, namun cukup untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
__ADS_1
"Sekarang nenek mau ke mana? Biar saya antar. Jangan takut, Nek. Saya bukan orang jahat." Gendis menyentuh lengan wanita tersebut dengan lembut.
Si Nenek melemparkan pandang ke arah luar jendela kaca mobil. Dia seperti sedang berpikir dan mengingat-ingat. Lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat.
"Nenek ingat sesuatu? Nama nenek siapa?" Gendis kembali bertanya.
"Panggil saja Nenek Kristina." Wanita tua menjawab tanpa ragu.
"Baiklah. Nenek Kristina mau kemana?"
"Gereja."
Gendis menganggukkan kepala. Tidak jauh dari tempat mereka berada memang terdapat gereja. Tempat ibadah minggunya bersama Eser. Di sana ada Romo Yohanes dan juga Romo Antonius yang sangat dikenalnya. Karena itu, Gendis pun mantap mengantar Nenek Kristina menuju gereja.
"Nenek sering beribadah di sana?" Gendis bertanya untuk memecah sunyi di tengah perjalanan.
Gendis mengernyitkan keningnya. Sembari terus fokus pada jalanan, Gendis kembali bertanya, "Kenapa tadi Nenek terlihat yakin saat mengatakan ingin ke gereja?"
Nenek Kristina tersenyum lembut. Jelas wanita tua itu bukan berasal dari keluarga tidak mampu. Kulitnya bersih meskipun bintik-bintik hitam dan keriput jelas membungkus tulang.
"Nenek sudah kesulitan mengingat, Nak. Tapi Nenek tidak pernah lupa satu hal. Tuhan. Begitu nenek lupa kemana akan pulang, rumah Tuhan adalah tempat terbaik untuk kembali. Di sana kita tidak akan tersesat."
Gendis menoleh sebentar pada sosok Nenek Kristina. Jawaban wanita tersebut sungguh membuat istri Eser itu terkagum-kagum. Terdengar sederhana, namun bagi Gendis, kata-kata perempuan itu begitu dalam.
"Siapa yang memahamimu lebih baik selain Allah? Tidak ada! Sesama manusia pasti ada kesalahpahaman menilai kita. Tuhan menyempurnakan kita, meski tahu kita tempatnya kekurangan."
__ADS_1
Gendis semakin kagum. Di tengah masalah berat yang dia hadapi, Tuhan merancang pertemuan dirinya dengan seseorang yang menggugah imannya. Ada haru yang seketika menyeruak di dadanya. Doa, kebaikan dan segala ibadah yang menurut kita sudah cukup, nyatanya tidak benar-benar cukup. Kekhawatiran dan kemarahannya kemarin-kemarin, jelas meragukan kekuasaan Allah.
"Kamu perempuan yang baik, Nak. Semoga Tuhan menyertaimu selalu. Terimakasih sudah mengantar Nenek kembali," ucap Nenek Kristina begitu Gendis menghentikan mobilnya di samping bangunan gereja yang dimaksud.
Gendis buru-buru turun dan membukakan pintu mobil untuk Nenek Kristina. Dia menuntun wanita tersebut menuju sisi bangunan gereja yang terbuka dua puluh empat jam untuk berdoa.
Sampai di dalam bangunan khusus untuk berdoa setiap saat, Nenek Kristina didampingi Gendis mendekati patung Bunda Maria besar di tengah-tengah dinding depan bangungan. Keduanya berdiri dengan lututnya, mengambil sikap berdoa.
Gendis memejamkan mata dengan khusyu. Berdoa di dalam rumah Tuhan sungguh berbeda dengan ketika dia berdoa di rumah. Hatinya benar-benar tenang.
"Begitu banyak perkara yang tidak aku mengerti. Datang bertubi-tubi dalam kehidupanku. Aku percaya, tidak ada satu perkara pun terjadi jika Allah tidak peduli. Aku tidak bergumul sendiri, karena Allah pasti menyertai. Ya Allah pemilik hati, sertai suamiku di mana pun dia berada. Pertemukan kami kembali di waktu yang terbaik menurut kehendakmu."
Doa Gendis begitu jelas terdengar oleh sosok yang kini menggantikan Nenek Kristina di sampingnya. Begitu konsentrasinya pada doa, membuat Gendis tidak menyadari ada pergerakan di sekitarnya.
"Pulihkan kehidupan kami. Biarkan kami hidup damai dalam kasihmu. Jika memang ada kebaikan yang harus kami raih dengan melewati cobaan yang rumit, tuntunlah kami, besarkan hati kami untuk menerima dengan ikhlas segala liku kehidupan kami." Gendis mengakhiri doanya dengan menyentuhkan tangannya di dahi, dada kanan kiri dengan membentuk tanda salip.
Perlahan, Gendis membuka kedua bola matanya. Dia tidak langsung menoleh ke sampingnya. Kepalanya tengadah sembari menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Tuhan baik, teramat baik. Aku percaya itu." gumamnya.
"Tuhan baik, teramat baik. Tuhan memepertemukan kita di tempat terindah. Di mana kasih dan kuasanya menjamah hati kita begitu nyata. Di mana kesalahan, kebodohan, dan keangkuhanku tidak hanya dihakimi. Tuhan membuka pikiranku dengan kasihNya, Tuhan mengurai benang kusut dalam hidup kita dengan kuasaNya. Tuhan baik, Mhi. Dia menarik aku dari kegelapan. Dia menolongku agar terhindar dari lubang penyesalan yang dalam."
Suara itu berhasil membuat Gendis menoleh dengan cepat. Seperti tidak percaya apa yang terlihat di depannya. Gendis mengedipkan matanya berkali-kali. Tangannya terulur membelai wajah yang berhasil membuatnya kesal sekaligus rindu disaat bersamaan.
"Phi ...."
Eser mengangguk mantap. Matanya berkaca-kaca. Rasanya seperti sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Padahal, masih dalam hitungan hari. Begitu kejamnya jarak di hati. Rindu mengalahkan satuan waktu. Sebentar sekali pun, jika hati yang berbicara, tetap akan terasa lama.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi, kita hadapi berdua. Aku tidak peduli akan seberat apa. Berdua akan lebih mudah." Gendis langsung memeluk Eser dengan posesif.
Lagi-lagi sepasang mata, tidak luput mengawasi apa yang Gendis lakukan.