
Hari yang ditetapkan Dahlia pun tiba, Gendis pada akhirnya datang ke rumah sakit. Perempuan itu memperkenankan dokter mengambil bagian dari tubuhnya untuk digunakan sebagai sampel tes DNA. Darah, rambut, air liur, dan juga kuku. Keempatnya bahkan di ambil oleh Dokter. Hal itu dilakukan karena mereka akan melalukan tes sebanyak tiga kali sesuai permintaan Dahlia.
Sesuai kesepakatan, Dahlia memang tidak ikut datang ke rumah sakit. Gendis tidak ingin banyak berinteraksi dengan perempuan yang mengaku ibu kandungnya itu. Apalagi Eser menaruh curiga yang cukup besar pada sosok Dahlia yang tiba-tiba muncul.
Sementara itu, Sevket mengunci rapat ruang kerjanya dan berdiam diri di sana selama berjam-jam. Dia membuka lembar demi lembar album foto Eser dan Ozge di masa kecil.
Sejak kemunculan Dahlia, dan mendengar permintaan perempuan itu meminta bagian tubuhnya untuk melakukan tes DNA, dia menjadi tidak tenang.
Kini, dia dihadapkan pada posisi yang benar-benar sulit. Yang dia tahu pasti, Dahlia memang tidak sedang mengejar uang. Karena sejak delapan tahun yang lalu, mantan selingkuhannya itu sudah menikah dengan pengusaha yang kaya raya.
"Mungkinkah memang sudah saatnya rahasia ini terungkap? Tidak! Aku tidak mau semua hancur," gumam Sevket. "Tapi bagaimana kalau benar Gendis itu anakku? Akan seperti apa hubungan mereka?" Tambahnya.
Sevket terlihat berpikir keras, keningnya menampilkan kerutan tiga garis yang sangat kentara. Kecemasan dan kegelisahan jelas tergambar di wajahnya.
Pria lebih dari paruh baya itu mondar mandir di depan meja kerjanya sembari memangku dagu dengan satu tangannya. Padahal di luar sedang terjadi pertengkaran hebat antara Jia dan Ozge yang baru saja datang bersama anak-anaknya.
Ozge menyuruh baby sister membawa si kembar ke kamar mereka.
"Apa maumu, Oz? Apa kamu lupa kita ini sudah suami istri. Di hari pertama pernikahan, kamu sudah membuatku tersiksa, lalu kamu malah berlibur dengan anak-anak. Kamu anggap apa aku ini?" Jia menarik lengan Ozge hingga pria itu menghadap ke arahnya.
"Menganggap kamu apa? Aku bahkan berharap mataku tidak melihatmu lagi." Ozge menghempas tangan Jia dari lengannya dengan kasar.
__ADS_1
"Kamu akan menyesal karena memperlakukanku seperti ini, Oz!" Ancam Jia dengan teriakan yang membuat Mutia keluar dari kamarnya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar terus setiap bertemu? Oz, apa mata dan hatimu benar-benar sudah tertutup oleh pelet perempuan jaalang itu? Tidak bisakah kamu melihat kebaikan dan kecantikan yang lebih berkelas dari perempuan itu pada diri Jia? Kamu benar-benar seperti kena pelet, Oz. Mami akan membuat perhitungan dengan jalaang itu." Mutia bukannya melerai, dia malah menggila.
Seperti biasa, Mutia selalu melimpahkan setiap kesalahan pada Gendis. Dia selalu enteng menuduh perempuan itu sesuka hati. Kebenciannya sudah di luar nalar dan mengada-ada. Padahal tidak ada alasan yang tepat untuk membenci Gendis seketerlaluan itu.
"Kalian sepertinya cocok sekali. Nikmati pembelaan Mami, Ji. Dua orang dengan pikiran buruk dan kotor, sungguh sangat cocok jika hidup bersama." Ozge berjalan menuju kamarnya.
Jia berniat menyusul tapi Mutia menahan pergelangan tangannya. "Cukup, Ji! Kamu tidak bisa melawan Ozge dengan kekerasan. Dia akan semakin menjauh darimu. Buat Ozge membenci jalaang itu."
