Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Gendis bertemu Damar


__ADS_3

Setelah hampir 15 menit berbicara melalui sambungan telepon. Damar kembali meletakkan benda pipih berwarna hitam itu di atas nakas. Wajahnya sedikit tenang, meski kesedihan masih jelas terlihat. Tetapi, ada secercah harapan di sana.


Damar buru-buru memesan makanan, dia baru ingat, kalau dirinya dan Eser belum makan sedari pagi. Sembari menunggu makanan datang, Damar memutuskan untuk melihat kondisi pria yang entah akan disebutnya apa sekarang. Karena kenyataannya, dia adalah orang luar yang tidak memiliki hubungan darah dengan Gendis.


Eser nampak duduk termenung di atas ranjang. Matanya menatap nanar pada foto Gendis yang biasa diletakkan di atas Nakas. Tangan kekar itu mengusap foto itu dengan lembut.


"Kamu di mana, Mhi? Kamu bilang menepi sebentar, kenapa kamu malah menghilang? Bagaimana kabarnya Esju?" Lirih Eser.


Di ambang pintu kamar Eser, Damar menatap miris pria yang sangat dikaguminya itu. "Maafkan Damar, Mas. Damar akan selalu menemani, Mas. Damar yakin, Mas Eser pasti kuat. Semoga besok, Mbak Gendis berubah pikiran," batinnya.


Berselang hampir satu jam, makanan yang dipesan Damar pun datang. Dia segera menatanya di meja makan. Setelah itu, Damar kembali melihat Eser di dalam kamar.


Posisi pria itu tidak berubah sedari tadi, duduk di atas ranjang, memandangi foto Gendis yang ada di tangannya.


"Mas, kita makan dulu, yuk!" Ajak Damar sembari berjalan mendekati Eser.


"Aku kenyang, Mar. Aku mau Gendis. Aku sama sekali tidak lapar." Pandangan Eser semakin kosong.


Damar mendudukkan diri di sisi kosong ranjang tepat di samping Eser. "Mas ingin ketemu Mbak Gendis, kan? Bukankah kita butuh tenaga dan sehat untuk bisa mencari Mbak Gendis? Kalau mas tidak makan, nanti kalau sakit bagaimana?"


Eser bergeming, dia sama sekali tidak memedulikan Damar. Jangankan ingin makan, memejamkan mata sejenak saja dia enggan.


"Mbak Gendis pasti ngomel kalau melihat Mas Eser begini. Ayolah, mas! Biar pun sedikit, mas harus makan." Damar memberanikan diri untuk memaksa.


Dengan malas, Eser berdiri dan langsung melangkahkan kakinya ke arah meja makan. Damar mengikutinya di belakang. Keduanya lalu makan bersama tanpa ada obrolan hangat. Hanya dentingan suara sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Setiap suapan, dilakukan Eser dengan menatap foto Gendis yang sedari tadi tidak lepas dari tangan kirinya.

__ADS_1


"Mas, besok pagi, Damar minta ijin untuk keluar sebentar."


Eser menatap tajam pada Damar. Saat ini, dia sungguh trauma dengan kata-kata sebentar. "Mau kemana? Bukankah ujianmu sudah selesai semua?" Tanyanya.


"Ada sedikit urusan di sekolah, Mas. Sungguh hanya sebentar. Tidak sampai pukul sebelas siang, Damar sudah akan kembali pulang." Damar terpaksa berbohong.


Eser mengangguk sembari berdiri menyudahi makannya. Damar menarik napas dalam, ada rasa bersalah yang dia rasakan, tapi apa daya dia pun tidak ada pilihan.


***


Keesokan harinya, sesuai yang dibicarakan, Damar pergi dari apartemen sebelum Eser menampakkan diri. Pintu kamar pria itu terkunci rapat dari dalam. Membuat Damar terpaksa tidak mengulang untuk meminta ijin atau sekedar berpamitan.


Damar menggunakan taxi online menuju pemakaman Darto, di sanalah dia akan bertemu dengan sosok yang selama ini dianggapnya sebagai kakak kandung. Ya, Gendis yang menghubungi Damar kemarin, akhirnya tahu kalau Darto telah pergi untuk selamanya. Tapi perempuan itu tetap bersikeras untuk merahasiakan keberadaannya pada siapapun.


Rupanya, Gendis datang lebih dahulu ketimbang Damar. Perempuan itu bahkan sudah selesai membaca doa dan menaburkan bunga di atas gundukan tanah yang masih penuh dengan bunga-bunga.


"Tuhan jaga bapak lebih dekat. Sekarang bapak sudah tidak sakit lagi. Damai selamanya dalam dekapan Tuhan, Pak," lirih Gendis sembari memundurkan langkahnya.


