Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Berbicara dengan Sevket


__ADS_3

Gendis mengajak Eser duduk di atas sofa, Dia terus menggenggam tangan suaminya itu dengan erat. Matanya seolah memberi keteduhan tersendiri bagi Eser.


"Apakah itu penting, Phi? Papi sudah membesarkanmu hingga menjadi orang yang seperti ini. Apa kamu masih ingin mempertanyakan hal itu pada Papi?" Gendis mencoba meredam gejolak di hati Eser. "Tidak cukupkah mengetahui kita bukan saudara sedarah?" Tambahnya.


Eser menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku harus tahu, Mhi. Aku berhak untuk mengetahui yang sebenarnya. Kenapa papi bersikeras menyuruh kita cerai, padahal Papi tahu kita tidak sedarah bukan?"


"Terserah kamu, Phi. Jika kamu begitu ingin mengetahui kebenaran, bersiaplah untuk sedih dan terluka. Kita sama-sama tidak tahu, kenyataan itu pahit atau tidak. Papi pasti mempunyai alasan kenapa menyembunyikan semua dari kita."


Eser pun mengangguk setuju. "Semoga kenyataannya tidak serumit kehidupan papi. Aku sedikit merasa aneh. Aku berharap firasatku salah," harapnya. 


Keduanya lalu kembali berpelukan.   "Aku kangen kamu, Mhi."


"Aku juga, Phi."


"Nanti malam, kita tidur di kamar kita ya?" Eser menenggangkan pelukan tanpa melepas tangannya di pinggul Gendis. 


"Ranjang sempit itu?"


"Iya, pasti akan sangat menyenangkan. sepertinya, baju seperti ini pun tidak perlu kamu pakai." Eser mengerlingkan matanya dengan nakal. 

__ADS_1


Pipi Gendis seketika merona merah sembari menggigit bibir bawahnya sendiri. Dalam hati dia mengatakan "kenapa tidak sekarang saja." Namun tentu saja Gendis malu dan gengsi.


Eser menegakkan duduknya, tatapan matanya kembali seperti orang yang sedang melamun. Memang benar, manusia tidak pernah puas dengan segala keinginannya. Kemarin dia berharap, kalau dirinya dan Gendis bukan saudara sedarah. Namun setelah sekarang mengetahui kebenaran, hal itu tidak menjadi ujung dari kebahagiaan. Kini, pikiran Eser terusik dengan keingin tahuan akan siapa orang tua kandungnya.


"Aku mau ke rumah papi dulu, ya," pamit Eser.


"Iya, mau ditemani?"


"Tidak, Ozge pasti masih sangat emosional. Karena dia memang saudaramu. Ozge adalah anak kandung papi, sama sepertimu. Lebih baik, kalian tidak bertemu dulu."


Gendis tidak menunjukkan reaksi apa pun atas pernyataan Eser barusan. Sesungguhnya, dia sangat bersyukur, nantinya tidak ada lagi orang yang akan mengganggu hubungannya dengan Eser. Setidaknya, dia lebih bisa menganggap Ozge sebagai saudara.


"Ya sudah, Phiu berangkat saja. Aku juga mau mencari udara segar sebentar." Gendis berdiri hendak masuk ke dalam kamarnya. Situasi hatinya mendadak langsung membaik, dia ingin jalan-jalan sepuasnya hari ini.


"Hanya ke pusat perbelanjaan. Aku ingin membeli sesuatu. Tidak terlalu jauh," bantah Gendis.


"Jauh atau dekat, aku tidak mengijinkan, Mhi. Aku akan menyuruh Ayumi untuk mengantarmu kemana pun pergi. Tidak hanya mengantar, tapi juga mendampingi," putus Eser.


Gendis menyingkirkan tangan Eser dari lengannya, lalu menatap suaminya itu dengan kesal. "Aku berhak mendapatkan privasi, Phi. Terlalu berlebihan kalau berjalan pun aku harus bersama Ayumi."

__ADS_1


"Jangan membantahku, Mhi. Kita baru saja mendapatkan kabar bahagia. Jangan merusak dengan perdebatan yang tidak penting. Kenapa susah sekali menuruti kemauanku?" Eser menambah tekanan suaranya.


Gendis tidak menjawab lagi, dia enggan berdebat. Menghadapi sikap Eser yang tidak menentu, memang butuh kesabaran ekstra. Pria itu bisa lembut, sabar, kesal, lalu marah dalam waktu yang berdekatan. Gendis tidak lagi ingin menoleh ke belakang, dia berjalan menuju kamarnya.


Pria itu kembali duduk di sofa. Begitulah Eser, ketika ada pikiran yang sedang mengganggu pikirannya, justru orang-orang yang tidak bersangkutan yang terkena sasaran kemarahan.


Sampai lima belas menit berlalu, Gendis belum juga menampakkan diri. Pintunya masih tertutup rapat. Hal itu nembuat kesabaran Eser terkikis. Baru saja dia akan mengetuk pintu, namun bersamaan, Gendis keluar dari sana. Perempuan itu mengenakan dress motif floral berwarna dasar hijau muda dengan panjang sedengkul tanpa lengan. Perutnya sudah semakin memperlihatkan kalau perempuan itu sedang berbadan dua.


"Kenapa masih di sini? Katanya mau ke rumah Papi?" Gendis melangkahkan kaki menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai satu.


"Aku mau memastikan kalau kamu bersama Ayumi." Eser mengandeng tangan Gendis dengan posesif.


Sampai di lobby, Ayumi sudah menunggu di samping mobil sedan Camry keluaran tmtahun lalu. Pegawai kepercayaan Eser itu, melemparkan senyuman dengan ramah pada Gendis.


Kedua pasangan yang baru saja merasakan kelegaan itu, menaiki kendaraan masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Awalnya, mereka beriringan, namun karena Eser akan ke rumah Sevket, maka keduanya berpisah di perempatan jalan pertama.


Sesampainya di sana, Eser langsung memasuki ruangan baca di mana Sevket berada, kehadiran Eser sungguh mengagetkan pria yang sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Eser menunggu Sevket menyelesaikan pembicaraannya. Sembari menunggu, dia mengambil sebuah buku yang sebenarnya tidak ingin dibacanya. Sebuah buku bersampul hitam, yang berada di deretan rak terbawah. Belum sampai Eser membuka halaman pertamanya, sebuah foto terjatuh dari dalam buku tersebut.

__ADS_1


Seorang perempuan, seusia mami Ozge, cantik dan sangat menarik. Namun bukan mami yang dikenal Eser sebagai mami kandungnya juga.


"Siapa ini, Pi?" Tanya Eser, begitu melihat Sevket sudah menyelesaikan pembicaraannya melalui ponsel gengamnya.


__ADS_2