Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Neraka Ozge


__ADS_3

Polisi internasional yang tadinya tidak mengeluarkan borgol, akhirnya mengeluarkan benda itu juga. Gia dan Baron masing-masing dipakaikan borgol di kedua pergelangan tangannya. Dua orang buronan itu pun di bawa keluar meninggalkan ballroom.


Begitu aparat penegak hukum itu tidak terlihat, suasana kembali ricuh. Para undangan beberapa ada yang buru-buru meninggalkan tempat resepsi. Tapi tidak sedikit pula yang masih diam di tempatnya dengan sedikit berbisik membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.


Eser seperti di beri kekuatan, dia menggendong tubuh Gendis ala bridal style. Perempuan itu masih meringis kesakitan. Banyak yang ingin membantu Eser untuk menggendong Gendis, tapi pria itu menolak mereka dengan bentakan.


Ozge terlihat sangat khawatir melihat kondisi Gendis. Dia lengsung memerintahkan pemandu acara untuk mengakhiri acara dan segera berlari mengejar Eser yang nampak sangat memaksakan diri. Sevket ikut menyusul kedua putranya itu.


Kaki Eser belum sepenuhnya kuat, tapi dia terus berusaha agar segera sampai di mobil yang sudah disiapkan Ayumi.


"Kamu kuat, Mhi." Eser terus mengucapkan kata-kata itu pada Gendis.


Eser memerintahkan driver agar mempercepat laju kendaraannya. Hati Eser semakin tidak karuan begitu melihat keringat Gendis bercucuran di wajahnya. Eser mengusapnya dengan telapak tangan. Lalu dia mengelus perut Gendis dengan lembut.


"Kuatkan mommy-mu, Es. Dengan kuasa Tuhan, kalian akan baik-baik saja. Tuhan akan memberi kalian kekuatan dan keselamatan." Eser mengecup tangan Gendis bertubi-tubi.


Tidak lama mereka sampai di rumah sakit. Dua perawat langsung menghampiri dan membawa Gendis ke satu ruangan periksa. Eser menunggu di luar ruangan dengan cemas dan lemas.


Kondisi tubuhnya yang belum pulih benar, baru terasa sekarang. Kakinya gemetar, dia sampai harus merambat agar bisa mencapai bangku kayu yang terletak tidak jauh dari ruangan Gendis diperiksa.


Dari jauh nampak Ozge dan Sevket berlarian menghampiri Eser. Keduanya sama-sama menampilkan wajah cemas. Eser mengepalkan tangan sembari mengatur napas dalam, dia sedang berusaha keras menahan emosi saat melihat Ozge di dekatnya.


"Pergi, Oz. Buat apa kamu di sini? Jangan menambah rumit keadaan. Dan jangan pura-pura peduli pada Gendis." Eser menekan nada bicaranya agar mereka tidak menjadi pusat perhatian.


Sevket memberi isyarat agar Ozge pergi dari sana. Saat Eser sedang tidak baik-baik saja seperti ini, anaknya itu bisa lebih nekat dan kehilangan akal. Seperti dirinya, Eser dan Ozge memiliki ketidak stabilan emosional yang luar biasa.


Ozge terpaksa menuruti Sevket. Meski dalam hati, dia terus mengumpat. Bagaimana pun, dia tidak bisa melupakan Gendis begitu saja.

__ADS_1


Eser menenangkan dirinya sendiri dengan terus menghadirkan Tuhan dalam hatinya. Karena itulah yang selalu diajarkan Gendis belakangan. Dia tidak bisa terus mengandalkan obat penenang dalam segala situasi. Tapi Tuhan selalu ada, kapan pun dan di mana pun. Ketika umatnya memanggil dan mengharapkan pertolongan, Tuhan akan hadir memberikan uluran tangannya tanpa syarat.


Sementara itu Jia dan Mutia kompak mengumpat. Keduanya kini berada di dalam kamar pengantin Jia dan Ozge.


"jalaang itu pastu hanya mencari perhatian. Dia pasti besar kepala sekarang. Semua orang sudah tau kalau dia adalah menantu pertama di keluarga Sevket." Mutia tidak bisa lagi menutupi kekesalannya pada Gendis.


"Mami benar, itu pasti akal-akalan dia saja. Dia sedang mengulur waktu agar pengumuman Ozge sebagai pengganti penguasa tertinggi di perusahaan Sevket tertunda. Jalanng itu masih mencari cara licik untuk membuat suaminya lah yang menduduki posisi itu," timpal Jia.


"Kamu jangan mengalah, Ji. Kamu harus melindungi kedudukan Ozge. Ambil hati papimu, rayu papimu sampai sahamnya bisa atas nama kalian juga. Jangan beri mereka peluang sedikit pun." Mutia semakin meracuni pikiran Jia yang memang sudah licik, menjadi semakin jahat.


"Tidak akan, Mi. Jallang itu sudah merampas hati Ozge. Sekarang, giliran Jia yang akan membuatnya merasa sia-sia menjadi menantu Sevket. Sekali budak, tetaplah budak. Tidak ada cerita, budak naik tahta menjadi ratu," sumpah Jia.


