
Eser mengecup kening Gendis dengan lembut. Membiarkan bibirnya menempel lama di kening sang istri. Sungguh dia berharap detak jarum jam bergulir lebih lamban. Keduanya sama-sama hanyut dalam suasana damai.
"Ikut denganku," Eser mengajak Gendis untuk berdiri, lalu dia menuntun istrinya itu memasuki sebuah pintu rahasia yang ada di dalam gereja.
Keduanya berjalan menyusuri lorong yang sangat panjang. Gelap, hanya dibantu cahaya ponsel di tangan Eser. Hampir tiga puluh menit mereka berjalan, barulah mereka sampai di ujung lorong. Eser menekan beberapa digit angka, lalu terbukalah sebuah pintu yang membawa mereka kembali melihat langit biru secara langsung.
Gendis mengernyitkan dahinya karena merasa heran. Tidak tahu di mana kini dia berada, namun dari waktu tempuh dia berjalan, jelas tempatnya sekarang tentunya tidak terlalu jauh dari bangunan gereja. Andai dia tidak berada di sana dengan berjalan kaki, mungkin dia akan mengira kalau dia sedang berada di daerah lereng pegunungan.
"Di sini beberapa orang tinggal untuk melakukan penyembuhan. Tidak hanya ditangani secara medis. Mereka yang mengalami masalah kejiwaan, juga dilakukan pendekatan secara agama. Mereka yang di sini kebanyakan karena depresi berat. Pergumulan hidup yang berat, sering kali membuat jiwa terguncang. Aku pernah berkali-kali merasakannya. Tapi aku tidak pernah tinggal di sini. Aku baru tahu kemarin, Jimmy yang memberi tahuku." Eser menggandeng tangan Gendis menuju salah satu bangunan yang terbuat dari papan kayu.
Di sekirar mereka tampak sepi, seolah tidak ada penghuni. Padahal menurut informasi yang di dapat Eser, rumah-rumah panggung yang berderetan berjauhan itu, meruoakan tempat tinggal sementara orang yang mengikuti terapi.
"Mungkin mereka sedang melakukan kegiatan bersama di aula. Makanya di sini sekarang sepi." Eser menjelaskan sebelum Gendis bertanya.
Gendis memperhatikan sekeliling lebih seksama. Takjub, ada tempat seperti itu di tengah padatnya perkotaan. Begitu banyak tanya dibenak Gendis. Namun mulutnya enggan mengeluarkan suara. Dia lebih memilih memanjakan mata dengan pemandangan yang tidak pernah dia dapati sebelumnya.
Pohon rindang berjejer dengan jarak yang teratur di sisi kiri jalan setapak bebatuan, tanah tidak terlalu luas tertutup rumput hijau, dan beberapa rumah panggung terbuat dari barecore pilihan. Lebih mirip cottage yang sangat vintage. Siapa sangka, kalau tempat ini adalah tempat khusus terapi bagi jiwa-jiwa yang lelah dan sakit.
"Phi, apa di sini aman? Apa mereka tidak akan tahu kalau kamu keluar dari penjara?" Gendis teringat akan permasalahan mereka. Perempuan itu melambatkan sedikit langkah kakinya.
__ADS_1
Eser melemparkan senyuman dan mengerlingkan satu matanya dengan nakal. "Aman, Mhi. Lagian aku tidak akan lama, hanya sampai malam nanti. Aku akan kembali ke rumah tahanan. Kamu di sini dulu sementara, besok pagi baru kembalikah ke rumah."
"Oh." Gendis menjawab singkat. Karena sebenarnya dia masih belum paham benar apa maksud dan tujuan Eser.
Keduanya berhenti di salah satu bangunan kayu tersebut. Eser membantu Gendis menaiki tangga yang hanya berisi empat anak tangga. Lalu pria itu membuka pintu dari papan barecore secara perlahan, dan menuntun Gendis masuk ke dalam sana.
Meski dari luar terlihat biasa, berbeda dengan isi di dalamnya. Semua peralatan modern ada di sana. Dari pendingin ruangan, mini lemari es, kamar mandi dengan bath up yang seolah terbuat dari batu alami, sampai kasur lantai yang terlihat sangat empuk. Bangunan berukuran lima kali delapan meter itu memanjang ke dalam. Tidak ada ruang tamu atau ruangan lain, namun sangatlah nyaman untuk ditinggali.
