Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Masih ingat punya suami, Mhi?


__ADS_3

Lima hari di rawat di rumah sakit, Darto sudah diperbolehkan pulang. Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan, ternyata pria itu mengalami gagal ginjal yang mengharuskannya rutin melakukan cuci darah.


"Uang saja tidak cukup membantu Bapak sembuh. Jadi mulai sekarang, Bapak harus mengatur pola hidup sehat." Gendis mengucapkan tanpa basa basi pada Darto ketika dalam perjalanan menuju apartemen.


Rumah yang dipersiapkan Eser masih harus dibersihkan dan diisi perabot sesuai keinginan Gendis. Untuk sementara, Darto akan tinggal bersama Damar di apartemen lama Gendis. Sudah ada dua perawat yang akan membantu mengurus bapaknya itu.


"Terimakasih, karena masih mau peduli dan mengurus Bapak. Padahal selama ini, Bapak tidak ada baik-baiknya."


"Puji Tuhan kalau Bapak menyadari. Tapi Gendis tidak menginginkan ucapan terimakasih dari Bapak. Gendis hanya mau Bapak berubah. Bertanggung jawab pada hidup Bapak sendiri. Begitu saja sudah cukup."


Darto menatap anak pertamanya itu dengan tatapan sendu. Bangga sekaligus malu. Gendis bisa seperti sekarang, jelas bukan karena dirinya. Anak itu berusaha sendiri dari dia sekolah dasar hingga sekarang.


"Bapak akan berusaha hidup benar, tidak akan minum atau pun berjudi lagi," janji Darto.


"Bapak tidak perlu berjanji apa pun pada Gendis. Membuat Gendis kecewa, tidak akan berpengaruh apa-apa, karena Bapak sudah biasa memberikan rasa itu pada kami. Bapak dekatkan diri saja pada Tuhan. Membaca doa-doa penyembuhan dan pertobatan," tutur Gendis. Dunia benar-benar terbalik. Dalam hidupnya, serasa dialah yang menjadi orangtua, sedangkan Darto adalah anak sulung yang berkelakuan nakal.


Setelah mengantar Darto ke apartemen, Gendis ke kampusnya sebentar. Karena dia memang ada keperluan di kampus. Selain bertemu Alex, juga bertemu dosen yang lain.q


Eser menunggu di apartemen dengan gelisah. Dari semua kegiatan Gendis, mendengar istrinya datang ke kampus adalah hal yang paling meresahkan. Pertemuan sang istri dengan Kenzi, membuatnya sungguh khawatir.


Apalagi ponsel Gendis sepertinya memang sengaja tidak diaktifkan. Tentu saja membuat Eser semakin gelisah.


Seperti burung yang baru saja terlepas dari sangkarnya. Gendis segera menikmati kebebasannya tanpa ragu. Dia berkumpul bersama Mega dan Kenzi seperti biasa. Ketiganya kini berkumpul di sebuah kafe pilihan Gendis. Dia sengaja ingin mentraktir kedua sahabatnya itu di tempat yang dulu sangat mereka idamkan.

__ADS_1


Sebenarnya Kenzi sudah beberapa kali mengajak Gendis ke sana. Tapi karena dia tidak punya uang dan tidak ingin dibayari, maka dia menahan keinginannya itu.


Sebuah kafe di rooftop hotel bintang liqma, dengan view yang sangat indah, apalagi menjelang senja seperti ini. Untuk ke sana, belum memesan makanan dan minuman apapun, pengunjung sudah dikenakan tarif yang lumayan besar bagi Gendis yang dulu.


"Sejak pak Eser sakit, aku tidak semangat melanjutkan skripsi. Dia hanya memberi arahan melalui pesan whatsapp, sangat mengesalkan. Aku jadi tidak bisa bertemu dengannya. Padahal, aku dengan senang hati akan berangkat kalau disuruh ke apartemenmya. Cuman disuruh pijitin pun aku ikhlas." Mega memulai pembicaraan dengan santai.


Gendis yang sadang memasukkan daging steak tenderloin seketika langsung tersedak. Kenzi buru-buru memberikan minumannya pada Gendis.


"Kamu kenapa sih? Buru-buru amat makannya." ketus Mega.


"Enggak buru-buru, Meg. Barusan kena cabe," kilah Gendis.