"Bagaimana bisa, Mi? Perempuan itu sudah hidup bahagia dengan Eser, tapi Ozge tetap saja mengingat jalaang itu." suara Jia terdengar sangat putus asa.
"Kalau begitu, kita buat keadaan berbalik. Buat Eser dan jalaang itu membenci Oz. Bisa apa Ozge kalau sudah begitu. Lama kelamaan dia akan memilihmu karena tidak ada pilihan lain."
"Jangan terlalu lama berpikir. Pernikahan saja tidak cukup membuat posisimu aman. Apa gunanya menikah, kalau kamu tidak mendapatkan apa pun dari Ozge. Jangankan uangnya, di atas tubuhnya pun kamu tidak berkuasa." Mutia semakin memanas-manasi menantunya.
Belum sempat Jia menimpali ucapan sang mertua, Ozge sudah kembali keluar dengan pakaian yang sudah ganti dan wajahnya nampak segar.
"Mau ke mana lagi, Oz?" Jia bertanya sehalus mungkin.
"Mau mengajakmu ke apartemen, bukankah kita masih pengantin baru? Tentu kamu sudah rindu denganku bukan?" Ozge kembali bertanya dengan seringai wajah menyimpan kelicikan yang hakiki.
__ADS_1
"Benarkah kamu mengajakku?" Tanya Jia penuh keraguan.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Aku sama sekali tidak ingin memaksa." Ozge melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat di mana mami dan istrinya berada.
"Aku mau, sebentar aku ambil tas dulu." Jia sedikit terburu-buru berlari ke kamar tamu, karena Ozge tidak mengijinkan dia masuk ke dalam kamar suaminya itu.
Di sisi lain, Eser dan Gendis yang sudah menyelesaikan urusannya di rumah sakit, memutuskan untuk pergi ke gereja tempat biasanya Eser melakukan doa dan pernah sekali melakukan pengakuan dosa.
Misa minggu sebenarnya sudah selesai, tapi dia ingin bertemu dengan romo karena ingin membekali diri dengan ketenangan yang cukup. Karena setelah dari gereja, Eser dan Gendis berencana ingin bertemu dengan Ozge untuk membahas video gila yang bisa jatuh ke tangan Arya dan Jia.
"Ada apa, Es? Kenapa wajahmu murung seperti itu?" Tanya Romo pada Eser.
"Saya bingung, Romo. Sesungguhnya saya sudah bosan dengan perkelahian dan kekerasan. Tapi ...." Eser lalu menceritakan masalah video dan meminta pendapat pada Romo dalam menyelesaikannya.
"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Romo membacakan Matius 6:14–15).
"Bicarakan semua baik-baik, tidak ada kejahatan yang selesai dengan kekerasan. Tidak ada permusuhan yang berakhir dengan perkelahian. Allah ulurkan kasih kepadamu, maka kamu pun harus mengulurkan kasih pada yang lain." tambah Romo sembari menepuk bahu Eser.
Gendis tersenyum menanggapi ucapan Romo, lalubdia berkata, "Jika seseorang menamparmu di sisi kiri, berikan sekalian sisi kananmu. Besok atau lusa, dia tidak tahu lagi akan menyakitimu di sebelah mana. Karena, di bagian manapun dia berusaha membuatmu terluka, nyatanya kamu masih bahagia dan berdiri tegak."
"Kamu mempunyai pendamping yang hebat. Kendalikan emosimu, dan berjalanlah dengan kasih. Maka semua akan baik-baik saja. Dia adalah adikmu, meluruskan jalannya adalah kewajibanmu. Jika dia bersalah, tidak seharusnya kamu menghukumnya. Kamu bukan Tuhan, Es." Romo mengakhiri pertemuan mereka yang singkat dengan pelukan hangat untuk Eser.
__ADS_1
Gendis dan suaminya berjalan perlahan kembali ke mobil yang dikendarai Ayumi. Langkah kaki Eser yang belum bisa selebar dulu, membuat Gendis selalu mengamit lengan pria itu dalam setiap kesempatan mereka berjalan beriringan.
Di lain tempat, tepatnya di apartemen Ozge, Jia dibuat ternganga dengan kejutan yang disiapkan oleh Ozge.