Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Licik vs Licik


__ADS_3

"Tidak akan, Jangan berharap soal Gendis. Aku rela kehilangan kesempatanku menggantikan kedudukan papi, asal jangan kehilangan Gendis," tegas Eser.


Ozge tersenyum tipis. "Aku pun ingin mengatakan itu, Oz. Sekarang katakan apa yang bisa aku bantu?"


Eser pun menceritakan semua tentang Arya, Ozge tidak sedikit pun kaget apalagi heran, karena dia juga mengenal pria itu dengan baik. Sebenarnya, Ozge ingin membiarkan Eser kebingungan sendiri. Tapi, saat mendengar nama Gendis dilibatkan, dia menjadi merasa harus ikut campur.


"Nanti sore, kita ke sirkuit terlebih dahulu. Aku akan mengajarimu menggunakan mobilku. Selebihnya serahkan padaku. Sekarang apa keuntungan yang akan kamu berikan padaku?" Ozge tetap ingin mendapatkan keuntungan lain.


"Aku akan menceritakan sebuah kebenaran padamu, setelah ini. Aku lepas tangan dari urusanmu. Karena ini maksimal yang aku tahu. Aku berniat menyelamatkan Gendis dari Jia, tapi ternyata Gia lebih gila. Bersamaku atau bersamamu, Gendis tetap dalam bahaya. Aku minta maaf untuk itu." Eser terlihat sangat serius saat mengucapkannya.


"Aku akan mendengarkan."


"Yang selama ini berkeliaran dan menemuimu, sebenarnya adalah Gia, saudara kembar Jia...."


Eser pun mulai bercerita dari awal, bagaimana Gia dan papanya mengendalikan Jia. Apa tujuan mereka datang Kembali. Yang tidak lain tidak bukan adalah menjadi bagian dari keluarga Sevket, memanfaatkan kekayaan Sevket agar bisa menutup kasus yang sedang ditangani interpol.


Gia dan papanya tidak bisa ke luar negeri, karena mereka sudah menjadi buronan internasional. Di Indonesia saja, mereka tidak bisa bergerak bebas. Hanya saja, di sini uang mereka masih menjangkau untuk membeli kebebasan.


kartu As yang dimiliki Gia dan papanya pun termasuk cukup mumpuni untuk menyerang keluarga Sevket. Selain anak kembar hasil hubungan Jia dan Ozge, mereka juga mengantongi bukti scandal Sevket dengan beberapa wanita bayaran.


Harta, tahta dan wanita, tiga hal yang sangat dekat dan tidak pernah lepas dari kehidupan Sevket dan anak-anaknya. Meskipun semua bukti itu dari masa lalu, apa jadinya jika publik tahu. Sevket bahkan biasanya sanggup membungkam mulut media dengan sejumlah uang agar memberitakan keluarganya selalu harmonis dan ideal.


"Breng5ek kamu, Es. Tega!" Ozge langsung memberikan bogem mentah tepat pada rahang pipi Eser sebelah kanan. Dia merasa dibodohi dan diperlakukan tidak adil. Seharusnya Eser menceritakan semua lebih awal padanya.


"Kakak macam apa kamu, Es. Breng5ek." Ozge kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi, membuat Eser tersungkur. Tenaga Ozge seperti bertambah dua kali lipat ketika marah.


Eser memang tidak berniat membalas, dia lebih rela mukanya babak belur ketimbang kalah dari Arya. Eser juga menyadari, kalau dia memang pantas diperlakukan seperti itu oleh Ozge.


"Keluar dari ruanganku! Jangan sampai aku membunuhmu sekarang." Ozge membuka pintu ruangannya dengan kasar.

__ADS_1


Eser keluar dengan memegangi rahangnya yang terasa nyeri.


"Jangan lupa nanti sore, Oz. Kesepakatan tetaplah kesepakatan," ucap Eser, sesaat sebelum keluar dari ruangan Ozge.


Sepeninggalan Eser dari ruangannya, Ozge semakin emosional. Menyadari yang selama ini menidurinya bukan Jia, membuatnya semakin jijik.


Ozge menghubungi orang kepercayaannya, berbicara dengan sangat serius. Di akhiri dengan memberikan alamat yang diberikan oleh Eser.


"Aku akan membantumu kali ini, Es. Aku berharap masalah Jia selesai lebih cepat dari dugaanmu. Aku akan kembali merebut Gendis dari tanganmu. Apa yang kamu dapatkan dengan cara licik, akan aku dapatkan lagi dengan cara yang lebih licik," sumpah Ozge.


