Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Menjalankan rencana


__ADS_3

Ponsel tersebut akhirnya menyala juga. Serentetan notifikasi masuk pun langsung menjeda keinginan Eser untuk menggunakan ponselnya. Pria itu menunggu hingga semua pemberitahuan tuntas. Tidak lama, setelah melihat layar ponselnya sudah tidak ada pergerakan, Eser segera membuka pesan teratas di ponselnya. Tentu saja pesan dari sang istri yang memang dia sematkan secara khusus.


Membaca pesan Gendis. Membuat perasaan bersalah Eser semakin besar. Keputusannya memanglah salah. Terlalu ceroboh dan emosional. Secara tidak langsung, dia telah meremahkan sang istri. Padahal Gendis jelas sosok yang tangguh dan cerdas. Seharusnya dia berpikir panjang sebelum melangkah. Eser tidak hanya meninggalkan seorang istri, namun juga calon anaknya.


Setelah itu, dia membaca kertas yang diselipkan Rose di genggaman tangannya. Setelah menyalin di ponsel. Dia membuang kertas itu ke dalam closet dan menekan flush beberapa kali. Memastikan kalau kertas itu sudah hancur dan hanyut di dalam sana.


"Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Pasti ada jalan untuk keluar dari sini." Eser bermonolog dalam hati.


Eser bergegas membalas pesan Gendis dengan balasan yang lumayan panjang. Lalu dia kembali mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali di kantong celana. Eser menyegarkan diri dengan membasahi mukanya kembali. Rambutnya yang setengah kering akibat hujan tadi, juga dibasahi kembali.


Dengan pikiran yang sudah lumayan tenang, Eser kembali ke ruang tamu. Julles nampak sedang menghisap cerutunya dengan santai. Pria itu menelisik Eser dari atas ke bawah.


"Kamu yakin tidak ingin berganti pakaian?" Tanyanya.


"Tidak," jawab Eser, singkat dan tegas.


"Besok kita akan berangkat ke Turki, sekarang istirahatlah. Nikmati malam ini baik-baik, karena kamu tidak akan pernah menikmati lagi suasana di sini. Tempat terbaikmu bersamaku. Lupakan semua hal yang pernah kamu miliki. Apalagi soal perempuan, di sana surganya." Julles menunjuk kamar yang bisa Eser tempati, lalu pria itu memasuki kamarnya sendiri.

__ADS_1


Dengan malas, Eser menuju kamar yang ditunjuk oleh Julles. Dia harus menggunakan malam ini dengan baik. Rencana yang disusunnya harus maksimal. Memutar otaknya lebih keras untuk memikirkan cara agar dia tidak bisa terbang ke Turki. Dia tidak bisa mengabdikan diri seumur hidup pada Julles yang culas. Bagaimana bisa pria tersebut, belum apa-apa sudah begitu mengatur dan mengekang hidupnya. Sungguh orang tua yang aneh. Julles malah mengajak Eser masuk ke dunia hitam yang penuh resiko, permusuhan serta kekerasan.


Pria itu kembali berusaha menyalakan ponselnya, tapi sayang, ponsel itu tidak lagi menyala. Kini, Eser hanya berharap pada sosok Gendis. Semoga tulisannya bisa dipahami dengan baik oleh kecerdasan sang istri.


Sementara itu, Gendis yang sudah berbaring di atas ranjang bergegas meraih ponsel di atas nakas. Mendengar benda tersebut bergetar, membuat Gendis tumbuh harapan.


Belum juga membuka isi pesan sepenuhnya, membaca nama pengirimnya saja sudah membuat mata Gendis terpancar bahagia. Firasatnya tidak salah. Dia memang masih meyakini, kalau Eser tidak mungkin melakukan sesuatu begitu saja tanpa alasan. Gendis membuka isi pesan tersebut. Sekali membacanya, dia pun sudah sangat paham akan kondisi yang dihadapi suaminya.


"Aku akan membantumu, Phi. Aku pasti membantumu keluar dari situasi ini."