Damar langsung memeluk Gendis, tangisnya pecah. "Mbak kemana saja? Kenapa harus menghilang? Damar tidak punya siapa-siapa sekarang."


Gendis hanya mengusap punggung Damar naik turun. "Kita ngobrol di mobil, yuk! Mbak tidak bisa lama-lama."


Keduanya merenggangkan pelukannya. Lalu berjalan beriringan menuju mobil yang disewa Gendis lengkap dengan drivernya. Dia takut kalau memakai mobilnya sendiri, akan ketahuan walau sudah diganti plat nomor.


Gendis memberikan arahan pada Driver agar mengarahkan kendaraannya menuju apartemen Eser. Damar tersenyum lega, mengira Gendis akan pulang.

__ADS_1


"Mar, Mbak minta maaf sekaligus minta tolong sama kamu. Selama Mbak belum bisa kembali, tolong jaga Mas Eser baik-baik. Dia sayang kok sama kamu. Sama kayak Mbak menyayangi kamu." Gendis memiringkan duduknya sembari meraih tangan Damar.


"Memangnya Mbak akan pergi lagi? Mbak mau kemana?" Damar kembali menampilkan wajah sedih.


Gendis menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Mbak pengen menjauh sebentar. Mbak tidak bisa menerima keadaan kalau terus berdekatan dengan Mas Eser. Bukannya bisa menganggap saudara, yang ada Mbak bisa semakin cinta sebagai suami. Mbak akan sering-sering menghubungi kamu. Mbak janji. Tapi tolong jangan tanya Mbak di mana, dan jangan sampai Mas Eser tahu kamu ngerti keadaan Mbak. Kalau sampai kamu kasih tahu Mas Eser, Mbak akan sangat kecewa. Mbak akan semakin jauh dari kalian."


"Tapi, Mbak ...." Damar tidak melanjutkan ucapannya.


"Nurut saja sama Mbak. Kamu bisa kan kirim pesan atau menghubungi Mbak kapan pun. Tapi ingat! Jangan sampai Mas Eser tahu. Jangan mengecewakan, Mbak."


Damar menatap Gendis dengan lekat, matanya kembali berkaca-kaca. "Mbak tega meninggalkan Damar?"


Gendis menggeleng lemah. "Mbak selalu ada buat kamu, Mar. Tidak harus selalu di dekat dan di samping kamu. Tapi, kamu harus percaya, Mbak tetap menyayangi kamu. Sampai kapan pun, kamu satu-satunya adik yang Mbak miliki dan cintai. Tolong, jangan kecewakan Mbak. Kalau masih ingin bertemu dengan Mbak, jangan kasih tahu Mas Eser tentang Mbak. Mengerti?"


Damar terpaksa mengangguk lemah. Gendis mengusap-usap punggung tangan adiknya itu penuh cinta. Keduanya lalu terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Semakin lama, kepala Damar semakin bersandar di bahu Gendis.


"Sabar ya, Mar. Suatu saat kita pasti akan berkumpul kembali. Doakan Mbak selalu sehat dan kuat." Gendis mengacak rambut Damar.


Tidak terasa, mereka sampai di pelataran lobby apartemen. Damar tidak langsung turun, karena disaat bersamaan, Eser nampak sudah rapi, tapi dengan mata yang tampak sembab. Pria itu sedang menunggu drivernya.


Gendis menggigit bibir bawahnya sembari mengusap perutnya dengan lembut. "Aku kangen kamu, Phi. Ingin sekali kamu mencium perutku dan membisikkan sesuatu pada Esju. Kenapa wajahmu murung seperti itu?"


Meski gumaman itu lirih, Damar bisa mendengar dengan jelas setiap kata yang keluar dari mulut Gendis. "Mas Eser sangat sedih, Mbak. Sepanjang malam, Mas Eser hanya menangis. Apa mbak tega? Kalau memang kalian bersaudara. Kenapa tidak menghadapi ini bersama-sama saja? Mbak menghilang untuk apa? Mbak hanya menunda menyelesaikan masalah. Bukankah semakin berjarak, akan ada ruang rindu yang akan tercipta?"


Gendis tidak langsung menjawab, dia fokus pada Eser yang masuk ke dalam mobil. "Melihatmu sebentar, aku pikir bisa mengobati rinduku, Phi. Nyatanya, rindu ini semakin menggebu. Maafkan aku, Phi."

__ADS_1


Begitu mobil yang ditumpangi Eser merangkak meninggalkan lobby, Gendis memeluk Damar dengan erat. "Titip Mas Eser, Mar. Jaga emosinya, dan sering ajak Mas Eser berdoa."


"Jaga diri Mbak baik-baik dan cepat pulang. Jangan pergi terlalu lama." Damar merenggangkan pelukannya, lalu buru-buru turun meninggalkan Gendis yang kini juga tidak kuasa menahan tangisnya.


__ADS_2