.


.


Gendis merasa tidak tenang, tidak biasanya dia gelisah seperti ini. Sejak pagi dia hanya berdiam diri di apartemen, Eser pun tidak seperti biasanya. Hari ini, suaminya itu tidak menanyakan keberadaannya sekali pun. Pagi pun Eser langsung meninggalkan rumah tanpa pesan.


"Phiu, kamu berantem sama siapa?" Gendis mendekati Eser dan mencoba melihat wajah suaminya itu lebih dekat.


Eser tidak menjawab dan mengabaikan Gendis yang sudah ingin menyentuh wajahnya. "Ambilkan aku es batu."


Gendis pun segera menuju dapur. Sedangkan Eser mencuci mukanya perlahan di wastafel. Lalu masuk ke dalam kamar.


"Taruh situ saja, biar aku sendiri." Eser menunjuk Nakas, sembari mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil begitu melihat Gendis masuk ke kamar.


"Biar, aku bantu." Gendis mengulurkan tangannya ingin mengambil handuk di tangan suaminya.


"Tidak perlu!" Eser menampik tangan Gendis dengan sedikit kasar.


"Phiu, kamu ada masalah apa? Kenapa sampai ada yang memukulimu seperti ini?" Gendis menunjukkan ke khawatirannya. Dia mencari salep untuk meredakan nyeri dan lebam.

__ADS_1


Eser tidak menjawab. Dia memilih mengompres lebamnya sendiri, lalu mengambil salep yang diberikan Gendis dan mengolesnya sendiri.


"Aku salah apa, Phi?" Gendis bertanya dengan hati-hati, karena dia merasa Eser sedang menghindari dan menolaknya.


"Mulai kapan kamu salah? Kamu selalu benar. Pernikahan kita yang salah dan itu karena aku." Eser berdiri dan mengambil jaketnya di lemari. "Aku tidak pulang malam ini, aku tahu kamu tidak akan peduli. Tapi aku sedang belajar menghargaimu sebagai istri. Mungkin aku tidak cinta, tapi aku yang membawaku ke dalam situasi seperti ini." Eser langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari istrinya.


Gendis memegang dadanya, entah kenapa rasanya sangat nyeri ketika mendengar Eser mengatakannya. Sungguh dia tidak tahu apa kesalahan yang diperbuat, sampai suaminya bersikap seperti itu.


.


.


Ozge dan Eser kini sudah berada di dalam mobil


Lamborghini Huracan Super Trofeo Evo milik Ozge. Keduanya sudah mengenakan sepatu, pakaian dan helm safety.


"Fokus ke depan, jangan pedulikan apa yang ada di kiri, kanan dan belakangmu. Tekan Nos di beberapa putaran terakhir, jangan melakukan itu terlalu awal. Selalu jaga konsentrasimu. Sekarang cobalah. Sepuluh putaran dan aku akan menghitung mundur." Ozge memberi arahan lalu menekan stopwatch di tangannya.


Eser pun mulai mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi, saking cepatnya, ban sepertinya melayang. Sepanjang lintasan, Ozge terus memberi arahan pada Eser. Masukan demi masukan diberikan. Untuk sesaat keduanya melupakan kebencian, persaingan dan kemarahan yang selama ini ada.


Eser melepas perlahan injakan kakinya pada gas, lalu menarik hand rem dan menginjak pedal rem bersamaan. Mobil yang dikendarainya pun berhenti beberapa detik kemudian.


"Not bad, Est. Tapi lebih baik, kamu bisa lebih cepat beberapa detik dari ini. Kita belum tahu kemampuan Arya. Tapi pastikan kamu tidak di keb1ri olehnya." Ozge memberikan semangat, sekaligus sedikit meledek Eser.


Keduanya lalu turun dari mobil. Ozge kembali mengingatkan Eser akan beberapa hal, lalu meninggalkan kakak tirinya itu sendirian di sana.


Tiga puluh menit kemudian muncullah Arya dengan mobil Ferrari 488 Challenge. Pria itu keluar dengan wajahnya yang sangat angkuh.


"Sudah siap dikeb1ri, Es?" tanya Arya, ingin memprovokasi dan memainkan emosi Eser sebelum memulai balapannya.

__ADS_1


__ADS_2