Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kekesalan Eser


__ADS_3

Sevket segera menyahut foto tersebut dari Eser. Raut wajahnya seketika berubah gusar. Meski dia sedikit membubuhkan keangkuhan di sana, namun jelas kegugupannya masih kentara. Sevket langsung meletakkan foto begitu saja di atas meja dengan posisi terbalik.


Eser terus memperhatikan sosok yang selama ini sangat dia hormati itu dengan seksama. Dia masih menunggu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan tadi.


Sampai beberapa saat berlalu, ruangan itu masih saja hening. Keberadaan dua orang, nyatanya tidak membuat ruangan itu dipenuhi perbincangan. Sevket melakukan aksi pura-pura sibuk dengan ponselnya, sedangkan Eser diam dengan ketidak sabaran yang masih tertahan.


Lama tidak ada respon dari Sevket, membuat Eser mulai jengah. Dia menarik kursi empuk beroda tepat selangkah di depan Sevket bersantai mendudukkan bokongnya.


"Abaikan soal foto tadi, anggap saja itu foto salah satu korban janji manis Papi. Ada hal lain yang harus kita bicarakan."


Perkataan Eser kali ini sukses menggerakkan tangan Sevket untuk meletakkan ponselnya di atas meja. Pria itu juga melepas kaca mata baca yang dikenakan sebelumnya. Di usia yang sudah lebih dari matang, membaca tanpa bantuan dua lensa plus, tentu akan membuat Sevket kesulitan.


"Katakan dengan jujur, Pi. Kenapa Papi menutupi kebenaran pada Eser?" Semakin tidak sabar, suami Gendis itu bertanya dengan sangat tegas.


"Kebenaran apa? Papi tidak paham maksudmu?" Sevket menyatukan kedua alis tebalnya yang mulai memutih.


"Eser ini sebenarnya anak siapa, Pi? Siapa orangtua kandung Es?"


"Apa maksudmu, Es? Kamu adalah anak kandung Papi. Buat apa kamu menanyakan omong kosong seperti itu?" Sevket agak meninggikan nada bicaranya.

__ADS_1


Eser tersenyum sinis. "Cukup, Pi. Jangan berpura-pura seolah Papi tidak tahu maksud Eser. Sekali lagi Eser tanya dengan baik-baik. Eser ini anak siapa sebenarnya? Kenapa Papi tega membiarkan Eser dan Gendis berpikir bahwa pernikahan kami ini salah? Dan kenapa Papi bersikeras ingin menceraikan kami? Bahkan Papi menjodohkan Gendis dengan pria lain. Apa alasannya, Pi?"


"Karena kenyataannya kamu adalah anak Papi. Kamu dan Gendis adalah saudara. Itu tidak bisa dibantah atau dipungkiri." Sevket buru-buru berdiri, melangkahkan kaki ingin meninggalkan ruangan. Namun, Eser mencegahnya dengan cepat. Dia mencengkram lengan Sevket dengan sangat kuat.


"Eser bukan anak kandung Papi, itu kenyataannya. Jawab jujur, Pi. Kenapa Papi tidak bicara yang sesungguhnya pada kami. Kenapa Papi lebih memilih Eser dan Gendis bercerai? Apa yang membuat Papi tega mengorbankan kebahagiaan Gendis--anak yang baru Papi temukan? Kenapa, Pi? Kenapa?" Eser semakin tidak bisa menyembunyikan kesabarannya.


"Kamu anak Papi, itu kenyataan yang paling benar. Jangan percaya begitu saja omongan orang, dan jangan mencari-cari kebenaran palsu untuk membuat hubungan kalian tampak tidak menyalahi aturan," tekan Sevket, masih bertahan dengan pendiriannya.


"Cukup, Pi! Eser memegang bukti tes DNA kita. Dan di antara kita memabg tidak ada kecocokan. Eser bukan anak kandung Papi. Sekuat dan sejauh apa pun Papi mengingkari, Eser bukanlah anak Papi." Eser melepas cengkramannya.


Sevket memundurkan langkahnya. Tangannya gemetar, dia menepuk dadanya yang tiba-tiba sesak dan sulit untuk bernapas. Sevket berjalan tertatih mendekati sofa, lalu dia menjatuhkan bokongnya di sana.