"Baiklah, Mami mau lihat Agam dan Agler dulu. Sudah lama dia tinggal di kamar bersama baby sister. Nikmati malam pertamamu. Jika tidak berhasil secara alami, gunakan yang tadi mami berikan padamu." Mutia berbalik badan dan meninggalkan Jia sendirian.


Tidak berapa lama, Ozge datang dengan wajah yang merah menahan marah, kesal dan juga terselip cemburu. Jia tidak ingin menyapa, dia akan mengikuti saran-saran dari mami mertua yang kini resmi menjadi sekutunya.


Jia pun mulai menjalankan rencananya. Dia menggunakan lingerie setipis saringan tahu dengan warna merah menggoda, lalu menutup kembali badannya menggunakan bathrobe. High heel dengan model tali hingga ke betis yang dikenakannya pun berwarna merah. Warna yang memang menjadi favorite Ozge.


Jia menuangkan wine pada dua gelas kaki kaca di atas nakas, lalu menambahkan bubuk putih pada salah satu gelas itu. Dengan gerakan sensuaal, Jia menggoyang-goyangkan gelas dengan memutar pergelangan tangannya hingga sesuatu yang dicampurkan tadi larut dalam wine.


Tidak berapa lama, Ozge keluar dari dalam kamar mandi, juga hanya dengan menggunakan bathrobe.


Jia menatap nakal pada pria yang sudah bisa disebutnya suami itu. "Aku tahu, kamu tidak mungkin tidur apalagi bercinta denganku. Tapi setidaknya, temani aku minum. Jika tidak meneguk habis, minumlah separuhnya." Jia mengulurkan gelas kaki tadi pada Ozge.


Pria itu tersenyum sinis sembari mendorong gelas itu. "Minumlah yang di gelas ini, aku lebih suka meneguknya langsung dari botolnya."


Jia tampak ragu, tapi dia tidak mungkin menolak dan membuat mood Ozge semakin buruk. Dengan sangat terpaksa, dia meneguk isi gelas kaki itu sampai kandas.

__ADS_1


"Mau lagi?" Ozge mengulurkan satu gelas kaki yang masih penuh pada Jia.


Lagi-lagi dengan sangat terpaksa, perempuan itu menerima dan kembali menghabiskan isinya. Ozge kembali tersenyum sinis.


"Show time." gumamnya, sembari berdiri melipat kedua tangannya di dada.


Tidak sampai sepuluh menit, tubuh Jia beraksi. Dia merasa hawa panas yang liar merasuki tubuhnya, bukan panas kegerahan yang dia rasakan. Melainkan panas gairah yang membuatnya terus mengeliat dan haus akan sentuhan.


Jia membuka semua yang melekat di tubuhnya dengan kasar. Lingeri tipis tadi pun sobek tanpa ampun. Tangannya dengan liar menyentuh bagian sensitifnya sendiri. Satu di dada, dan satu lagi di celah antara dua pahanya.


Layaknya penari telannjang yang sedang beraksi di depan penikmatnya, Jia seperti sedang mencari tiang atau sekedar pegangan untuk pegangan agar dia bisa meliuk dan mengeliat dengan sempurna.


Menyadari keberadaan Ozge, dia pun mendekati pria itu, memaksa dan menuntun tangan Ozge untuk memainkan dada kenyalnya yang padat. Tapi Ozge bergeming. tangannya kaku meskipun Jia berhasil menaruh persis di bulatan yang dulu pernah dia gemari.


"Aku punya mainan untukmu Jia. Ini kado pernikahan dariku, kamu akan menggunakannya seumur hidupmu, karena berani memaksaku menikah denganmu." Ozge mendorong tubuh Jia hingga terhempas ke atas ranjang. Membuat perempuan itu semakin mengeliat.


Jia mengira Ozge akan menikmati tubuhnya malam ini. Nyatanya sebuah alat berbentuk bulat memanjang layaknya tongkat satpam dengan gerigi di bagian ujung sampai tengah. Benda sepanjang 20 senti itu terlihat bergetar.


Dengan licik, Ozge menggenggamkan benda itu ke tangan ini. "Selamat menikmati malam pertama, Ji."


Antara sadar tidak sadar, Jia memasukkan alat itu ke dalam bagian intinya. Karena terpengaruh bubuk perangsaang yang dicampurkan dalam minuman. Dia sudah kehilangan akal, dan tidak peduli lagi apa yang merasuki lubang kenikmatannya.


Suara desaahan dan lenguhan Jia seketika memenuhi kamar yang sunyi, Ozge mengarahkan kamera depan ponselnya ke atas ranjang. Video yang akan menjadi bukti bagaimana Jia melewati malam pertamanya.


Ozge tersenyum puas melihat perempuan itu dengan lincah menggerakkan alat bergetar hingga bisa mencapai puncak kenikmatan berkali-kali.


"Selamat datang di neraka yang kamu ciptakan sendiri, Ji," gumam Ozge, dengan licik.

__ADS_1


__ADS_2