Kenzi hanya tersenyum. Dia bisa duduk bersama Gendis saja sudah bahagia. Hampir tiga tahun mendekati, ujung-ujungnya tidak pernah berhasil dan hanya dianggap sebatas teman.


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam kurang sedikit. Gendis belum juga beranjak. Dia sengaja membeli makanan sekalian di sana untuk makan malam sang suami.


Sementara itu, Eser sudah tidak sabar dan sedikit mulai emosi. Hanya saja, sekarang dia lumayan bisa menahan diri untuk tidak menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya.


Ponsel Gendis tidak juga aktif. Sungguh istrinya itu membuanya khawatir dan kesal. Eser kembali mengambil ponsel yang baru diletakkan di pangkuannya. Dia baru teringat kalau bisa menghubungi Mega untuk alasan yang lain.


Mega senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya menyala dan mengeluarkan nada dering. Dia mulai merasakan gede rasa karena orang yang dikagumi melakukan pangggilan video terlebih dahulu.


Mega memasang hands-free di telinganya, berharap Gendis dan Kenzi tidak mengetahui dia sedang berbincang dengan siapa.

__ADS_1


Eser sangat pandai membawa pengaruh, dia lembut dan sedikit merayu pada Mega. Sangat kontras saat mengucapkan cinta beberapa waktu yang lalu. Kini, pria itu bisa membuat Mega terhanyut. Hingga saat ditanya sedang di mana dan bersama siapa. Mega dengan polosnya, mengarahkan kamera belakang pada Gendis yang Kenzi yang sedang membahas sesuatu sembari melihat layar laptop agak berdekatan.


Mata Eser langsung memanas. Tanpa pamit dan salam, dia langsung mematikan sambungan teleponnya. "Dasar, bocah. Apa dia lupa kalau di rumah ada suami yang menunggu? apa dia tidak merasa diperutnya sudah ada Esju." gumamnya dengan kesal.


Mega sendiri merasa heran tiba-tiba layar ponselnya mati. "Loh, kenapa ini? Ah, ini pasti batreinya habis, menyebalkan. Baru juga ditelepon yankyank," gerutunya.


Tidak lama dari itu, ketiganya pun pulang dengan mengendarai mobil masing-masing. Gendis terlihat senang, sesekali dia mengikuti lirik lagu jawa campursari yang sedang diputar melalui tape mobilnya.


Gendis membiarkan petugas valey memarkirkan mobilnya. Dia sendiri langsung berjalan menuju lift. Sial sedang menghampirinya, saat hendak masuk ke dalam lift, Ozge nampak keluar dari sana.


Mengetahui Gendis akan masuk lift, Ozge segera menarik tangan gadis itu dan menekan tombol close segera. Dia menekan tombol lantai di mana room Eser berada.


"Beg, katakan padaku. Sekarang hanya ada kita berdua. Katakan kalau kamu masih mencintaiku." Ozge menggenggam pergelangan Gendis dengan erat. Gadis itu berusaha melepasnya, tapi tidak berhasil.


"Semua sudah berakhir, Oz. Secepat kamu datang dalam hidupku, secepat itu pula aku melupakanmu dan menggantikanmu dengan orang lain." Gendis menatap Ozge dengan berani.


Pria itu semakin mendekatkan wajah dan badannya pada Gendis. "Kamu milikku, Beg. Suatu saat, akan kembali seperti itu. Sekali pun aku harus menentang seluruh dunia, aku tidak peduli."


Pintu lift terbuka, Ozge melepaskan genggaman tangannya. Gendis segera berlari keluar sembari mengusap pergelangan tangannya yang panas dan merah akibat cengkraman tangan Ozge. Bahkan jemari pria itu membekas di sana.


Sebelum membuka pintu, Gendis melirik jam di tangannya terlebih dahulu. Dia menarik napas berat. Sudah melewati makan malam satu jam. Eser sendirian di rumah. Gendis benar-benar teledor kali ini. Harusnya, dia tidak terlalu lama menghabiskan waktu bersama Kenzi dan Mega.


Setelah meletakkan makanan di meja makan. Gendis segera masuk ke kamarnya. Eser duduk di atas kursi roda langsung menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang pasti ada kesal, marah dan kecewa di sana.

__ADS_1


"Masih ingat punya suami, Mhi?" Eser bertanya dengan nada menyindir.


__ADS_2