Sevket terdiam, tidak berniat untuk mengiyakan atau membantah. Di benaknya begitu banyak rasa yang berkecamuk. Apa yang ditakutkan, akhirnya terjadi juga. Inilah yang membuat Sevket memilih untuk bertahan pada pendapatnya. Semua bukan semata karena dia yang egois. Keadaan dan kenyataan, memaksanya untuk mengeluarkan sedikit kekejamannya.


"Tiga puluh lima tahun kamu Papi besarkan, Es. Pantaskah kamu mempertanyakan hal seperti itu pada Papi? Jikalau pun kamu bukan anak kandung Papi, apa itu mengusikmu?" Sevket menatap lekat Eser.


"Bukan itu inti masalahnya, Pi. Yang membuat Eser penasaran, kenapa Papi malah berusaha menceraikan Eser dan Gendis? Bukankah harusnya Papi bahagia? Tidak sebagai anak pun, Eser tetap anak menantu Papi. Apa pun sebutannya, kita masih keluarga," tukas Eser.


"Masalahnya tidak sesederhana itu, Es." Sevket seperti tidak sengaja saat mengatakannya.

__ADS_1


"Jadi Papi mengakui kalau Eser bukan anak kandung Papi, bukan?"


Sevket tidak ada pilihan selain mengangguk. Mungkin memang sudah saatnya untuk jujur. Entah apa yang akan terjadi ke depan. Dia tidak sanggup membayangkan jika pada akhirnya semua harus terbuka. Kini, dia akan meletakkan lebih banyak harapan pada Gendis.


"Ya, kamu memang bukan anak kandung Papi. Di tubuhmu memang tidak mengalir darah Papi, tapi cinta dan kasih papi mengalir deras di sana. Bahkan sebelum kamu lahir ke dunia. Jangan tanyakan apa pun lagi pada Papi. Jangan ragukan betapa besar sayangnya Papi padamu. Jika disuruh memilih antara Gendis atau kamu, Papi tetap akan memilih kamu." Jawaban Sevket membuat Eser semakin menyimpan tanya. Pemikiran Sevket sungguh di luar nalar sosok orangtua pada umumnya.


"Ini tidak wajar, Pi. Apa Papi tidak kasihan sama Gendis? Apa tidak ada sedikit pun rasa bersalah Papi pada Gendis? Ucapan Papi barusan, bisa melukai hati Gendis kalau dia mendengarnya. Kehidupan yang Eser nikmati selama ini harusnya adalah milik dia. Sudah cukup Gendis hidup susah, Pi. Tidak inginkah Papi menebus sedikit saja dengan menurunkan keegoisan Papi."


"Cukup, Es! Jangan menggurui Papi. Sekarang karena kamu sudah tahu. Terserah kamu dan Gendis akan melanjutkan pernikahan kalian atau tidak. Pembicaraan kita selesai sampai di sini!" Tegas Sevket, lalu membalikkan badan dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan.


"Baik, kalau ini mau Papi. Eser akan mencari tahu dengan cara Eser sendiri. Semoga saja, Papi tidak ada kisah buruk di balik alasan kenapa Eser bisa menjadi anak Papi. Kalau sampai Eser tahu, tidak peduli seberapa besar kasih sayang dan pengorbanan yang sudah Papi berikan, Eser tidak akan pernah memaafkan Papi," ancam Eser dengan setengah berteriak.


Sevket menghentikan langah kakinya yang memang belum terlalu jauh. Pria itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali berjalan. Sevket mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Gendis.


Eser mengepalkan tangannya, dengan kekecewaan dan kekesalan yang semakin nyata dia meninggalkan kediaman Sevket. Di tengah perjalanan, Eser menghubungi Ayumi untuk menanyakan keberadaan Gendis.


Setelah menghubungi Ayumi, kekesalan Eser semakin bertambah. Mana kala mengetahui Gendis sedang bersendau gurau dengan seorang pria. Dari pantauan Ayumi keduanya kini sedang berada di salah satu store yang khusus menjual pakaian pria. Jelas pikiran Eser yang sedang tidak tenang, langsung mengira istrinya yang tidak-tidak.


Eser melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dia sudah tidak sabar ingin memergoki Gendis bersama pria yang entah siapa. Ayumi belum sempat menjelaskan, karena Eser keburu memutus sambungan teleponnya secara sepihak.

__ADS_1


__ADS_2