Gendis buru-buru turun dari ranjang. Dengan bersemangat perempuan itu menghubungi beberapa orang kepercayaan Eser yang dia kenal dan bisa diandalkan. Termasuk Ayumi tentu saja. Setelah semua beres, kini saat yang paling sulit. Melibatkan Ozge bukanlah hal yang mudah. Sudah jelas kalau pria itu tidak menginginkan Gendis terlibat dengan urusan keluarga Eser. Namun, untuk satu hal ini, tanpa Ozge, jelas Gendis tidak bisa melakukan apa-apa.


****


Waktu yang dinantikan pun tiba. Ketika Julles, Eser dan dua orang lainnya menjejakkan kaki di lobby pemberangkatan internasional. Padahhal, fajar pagi baru saja menampakkan semburatnya.


Namun demikian, aktifitas di bandara sudah sangat sibuk. Lalu lalang orang sudah terlihat. Eser terus berjalan menundukkan kepala, tidak henti-hentinya dia berdoa dan berharap ada keajaiban yang membawanya kembali bertemu dengan Gendis.

__ADS_1


Secara tidak sengaja, mata Eser menangkap keberadaan salah satu bawahannya. Semakin dia melangkah ke depan, sosok yang sedang mendekap guci berbahan keramik itu semakin dekat ke arahnya. Dari bahasa tubuh yang ditampilkan, dia paham betul apa yang harus dilakukan sekarang. Eser melirik dua orang yang terus mengikuti di belakangnya. Kedua orang itu nampak berjalan biasa.


Eser menundukkan kepala semakin dalam. Hingga tabrakan dengan sosok tadi pun tidak dapat dihindarkan. Suara benda keramik pecah, menarik perhatian seluruh orang yang ada di sekitar mereka.


"Hei... kalau jalan lihat-lihat, Bung. Kamu membuat guci pesanan istriku pecah," umpat sosok yang ditabrak Eser sembari berjongkok memunguti serpihan besar yang ada di sana.


Eser ikut berjongkok, "Maaf, saya tidak sengaja. Saya akan menggantinya dan meminta maaf pada istri Anda jika perlu." Eser menatap sosok itu dengan tatapan yang hanya mereka berdua yang bisa mengartikan.


"Ah... sudahlah. Tidak akan ada pengaruhnya. Lain kali, hati-hati kalau berjalan." Sosok itu langsung berdiri, mencari petugas kebersihan bandara, dan meninggalkan Eser begitu saja.


Julles dan kedua orang pengawal yang tadinya ingin ikut campur, seketika mewurungkan niatnya. Mereka kembali mengajak Eser meneruskan perjalanan. Senyuman otimis dan licik seketika menyungging di bibir Eser.


Memasuki gate pemeriksaan, Julles dan dua orang pengawalnya lolos terlebih dahulu, tidak demikian dengan Eser. Petugas bandara bahkan memanggil polisi bandara untuk memeriksa Eser lebih lanjut. Hal tersebut dikarenakan karena alat detector yang digunakan untuk memeriksa tubuh Eser, selalu menyala terang dan berbunyi dengan kencang.


Julles dan kedua pengawalnya, mencoba bernegosiasi dengan cara yang instant. Mereka mencoba memberi iming-iming dengan uang. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. Bahkan petugas mengancam akan melakukan black list pada mereka. Sehingga ketiga orang itu tidak bisa lagi datang ke Indonesia.


Setelah polisi bandara datang, Eser di bawa ke tempat investigasi khusus. Jelas Julles sangat marah, dia datang secara khusus untuk membawa Eser ke negara asalnya. Namun, apa yang terjadi saat ini, begitu menghambatnya. Indonesia bukanlah negara yang benar-benar dia kuasai. Namanya masih kalah jauh dengan Sevket. Tentu terlalu dini dan sangat bodoh kalau dia berbuat macam-macam sekarang.

__ADS_1


Karena Julles ada keperluan yang tidak bisa di tunda, dia pun memutuskan berangkat terlebih dahulu. Dengan terpaksa, Julles meninggalkan dua pengawalnya untuk mendampingi dan mengawasi Eser.


Kedua pengawal itu dengan setia menunggu proses investigasi pada Eser. Sampai satu jam kemudian, seorang polisi bandara keluar dari ruangan tersebut. Diikuti oleh Eser yang kedua tangannya sudah di borgol dan di dampingi dua polisi bandara yang lain. Anehnya, wajah Eser terlihat begitu santai.


__ADS_2