Eser mengunci pintu dengan rapat. Pria itu menghampiri Gendis yang masih melihat-lihat isi ruangan dengan tidak sabar.
"Lalu kita ke sini untuk apa? Apa kamu juga akan melakukan terapi di sini?" Gendis bertanya dengan polosnya pada pria yang kini sudah memeluknya dari belakang.
"Iya, Mhi." Eser menjawab sekenanya sembari menyibak rambut Gendis agar dia bisa mengecep leher sang istri dengan puas.
"Iya, aku minta maaf." Eser menjawab tidak terlalu panjang. Pria itu kembali memberikan kecupan bertubi-tubi di area leher hingga pundak Gendis.
"Gak bosen apa ngomong maaf terus. Pasangan lain sering sekali mengatakan kata 'I Love You." Kenapa kamu lebih sering mengucapkan maaf?" Dengus Gendis. Perempuan itu mulai mengeliat karena geli. Semakin lama, bukan hanya kecupan yang dia rasakan, namun gigitan diikuti sesapan lembut mulai ikut dirasakan.
"Karena aku masih merasa belum pantas mengatakan kata-kata itu, Mhi.Selama pernikahan kita, masih banyak luka dan masalah yang aku berikan. Meskipun aku mencintaimu, rasanya aku takut mengucapkannya. Aku takut ungkapanku hanya akan dianggap sebagai pemanis dan formalitas." Eser memutar perlahan badan Gendis, perlahan dia berlutut di depan istrinya itu.
__ADS_1
Gendis mengusap rambut Eser dengan lembut. "Tapi kalau kamu bersikap manis memang aneh, Phi. Sama sekali tidak pantas bermanis-manis."
Eser mengabaikan kata-kata yang baru saja didengar. Tangannya sibuk menggulung dres yang dikenakan Gendis hingga sebatas dada. Pria itu lalu menghujani perut sang istri dengan kecupan-kecupan yang mengeluarkan bunyi menggelitik di telinga.
"Phi, sudah ah, geli." Gendis berusaha mendorong kepala Eser agar menjauh dari perutnya. Namun laki-laki itu malah memeluk pinggulnya semakin kencang.
"Phi, Kalau nanti malam kamu pulang, terus sekarang malah ngecup-ngecup mulu, lah terapinya kapan dimulai?" Gendis mendengus kesal.
Eser merambatkan kepala semakin naik ke dada Gendis. Tangannya pun mulai mencari-cari keberadaan pengait kaca mata berenda milik istrinya. Dalam hitungan detik, dia berhasil melepaskan kain tersebut.
"Terapi dimulai, Mhi." Eser menegakkan badannya, kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Gendis.
Perempuan itu memejamkan matanya, "Kok jadi begini? Kamu mainin aku, Phi. Terapi macam apa ini?" protes Gendis.
Perlahan Eser mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri. "Hangatkan aku sebentar saja. Aku janji akan memperbaiki keadaan. Ini terakhir kali aku membawamu ke dalam masalah. Tidak akan ada lagi yang mampu mengusik kehidupan kita."
Keduanya larut dalam pergulatan dua daging tidak bertulang. Lidah Eser dan Gendis saling melilit. Hasratt dan cinta yang beradu membuat keduanyaa sesaat melupakan masalah pelik yang sedang dihadapi.
Tangan Eser tidak mau diam, dia terus mereemas salah satu bukit kenyal milik Gendis yang semakin membesar karena kehamilannya. Sesekali dia memilin dan nemainkan bagian tengah menonjol di sana.
__ADS_1
Gendis melepaskan tautan bibir mereka, leenguhan lolos dari bibir manisnya. Tangan Gendis pun kini beraksi membuka celana sekaligus boxer Eser. Membuat Teser menyembul keluar dengan sempurna dalam posisi tegak maksimal.
Tangan mungil Gendis mendekap Teser. Mengurutnya naik turun, Eser mengeliat, menurunkan bibirnya ke satu bagian yang akan menjadi sumber makanan bagi Esju. Bayi besar itu begitu kelaparan, dia menyesap tanpa ampun. Membuat Gendis mengeluarkan kata-kata racauan yang menyiratkan ketidak sabaran. Perempuan itu terus meminta agar Si Teser segera merasuki dan menghentak inti raganya.